
Hari masih terbilang pagi. Mentari yang bersinar pun samar memancarkan kehangatan makhluk bumi, beserta iringan angin yang bertiup sepoi-sepoi, kian menambah indahnya suasana pagi. Di dalam perjalanannya menuju kantor utama Atmadja group, Arka yang duduk di kursi penumpang tampak tak bersemangat.
Pria tampan itu terlihat beberapa kali menguap dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.
"Sam."
"Iya, Tuan." Sam yang tengah menggengam kemudi, spontan menjawab.
"Apa jadwal hari ini cukup padat." Arka menatap sekilas punggung lebar Sam, kemudian fokus pada fikirannya kembali.
"Tidak, Tuan. Hanya ada beberapa meting dengan pemilik saham lain selepas makan siang."
Arka hanya menghela nafas dalam sebagai jawaban.
"Bisa kau panggil Ka Bram kekantor pagi ini? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya."
Sam yang melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang itu, spontan menginjak rem. Hingga mobil itu pun terhenti seketika.
"Sam, apa yang kau lakukan," pekik Arka atas ulah asisten pribadinya itu.
Sajenak Sam berubah panik, kemudian memutar tubuhnya, menghadap sang Tuan.
"Apa Tuan baik-baik saja? Atau kita putar balik untuk menuju rumasakit langsung?"
Arka hanya berdecak menanggapinya. "Tidak usah berlebihan. Aku hanya merasa sedikit lelah saja."
"Tapi Tuan benar sedang baik-baik sajakan," ulang Sam sekali lagi untuk lebih memastikan.
"Sam, aku baik-baik saja, dan sekarang lanjutkan lagi perjalanan kita," titah Arka manakala kendaraan yang mereka tunggangi masih tak bergerak.
"Baik, Tuan." Sam mulai menghidupkan mesin dan melajukan kembali kendaraan dengan kecepatan sedang. Meskipun hatinya sedang menerka tentang apa yang diinginkan Tuaanya hingga harus memangil Dokter keluarga Atmadja.
******
Selama menunggu kedatangan Dokter Bram, Arka terlebih dulu menyelesaikan beberapa pekerjaan, meski terlihat jika ia sangat tak bersemangat, lingkar hitam pun tampak jelas di kedua sisi netranya.
Pintu ruangan terbuka, Sam muncul bersama seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata minus yang bertengger di atas hidungnya. Pria itu pun tersenyum hangat, menatap pria yang tengah berkutat dengan tumpukan kertas di mejanya.
"Selamat siang, Arka," sapa Dokter Bram, kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Selamat siang juga, Ka. Maaf sudah merepotkan, dan membuang waktumu untuk datang kekantor."
Pria berkaca mata itu hanya tergelak. "Bukankah itu memang sudah menjadi tugasku. Lagi pula, sudah cukup lama aku tak pernah datang kemari dan sepertinya, ruangan ini masih tetap sama, tidak ada yang berbeda." Bram menyibak pandangan kesekeliling, semua terlihat sama saat terakhir kali ia berkunjung kemari.
"Aku memang sengaja tidak merubahnya, Ka."
Tatapan Bram kini tertuju pada Pria tampan di depannya.
"Menurut Sam, kau sedang tak enak badan. Apa kau kelelahan?" Bram mulai menarik tas medis dan melihat keadaan Arka lebih dekat.
"Hanya sedikit lelah saja, Ka."
Bram sudah mulai memasang alat tensimeter kelengan Arka, dan mulai mengukurnya dengan saksama.
"Arka, apa kau masih belum bisa menghentikan kebiasaanmu bekerja hingga larut malam!" geram Bram dengan suara meninggi, namun memasang tatapan nyalang pada Sam yang berdiri di belakang mereka.
"Sam, bukankah aku sudah sering memperingatkanmu untuk bisa mengatur jadwal kerja Arka dengan baik. Tapi kenapa kau masih membiarkan Tuanmu ini bekerja hingga larut malam?!"
Bram tak dapat mengontrol emosinya, mana kala hasil tensimeter menunjukan tekanan darah Arka yang tak sesuai dengan ukuran normal. Pria itu tahu benar, bahwa sejak sepeninggal Surya Atmadja, sang Ayah. Arka terbilang memikul beban berat dalam mengurus perusahaan mendiang Ayahnya, dan tak jarang ia menomor duakan kesehatan untuk bisa menjalani tanggung jawabnya dengan baik.
Hal itu menciptakan rasa geram Bram, seorang dokter keluarga Atmadja kala Arka masih tetap mengabaikan gaya hidup sehat dan mengatur jadwal tidur yang sudah ia susun sedemikian rupa.
__ADS_1
Sam menautkan kedua alisnya, dirinya tampak berfikir keras namun sedikit tak terima dengan tuduhan Bram.
"Tetapi, Tuan. Sudah kurang lebih satu bulan ini, Tuan Arka sudah tak lagi bekerja hingga larut malam. Bahkan, menjelang mata hari terbensm pun kami sudah berada di rumah."
Jawaban Sam, membuat Bram ikut mengerutkan dahinya.
"Tapi kenapa hasilnya justru berbeda?" Bram menatap wajah Arka lekat, terlihat jelas jika wajahnya tampak lelah dan.. "Lihat lingkar hitam di sekililing matamu, itu tergambar jelas jika kau kelelahan dan sering begadang." sambung Bram kemudian. Sementara tatapannya tertuju pada Sam seolah meminta persetujuan.
Tak ingin membiarkan kesalah pahaman terus bergulir, Arka yang tetap memasang wajah berwibanya seperti biasa hanya berdehem dan meluruskan keadaan.
"Ehem, Sam. Keluarlah, ada yang ingin aku bicarakan dan hanya berdua dengan Ka Bram," titah Arka selepas berfikir beberapa saat. Mengusir Sam dari ruang kerja dirasa paling tepat, karna akan sedikit mengurangi wibawanya sebagai atasan jika sampai Sam mendengar sesuatu yang ingin ia tanyakan.
Sam pun terbelalak, namun rasa tak percaya yang lebih besar ia rasakan. Tak seperti biasa, Arka akan mengusirnya dari ruang kerja. Meski serahasia apa pun pembicaraan sepenting apa pun dengan petinggi perusahaan.
Meski langkahnya terasa berat, namun pria itu tak menolak. Menutup kembali pintunya rapat dan berdiri menunggu di luar. Akan tetapi, ia sempat meminta salah seorang ofice boy untuk menyediakan teh hangat untuk Dokter Bram.
Arka menghela nafas dalam begitu memastika Sam sudah menghilang dari ruangannya.
"Arka, kenapa kau mengusirnya? Terlihat tak seperti biasanya?" selidik Bram seperti menemukan adanya kejanggalan.
"Ka, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Sesuatu apa?" Bram mulai memasukan tensimeter kembali ke dalam tasnya.
"Tentang datang bulan."
Bram yang tengah menyetuh tas itu, nyaris menjatuhkannya jika tangganya tidak sigap menangkapnya kembali.
"Da-datang bulan?" ucap Bram terbata. "Tapi bukan kau sendirikan yang datang bulan?" goda Bram sembari mendaratkan tas berisi peralatan medisnya ke sofa.
Arka mendengus kesal. "Ka, aku tidak sedang bercanda."
"Baiklah. Maksudmu, Anastasya yang datang bulan?"
"Bukan, tapi Zara."
Bram pun tersedak, teh hangat itu menyembur keluar mulutnya. Ia buru-buru melap sisanya di bibir dengan tisu.
"Arka, kau malah mengetahui jadwal datang bulan perempuan lain? dan siapa yang bernama Zara. Kau baik-baik sajakan?" Bram mulai menunjukan wajah tegang dan keterkejutan.
Arka menarik nafas dalam sebelum berucap, "Dia istriku, istri keduaku."
Bram menggeser duduknya beberapa jengkal sementara kepalanya menggeleng tak percaya.
"Tidak-tidak, kau pasti sedang berbohong padaku."
"Kak, dengarkan aku! Inilah yang sebenarnya terjadi!"
Bram menegang. Akan tetapi jika dilihat dari ekspresi wajah Arka, tampaknya pria muda itu sedang tidak berbohong.
"Tetapi kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?"
"Pernikahan kita terbilang mendadak kak, dan Zara pun tak ingin orang lain tau tentang pernikahan kita.
Lagi-lagi Arka menyebut nama Zara, siapa sosok perempuan itu sebenarnya. Batin Bram.
"Lalu bagaimana dengan Anastasya, apa dia mengetahuinya?"
"Tentu saja, karna dialah orang yang meminta kami untuk menikah."
"Apa?" Bram semakin tidak percaya. "Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Itulah adanya. Tapi aku pastikan, jika aku menikahi Zara, atas landasan cinta dan pukan terpaksa. Aku sebenarnya sudah menyimpan rasa untuknya saat pertama kita bertemu. Aku berusaha menyimpannya, namun aku tidak bisa menutupinya dari Anastasya."
Kedua pria itu hanya mampu menghela nafas dalam. Bram pun seperti bisa merasakan rumitnya hubungan pernikahan Arka dari cerita yang baru saja ia dengar.
"Hingga kalian berakhir menikah?"
Arka menganguk sebagai jawaban.
"Dan kau tahu jika ia sedang datang bulan?"
"Iya. Jujur, ini pengalaman pertama untukku. Aku sama sekali tak tau menahu tentang datang bulan. Tetapi setelah aku melihatnya sendiri, bagaimana ia merasakan tidak nyaman dan rasa nyeri di perutnya. Aku merasa iba, dan mencari berbagai cara untuk melihatnya tetap nyaman dan mengurangi rasa nyeri di perutnya." Wajah Arka terlihat melembut dan sendu saat menceritakannya. Hingga seorang Bram ikut tersenyum tipis sebagai bentuk apresiasi.
"Sepertinya ada yang mulai berubah dari dirimu."
"Apa?" Arka masih tak mengerti.
"Kau terlihat begitu perduli padanya. Tidak seperti saat kau bersama Anastasya."
Sontak saja itu membuat Arka terdiam. Memang itulah kenyataanya. Ia sendiri pun tak pernah menyadari jika hidupnya akan seperti ini. Ia justru sempat berfikir jika hubungannya akan tetap hambar sampai menua bersama Anastasya. Akan tetapi, kini kenyataanya berbeda.
"Aku juga tak mengerti akan menjadi seperti ini, Ka."
Bram menepuk pundak Arka beberapa kali. "Aku jadi penasaran pada gadis yang sudah membuatmu seperti ini."
Arka pun tersenyum simpul. Ia bangkit dari sofa dan menuju meja kerjanya. Meraih bingkai foto dan memegangnya dengan hati-hati. Ia masih sempat tersenyum memandang gambar tak bergeraik itu dan mengusap wajahnya.
Arka bahkan menaruh album foto wanita bernama Zara itu di meja. Wanita itu sungguh luar biasa.
Bram menerima bingkai foto itu dengan tangan gemetar. Netranya pun tampak berkobar penuh ketidak sabaran. Akan tetapi ekspresi keterkejutanlah yang ia dapat, saat foto itu dengan sepenuhnya bisa ia lihat.
Astaga. Kenapa Arka justru tergoda dengan gadis imut dan manis seperti ini.
"Apa kau yakin jika dia gadis yang bernama Zara?" Bram meringis. Menatap foto dan Arka secara bergantian.
"Iya, dia Zara. Istriku," jawab Arka penuh keyakinan.
Bram mengerjap, melepas dan mengelap kacamata minusnya dengan tisu. Berharap jika kaca mata itu masih dalam kondisi bagun dan masih bisa digunakan. Hingga ia bisa memastikan jika apa yang dilihatnya tidaklah salah.
"Berapa usianya?"
"Delapan belas tahun," jawab Arka enteng.
Lagi-lagi Bram tersedak ludahnya sendiri.
Lihatlah bagaimana Arka yang tinggi sempurna dan berotot itu menyukai gadis manis mungil yang lebih mirip bocah SMA.
"Astaga, kau tidak berubah menjadi seorang pedovillia bukan?" selidik Bram dengan pandangan menajam.
Arka hanya menghela nafas dalam. Dia mulai jengah, ketika rasa cintanya disalah artikan oleh seseorang.
"Ka, aku benar-benar mencintainya. Aku bahkan memimpikan ingin memiliki banyak anak darinya, aku pun sebenarnya ingin meminta saran pada Kakak untuk bisa membuatnya cepat hamil."
Dokter Brama justru tersenyum seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Aku tau. Jadi itulah sebabnya lingkar hitam di sekeliling matamu itu muncul. Kau begadang bersama istrimu rupanya."
Brama tergelak sementara Arka menahan gelak seolah meng_iyakan.
"Jangan khawatir. Kau akan segera mendapatkanya jika tetap rutin melakukannya. Lagi pula, istrimu sedang datang bulan. Ada beberapa hari setelahnya dinamakan masa subur. Disitulah jika kau benar-benar pria yang istimewa, maka bibit yang kau semai akan menjadi janin di dalam rahim istrimu."
Arka tersenyum penuh makna. Membayangkannya saja sudah membuatnya gemas. Bagaimana kelak tubuh mungil Zara dengan perutnya yang mulai membuncit. Sungguh, ini karunia yang tak terkira. Tapi, apakah Zara juga menginginkan hal yang sama dengannya. Mengandung dan memilik anak dari dari darah dagingnya.
__ADS_1
Seketika Arka menarik nafas dalam. Ia teringat di mana saat malam, saat mereka ingin melakukannya, Zara justru membahas soal pengaman.
Apakah dia belum ingin memiliki anak dariku.