
Keheningan terus tercipta hingga mobil yang dikemudikan Anastasya menepi kearea parkir toko bunga miliknya. Zara menghela nafas dalam dan menatap bangunan dua lantai itu dari dalam. Dulu di tempat inilah ia berharap bisa mengantungkan diri dan merubah perekonomian keluarganya. Akan tetapi, semua itu jauh dari ekspektasinya. Uang bulanan yang ia kirim untuk kedua orang tuanya bukan dari hasil jerih payahnya, melainkan uang bulanan yang Arka berikan untuknya.
Ingin rasaya gadis itu menangis, bagaimana jika lambat laun kedua orang tuanya mengetahui tentang kehidupannya kini. Menikah tanpa memita izin, bahkan dijadikan istri kedua dari pernikahan yang dibangunnya.
Jangankan untuk menemui, bahkan menegakkan kepala dihadapan kedua orang tuanya pun ia tak sanggup.
"Zara, kau tak ingin turun." Anastasya sudah membuka pintu mobilnya seketika menatap gadis di sampingnya yang terlihat tak bergerak dengan tatapan kosong.
Gadis itu pun mengerjap, mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat melanglang buana.
"I-iya, Nona. Saya akan turun."
Keduanya pun menuruni kendaraan dan memasuki area toko. Para karyawan menundukan kepala dan tersenyum ramah kepada Anastasya. Akan tetapi beberapa diantaranya justru menatap sinis pada Zara yang selalu menempel pada pemilik toko. Sedangkan sepengetahuan mereka Anastasya tak memiliki sanak saudara, namun terlihat begitu dekat dengan Zara yang kurang lebih satu bulan ini bekerja di tempat tersebut. Tentu saja ada kecemburuan sosial dalam diri mereka yang sengaja diturup rapat.
Terlebih kini Zara tak lagi dipekerjakan untuk menjadi seorang pembersih melainkan mendampingi dan menjadi orang kepercayaan Anastasya dalam menjalankan usaha toko bunganya.
Karyawan yang bekerja pada Anastasya sudah cukup lama pun dibuat bertanya-tanya. Sebab tak ada keistimewaan dari gadis kampung yang bahkan tak mengenyam pendidikan di univesitas mana pun itu.
Akan tetapi semua itu tak luput dari kaca mata Zara. Dirinya kini mulai dijauhi, namun ia masih bisa bersyukur sebab memiliki seorang sahabat seperti Kiara yang tetap memandangnya ada.
Seperti saat ini. Di saat beberapa karyawan lain nampak sibuk menyantap hidangan makan siang mereka, Kiara justru sibuk berkutat dengan ponsel miliknya. Mengetik sebuah pesan dan tersenyum hingga tersipu malu kala pesan yang terkurim menerima balasan.
Zara yang menatap dari kejauhan, serasa tertarik untuk mendekat.
"Kiara, kau terlihat senang sekali hingga mencampakan rizki yang ada di hadapanmu," ucap Zara sembari ekor netranya mengarah pada makanan yang tergelak di depan Kiara dan sama sekali belum gadis itu sentuh.
Kiara mendongak, begitu mendapati wajah Zara, gadis itu pun tergelak dan sesekali menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.
"Maaf, aku terlalu keasyikan berbalas pesan hingga lupa makan," balasnya tersipu malu dan mulai meraih kotak makan miliknya. "Kau sendiri, kenapa tidak makan?" tanyanya kemudian.
Zara hanya tersenyum simpul. "Aku masih kenyang. Makanlah, biar aku temani."
Kiara mengangguk dan mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Untuk sesaat gadis manis itu mengabaikan notivikasi pesan yang tertera di ponsel berwarna silver miliknya.
"Pacarmu pasti tampan dan baik hati sepertimu." Sembari menunggu Kiara makan, Zara merasa sedikit penasaran dengan sosok pria yang menjadi tambatan hati sahabatnya.
Tanpa menjawab, mulut Kiara yang masih terisi penuh makananan itu hanya menganguk penuh keyakinan.
"Aku jadi penasaran dengan pria yang mampu membuatmu jatuh hati," goda Zara yang mana membuat Kiara tersipu malu. Gadis yang sedang melahap makanan itu mulai tersedak dan menyemburkan beberapa butir nasi kewajah Zara.
"Aaa.." Bukan Zara, namun Kiaralah yang berteriak dan mengusap wajah sahabatnya itu dengan tisu.
"Maaf, Zara. Aku tidak sengaja, lagi pula kau terus saja mengodaku," celoteh Kiara dengan wajah menahan tawa namun penuh penyesalan.
"Untung saja hanya nasi, jika yang kau sembur air, aku pasti sudah basah kuyup menerima hujan lokal dadakan dari mulutmu." Diselingi senyum tipis, gadis mungil itu sama sekali tak marah sebab itu pun tak luput dari ulahnya sendiri yang tanpa henti menggoda Kiara.
"Jika kau sebegitu penasaran, kapan-kapan aku akan mengajakmu saat kami bertemu."
Zara tergelak samar, sesungguhnya ia hanya berniat menggoda tak benar-benar ingin bertemu dengan kekasih Kiara.
"Hei, untuk apa. Yang ada aku hanya akan jadi obat nyamuk di tengah sepasang kekasih yang sedang kasmaran seperti kalian," tolak Zara.
"Huh, kata siapa! Bukankah kau sahabatku, sudah sepantasnya aku memperkenalkan kekasihku padamu." Kiara meninggikan nada bicaranya, sedikit tak teeima dengan ucapa sahabatnya.
Zara pun tergelak dan mencubit pipi Kiara gemas.
"Baiklah baiklah, terserah padamu saja." Zara hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan sahabatnya itu.
******
Senja mulai menyapa. Para karyawan satu persatu mulai meninggalkan toko,menyisakan Zara dan Anastasya yang sibuk di meja kerja masing-masing.
__ADS_1
Beberapa hari ini toko cukup ramai pembeli. Bunga yang terjual pun terbilang cukup banyak. Tak ingin mengecewakan konsumen yang sudah datang, Anastasya harus memperhatikan dengan benar kwalitas dan kesegaran bunga hingga sampai pada tangan pembeli. Karna menurutnya pelayannan dan kwalitas itulah yang paling utama dari barang yang kita perjual belikan.
"Selesai juga," gumam Anastasya setelah dirasa pekerjaanya sudah mencapai finish. "Ayo, kita pulang," ajaknya pada Zara yang juga duduk di kursi meja kerja tak jauh darinya.
Gadis mungil itu merasa ragu. Jika terus berada di dalam rumah yang sama dengan Anastasya, ia takut membuat wanita itu kian terluka.
"Nona, bagaimana jika saya bermalam di toko saja," tawar Zara setelah beberapa saat berfikir.
Anastasya kini menatap netra Zara dengan penuh peringatan.
"Bukankah Arka sudah memintamu untuk pulang sebelum pentang, dan sekarang kau bilang jika akan bermalam di sini. Lalu mana yang benar, Zara. Arka bisa marah besar jika aku pulang kerumah tanpa dirimu."
Zara menghela nafas dalam dan membuangnya pelan. Memang benar, jika dirinya engan untuk pulang, maka Anastasyalah yang akan terkena imbasnya.
******
Rasa lelah dan tubuh yang mulai lengket oleh keringat membuat Zara bergegas membersihkan diri setelah memasuki kamar pribadinya. Berendam di dalam *Bath*tuh dengan air hangat dan beberapa tetes aroma therapi membuatnya terasa nyaman.
Gadis mungil itu memberikan pijatan lembut di kaki dan tangannya yang terasa pegal. Sabun mandi dengan aroma mawar lembut kesukaanya begitu serasa memanjakan indra penciumannya, membuatnya betah berlama-lama menghabiskan waktu di dalam kamar mandi berukuran luas itu.
Merasa cukup puas dan kembali segar, Zara lekas membilas tubuhnya dengan guyuran air bersih. Kemudian menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
"Ini saja," tunjuknya pada piyama berbahan sutra dengan motif bunga. "Kainnya terlihat sangat nyaman." Gadis itu pun bergegas memakainya dan keluar dari ruang pakaian.
"Selamat malam, sayang." Suara bariton yang tak asing di telinga Zara, menyapa gadis mungil yang terkesiap oleh kedatangan sang suami yang belum disadarinya.
"Se-selamat malam juga, sa-sayang," jawab gadis itu setengah terbata dengan handuk kecil di bahu untuk mengeringkan rambut basahnya. "Anda sudah pulang?"
Zara meraih jas di tangan Arka dan menerima uluran tangan sang suami untuk ia cium. Satu kecupan lembut di bibir arka labuhkan sebelum berakhir pada puncak kepala sang istri.
Kenapa Tuan Arka bisa pulang secepat ini. Bisa dikatakan jika Arka tak pernah pulang cepat sebelumnya. Ia akan kembali dari kantor ketika pekerjaanya benar-benar terselesaikan dan itu selalu berakhir tengah malam.
Zara hanya menganguk samar.
"Sekarang bantu lepas dasiku, aku ingin mandi," titah Arka yang kini sudah berdiri menjulang di hadapan sang istri.
Tanpa kata, Zara mulai mengendurkan kain berwarna gelap itu dan melepaskan simpulnya.
"Biar saya siapkan airnya lebih dulu." Zara mengalihkan pandangan kala dasi sudah mulai terlepas. Ia memilih menuju kamar mandi dan membiarkan Arka membuka kemejanya sendiri.
Meski pria itu sempat membuang nafas kasar, namun sudut bibirnya pun ikut berkedut menahan tawa. Pria itu tau benar jika istri mungilnya itu masih belum terbiasa dengan itu semua. Dengan senyum miring, ia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak seperti Zara yang menghabiska tiga puluh menit waktunya di kamar mandi. Arka hanya butuh beberapa menit saja dan keluar dengan wajah segar dan pakaian bersihnya.
"Zara, apa kau lapar?" Arka bertanya pada sang istri yang duduk di sofa sembari menonton acara televisi.
"Iya," jawab gadis itu dan mengalihkan pandangan untuk menatap sang suami.
"Bagaimana jika kita makan di kamar saja." Ide yang tiba-tiba muncul dibenak Arka.
Zara menautkan kedua alisnya berfikir.
"Nona Anastasya pagi menunggu kita untuk makan malam bersama. Apa anda yakin untuk membiarkan Nona makan malam sendirian."
Arka terdiam begitu mendengar jawanan dari Zara. Kemudian menekan telepon yang tersambung dengan kepala pelayan, Surti. Hingga untuk beberapa menit pria itu masih sibuk berbicara. Entah apa yang Arka ucapkan, Zara hanya mampu mendengarnya samar.
Saat sambungan terputus, Arka lekas menghampiri Zara dan duduk menempel di sisinya. Aroma mawar di tubuh membuat pria itu terbuai. Ciuman di pipi dan seluruh wajah tak urung ia berikan. Membuat Zara tak mampu bergerak dan hanya pasrah menerimanya.
Ketukan di balik pintu menghentikan aktifitas Arka untuk sesaat. Ia pun menuju pintu lantas membukanya. Beberapa pelayan terlihat mbawa nampan berisikan banyak makanan.
"Taruh saja di sana," tunjuk Arka pada meja kaca di samping sofa.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Dengan cekatan pelayan itu melakukan kewajiban mereka. Memindahkan makanan dari naman, menta piring sendok, beserta air dingin di atas meja.
"Saya permisi, Tuan." Mereka menundukan kepala sopan sebelum meninggalkan ruangan.
Hidangan yang tersaji di meja membuat air liur seketika hendak menetes. Zara mengautkan nasi merah kedalam piring Arka dan menambahkan lauk dan sayur di sampingnya.
Hal yang sama pun ia lakukan pada piringnya. Keduanya makan dengan lahap dan menghabiskan makan dalam piring masing-masing.
Zara menatap semangkuk es krim sebagai hidangan penutup dengan netra berbinar. Gadis itu amat menyukai makan manis dengan berbagai varian rasa tersebut. Berbeda dengan Arka yang tak menyukai makanan semacam itu.
"Sayang, aku akan mengembalikan bekas makan kita kedapur lebih dulu." Zara mengemasi bekas makan dengan tisu.
"Tidak usah sayang, banyak pelayan yang akan mengerjakannya." Arka meraih benda seperti remot dan menekan satu tombol. Tak berapa lama, terdengar ketukan di pintu. Zara pun bergegas membukanya. Kedua pelayan pengantar makanan, kini kembali lagi. Seolah faham dengan apa yang hendak pelayan itu kerjakan, Zara membuka lebar pintu kamar dan mempersilahkan mereka masuk.
Zara masih tak percaya dengan kehidupan yang ia jalani kini. Hidupnya kini selalu dimanjakan namun juga dikekang.
Kedua pelayan itu pun undur diri, Zara menutup kembali pintu kamar dengan fikiran berkecamuk.
"Sayang, kemarilah," titah Arka dengan menepuk sofa kosong di sisinya.
Gadis itu pun menutut dan mendaratkan tubuhnya di sisi sang suami.
Arka terpaku pada sudut bibir merah muda Zara yang meninggalkan sisa es krim. Tanpa ragu ia menyentuh lengkung merah itu dengan bibirnya dan menyesap nya lembut.
Tubuh Zara menegang, namun ia hanya diam.
"Sayang, aku menginginkannya lagi," ucap Arka dengan netra berkabut nafsu.
Hah, menginginkan apa.
Zara mencerna sebentar maksud ucapan Arka.
"Menginginkan, menginginkan apa maksud anda, sayang."
Arka mendesah pelan, ia lupa jika istrinya masih polos dan tak faham dengan ucapan bahkan kode yang ia berikan.
"Melakukan penyatuan denganmu," bisik Arka di telinga sang istri yang mana membuat gadis itu merinding.
Usapan di leher dan punggung meyadarkan Zara jika Arka menginginkan sesuatu yang lebih darinya.
"Ta-tapi sayang, saya tidak memakai alat kontrasepsi apa pun," gumam Zara disela kegelisahannya. "Apa anda juga tidak mempunyai pengaman?" tanya gadis itu lagi.
Arka yang sudah terbakar gairah itu menghentikan aktifitasnya dan menatap sang istri tajam.
"Aku tidak mempunyai barang semacam itu. Lagi pula, kenapa aku harus memakainya. Aku sudah ingin mendapatkan anak darimu, dan itu tidak bisa diganggu gugat," ucap Arka penuh keyakinan dan tak membiarkan siapa pun menghalanginya.
Arka kembalu melanjutkan kembali aktifitasnya. Merasa sedikit terusik dengan ucapan Zara perihal pengaman, pria tampan itu sesekali menggigit bahu Zara yang sudah terbuka hingga gadis itu mengaduh.
"Ingat, jangan bahas tentang alat kontrasepsi lagi kepadaku. Jika sekali saja aku mendengarnya, maka aku takkan mengampunimu."
Zara mengangguk dan menatap takut wajah suaminya.
Tatapan Arka melembut seketika. Bekas gigitan di bahu sang istri ia ciumi dengan lembut sebagai rasa penyesalan.
"Maafkan aku sayang. Bukan maksudku menyakitimu. Hanya saja, aku sangat menginginkan bayi yang berasal dari rahimmu," tegas Arka diantara rasa bersalahnya.
"Katakan, apa kau juga menginginkan hal yang sama denganku," desak Arka kala sang istri tak jua membuka mulutnya.
"I-iya sayang," jawab Zara sekenanya.
Pria itu tersenyum haru dan mendekat tubuh mungil Zara dalam rengkuhan tangan kokohnya. Masih dalam gejolak nafsu yang menggebu, Arka memulai kembali aktifitas yang tadi sempat terhenti. Mengusap, membelai dan memanjakan tubuh sang istri dengan sentuhannya.
__ADS_1