Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Kehilangan


__ADS_3

...Tuhan, andaikata semua bisa diubah, biarkan diriku saja yang merasakan sakitnya. Jangan biarkan suamiku tersiksa seperti ini sebab keteledoranku....


Rumi meremas jari jemarinya yang bertautan, seirama doa yang ia ucap. Ingin rasanya bertukar posisi. Membiarkan dirinya yang merasakan sakit, dan jangan suaminya. Jamil sudah cukup lama bertaruh melawan penyakitnya. Dan kini, biarkanlah ia yang merasakan sakit itu, untuk menggantikannya.


Sepanjang waktu dihabiskan Rumi dengan rasa sesal. Andai tak memgantuk, atau meminta pengawal untuk membantunya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tetapi apalah daya, semua memang seharusnya terjadi tanpa perlu disesali.


Berteman sepi, Rumi bahkan enggan beranjak dari sisi sang suami, walau itu hanya sekedar makan atau pun beristirahat. Rasa lapar dan kantuk, tak mampu lagi ia rasa. Baginya, dengan tetap menggengam tangan jamil dan tanpa henti mendoakannya, terasa lebih penting dari pada hal apa pun itu.


Suara mengerikan yang tercipta dari alat penunjang hidup di tubuh Jamil, serasa bagai teman setia yang menemani Rumi saat kesunyian menyapa. Sebenarnya, Zara pun tak ingin berada jauh darinya, tetapi kondisi kehamilannya yang tak memungkinkan putrinya itu untuk bisa menemaninya selama dua puluh empat jam penuh.


Rumi menghela nafas dalam. Menatap wajah kusam sang suami lekat, sementara jemarinya menggengam erat tangan pria paruh baya yang sudah menemani hidup bertahun-tahun lamanya.


Lengkung tipis sedikit pucat milik perempuan itu mengulas senyum simpul. Ketika kembali mengingat peristiwa berpuluh tahun silam, saat untuk kali pertama keduanya bertemu. Mereka dipertemukan tanpa sengaja, kemudian menikah beberapa bulan kemudian karna cinta. Sungguh kenangan indah, yang tak begitu saja dapat terlupakan.


"Ayah, apa ayah masih ingat, di mana tempat kita pertama bertemu?"


Rumi terus beriteraksi dengan Jamil. Mengenang kembali masa-masa indah yang pernah dilalui bersama. Bercerita tentang betapa bahagianya Rumi menjadi seorang istri sekaligus ibu dari hasil buah cinta mereka. Tanpa henti, dan rasa lelah rumi mengurainya. Tak perduli jika ucapannya tak mampu di dengae, apa lagi direspon oleh pria yang ia cinta.


Sebagai seorang istri, tentu Rumi begitu sangat kehilangan saat suaminya kini masih berada di hadapan mata, namun terbujur lemah dan hanya diam. Semenjak kepergian Zara ke ibukota. Rumi dan Jamil hanya tinggal berdua. Bahkan saat sang putri menikah. Mereka menolak secara halus saat Zara bahkan suaminya meminta untuk tinggal bersama, tetapi keduanya tetap memilih untuk hidup di kampung, guna menghabiskan masa tua bersama.


"Ayah, aku mohon bangunlah. Aku bisa apa jika tanpamu." Perempuan paruh baya itu mulai menangis saat bibirnya lelah berucap, namun masih tak menemukan perubahan apa pun pada tubuh suaminya. Tersedu dengan meremas satu tangan jamil dan disentuh kanya kewajahnya yang lembab.


Akan tetapi, diwaktu yang bersamaan, tubuh Jamil menegang dan bergetar. Sementara alat penunjang kehidupan pun menimbulkan suara yang mengerikan hingga Rumi berjingkat dan berteriak meminta bantuan.


"Dokter, Suster. Tolong!" Rumi terus berteriak histeris sebelum para petugas medis datang. Terlebis saat melihat kondisi Jamil yang membuatnya ketakutan luar biasa.


Rupanya terdapat dua pengawal yang ditugaskan khusus oleh Arka untuk menunggu kedua mertuanya. Hingga kedua pria itu dengan sigap memangil dokter atau pun tenaga medis lain yang kebetulan melintas.


"Maaf nyonya. Lebih baik anda menunggu diluar selama kami menangani pasien," titah salah seorang Dokter pada Rumi yang terlihat masih syok.


Para pengawal itu pun membimbing Rumi untuk membawanya keluar ruangan selama para tenaga medis tengah bekerja. Meninggalkan perempuan paruh baya itu di jajaran kursi tunggu, kedua pria berbadan tegap itu memilih menyingkir sejenak dan terlihat jika keduanya tengah saling berembuk.


Rumi hanya bisa menangis, namun tak mampu berbuat apa-apa. Satu pengawal kembali mendekat dan berusaha menenangkan, sementara satu lainnya terlihat berjalan entah kemana.


****


Mengambil nafas dalam. Pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam tampak ragu untuk mengulurkan tangan guna mengetuk pintu sebuah ruangan. Pria itu nyaris mengurungkan niat, tetapi bayangan wajah luar biasa cemas Rumi seakan menguatkannya dan mau tak mau ia pun harusmemberanikan diri.


Keempat ruas jarinya terangkat, mengayun membentur pintu keras hingga menciptakan ketukan. Ketukan tersebut tak terlalu pelan atau pun kencang, hingga diyakini jika tak akan mengejutkan penghuni di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Beberapa kali ketukan tak mendapatkan sahutan. Pengawal itu hampir berbalik badan dan kembali memui Rumi. Tetapi, lagi lagi bayangan menyedihkan perempuan paruh baya itu, membuat tangannya bergerak sekali lagi untuk mengetuk pintu.


Tepat saat ketukan itu terhenti, pintu pun terbuka dan sesosok tubuh mungil dengan senyum sehangat senja muncul dari baliknya.


Tubuh pengawal itu melemah seketika. Pasalnya, ia berharap jika lebih baik sang tuanlah yang membukakan pintu untuknya, dan bukan nona.


Melihat wajah polos tak berdosa Zara, dengan sepasang netra bening yang masih berkaca-kaca itu membuat pengawal itu tak tega untuk mengatakan perihal kondisi terkini ayahnya.


"Ada apa?" tanya Zara.


"Maaf Nona. Tak seharusnya saya membangunkan nona selarut ini," ucap pengawal itu lirih penuh penyesalan.


"Tidak apa. Lagi pula, aku juga masih belum terlelap," jawab Zara setengah berbohong. Selepas turun dan menyelimuti tubuh Suaminya, Zara menuju ranjang untuk kembali tidur. Tetapi, sepasang netranya seolah meminta untuk terus terjaga, hingga pada saat ketukan dari pengawal terdengar, sebenarnya Zara baru beberapa menit terlelap.


"Maafkan saya, nona." Ragu, pengawal itu berucap.


"Katakanlah. Apakah ada sesuatu yang penting?"


Pengawal itu menghela nafas dalam, kemudian berucap, "Sepertinya, nyonya Rumi sedang mengharap keberadaan anda di sisinya."


Zara menautkan kedua alisnya tak mengerti.


Arka yang masih terlelap itu mulai mengerjap saat mendengar pekikan suara sang istri yang terdengar hingga sampai alam bawah sadarnya.


"Maafkan saya, nona." Pengawal itu berucap sembari menunduk dalam. Dan seketika Zara mengerti akan jawaban dari semua pertanyaanya.


Gadis mungil itu mulai terisak. Kedua netranya berkaca-kaca. Ia ingin segera berlari menuju ruang perawatan sang ayah, tetapi sepasang tangan kokoh menariknya dan membawanya dalam pelukan.


"Tenanglah, sayang. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Arka menenangkan sementara sepasang netranya memberi isyarat pada pengawal itu untuk pergi.


"Ta-tapi, ayah."


"Tenanglah. Ayo kita lihat, untuk lebih memperjelas." Dengan lembut Arka menyeka bulir bening di pipi sang istrinya. Gadis itu pun mengangguk, menyetujui. Keduanya pun mulai melangkah, meski sejujurnya ada ketakutan. Baik Zara atau pun Arka sepertinya sudah meraba kemungkinan yang terjadi. Hingga tangisan memilukan yang mereka yakini ialah suara dari Rumi, menjadi jawaban.


Sejenak melupakan kondisi kandungan, Zara berlari cepat untuk menubruk tubuh ibunya yang berdiri menatap kaca tembus padang ruangan perawatan Jamil. Perempuan paruh baya itu tak mampu menahan gejolak saat beberapa tenaga medis melakukan berbagai penyelamatan, namun tubuh jamil engan merespon.


"Zara, ayahmu nak." Menatap kearah suaminya yang tak berdaya, Rumi seolah tengah mengadu akan kondisi suaminya pada sang putri.


Gadis itu pun hanya bisa mengangguk. Ia kembali teringat akan ucapan Arka beberapa saat lalu. Sangat tipis kemungkinan untuk ayahnya bisa kembali membuka mata. Dan mungkin saat ini, hal buruk itu benar-benar akan terjadi.

__ADS_1


"Ibu, kita serahkan saja semua pada yang maha kuasa. Hanya itulah satu-satunya yang menjadi harapan kita." Zara berusaha tegar di hadapan ibunya. Walau terasa sangat sulit baginya.


Dari arah belakang, Arka mengusap punggung Zara berusaha menyalurkan ketenangan dan rasa nyaman. Pria itu memilih untuk diam. Membiarkan kedua wanita yang berarti bagi hidupnya untuk meluapkan kesedihan tanpa bermaksud mencampuri.


Pintu ruangan terbuka samar. Seseorang berpakaian dinas berwarna putih dengan masker menutupi separuh wajahnya.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya." Arka memberanikan diri untuk lebih dulu bertanya. Sebelum istri dan ibu mertuanya berbicara.


Dokter pria itu mengelengkan kepala samar.


"Maaf Tuan. Nyawa Tuan Jamil, tidak mampu kami selamatkan." Satu kalimat yang terucap dari dokter pria itu, seketika membuat tubuh Rumi bergetar. Pandangannya memburam dan terpejam, sebelum tubuhnya ambruk tersungkur kelantai.


"Ibu," pekik Zara didera keterkejutan. Spontan tubuhnya pun ikut terduduk di lantai guna mendekap ibunya yang kini tak sadarkan diri.


"Ibu bangun, bu." Tangis Zara pecahlah sudah. Cukup lama ia menahan, namun akhirnya tak terbendung jua. Sedu sedan menyayat hati itu terasa menyayat hati bagi siapa pun yang mendengar. Arka yang mencoba tegar pun, runtuhlah sudah begitu menatap wajah sang istri yang menangis memeluk tubuh ibunya dengan perut membuncit.


Pria itu pun berlutut. Memeluk sang istri dan membiarkannya untuk bersandar pada tubuhnya. Sementara para pengawal mengotong tubuh tak berdaya Rumi dan membawanya keruangan yang lebih aman.


"Maaf aku sempat menyembunyikan kondisi ayah yang sebenarnya padamu. Aku takut jika berujung nestapa seperti ini," jelas arka dengan penuh penyesalan. Ia meregangkan dekapan untuk menatap wajah perempuan yang kini tengah mengandung calon anak-anaknya.


Wajah gadis itu sangat lembab dengan bola mata yang memerah. Wajahnya tertunduk lesu seakan separuh nyawanya direnggut paksa. Tak ada jawaban. Gadis itu tetap diam dengan bibir bergetar.


"Sayang, aku mohon maafkan aku," lirih Arka mengiba.


Terlihat jika gadis itu menghela nafas dalam dan memejamkan netra sesaat.


"Sayang, aku sudah tau semuanya, dan aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Semua pasti sudah tergaris oleh takdir. Rezeki, jodoh dan maut sekali pun, tidak ada yang mengetahui selain sang pemilik hidup."


Arka pun tersenyum samar begitu mendengar jawaban istrinya. Dibimbingnya tubuh mungil Zara untuk siap menatap kenyataan. Ayah yang tak lagi bernyawa dan sang ibu yang ambruk lunglai tak sadarkan diri.


Tuhan, tolong kuatkanlah hambamu ini.


Bersambung..


Like


Komen


Vote seikhlasnya

__ADS_1


__ADS_2