
Sam tampak ragu untuk mengemudikan kuda besinya. Untuk beberapa saat, ia menepikan kendaraan di ruang kosong, sekedar untuk menata hati. Ini bahkan sudah hari ketiga setelah Arka memberikan perintah.
"Sebenarnya apa yang terbesit di fikiran tuan. Apa dia kira ini gampang? Ini bahkan lebih sulit dari yang kufikirkan." Sam bergumam seorang diri. Bingung hendak melakukan apa.
"Dan Kiara, aku bahkan masih malu untuk bertemu, apalagi menanyakan masalah seperti ini padanya." Sam menatap kearah layar ponselnya. Pesan yang ia kirim, bahlan sudah mendapat balasan dari sang kekasih. Tetapi ia sendiri masih ragu untuk menemui gadis manis tersebut.
"Sial, kenapa aku jadi seragu ini?" Lebih tepatnya rasa malulah yang nyatanya mendominasi perasaannya.
Setelah menimang cukup lama, akhirnya ia pun membulatkan tekad.
Senja mulai menyapa di peraduan. Sam sengaja mengatur waktu hingga toko bungga tutup saat ia datang untuk menjemput Kiara. Kini ia sudah berada di area parkir, sementara seorang gadis baru saja keluar bersamaan dengan seorang penjaga keamanan yang bertugas membuka tutup toko.
Lagi-lagi detak jantungku seperti tak mampu kukendalikan.
Sam membuka pintu mobil untuk menyambut sang kekasih hati. Semenjak membawanya kerumah sang tuan, baru saat inilah mereka bertemu kembali. Layaknya sepasang kekasih yang baru saja merajut kasih, keduanya masih terbilang canggung dan malu-malu, saat baru bertemu.
Sam melambai kearah Kiara, yang mana membuat gadis itu pun mendekat.
Ya tuhan. Ini sulit dipercaya. Benarkah dia kekasihku?
Selama melangkah. Kiara memejamkan netra beberapa kali. Sungguh sulit dipercaya. Ia bahkan tak mempercayai jika pria dengan stelan jas rapi itu telah menjadi kekasihnya. Bukannya merasa senang, tubuhnya bahkan gemetar, dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Tuan," sapa Kiara lembut.
Bibir sedikit tebal Sam mengulas senyum lembut penuh ketulusan. Entah mengapa setiap kali berhadapan dengan gadis polos bernama Kiara, membuatnya tidak tahan. Seperti ada daya tarik tersendiri yang membuat hatinya terasa damai dan melebur.
"Ayo kita pulang," ucap Sam, kemudian membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Kiara untuk masuk.
Gadis itu terbelalak tak percaya.
Ya Tuhan! Apakah ini nyata? Tuan Sam bahkan membukakan pintu mobil untukku. Ini bukan tanda-tanda akan turun hujan badaikan?
Kiara masih menatap Sam, saat mulai memasuki mobil. Ia benar-benar dibuat tak berkutik.
*****
"Kia, ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Tentang apa, tuan?"
Selama perjalanan, Sam memilih untuk melancarkan aksinya. Berusaha mencari jawaban dari tugas sang tuan dari gadis yang tengah bersamanya ini.
"Aku mempunyai seorang teman, dan dia ingin sekali membuat sebuah kejutan yang romantis pada momen pertambahan usia istrinya. Dia sendiri menginginkan konsep kejutan yang romantis namun sederhana dan terlihat tak berlebihan."
__ADS_1
"Jadi," sela Kiara.
"Jadi, aku ingin meminta pendapatmu. Atau mungkin kau mempunyai sebuah ide konsep kejutan romantis yang baru saja kusebutkan."
Kiara sejenak berfikir. 'Konsep kejutan romantis'? Mana ia faham dengan masalah seperti itu. Selama berpacaran dengan Sandy pun, ia sama sekali tak mendapatkan kejutan atau makan malam romantis sekali pun, yang ada ia yang selalu dimanfaatkan oleh pria bejat bernama Sandy itu.
"Maaf, tuan. Jika menyangkut masalah seperti itu, saya tidak tau jawabannya."
Sam menautkan kedua alisnya, tampak tak percaya begitu saja.
"Benarkah? Bukankah para kaum perempuan kebanyakan tau soal hal semacam itu?"
Kiara tergelak lirih.
"Tuan, tidak semua perempuan itu mengetahui banyak hal tentang kencan romantis atau semacamnya. Bagi sebagian orang yang sudah berpengalaman, mungkin mereka akan faham, tetapi bagi kaum awam seperti saya, hal itu sama sekali tak terbesit difikiran. Bahkan tak masuk dalam agenda hidup." Karna begitulah adanya. Semua itu sangatlah tak penting bagi Kiara yang sibuk mencari nafkah untuk membiayai hidupnya dan juga keluarganya.
Sam merasa jika dirinya sudah salah bicara.
"Maaf, mungkin aku sudah salah bicara. Tetapi bukankah setiap perempuan menyukai sebuah kejutan yang diberikan oleh pasangannya?"
Gadis itu tersenyum tipis.
"Pastinya, tuan. Terlebih jika yang memberi kejutan ialah seseorang yang kita sayangi."
"Sementara jika kau sendiri mempunyai sebuah keinginan, Kiranya kejutan seperti apa yang menurutmu paling berkesan dan tak terlupakan disepanjang hidupmu?"
Gadis itu menghela nafas dalam. Menatap jauh kedepan.
"Mungkin ini hanya akan menjadi sebuah impian, yang tak akan pernah terwujud. Tetapi biarlah, setidaknya aku masih punya sebuah keinginan dan angan-angan selama hidup di dunia." Kiara tersenyum penuh ironi.
"Katakanlah."
"Tak ingin sebuah pesta mewah dengan banyak tamu dan limpahan kotak berisikan kado mahal. Aku hanya ingin makan malam romantis berdua. Diterangi lilin kecil dan bertemankan kerlipan bintang dilangit. Tak ada siapun kecuali aku dan dia. Saya rasa, itu saja sudah cukup. Sederhana, namun tetap romantis."
Sam terdiam. Hanya tangannya yang tampak sibuk mengatur kemudi.
Apa? Sesimpel itu. Tetapi benar juga. Sederhana namun tetap romantis.
Sam seperti menemukan harta karun yang sangat berharga. Ia tersenyum dalam diam. Sementara Kiara sendiri tampaknya asik dengan fikirannya sendiri.
Langit mulai menggelap. Lampu-lampu jalanan mulai menghidupkan suasana malam ibukota. Tanpa ragu Sam justru memutar kemudi menuju sebuah rumah makan yang berada di luar ruangan.
"Tuan, kita akan kemana?" Gadis itu terkesiap saat mobil berhenti bahkan belum sampai kedepan gank kontrakannya.
__ADS_1
"Makan. Bukankah kau juga lapar? Ayo turun," titah Sam selepas membantu melepas sabuk pengaman di pinggang Kiara.
"Terimakasih," ucap gadis itu lirih.
"Sama-sama."
******
Akhirnya, bukanlah sang tuan yang lebih dulu melewatkan makan malam romantis yang di impikan. Kini justru Sam dan Kiaralah yang melakukan.
Dibawah taburan bintang dan beberapa lilin kecil di antara hidangan yang tersaji di meja. Keduanya tampak menikmati makan malam pertama sekaligus teromantis selama mereka menjalin hubungan.
Makan mewah mungkin hal biasa bagi Sam, namun suasana dan gadis di depannyalah yang membuat makan malam kali ini terasa berbeda.
Sedangkan Kiara sendiri, wajahnya sudah merona merah sedari tadi. Ia benar-benar menahan malu. Bagaimana tidak, ia justru dengan lantangnya mengucap keinginan yang baginya mustahil namun nyatanya bisa diwujudkan Sam dalam waktu sekejap. Rasanya ia ingin menangis dan bersembunyi di mana saja agar tak terlihat oleh Sam. Tetapi semuanya mustahil.
"Kia, apa kau senang?"
Hah. Aku harus jawab apa? Tidak mungkinkan aku sampai jungkir balik di hadapannya sebagai luapan rasa suka.
"Tentu, tuan. Saya sangat berterimakasih untuk makan malam ini. Sumpah, momen seperti ini bahkan hanya bisa menjadi angan bagi saya. Tetapi sekarang, justru bisa terwujud karna anda." Terdengar sebuah ketulisan mendalam dari setiap kalimat jawaban yang terucap dari bibir tipis Kiara. Pada awalnya, ia sempat ragu dengan hubungannya bersama Sam, mengingat perbedaan Kasta dan jarangnya waktu berjumpa. Akan tetapi, dari segala tindakan dan perbuatan yang pria itu tunjukan, membuat rasa ragu itu perlahan mulai tersamarkan.
"Ingat, aku bukanlah tuanmu. Tetapi aku ini kekasihmu. Jadi, jangan lagi memanggilku Tuan dan ganti panggilanmu dengan sebutan yang membuatku lebih nyaman."
Kiara memejamkan netra sesaat. Ia bahkan tak mempunyai keberanian untuk mengganti sebutan bagi pria di depannya ini.
"Lalu apa tuan?"
Sepasang netra Sam justru melotot saat Kiara lagi-lagi memanggilnya tuan.
"Bagaimana jika Kakak? Kak Sam. Ya, seperti itu, bagaimana?"
Sam berfikir sejenak. Meski diawal sempat tersirat keraguan, tetapi ia menyetujuinya.
Hah, baguslah. Dari pada aku harus memanggilnya sayang. Bukankah itu terdengar menggelikan bagi sebagian orang.
Kiara tersenyum. Meski hatinya bahkan tak yakin, jika Sam akan membawa bahtera cinta ini sampai kemana. Tetapi setidaknya, saling mendekatkan diri satu sama lain, mampu membuat mereka lebih nyaman dan saling menghargai satu sama lain.
Like..
Komen..
Vote Biar Autor lebih semangat up😍😍
__ADS_1
Terimakasih