
Pria muda yang tengah berjalan mondar mandir tak tentu arah di sebuah kamar itu tampak gusar. Dari lubuk hati terdalam, dirinya sangat tak terima pada sang Ibu yang sudah menginterogasi menantunya dengan keterlaluan. Engan menahan kesabaran lebih lama lagi, Arka bergegas menuju ruang kerjanya di mana Surti tengah bersiaga di depan pintu ruangan bercat putih gading tersebut.
"Bibi, menepilah. Aku ingin masuk untuk menemui istriku," ucap Arka dengan nafas memburu.
Surti susah payah menelan saliva. Pelayan paruh baya itu takut jika Tuanya berbuat nekat saat dirinya tak memberi jalan.
"Tapi Tuan. Nyonya meminta saya untuk melarang siapa pun yang ingin memasuki ruangan ini, meskipun itu Anda sendiri, Tuan."
Arka mengeleng dan tersenyum tak percaya. Bagaimana bisa ibunya berbuat semacam ini. Mirah benar-benar ingin menjauhkan dirinya dari Zara, begitu lah yang terbesit dibenaknya.
"Tapi ini sudah terlalu lama Bi. Apa aku tidak merasa khawatir? Apakah Bibi bisa mempastikan semuanya baik-baik saja? Bagaimana jika Ibu sampai mencubit bahkan mencakar istriku? Apa Bibi akan membiarkan itu semua terjadi tanpa berusaha mencegahnya," pekik Arka setengah geram namun sebisa mungkin ia tahan mengingat Surti layaknya orang tua baginya.
Perempuan paruh baya dengan pakaian pelayain itu terbelalak dan menelan salivanya berat jika apa yang diucapkan Tuannya benar-benar terjadi.
"Tapi Tuan. Sedari tadi saya tak mendengar suara apa pun yang berasal dari dalam ruangan," jawab Surti polos dengan netra mengerjap mengumpulkan kesadaran.
Arka menepuk dahinya berulang, dan mengelengkan kepala samar.
"Bagaimana Bibi bisa mendengarnya jika ruangan ini saja kedap suara. Berteriak sekencang apa pun tak akan mungkin bisa Bibi dengar." Arka sedikit meninggikan nada bicaranya. Ketakutan yang luar biasa kini menjalar di tubuhnya.
Tanpa fikir panjang, Surti lekas mendorong pintu ruangan tersebut sebelum semuanya terlambat namun naas, pintu tinggi menjulang itu justru terkunci rapat dari dalam.
"Bagaimana Tuan, sepertinya Nyonya menguncinya dari dalam." ucap Surti saat tak adanya pergerakan dari pintu yang nyaris pelayan itu tubruk.
"Apa yang harus kita lakukan Bi," lirih Arka disela keterputus asaanya. Ia pun segera memutar otak dan mencari jalan keluar. Ingin rasanya mendobrak, namun pintu dengan desain khusus tak akan semudah itu ia bobol walau tubuhnya sekuat apa pun. Hingga pria tampan itu pun mengingat sesuatu.
"Kunci, kunci. Bibi menyimpan kursi candangannya bukan?" Surti menganguk. "Ambil cepat Bi," titah Arka dengan tak sabaran.
Surti pun lari terbirit-birit menuju ruangan penyimpanan benda penting yang berada tak jauh dari tempatnya semula. Tak berapa lama pelayan itu pun kembali dengan nafas terenggah dan mengulurkan sebuah kunci dari saku pakaianya pada sang Tuan.
"Terimakasih Bi." Arka beserta Surti lebih mendekati pintu. Tangan kokoh itu mulai mengarahkan kunci pada tempatnya, namun belum lagi kunci sempat menancap justru pintu tanpak ditarik dari arah dalam hingga menampakan kedua sosok tubuh perempuan yang berada dalam ruangan menatap Arka beserta Surti dengan kecurigaan.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" todong Mirah pada pelayan dan putranya itu yang nampak terkejut setengah mati.
"Kami hanya ingin mempastikan jika Zara baik-baik saja." Arka menarik tubuh sang istri yang berada di belakang ibunya dan membawanya dalam dekapan. Sementara Surti yang terkejut nyaris menubruk tubuh Mirah yang ada di balik pintu.
"Memang apa yang akan Ibu lakukan pada menantu Ibu sendiri? Coba lihat istrimu, dia baik-baik saja dan tak tergores barang seujung kuku pun." balas Mirah dengan netra menyipit memandang Surti dan Arka kebingungan.
Arka memindai tubuh sang istri keseluruhan bahkan sempat memutar tubuh mungil itu beberapa kali untuk lebih memastikan. Akan tetapi ia tak menemuka luka atau semacamnya di kulit sang istri.
"Kau tidak apa-apa Zara?"
__ADS_1
Gadis itu pun menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Kenapa Tuan dan Bi Surti terlihat begitu khawatir?"
Tanya dibalas tanya. Arka pun kebingungan mencari jawaban yang tepat. Serta mengutuki diri sendiri yang sempat berprasangka buruk pada Ibunya sendiri.
"Ti-tidak, kami hanya sedang mencoba kunci cadangan saja, apakah masih befungsi atau justru sudah rusak." Arka tersenyum kikuk dan mengangat kunci yang dipegang keudara.
Surti hanya tertunduk, namun sudut bibir tampak berkedut layaknya menahan tawa.
"Apa-apaan kalian ini, sengaja ingin menguping pembicaraan kami," ucap Mirah dengan bersedekap dada sembari berdecak. "Kalian berdua terlihat seperti bocah." Mirah meraih tangan Zara kemudian menggandengnya. "Ayo ikut Ibu kedapur. Kita akan memasak untuk makan malam. O ya Bi Surti, pangil juga Anastasya. Katakan untuk bergabung dengan kami di dapur," titah Mirah yang mulai memapah sang menantu untuk menuju dapur.
"Ibu ingin membawa istriku kemana lagi?"
Mirah menoleh sekejap, menatap putranya yang enggan untuk ditinggalkan.
"Kami hanya akan bersenang-senang di dapur. Apa kau juga ingin ikut?" goda Mirah dengan gelak samar di bibir.
Arka spontan menggeleng dan membiarkan kedua perempuan itu menjauh dari jangkauannya.
Sial. Kenapa Ibu selalu saja ingin menjauhkanku dari istriku sendiri.
Arka mengusap wajahnya kasar. Sesungguhnya ia sangat merindukan Zara dan ingin memeluknya, namun sang Ibu selalu memiliki rencana sendiri agar keduanya berjauhan.
*******
Perempuan paruh baya itu tersenyum dan mulai memilih bahan-bahan masakan dalam lemari pendingin. Zara yang masih bingung pun hanya bisa menatap tubuh yang masih terlihat ramping itu bergerak memilih bahan yang ingin dimasak dalam keranjang.
Anastasya yang baru saja datang pun hanya menghela nafas dalam dan berdiri mensejajari Zara.
"Zara, apa yang akan kita lakukan di sini," tanya Anastasya setengah berbisik di telinga Zara.
"Entahlah Nona, mungkin kita akan memasak."
"Apa? Aku tidak pernah memasak Zara, bagai mana aku---
Anastasya tak mampu merampungkan ucapan kala sepasang netra sayu itu menatap kearahnya.
"Kau sudah datang, Anastasya. Baiklah, sekarang kalian berdua bantu Ibu untuk memasak." Senyum simpul terulas di bibir perempuan paruh baya itu, namun itu layaknya senyum mengerikan bagi Anastasya.
Ketiga tampak berdampingan. Zara mendapat bagian mencuci dan memotong sayuran sementara Anastasya mengupas beberapa bumbu dapur yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Gadis itu pun mulai menitikan buliran bening kala bawang merah yang dikupasnya menyapa kedua indra penglihatannya. Nyaris Anastasya mengumpat kesal dan hendak membuang bawang itu ke tong sampah jika bukan Mirahlah yang memintanya.
__ADS_1
"Apa kalian tau, makanan seperti apa yang disukai putraku," tanya Mirah pada kedua menantunya.
Anastasya mengingat kembali jenis makanan apa saja yang kerap suaminya itu santap namun dari sekian banyak kejadian, dirinya masih belum tau secara pasti makanan apa saja yang suaminya itu sukai. Gadis itu mengakui jika selama menikah, dirinya tak pernah sekali pun memasak untuk suaminya itu.
Zara yang mendapati Anastasya hanya diam, berusaha untuk menjawab pertanyaan Mirah dari yang ia tau selama beberapa hari menikah dengan Arka.
"Dari sepengetahuan saya, Tuan Arka menyukai semua hidangan berbahan dasar daging. Seperti steak atau pun sup. Juga berbagai macam sayuran segar yang dijadikan salad."
Mirah terdiam sebentar. Aktifitasnya meracik bumbu pun ia hentikan, kemudian menatap gadis mungil itu dengan netra berkaca-kaca.
Tak ada ucapan yang keluar dari bibir perempuan yang sudah melahirkan Arka, namun satu yang pasti kini dirinya sudah benar-benar menemukan gadis yang putranya cari selama ini.
*******
Makan malam berjalan dengan hangat. Arka tampak berbinar dan merasa puas dengan hidangan yang disajikan. Berkumpul sejenak di ruang keluarga, keempat orang tersebut tampak saling bercengkrama. Tak ada batasan berlebih antara mertua dan menantu, semua terlihat menyatu. Arka berusaha menahan untuk selalu menempel pada Zara dan memilih duduk di sofa berbeda mengingat tak ingin melukai perasaan Anastasya.
Merasa mulai lelah dan ingin terlelap, Anastasya meninggalkan ruang keluarga lebih dulu selepas berpamitan pada Mirah. Ketiganya pun serentak beranjak dan menuju kamar masing-masing. Akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Arka. Kenapa Ibunya justru terlihat mengandeng mesra tangan Zara seolah engan terlepaskan menuju kamar pribadi mereka.
"Aku rasa kamar Ibu bukan di sini tempatnya," selidik Arka setelah menemukan kejanggalan.
"Kenapa Kau mengikuti kami? Aku ingin tidur dengan menantuku, jadi jangan coba-coba gangu kami." Mirah tersenyum penuh kemenangan. Membuka pintu dan menguncinya cepat setelah keduanya masuk.
"Ibu! Apa-apaan ini. Aku juga merindukan istriku, tapi kenapa justru Ibu yang tidur seranjang dengannya," pekik Arka dengan suara tertahan. Menggedor-gedor pintu kamar dan hampir mendobraknya. Meracau dengan macam bahasa sebagai luapan kekesalan.
Sementara itu di dalam kamar.
"Zara, coba pijat punggungku." Mirah merebahkan tubuhnya di ranjang dan menikmati pijatan nyaman dari tangan menantunya.
"Apa pijatanku terlalu kuat Bu."
"Tidak, itu terasa sangat nyaman. Aku yakin, ini salah satu keahlian yang kau miliki hingga Arka tak mau sedikit pun jauh darimu." Mirah masih menikmati pijatan.
Zara terdiam. Mirah adalah orang pertama yang ia pijat selama tinggal di rumah suaminya.
"Tapi Bu. Saya belum pernah me---
"Apa, kau belum pernah memijit Arka dengan tanganmu?" Murti sedikit mengeser pandang melihat reaksi menantunya.
Gadis itu pun menggeleng.
"Apa? Jadi kau belum pernah melakukannya?" Mirah berbalik badan, hingga membuat menantunya itu terkejut bukan main. "Jangan bilang jika kalian juga belum pernah.." Mirah mengerakan tangan membentuk simbol layaknya pasangan tengah berciuman.
__ADS_1
Zara mulai gelisah. Udara dingin kamar, kini terasa panas seketika.
Kenapa Ibu menanyakan hal semacam itu si, aku harus jawab apa.