
"Kemana perginya putriku? Aku merasa sangat menyesal." Rumi meratapi kesalahannya sendiri sembari memeluk erat tubuh sang suami.
"Dan kemana kita akan mencarinya, Bu?" ucap Jamil menanggapi ucapan sang istri.
Keduanya saling berpelukan dan terisak. Tak tau lagi hendak melakukan apa untuk bisa menemukan putrinya.
Arka mengusap wajahnya kasar, lalu di mana perginya sang istri jika tidak di tempat ini.
"Ibu, Ayah," ucap Arka yang spontan membuat sepasang suami yang tengah menangis otu terdiam dan melihat kearahnya, begitu pun yang lainnya. "Sebelum melakukan pencarian, Ijinkan saya Arkana yang tak lain suami dari putri ayah dan ibu untuk mengatakan tentang sesuatu hal."
Rumi dan Jamil saling melempar pandang, keduanya saling tak mengerti tentang apa yang akan diucap menantunya itu.
"Saya hafam jika Ibu atau pun Ayah merasa kecewa akan tindakan Zara yang menikah tanpa memita restu kepada kalian. Maka dari itu, pada hari saya akan memperjelas semuanya. Percayalah, saya sangat mencintai Zara. Pernikahan tersebut juga terbilang mendadak."
Kedua orang tua Zara, masih mendengar ucapan Arka dengan seksama.
"Nak Arka, saya memang tidak tau secara jelas pernikahan yang dirajut Zara seperti apa. Akan tetapi, saat dirinya menjadi seorang simpanan dan menikah dengan pria yang sudah beristri, maka saya tidak mampu lagi memendam amarah dan melemparkan semua rasa kecewa saya padanya."
Anastasya yang merasa harus menengahi perihal masalah ini, segera angkat bicara.
"Bibi, maaf sebelumnya. Dulu memang saya adalah istri pertama Arka, tetapi itu dulu dan kini kami sudah bercerai. Pernikahan ini pun terjadi juga atas permintaan saya. Demi tuhan, saya berani bersumpah. Dan tuduhan tentang perempuan simpanan pada Zara itu tidaklah benar, Zara dan Arka menikah secara sah baik di mata hukum maupun agama."
Anastasya mendekati kedua orang tua Zara, dan berusaha menjelaskan semuanya.
"Maaf karna tidak bisa menjadikan paman sebagai wali pernikahan Zara, semua itu kami lakukan agar paman dan bibi tidak akan salah faham seperti ini, mengingat pernikahan itu sangatlah mendadak."
Rumi menghela nafas dalam. Lalu ucapan siapa yang benar. Orang-orang kaya di depannya ini, ataukah Sandy yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Tapi Nona. Saya masih sulit untuk bisa mempercayainya," ucap Rumi berterus terang.
Jawaban ibu mertua cukup terdengar mengusik telinga Arka. Sudah saatnya Ibu dan Ayah Zara mengetahui semuanya.
"Sam."
"Iya Tuan."
"Bawa pria itu kemari dan suruh dia untuk mengatakan semuanya," titah Arka dengan menahan geram dari nada bicaranya.
__ADS_1
Sam bergerak cepat, dan tak berapa lama Ia datang bersama Sandy dan kedua pengawal yang menjaganya.
Disitu sontak Rumi dan Jamil merasa terkejut setengah mati. Terlebih melihat bagian wajah sandy yang dipenuhi oleh luka memar.
Rumi pun tergopoh menyongsong tubuh Sandy kemudian memeluknya.
"Nak Sandy!" pekik Rumi. "Apa yang terjadi padamu? Mengapa wajahmu terluka sampai seperti ini?" Rumi meraba dan menatap bagian wajah Sandy. Akan tetapi pria itu hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun.
Sementara Arka, Sam, dan para pengawal hanya bisa menahan geram dengan tingkah pura-pura polos Sandy.
"Sandy, kemari dan duduklah," pinta Sam setengah memerintah.
Pria itu pun duduk bersimpuh, namun tetap diam seribu bahasa.
"Nak Arka, Nak Sandy, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya rumi tak mengerti.
"Ibu, bukankah pria ini yang sudah membawa ibu kekota?" selidik Arka setengah mengintrogasi.
Rumi pun mengangguk.
"Apa dia juga yang sudah mengatakan jika Zara menjadi wanita simpanan di sana?"
Sandy pun kian menundukan kepala merasa malu.
"Lalu apa lagi yang pria ini katakan?"
Rumi berfikir sejenak kemudian berucap, "Tidak banyak, namun satu yang pasti jika Zara memilih untuk kabur dari Arka untuk bisa menjadi istri orang kaya."
"Benarkah seperti itu, Sandy?" tanya Arka yang kini menujukan pertanyaan pada pria malang itu. "Cepat katakan, agar semua menjadi lebih jelas!"
"Be-benar adanya. Zara memang memilih kabur dan meninggalkan saya untuk bisa hidup dengan bebas di kota." Sandy masih saja pintar membual. Semua ini ia lakukan agar terbebas dari masalah.
"Benarkah?" ujar Arka tak percaya.
"Benar, aku tidak berbohong."
"Tapi saya sempat menemukan Nona Zara tertidur di emperan toko beberap bulan lalu karna beliau sama sekali tak tau arah tujuan hingga saya membawanya kesebuah kontrakan" sambar Surti hingga mengejutkan Arka.
__ADS_1
"Apa bibi pernah bertemu dengan Zara sebelum kami menikah?" Surti menjawab lantang semua kejadian beberapa bulan lalu itu kemudian disambung oleh ucapan Anastasya di mana mereka akhirnya dipertemukan dalam suatu kejadian hingga keduanya menjadi semakin dekat layaknya saudara.
"Benarkah seperti itu kejadiannya?" tanya Rumi memperjelas lagi.
"Bibi, kami tidak ada niatan sedikit pun untuk berbohong. Lagi pula, tak ada untungnya pula bagi kami." Anastasya mengusap bahu Rumi lembut yang mana membuat perempuan paruh baya itu bisa mengendalikan emosinya.
"Nak Sandy, Bibi akan bertanya satu hal padamu dan jawab dengan jujur. Kau bilang jika putriku kabur sementara bibi ini melihatnya sedang tertidur di emperan toko. Nak Sandy, jawab. Putriku sengaja pergi atau kau yang membuatnya pergi?" Rumi mengarahkan tatapan nyalang kearah pria yang masih tertunduk itu.
Akan tetapi Sandy masih diam.
"Bukankah kau juga bilang jika berniat membawa Zara dengan berkedok mencari pekerjaan, namun sebenarnya kau ingin menjual Zara untuk melunasi hutang-hutangmu, bukan?" ucap Arka tak kalah pedasnya.
"Apa?" Rumi dan Jamil dibuat terkejut.
Karna Sandy masih tak bersuara, kedua pengawal mendekat dan melayangkan satu pukulan telak di dada dan membuat Sandy meringis kesakitan.
"Cepat katakan atau kau akan mendapatkan yang lebih dari ini," ujar pengawal lainnya.
"Baik. Benar, semua memang benar. Saya membawa Zara kekota untuk saya jual, namun sebelum itu saya terlebih dahulu ingin mencicipinya namun semua gagal karna Zara berhasil kabur dan melarikan diri."
Plakkk...
Spontan Rumi melayangkan satu tamparan di pipi Sandy.
"Ini dariku dan," Plak... disusul satu tamparan lagi. "Dan ini dari putriku. Kau sungguh keterlaluan, kami sudah mempercayaimu, namun apa balasannya!" maki Rumi pada Sandy.
"Bibi, paman, maafkan aku." iba Sandy meminta permohonan.
Merasa jika Sandy sudah tak dibutuhkan lagi. Kedua pengawal itu pun menyeretnya untuk kembali kedalam mobil. Tanpa memperdulikan teriakan mengibanya.
"Putriku Zara, di mana kamu sekarang nak." Rumi tersedu. Merutuki kebodohannya sendiri yang sudah dengan mudahnya diperdaya oleh kaum tak bertanggung jawab.
"Tenang bu, kita akan memulai pencarian lagi." Selain Anastasya, Arka pun menggengam mereka untuk bisa lebih tenang agar pencarian mudah dilakukan.
"Tapi di mana lagi kita harus mencarinya, nak. Lagi pu---
"Zara ada bersama saya, dan saat ini dia sedang baik-baik saja." ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang.
__ADS_1
Semuanya pun menoleh kearah sumber suara dan mendapati sesosok perempuan paruh baya berbadan tambun yang sudah tak asing lagi bagi Rumi dan Jamil.