Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Terkejut


__ADS_3

"Penduduk sekitar mengatakan, jika ada sebuah kontrakan khusus wanita masuk beberapa meter dari gang ini tuan," lapor Sam kala tak menemukan rumah yang diyakini menjadi tempat tinggal Kiara.


"Oo.. Jadi Kiara tinggal disebuah kontrakan?" tanya Zara yang masih berada di dalam mobil beserta sang suami.


"Mungkin seperti itu, nona."


Zara terdiam sesaat. Entah mengapa, nafasnya terasa sesak. Dirinya pernah hidup beberapa bulan di sebuah kontrakan pada awal menjalani hidupnya di kota. Semua berjalan tak sesuai keinginan, justru berakhir penderitaan dan hampir diusir paksa jika pada waktu itu Anastasya tak menolongnya.


"Sayang, ada apa?" Melihat raut wajah sang istri yang berubah murung, tak urung membuat Arka khawatir. Dia pun lekas menggengam tangan mungil itu lembut, dan berusaha menenangkannya.


"Tidak apa-apa sayang. Aku hanya sedikit lelah saja," jawab Zara dengan mengulum senyum di bibir mungilnya. Berusaha terlihat bahagia, agar suaminya tak merasa curiga.


"Kau lelah?" Kini justru Arkalah yang terlihat cemas.


"Hanya sedikit, dan itu tidak menjadi masalah bagiku. Ayo kita turun." Enggan terjadi drama, Zara pun lekas menggeser tubuhnya dan membuka pintu mobil sebelum sang suami mencecarnya dengan banyak pertanyaan yang intinya perihal kekhawatiran yang berlebihan.


Selain Zara, kini Arka pun menyusul. Sementara mobil yang mereka kendarai menepi disebuah jalan masuk sebuah gang yang sempit.


"Tuan, saya rasa kita hanya bisa memasuki gang untuk menuju kontrakan dengan berjalan kaki." Sam berucap selepas melihat dengan seksama jalanan yang terbilang sempit tersebut.


"Tidak masalah." Zara menjawab cepat. "Hitung-hitung, sekalian berolahraga," sambung gadis itu dengan polosnya sementara tatapannya tertuju pada sang suami.


"Baiklah jika kau tidak keberatan sayang." Mereka pun saling menggengam dan mulai melangkah, namun beberapa saat kemudian langkah Zara terhenti saat melihat Sam masih terpaku di tempatnya.


"Asisten Sam, kenapa masih tak bergerak? Apa anda tidak ingin ikut bersama kami?"


"Ingin nona, hanya saja--" jawab Sam mengambang.


Hingga Zara teringat akan sesuatu. "Ya tuhan. Pasti anda kesusahan untuk bisa membawa barang-barang itu, bukan? Sayang, ayo kita bantu." Zara sudah menarik lengan Arka untuk ikut membawakan barang-barang yang masih tersimpan di bagasi, namun secepat kilat Sam mencegahnya.


"Jangan, nona! Saya bisa melakukannya sendiri." Sam menjawab lantang penuh keyakinan.


"Apa anda yakin?"

__ADS_1


"Tentu nona, ini sama sekali bukan masalah untuk saya." Jawaban yang diucap Sam, membuat Nonanya sedikit bimbang. Namun berbeda dengan Arka yang sekuat tenaga menahan tawa. Terkadang saat melihat kedua orang terdekatnya sedang berinteraksi, membuatnya merasa gemas dan terhibur.


Sam yang kaku namun ingin terlihat sempurna itu, selalu tak berdaya dihadapan sang nona yang polos tanpa dosa. Membuat Sam rela melakukan apa pun, meski dari lubuk hati terdalam jelas-jelas menolak.


"Baiklah." Zara kini mulai melangkah kembali menyusuri jalanan gang dengan menggengam tangan Arka. Mereka berdua terlihat bahagia hingga melupakan seorang pria yang berjalan dengan mengangkut banyak beban di belakangnya.


Sam hanya bisa mendumal dalam hati. Sesekali ia pun menghela nafas dalam, dan melepaskannya kasar.


Ini benar-benar merepotkan.


******


Canda tawa dan senda gurau dari beberapa penghuni kontrakan menyambut kedatangan Zara, Arka dan juga Sam. Beberapa orang terlihat bersantai menikmati akhir pekan diteras kontrakan.


Bangunan itu terbilang cukup luas dan juga memiliki banyak penghuni. Mengingat kontrakan tersebut dikhususkan bagi kalangan perempuan, maka tak ada satu orang pria pun yang berlalu lalang selain tukang sayur atau pun tukang kredit keliling.


Tanpa ragu, Zara mendatangi para penghuni kontrakan yang tengah bersantai dan menanyakan di mana Tempat Kiara berada.


Selepas mendapatkan informasi, gadis itupun mengengam kembali tangan sang suami untuk mengetuk sebuah pintu yang diyakini sebagai tempat tinggal Kiara.


"Kiara!" pekik Zara setengah berteriak.


Akan tetapi tanggapan Kiara justru berbeda. Gadis yang berdiri di ambang pintu itu menganga tak percaya dengan handuk yang masih tergulung di kepalanya.


Kiara perlahan mengerjab, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Sementara bibirnya kelu, masih tak mampu untuk berucap.


*****


Mereka tampak mengobrol hangat selepas Kiara mampu mengontrok kembali detak jantung dan kesadarannya yang nyaris melayang akibat keterkejutan yang teramat sangat. Bahkan minuman dingin pun sudah tersaji di meja dan mulai dinikmati oleh para tetamunya.


"Kia, kau lihat barang-barang itu." Zara mengarahkan telunjuknya pada beberapa kantong bawaan Sam yang tergeletak begitu saja di lantai.


"Kiara pun mengangguk samar."

__ADS_1


"Apa kau tau? Semuanya dipilih langsung oleh asisten Sam. Dan apa kau juga tau, dia juga sangat manis sebab memilih semua benda yang dibelinya dengan kotak dan kemasan berwarna merah muda yang sangat cantik." Zara bahkan menggebu-gebu saat mengucapnya.


Sam yang tengah meneguk minumannya pun dibuat tersedak seketika.


Saya mohon hentikan, nona. Itu bahkan terdengar sangat berlebihan.


Kiara menelan salivanya berat, dan hanya tersenyum begitu mendengarnya. Tetapi dalam hati, ia justru merinding hanya dengan membayangkannya saja. Bagaimana pria kaku menyebalkan itu, bisa memiliki selera se_unyu dan semengemaskan itu.


"Aku tau kalian cukup dekat. Sam juga beberapa kali pernah mengantarmu pulang, kan?" Arka pun ikut menambahi.


Mendengar ucapan sang Tuan, Sam kini berwajah pias. Dia yakin jika gadis itu akan mengadukan perbuatannya yang sudah menurunkannya di tengah jalan waktu itu pada Arka.


"Oh, tentu tuan. Asisten anda ini luar biasa baik. Sudah beberapa kali beliau datang untuk menjemput dan mengantar saya. Saya sangat berterimakasih untuk hal itu tuan. Sebab, saya tidak perlu repot-repot mengeluarkan unang untuk membayar ongkos taksi."


Sam yang sempat tertunduk itu, kini mampu menegakkan kepala. Sungguh ucapan yang bertolak belakang dengan apa yang ada difikiran Sam. Kenapa bisa? Kenapa bisa gadis itu sampai berbohong? Mungkin begitulah kiranya yang memenuhi fikiran Sam. Namun dibalik itu semua, dirinya bisa bernafas lega, sebab terbebas dari kemurkaan sang tuan.


*****


"Ini terlalu banyak." Kiara menatap hamparan makanan dan benda pemberian Sam yang masih terbungkus dengan nanar.


Ia sempat mengumpat jika suatu saat ingin memberi pria itu pelajaran hingga membuatnya kewalahan. Tetapi melihat bagaimana pria menyebalkan itu masih mempunyai sisi baik, membuatnya tak tega hingga berakhir dengan mengurungkan niat.


Gadis itu memilahnya dengan seksama. Memisahkan antara produk makanan dan produk non makanan.


"Benar apa yang dikatakan Zara. Semuanya bahkan memiliki warna merah muda."


Tersimpan nada menggelitik saat Zara mengucapnya. Entah mengapa dirinya dibuat tersipu malu sendiri. Hingga tanpa terasa tangannya menyentuh benda berkemasan namun terasa lembut dan empuk. Ia pun spontan menoleh, akibat rasa penasaran mendera. Kiranya benda apalagi yang dipilih Sam, hingga terasa nyaman seperti ini saat disentuh.


Akan tetapi, gadis itu justru terlonjak saat netranya bersiborok dengan benda berkemasan merah muda yang tampak tak asing lagi baginya.


Ya tuhan, kenapa tuan menyebalkan itu juga menambahkan barang semacam ini.


Kiara enggan menyentuhnya. Ia bahkan berguling-guling dan menggaruk tembok tak mampu menghadapi kenyataan yang terpampang nyata di hadapannya.

__ADS_1


Tuan, tidak seharusnya kau menambahkan pembalut sebagai buah tangan.


__ADS_2