Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Tidak Merasa Direpotkan


__ADS_3

Kenan terjaga dari tidurnya saat merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Menatap keadaan dirinya, pria itu tersadar jika tenhah tertidur di sofa yang tak terlalu luas hingga tubuh besarnya sulit bergerak.


Pria tampan itu mencoba bangkit untuk melihat keadaan Anastasya. Ken tersenyum tipis, saat mendapati gadis itu tertidur dengan pulasnya. Telapak tangannya pun bergerak untuk menyentuh kening sang gadis untuk memastikan kondisinya.


"Syukurlah, sudah tak terlalu panas." Anastasya pun tak lagi menggigil kedinginan, dan tak ayal itu menjadi kabar baik baginya.


Untuk sejenak ken menatap sosok gadis yang terbaring di hadapannya lekat. Entah menggapa seperti ada sesuatu tak kasat mata yang mendorong nalurinya untuk mengenal gadis ini lebih dekat.


Sebenarnya, tak begitu saja ia bisa mendapatkan alamat rumah Anastasya. Ken yang hampir setiap malam mengunjungi resto milik sahabatnya, Wisnu, nampak mencari keberadaan sosok gadis yang selalu melayani dan menemaninya berbicara yang pada malam itu tak terlihat. Pada awalnya Ken merasa biasa saja, tetapi saat malam mulai berganti, dan gadis itu masih tak terlihat batang hidungnya, hati Ken terasa terusik.


Meski diawal sempat ragu, namun akhirnya ia bisa mendapatkan alamat rumah Anastasya dari manager resto. Mungkin ia datang pada waktu yang tepat. Rupanya gadis itu sakit dan tengah membutuhkan pertolongan.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Ken saat mendekap tubuh Anastasya yang baru saja pingsan. Ia lantas mengendong tubuh kurus sang gadis dan memindahlannya ke sofa. Berlari kearah sekeliling rumah untuk menemukan sanak saudara atau siapa pun yang berada satu rumah dengannya.


Tetapi nihil, Ken tak menemukan siapa pun.


Apa mungkin dia hidup seorang diri.


Kenan mengusap wajahnya kasar. Di rumah mungil itu pun tak terpajang foto Anastasya atau pun keluarganya. Sementara Anastasya yang terbaring tak sadarkan diri itu, membuat Ken tak punya pilihan lain, hingga membawanya kerumasakit terdekat.


Dan semuanya berakhir di tempat ini.


Saat aku bercerita panjang lebar tentang kehidupan masalaluku, kau selalu bersikap seperti seorang pendengar yang baik untukku. Akan tetapi kenapa, saat aku bertanya tentang kehidupanmu, kau justru mengatakan jika tak ada sesuatu yang menarik dalam kehidupanmu.


Seperti ada sebuah kejanggalan. Begitu batin Kenan.


Apakah dia juga mempunyai masalalu yang menyakitkan sepertiku?


Ah, entahlah. Mungkin saja itu hanya sebuah praduga yang tak beralasan.


Sekilas memang tak ada yang aneh dari Anastasya. Gadis itu sangat cantik, dengan postur tubuh tinggi semampai bak model. Tetapi jika menebak berapa usianya, Kenan tak mampu menerkanya. Jika dibanding Ken, tentu usia Anastasya jauh di bawahnya.


Anastasya terbilang cukup dewasa dalam berbicara, dan juga terlihat ceria. Tetapi saat terbaring sakit, gadis itu seperti tak mampu memasang wajah ceria, dan berganti menjadi sendu dengan raut wajah tak terbaca.


Dia terlelap sangat dalam, mungkin tidak ada salahnya jika aku tinggal sebentar.


Kenan berjalan mengendap dan membuka pintu tanpa suara. Setelah berada di luar ruangan, ia kekas meraih ponsel di saku pakaiannya guna menghubungi seseorang.


"Kirim pakaianku sekarang ke hotel xx." Selepas berucap, pria itu pun berjalan menyusuri lorong rumasakit.


*******

__ADS_1


"Kau sudah bangun."


Satu kalimat yang terdengar saat Anastasya mulai terjaga dari tidur lelapnya. Menatap kearah sumber suara, gadis itu tersenyum tipis mendapati Kenan yang sudah terlihat segar dan rapi, duduk di kursi samping ranjangnya.


Anastasya mengangguk samar kemudian menjawab, "Sudah."


Pintu ruangan terbuka, nampak dokter perempuan beserta seorang perawat mendekat kemudian memeriksa keadaannya.


"Dokter, bagaimana keadaan saya." Anastasya memberanikan diri untuk lebih dulu bertanya.


Dokter itu pun tersenyum lembut.


"Kondisi nyonya sudah lebih baik. Beruntung Tuan Kenan lekas membawa anda kemari pada waktu yang tepat." Lagi-lagi dokter perempuan itu mengembangkan senyum di bibirnya.


Anastasya kini menatap kearah pria yang tengah menatap kearahnya.


Aku benar-benar sudah merepotkan**mu tuan Kenan. Bagaimana ini?


"Dokter, apakah saya sudah diperbolehkan untuk pulang?"


"Anastasya, apa kau yakin? Lihatlah kondisimu?" Kenan menyerukan ketidaksetujuannya, yang mana membuat Anastasya dan kedua pekerja medis itu saling menatap satu sama lain.


"Tapi, aku sudah merasa lebih baik, tuan."


Anaatasya hanya terdiam, sembari memilin jemarinya yang bertautan satu sama lain.


Adanya sedikit drama perdebatan membuat dokter perempuan itu harus lekas menengahi.


"Tuan, pingsannya nyonya diakibatkan karna lelah yang bercampur dengan demam. Sekarang suhu tubuhnya sudah normal, dan jika nyonya memaksa untuk pulang, itu tidak apa-apa. Yang penting harus banyak-banyak beristirahat, makan tepat waktu dan jangan dulu melakukan aktifitas yang berat," ucap dokter itu memperingatkan.


"Tapi dokter," jawab Kenan lirih.


"Saya tau jika tuan sangat mencemaakan Nyonya Anastasya, tetapi juga kami tidak bisa menahan pasien untuk berlama-lama di tempat ini jika kondisinya sudah membaik."


Akhirnya selepas perdebatan alot itu, Anastasya diperbolehkan pulang dengan berbagai macam catatan yang harus di patuhi.


Anastasya sendiri sudah menganti pakaiannya dengan pakaian santai yang di berikan oleh Kenan. Entah dari mana pria itu mendapatkannya, gadis itu tak berani untuk bertanya.


Ya tuhan.


Anastasya menepuk keningnya berulang, dan itu disadari oleh Ken yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


"Hei apa yang kau lakukan? Kenapa menyakiti dirimu sendiri?"


Gadis itu gelagap, sebab melupakan keberadaan pria itu yang masih bersamanya.


"I-itu, tuan. Sa-saya lupa membawa dompet."


Lalu bagaimana caranya aku bisa membayar biaya rumasakit ini?


"Dompet, untuk apa?" Kenan mengernyit penuh tanya.


"Untuk membayar biaya rumasakit."


Kenan menghela nafas dalam, dan lekas membimbing gadis itu untuk keluar dari ruangan. Anastasya kebingungan, pada saat melewati meja resepsionis pun Kenan terus menarik tanggannya hingga menuju mobil pria itu.


"Tuan, sebentar!" seru Anastasya. "Saya bahkan belum membayar biaya rumasakit, jika tuan terus menarikku seperti ini, maka penjaga keamanan akan menangkapku, sebab mengira aku berupaya kabur dari rumasakit ini."


Lagi-lagi kenan menghela nafas dalam. Tangannya bahkan bergerak membuka pintu mobil untuk Anastasya.


"Masuklah. Kau tidak perlu memikirkan masalah rumasakit lagi."


"Kenapa?" Anastasya meninggikan nada bicaranya. Dia sangat terlihat geram.


"Karna aku sudah membereskannya."


Apa? Apa aku tak salah dengar. Membereskannya? Apa maksudnya membayar semua biayannya.


"Tuan! Apa anda sudah membayar semuanya?"


"Hemm." Kenan menarik lembut tubuh Anastasya, berharap gadis itu lekas diam dan memasuki mobil.


Tak semudah itu. Anastasya menahan tubuhnya hingga gadis itu keluar lagi dari pintu mobil.


"Tuan, saya pasti sudah merepotkan anda. Tapi jangan khawatir, setelah sampai rumah aku akan mengganti semua biayanya."


Kini wajah Kenan terlihat tidak suka dengan jawaban Anastasya.


"Tidak perlu. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan."


"Tapi tuan," rengek Anastasya.


"Kenapa? Jika kau bersikeras untuk menggantinya. Maka gantilah lima puluh kali lipat dari biaya yang sudah kukeluarkan untukmu."

__ADS_1


Apa? Lima puluh kali lipat? Bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?


Anastasya menyerah kalah. Perlahan ia mulai masuk kembali kedalam mobil tanpa suara. Ken yang melihat semua itu hanya tergelak dalam hati. Menutup pintu cukup keras dan memulai perjalanan untuk mengantar gadis itu pulang.


__ADS_2