
Ayah
"Sayang, yakinlah jika semua akan baik- baik saja."
Gadis mungil itu hanya mengangguk, dan berusaha tetap terlihat tenang saat menyusuri jalanan menuju kekampung halamannya. Semenjak mendengar kabar perihal ayahnya dari sang suami, Zara tak mampu membendung buliran bening dari sudut netranya yang seolah terus membanjir, namun berkat ucapan dan permohonan dari Arka yang membuatnya tetap tenang, setidaknya mampu membuat kekalutannya sedikit meredam.
"Tidurlah dipelukanku. Perjalanan masih jauh, sayang. Kau pasti kelelahan." Kini bahkan masih menjelang dini hari mereka melakukan perjalanan. Sedangkan keduanya masih terlihat sangat mengantuk dan belum beristirahat dengan benar.
Zara tak menolak, ia mengeratkan pelukan dan menjadikan dada suaminya sebagai bantal. Akan tetapi ia tak semudah itu untuk bisa memejamkan mata. Wajah sang Ayah, terus membayang di benaknya. Membuatnya lagi dan lagi menitikkan air mata, hingga membasahi kemeja Arka.
Pria itu hanya menghela nafas dalam. Dirinya tahu benar seperti apa perasaan yang tengah dirasa istrinya. Air mata itu pun sudah mampu menjawab segalanya. Zara bukanlah gadis cengeng dan lemah. Tetes demi tetes bulir bening yang terjatuh, hanya ia tunjukan jika dirinya merasa benar-benar lemah, dan dirundung duka mendalam.
Arka pun kini sudah tak memiliki seorang Ayah yang bisa ia banggakan. Bayangan wajah sang ayah yang meregang nyawa beberapa tahun lalu, masih membekas dengan jelas di benaknya. Akan tetapi ia harus mampu tetap tegar dan berdiri tegak, untuk mampu menopang tubuh ibunya yang nyaris patah saat cinta sejatinya lebih dulu berpulang kehadapan sang pencipta. Maka dari itu, berbekal dari pengalaman, Arka tetap terus mengusap dan menenangkan istri mungilnya yang dengan dorongan semangat dan kata-kata penghiburan.
Menurut pengawal yang sengaja ditugaskan untuk menjaga kedua orang tua Zara, Jamil kini sudah berada di sebuah rumasakit yang berada di pinggiran kota.
Zara benar-benar tak mampu memejamkan mata. Dirinya sama sekali merasa tak kelelahan atau pun mengantuk meski menempuh perjalanan berjam-jam lamanya. Hingga tanpa terasa rombongan mulai memasuki sebuah jalan yang merupakan akses menuju tumasakit di mana jamil sedang dirawat. Akibat rasa sesak yang kembali menyergap, gadis itu mulai tak nyaman berada dalam dekapan suaminya. Ia memilih untuk membenarkan posisi duduknya, dengan pandangan fokus kedepan seolah tak sabar untuk bisa lekas mencapai rumah sakitsakit dan bertemu dengan Ayah beserta ibunya.
Bahkan sesaat setelah mesin kuda besi itu terhenti, Zara bergerak dengan cepat untuk turun hingga mengabaikan teriakan sang suami untuk memintanya berhati-hati.
"Sayang, berhati-hatilah. Aku tau kau sedang cemas, tetapi kau juga harus memperhatikan pergerakkanmu agar tak terjatuh."
Zara yang berwajah luar biasa cemas itu menganguk samar dan berusaha menetralkan nafasnya yang tak karuan.
__ADS_1
"Ma- maaf."
"Baiklah." Lekas diraihnya jemari mungil Zara dalam gengaman Arka sembari memasuki lobi rumasakit dengan diiringgi beberapa pengawal. Dari arah lorong muncul dua pengawal yang bertugas menjaga orang tua Zara datang menghampri tuan dan nonanya dengan wajah pias.
Keduanya sama-sama tertunduk selepas membungku setengah badan.
"Ma-maafkan kami tuan," ucap kedua pengawal itu bersamaan.
Terlihat jika Arka menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan.
"Aku tidak akan menyalahkan kalian. Ini memang murni kecelakaan," jawab Arka masih dengan suara tegasnya. Memang Jamil terjatuh saat hendak di dalam kamar mandi. Dan sudah pasti jika itu bukanlah kelalaian dari para pengawalnya. Sekarang pun bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan siapa pun. Mengingat ada satu nyawa yang harus dengan cepat mereka selamatkan.
Kedua pengawal itu pun mengiring langkah tuan dan nonanya menuju ruangan tempat Jamil dirawat. Zara sendiri tak mampu lagi menahan tangis yang beberapa saat sempat ia tahan saat mendapati wajah ibunya yang menggengam erat tangan Ayahnya yang terkulai lemah di atas ranjang perawatan dengan beberapa alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuhnya.
"Tenangkan dirimu, nak. Ayah pasti akan baik-baik saja." Akan tetapi, ucapan Rumi seperti berbanding terbalik dengan keadaan Jamil saat ini. Pria itu terlihat lemah dengan kedua netra terkatup rapat, dan jauh dari kata baik-baik saja, namun hanya satu kata itulah yang mampu menyemangati putri dan dirinya sendiri. Berharap jika tuhan bisa mendengar, dan membuat Jamil lekas melewati masa kritisnya.
Masih sesegukan dan wajah lembab dengan linangan air mata, Zara coba mendongak untuk menatap wajah sang ayah dengan jelas meski sebagian wajah tertutup alat bantu.
Menggelengkan kepala samar, Zara tak begitu saja percaya akan ucapan ibunya. Tubuh Jamil bahkan sangat dingin.
"Tidak, ibu. Aku rasa Ayah sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya bahkan sangat dingin." Zara bahkan menempelkan tangan jamil kepipinya.
Arka yang melihat pun sadar, dan harus bergersk cepat untuk memindahkan ayah mertuanya kerumasakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.
__ADS_1
"Ibu, bagaimana jika pindahkan ayah kerumasakit yang berada di kota. Mungkin dirumasikit ini segala alat bantu dan fasilitasnya kurang memadai. Apakah ibu setuju?" Arka berucap lembut untuk mengutarakan keinginannya pada ibu mertuanya. Bagaimana pun, ia tak ingin gegabah mengambil kepitusan tanpa persetujuan.
Dengan pasrah, Rumi hanya mengangguk Meng-iyakan. Mungkin hanya dengan cara seperti ini, bisa menyelamatkan nyawa suaminya.
*****
Rumi menatap nanar tubuh Jamil yang terbaring tak berdaya. Hanya dari kejauhan dirinya bisa melihat suaminya yang sudah dipindahkan dari rumasakit biasa ke rumasakit milik keluarga Atmadja. Suara yang bersumber dari alat penunjang kehidupan yang menempel ditubuh jamil, bagaikan satu-satunya pemecah keheningan di dalam ruangan nan senyap dan terpisah itu.
Rumi tak sendiri, ia masih bersama Zara dan Arka yang menunggu dengan sabar di luar ruangan. Saat para dokter atau pun petugas medis memintanya untuk beristirahat di ruangan yang sudah disediakan, ketiganya sepakat menolak. Dan bertahan di tempatnya.
Disela aktifitas Rumi mengusap puncak kepala Zara yang bersandar di bahunya, fikirnya melayang jauh. Ingatannya kembali pada saat di mana suaminya terjatuh hingga tak sadarkan diri.
Meski mengidap stroke, namun kondisi Jamil semenjak resepsi pernikahan sang putri terbilang semakin membaik. Meski masih menggunakan kursi roda, namun kedua kakinya sudah bisa berjalan meskipun pelan.
Terapis pun didatangkan untuk melatih gerakan dan kelenturan otot tubuh dan kaki Jamil yang sempat tak mampu digerakan. Semula berjalan dengan normal, hingga Rumi memiliki harapan besar, agar suaminya bisa kembali sembuh seperti beberapa tahun silam.
Rumi pun dengan telaten membimbing langkah suaminya. Untuk berjalan-jalan, atau sekedar kekamar mandi. Hingga ia berfikir untuk tak merepotkan pengawal untuk membantu aktifitas ringan suaminya.
Hingga pada malam itu, saat Jamil membangunkannya untuk buang air kekamar kecil. Tentu dengan senang hati Rumi membantunya tanpa menolak, meski keadaannya cukup mengantuk. Mereka berjalan beriringan, dengan Rumi yang memapah langkah suaminya. Namun Entah lantai kamar mandi yang licin atau pun akibat rasa kantuk yang melanda keduanya, membuat gengaman tangab Rumi di pinggang Jamil terlepas hingga pria senja itu pun terjatuh dengan kepala membentur dinding kamar mandi.
Rumi pun berteriak histeris saat melihat tubuh tak berdaya jamil dengan darah yang merembas dari arah kepala belakangnya. Begitu Mendengar suara jeritan dari arah kamar mandi, para pengawal pun dengan bergegas menuju ketempat tersebut. Mereka pun tak kalah terkejutnya, dan dengan segera membawanya menuju rumasakit terdekat sebelum mengabarkannya pada sang tuan.
Rumi mengusap wajahnya kasar. Akankah kesempatan untuk sembuh itu masih ada. Akankah mereka masih tetap bersama untuk menyongsong masa tua dengan saling mendekap.
__ADS_1
Entahlah. Namun dengan menatap tubuh jamil yang terbaring koma tanpa daya, membuat rasa ragu itu muncul. Akankah suaminya mampu bertahan? Akankah suaminya bisa melihat kedua cucunya lahir kelak? Entahlah. Dirinya hanya mampu berdoa, mengharap belas kasih sang pemilik hidup untuk membuat sepasang netra sayu nan itu terbuka kembali dan menatapnya dengan pandangan yang menghangatkan jiwa seperti hari-hari sebelumnya.