
Marah? Sudah pasti. Zara bahkan mengabaikan sang suami dan memasuki rumah lebih dulu. Arka pun setengah berlari untuk menahan langkah sang istri.
"Sayang, pelan-pelan!" pekik Arka melihat langkah Zara yang lebar.
Gadis itu berusaha acuh.
"Sayang, kau mau kemana?"
"Aku ingin ke kamar dan membersihkan diri." Zara pun memasuki kamar, kemudian disusul oleh Arka.
Pria itu dengan jelas mampu membaca gurat wajah tak menyenangkan dari istrinya. Perkaranya pasti tak lain adalah hari ulang tahun yang pura-pura ia lupakan.
Ketika Zara hendak menutup pintu kamar mandi, pria itu menahannya.
"Sayang, bisakah kita mandi bersama?" pinta Arka setengah memohon.
Zara terdiam sejenak untuk menimang. Ia memang jengah, tetapi bukankah mandi bersama juga menjadi kewajiban bagi sepasang suami istri.
Gadis itu pun mengannguk dan membuka lebar pintu kamar mandi agar mudah untuk di masuki.
Mengingat hari yang sudah beranjak malam. Arka tak mengizinkan istrinya itu untuk berendam atau pun mandi berlama-lama demi akaalasan kesehatan. Gadis itu pun menurut. Cukup dengan waktu sepuluh menit, keduanya selesai membersihkan diri.
Begitu menuju Walk in closet, Zara memilih pakaian santai untuk sang suami dan juga dirinya. Namun saat gadis itu mengulurkan beberapa lembar kearah sang suami, pria itu dengan cepat menolak.
"Sayang, aku tidak mau memakai baju seperti ini."
Zara pun menautkan kedua alisnya.
"Kenapa, Bukankah ini sudah malam? Rasanya tidak mungkin jika kau ingin memakai kemeja dan jas. Bukankah itu terdengar lucu?" Zara tergelak. Dia tau jika suaminya itu tak memiliki agenda resmi di luar untuk malam ini.
Arka mencondongkan wajahnya hingga nyaris menubruk wajah sang istri.
"Apa kau bilang, lucu? Tetapi aku senang jika kau mengganggap suamimu ini lucu dan menggemaskan seperti kelinci. Maka dari itu, aku ingin memakai kemeja yang ini untuk malam ini." Arka mengambil satu lembar kemeja berwarna abu-abu dan celana bahan berwarna senada.
Zara tercengang. Ini bahkan sudah malam, tetapi kenapa suaminya justru berpakaian seperti itu.
"Dan kau, pakai gaun yang ini," titah Arka seraya mengulurkan gaun hamil milik Zara yang berwarna merah muda. Jika ditanya kenapa gaun merah muda, sebab warna merah muda menjadi warna favorit Zara semenjak memasuki kediaman suaminya. Tak heran jika semua barang dan pakaian Zara, lebih banyak dipesan Arka dengan warna merah muda.
Zara menggembungkan pipinya. Dia tidak suka.
"Sayang, untuk apa? Kita hanya akan makan malam lalu tidur kan?" tolak Zara lembut.
Pria itu menghela nafas dalam. Memasang tatapan tajam dengan bersedekap dada.
"Sejak kapan kau mulai membantah kata-kataku?"
Glek...
Zara menelan salivanya berat. Wajahnya berubah gugup dan dengan cepat menggenakan gaun pilihan sang suami agar pria itu tak murka.
"Ma-maaf sayang, bu-bukan maksudku seperti itu. Hanya saja.." Ragu gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"Sudahlah. Ayo cepat sisir rambut dan poles wajahmu."
Tak lagi membantah. Zara melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Menyisir surai panjangnya dan memoles wajahnya dengan make up tipis. Meski ia sendiri tak tau akan tujuan sang suami sebenarnya.
__ADS_1
******
Begitu menuju meja makan, Zara tercengang tak percaya. Pasalnya tak ada makanan apa pun yang tersaji di meja. Sedangkan ibunya pun, tak terlihat sedari tadi.
"Sayang, kenapa tidak ada makanan? Dan ibu, ibu juga tak terlihat." Pandangan Zara menyibak kesekeliling ruangan. Tidak ada siapa pun. Bi surti dan para pelayan yang biasanya menyajikan makanan, sama sekali tak terlihat.
Arka menggelengkan kepalanya.
"Entahlah."
Sungguh sebuah jawaban yang sama sekali tak membantu.
Zara menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya di kursi untuk menenangkan fikirnya. Tidak seperti biasanya, malam ini kenapa terasa aneh. Batin Zara.
"Sayang, bagaimana jika sembari menunggu makan malam kita tersaji, bagaimana jika kita berjalan-jalan di taman sebentar."
"Untuk apa, sayang. Ini sudah malam."
Tak ingon mendengar penolakan, Arka lekas menarik lembut tangan sang istri untuk mengikuti langkahnya. Udara dingin menyambut. Angin bertiup lembut, membelai pori-pori kulit yang tak tertutup pakaian. Zara hanya mampu terus berjalan, saat Arka tak melepaskan gengaman tangan mereka.
"Sayang jangan jauh-jauh. Di sini sangat ge---" Zara tak mampu melanjutkan kalimat saat tempat gelap di sekelilingnya tiba-tiba berubah terang.
Arka menarik tubuh sang istri, hingga membuat keduanya saling berhadapan. Pria itu menundukan pandangan, untuk menjangkau wajah sang istri yang jauh di bawahnya. Di angkatnya dagu, kemudian mencium bibir mungil itu lembut.
"Selamat ulang tahun, sayang."
Zara tersenyum haru. Ia sempat menitikkan buliran bening. Rupanya Arka memang tak benar-benar melupakan hari ulang tahunnya.
"Lihatlah. Apa kau suka," tunjuk Arka pada sesuatu yang sudah dipersiapkannya.
"Terimakasih sayang. Suka sekali." Gadis itu tersenyum haru. Diraihnya tengkuk sang suami dan menyatukan bibir mereka cukup lama. Baik Arka atau pun Zara tampak menikmati pertautan bibir tersebut. Seolah mencurahkan sebagaimana perasaan Cinta keduanya.
*****
"Maaf, aku menyuruh ibu untuk bermalam di hotel setelah memasak makanan kesukaanmu," ucap Arka ragu. Pria itu memang meminta pada Rumi untuk bersembunyi sejenak di hotel selama kejutan ini berlangsung.
Zara tersenyum lembut. Ia menatap makanan yang tersaji di hadapan. Semua memang makanan kesukaannya, dan sudah pasti jika itu semua adalah hasil karya ibunya.
"Semua yang tersaji di hadapanmu, adalah bentuk rasa sayang ibu kepadamu, sayang." Pria itu menggengam jemari lentik Zara, dan menciuminya penuh kasih sayang.
"Ya, aku tau." Ibu adalah segalanya.
"Ayo kita makan."
Bertemankan cahaya bulan dan taburan bintang, keduanya menikmati makan malam romantis itu dengan sejuta kebahagiaan. Ini memang sederhana, tetapi justru kesederhanaan semacam inilah yang selalu ia impikan.
Zara kian tak mampu berkata-kata saat ia juga mendapatkan beberapa kado mewah dari sang suami. Selain cincin berlian, dia juga mendapatkan satu unit mobil keluaran terbaru dengan harga cukup fantastis. Zara sendiri sejujurnya tak menginginkan kado semacam ini, mengingat dirinya yang masih belum bisa mengemudi.
Saat sudah selesai menyantap hidangan, Arka meraih sebuah tablet di meja dan duduk lebih dekat kearah sang istri, seperti ada seseuatu yang pria itu ingin tunjukan.
"Sayang, ada satu hal lagi yang ingin aku tunjukan padamu."
Sepasang netra bening Zara berbinar, dia dibuat penasaran.
"Apalagi, sayang," jawab gafis itu lembut dan menatap kearah layar tablet tersebut.
__ADS_1
Di dalam benda cukup lebar tersebut, terdapat banyak foto di mana aktifitas perbaikan jalan di kampungnya tengah berjalan. Juga luasnya tanah kosong yang mulai di tanami berbagai macam bibit buah-buahan.
Zara terpaku. Menatap tablet dan wajah sang suami secara bergantian.
"Sayang, bukankah ini kampung kelahiranku?" tanyanya dengan wajah polos menggemaskan.
Heem.. Menggemaskan sekali.
Satu kecupan singkat mendarat di bibir sang istri yang terasa begitu manis bagi Arka.
"Benar sekali, sayang. Jika kau bertanya kenapa aku sering pulang terlambat dan susah untuk dihubungi belakangan ini, maka itulah jawabannya." Tak ingin lebih lama menutupi, Arka kini membeberkan fakta sebenarnya. Berharap jika sang istri tak salah faham.
"Ingat! Jangan pernah berfikir yang tidak-tidak tentangku. Suamimu yang tampan dan berwibawa ini adalah pria yang setia. Kau tak perlu meragukan hal itu."
Zara tergelak lirih, ia menangkup wajah tampan suaminya, kemudian berucap, "Aku sungguh mempercaiyaimu, suamiku yang tampan dan berwibawa. Namun, jika kau ketahuan main-main di belakangku, maka aku tak segan-segan untuk memotong barang kesayanku ini hingga habis." Dengan nakal Zara meremas barang berharga di bagian bawah perut Arka, yang mana membuat pria itu mengaduh seketika.
"Aw...!" pekik Arka. "Nakal kamu ya."
Akibat godaan sang istri, kini ia justru menggelitiki pinggang sang istri. Gadis itu berteriak dan menggeliat. Tetapi disaat yang bersamaan, muncul rasa sakit di bagian perut yang membuatnya terdiam seketika.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Arka begitu mendapati wajah kesakitan istrinya.
Perutku kenapa terasa sakit. Jika kedua bayiku hanya bergerak seperti biasanya, mengapa rasanya sampai sesakit ini.
"Sayang, perutku sakit."
"Apa!? Sakit?" Pria itu gelagapan dan mengengam tangan sang istri. "Apakah ini kontraksi?"
Zara menggeleng. Ia sendiri pun tak mengerti.
Namun cairan yang mulai mengalir dari paha sang istri, membuat Arka yakin jika istrinya hendak melahirkan.
"Tolong...."
"Tolong..."
Tak melihat seorang pengawal pun berlalu lalang, membuat Arka memaki dirinya sendiri.
Sial, bukankah aku sendiri yang menyuruh mereka semua menjauh selama kejutan ini berlangsung.
Tanpa banyak bicara, Arka lekas menggendong tubuh mungil sang istri menuju garasi. Menuju rumasakit dengan cepat dan lekas ditangani oleh tenaga medis.
Bersambung...
Dikasih Visual yang mau lahirin bayi kembar nih ☺☺☺
Semoga Cocok dengan imajinasi pembaca😍
Azzara Biantika
__ADS_1