
Rasanya ada yang berbeda, hingga seorang pria yang berdiri di luar pintu kaca tampak tersenyum saat menatap gadis yang berada di dalam ruangan namun tak menyadari kedatangannya.
Ken membuka pintu masuk resto dengan senyum terkembang di bibir. Pria itu beejalan mendekat kearah gadis yang tangannya tengah disibukkan dengan kain lap dan kemoceng berwarna hitam itu.
"Hai," sapa Kenan. "Aku bahkan mengunjungi rumahmu, tapi ternyata kau sudah berada di tempat ini."
Anastasya yang baru menyadari akan adanya Kenan yang berada di belakangnya pun berjingkat saking terkejutnya. Ia menarik nafas dalam dan menyentuh bagian dada yang berdebar kencang.
"Tuan," lirih gadis itu menjawab.
"Katakan! Apa kondisi tubuhmu sudah benar-benar sehat hingga mulai bekerja kembali?" cecar Ken dengan pandangan menghunjam.
"Tuan, saya harus kembali bekerja. Waktu istirahat yang saya ajukan bahkan sudah terlewat." Sudah lebih dari lima hari ia tak bekerja. Meski tubuhnya masih terasa lemah, tetapi ia tak bisa lalai dari tanggung jawabnya. Jika kebablasan ia pun bukan hanya mendapatkan sangsi, namun juga pemecatan.
Ken menghela nafas dalam. Tanpa mengucap sepatah kata, ia pun bergegas menaiki tangga di mana ruangan manager berada.
"Tuan, anda ingin kemana," cegah Anastasya dan coba menahan lengan pria itu agar tak bergerak.
"Aku ingin bicara pada managermu," balas Kenan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di bibirnya.
"Untuk apa tuan? Anda tidak perlu melakukan semua itu." Kekeh. Anastasya justru mengeratkan gengaman pada lengan Ken, berharap jika pria tersebut tak akan berbuat ulah.
"Anastasya, tubuhmu masih lemah. Tak sepatutnya kau bekerja." Ken meninggikan nada bicaranya. Hingga beberapa karyawan dari arah dapur yang mendengar mulai mendekat.
"Tuan," lirih Anastasya menjawab. Ia benar-benar tak nyaman. Terlebih kini manajer resto pun mulai mendekat.
"Maaf Tuan Kenan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Pria berkumis tipis yang tak lain manajer resto, coba mendekat dan bertanya langsung pada Kenan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin protes, kenapa karyawan yang masih sakit diminta untuk tetap bekerja."
Hah
Pandangan manajer itu kini beralih pada gadis yang berada di sisi Kenan. Dia adalah salah satu bawahannya. Tetapi kenapa tangan gadis itu justru terlihat mengengam lengan Kenan.
Anastasya yang menyadari tatapan sang manager pun, spontan melepaskan tangannya. Bukan apa-apa, tangan itu sengaja ia gunakan untuk menahan pergerakan Kenan yang semula terlihat emosi.
"Maaf tuan. Itu sudah menjadi prosedur yang disepakati oleh kedua belah pihak. Di mana karyawan hanya di beri ijin paling lama lima hari jika tidak ingin mendapatkan sangsi atau pun pemecatan." Manajer itu berucap lugas dan berusaha profesional. Meskipun ia sendiri tau siapa Kenan sebenarnya. Tetapi apa hubungan Kenan dengan salah satu bawahannya ini? Begitu kirannya yang difikirkan pria berkumis tipis itu.
Ken kembali menghela nafas dalam.
"Di mana Wisnu? Aku ingin bicara padanya."
Manager itu gelagapan.
"T-tuan, tuan Wisnu sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang ada acara di luar kota." Manajer itu sudah berwajah pias. Takut-takut, jika Kenan akan membuat hal tak terduga yang berimbas pada pekerjaannya.
"Aku akan bawa dia pulang meski tanpa seijinmu. Dan jika Wisnu bertanya, katakan jika semua itu atas perintahku."
Tanpa menunggu persetujuan, Kenan memberi kode pada Anastasya untuk mengemasi barang dan mengikuti langkahnya untuk keluar dari resto.
__ADS_1
Manajer dan para karyawan lain dibuat terpaku. Dari kejauhan mereka menatap krarah Kenan yang menarik tangan Anastasya untuk menjauhi tempat tersebut.
Ingin rasanya bertanya, tetapi mereka memilih untuk bungkam. Hanya bisa melempar tatapan kearah satu sama lain, dan bergumam dalam hati.
********
"Tuan! Berhenti sebentar dan lepaskan tangan saya." Gengaman tangan Kenan bahkan terasa menyakiti.
"Motor saya ada di tempat parkir di sebelah sana," tunjuk Anastasya pada motor metik yang berada diarea parkir khusus karyawan.
"Tinggalkan saja motormu dan pulanglah bersamaku," titah Ken yang enggan mendapat penolakan. Pintu mobil pun sudah terbuka, yang mana membuat Anastasya hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan pria tersebut.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Mereka memilih untuk sibuk dengan fikiran masing-masing. Bahkan sampai memasuki halaman rumah mungil Anastasya, keduanya masih tetap diam.
"Terimakasih tuan," ucap Anastasya memecah kebisuan.
"Apakah aku boleh turun?"
"Maksud tuan?"
"Maksudku, apakah aku boleh bertamu ke rumahmu?"
Anastasya tergelak lirih. "Tentu boleh, tuan."
Keduanya pun turun dan mulai memasuki rumah Anastasya. Kesunyian menyapa. Sesekali hanya terdengar suara cicak yang merayap di dinding.
Ada setitik penyesalan pada diri Ken, saat dirinya tak mampu menahan emosi, kala melihat Anastasya mulai bekerja dengan kondisi tubuh yang masih terlihat lemah.
Ia lantas meraih ponsel miliknya, kemudian memesan makanan dari aplikasi online. Sebenarnya ia sangat lapar dan berniat untuk makan di resto Wisnu. Tetapi entah mengapa saat ia melihat Anastasya dan emosinya meluap seketika, rasa laparnya sirna sudah berganti dengan Amarah.
"Tehnya, tuan." Anastasya muncul dari arah dapur dengan secangkir teh di tangannya. Pakaian kerjanya pun sudah berganti dengan pakaian rumahan.
"Terimakasih. Seharusnya kau tak perlu repot-repot."
"Tak apa tuan. Ini hanya air."
Keduanya terdiam kembali. Kenan menatap gadis di depanya lekat. Semenjak mengetahui kisah pilu hidup gadis tersebut, rasa iba dan sesal itu mulai bermunculan di hatinya.
"Maaf." Akhirnya kalimat itulah yang terlontar dari bibir Ken.
"Untuk apa tuan?" Sebenarnya Anastasya sendiri sudah paham akan maksud ucapan maaf dari pria di depannya itu. Tetapi ia hanya ingin lebih memastikan.
"Aku terlalu emosi hingga membuat seisi restoran gempar." Kondisi Anastasyalah yang membuatnya terpancing. Saat gadis itu pingsan dan menjalani perawatan di rumasakit membuat takut. Kalau-kalau gadis itu pingsan kembali, pada saat bekerja dengan kondisi tubuh yang tak stabil.
Anastasya terdiam. Ia sedikit tertunduk. Sejujurnya tak mampu membaca isi fikiran Kenan. Apakah itu semacam bentuk perhatian, ataukah hanya rasa kasihan.
"Aku takut jika kau kelelahan dan pingsan kembali. Sama seperti waktu itu," lirih Ken mengucap, namun pandangannya tetap tertuju pada Anastasya.
"Tapi kondisi saya sudah lebih baik, tuan. Saya sudah tidak apa-apa dan bisa kembali untuk bekerja."
__ADS_1
Kalau tidak bekerja. Aku mau makan apa?
"Kau hidup seorang diri, Anastasya. Jika sewaktu-waktu kau pingsan kembali, siapa yang akan menolongmu. Tetanggamu bahkan saling tak perduli satu sama lain." Geram, namun juga diliputi kekhawatiran.
Anastasya menarik nafas dalam. Memang benar. Tetangga sekitar kompleks perumahannya, tak saling perduli satu sama lain. Mereka hidup bertetangga, tetapi tak pernah bersua atau pun saling menyapa.
"Jujur saja, aku khawatir padamu."
Tubuh Anastasya serasa membeku. Apa? Dia khawatir padaku? Gadis itu sungguh tak percaya ini.
Seorang pria berjaket terlihat mengetuk pintu yang terbuka, dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
"Maaf tuan, pesanan datang," ucap pria berjaket itu.
"Tunggu sebentar." Ken pun bangkit. Menyerahkan beberapa lembar uang pada pria tersebut dan mengambil kantong makanan itu dari tangannya.
"Terimakasih."
Anastasya hanya menatap kedua pria itu yang tengah berinteraksi. Ia sendiri tak tau apa yang sedang dilakukan oleh Ken.
Selepas pria itu pergi, Kenan berbalik dengan kantong makanan di tangannya.
"Ayo kita makan." Tanpa ragu Ken membuka bungkusan berisikan berbagai jenis makanan itu.
Anastasya cukup terkejut.
"Tuan, anda memesan makanan sebanyak ini?"
Pria itu pun mengannguk.
"Iya, perutku sudah sangat lapar."
Tak lagi bertanya. Anastasya hanya mengikuti ucapan Ken. Mereka menikmati makan malam di ruang tamu dengan susana tenang. Disela melahap makanan, Anastasya sesekali mencuri pandang kearah Kenan yang lahap menikmati makanan yang ia pesan.
Lengkung tipis merah mudanya mengulas tipis. Kenapa hanya dengan melihatnya saja sudah membuatnya nyaman dan merasa tenang. Apakah ini sebuah pertanda...
Ah.. entahlah. Gadis itu pun enggan berkesimpulan terlalu dini.
Bersambung...
Like..
Vote..
Komen
Komen
Komenπππ
__ADS_1