Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Hasil


__ADS_3

Ciuman bertubi-tubi tak hentinya mendarat pada punggung tangan seorang gadis yang berada dalam gengaman seorang pria. Meski kini sepasang suami tersebut berada di dalam mobil, namun tak menyurutkan rasa kasih sayang yang pria itu tunjukan pada istri tercintanya.


Sesuai jadwal, baik Arka atau pun Zara, kini tengah menempuh perjalanan menuju rumasakit milik keluarga Atmadja. Secara diam-diam Arka memiliki keinginan besar jika sang istri kini benar-benar tengah mengandung buah cinta mereka.


Berbeda dengan wajah berbinar yang sang suami tunjukan, sang istri justru terlihat sebaliknya. Bukanya tak suka atau pun tak memginginkan, hanya saja bagi Zara, mengandung dalam waktu cepat masih terbilang tak tepat.


Terbesit sebuah keingin terselubung untuk menyatukan kembali hubungan Arka dan Anastasya yang meregang, kemudian dirinyalah yang memilih untuk mudur dan menghilang dari kehidupan pasangan suami istri itu. Akan tetapi jika dirinya kini justru sedang berbadabn dua, maka pemikiran yang ada di benaknya akan sulit untuk bisa terealisasi.


Tanpa terasa mobil yang membawa mereka mulai memasuki area parkir rumasakit. Sam yang sudah faham akan seluk beluk semua fasilitas yang rumasakit itu miliki, pria itu pun menuju akses pintu khusus bagi tamu ruangan VVIP, yang mana tak sembarang orang bisa melaluinya.


Saat mulai melangkah Arka tampak mengeratkan gengaman tanganya seolah tak ingin terpisahkan. Sam yang berjalan di belakang tubuh Tuannya hanya terdiam dan terus berjalan mengimbangi tuan dan nonanya itu.


Tibalah mereka di depan ruangan seseorang yang menjadi tujuan. Sam mengarahkan keempat ruas jarinya tangannya dan mengetuk pintu beberapa kali. Tak berselang lama, pintu itu pun terbuka pelan dan muncul seorang pria dengan senyum lebar dari balik pintu tersebut.


"Selamat datang, senang sekali melihat kalian berdua kemari memenuhi permintaaku," sambut Dokter Bram dengan penuh suka cita. Ia pun lekas menarik lengan Arka dan meminta pria beserta istrinya itu untuk duduk.


Zara yang masih sedikit ragu itu mulai mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang sudah disiapkan. Di dalam ruangan Dokter Bram pun sudah berdiri siaga dua orang perempuan berpakaian perawat. Tak salah lagi, Arka sudah pasti akan memeriksa kandungannya dan menyakinkan jika dirinya tengah berbadan dua atau tidak.


"Baiklah Nona. Selamat datang dirumasakit keluarga Atmadja. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira bagi saya, saat anda berkenan untuk memasuki ruang kerja saya." Kalimat basa bisa yang sengaja Bram ucapkan untuk menghilangkan ketengangan yang nampak jelas di wajah gadis mungil itu.


Astaga, ya tuhan. Betapa manis, imut dan menggemaskan dia. Aku jadi ingin mencubit pipi dan juga bibirnya.


Untuk sejenak Bram lupa akan tugasnya dan justru menatap tanpa kedip gadis yang tengah duduk di depannya.

__ADS_1


"Ehem." Arka yang menyadari tatapan kagum Dokter Bram tersebut, lekas berdehem hingga membuat Dokter itu terkejut dan membuang pandangannya kesegala arah.


Astaga, kau bahkan cemburu hanya karna aku memandang istrimu tanpa kedip.


"Baiklah, nona. Siapa nama lengkap anda?"


"Azzara biantika dan panggil saja dengan nama Zara, itu sudah cukup dok."


Dokter Bram mengangguk dan meraih buku tebal di mejanya. Beberapa pertanyaan pria itu lemparkan. Terkait dengan datang bulan dah keluhan yang dirasakan Zara belakangan ini. Kedua perawat itu pun mendekat selepas mendapatkan instruksi.


"Bagaimana jika kita menggunakan alat tes kehamilan lebih dulu. Jika menilik dari tanggal terakhir nona datang bulan, maka usia janin terbilang masih sangat muda," usul Dokter Bram.


"Tidak masalah, Kak. Selama itu yang terbaik untuk istriku." Arka menatap dan mengusap pungung tangan sang istri untuk membuatnya rileks. Selama memasuki ruangan, Zara terlihat tak banyak bicara, dia memilih diam dan hanya menjawab jika ditanya.


"Mari nona." Perawat tersebut membawa Zara pada ruangan yang berbeda dan mulai melakukan tahap tes kehamilan.


Zara hanya menurut mengikuti instruksi kedua perawat tanpa banyak bicara. Meski sejujurnya gadis itu sama sekali tak mengerti dengan proses yang ia jalani, namun ia tetap melakukannya dengan senang hati.


Alat tes kehamilan yang digunakan sudah menunjukan hasil. Tak ingin gegabah, Zara kembali di periksa di atas ranjang dalam keadaan berbaring. Kedua perawat tersebut dengan kehati-hatian dan ketelitian meraba dan memeriksa bagian perut Zara. Perlahan namun pasti, setelah keduanya yakin barulah mereka sama-sama mengangguk sebagai hasil akhir.


"Sudah selesai nona. Terimakasih," ucap kedua perawat tersebut selepas membantu Zara untuk bangkit dari posisinya. Perawat itu pun menyerahkan hasil tes kehamilan dan ciri-ciri yang ia dapatkan dari hasil pemeriksaan.


Zara kembali duduk ditempatnya semula. Tak dipungkiri, kini jantungnya bergerak lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


Arka pun demikian. Ia tampak harap-harap cemas menunggu kepastian. Sesekali ia melemparkan senyuman pada sang istri untuk membuang rasa gundah. Akan tetapi, sepertinya sia-sia. Sebab ia sendiri tak mampu menyimpan rasa penasarannya.


Dokter Bram mengamati sejenak hasil terakhir pemeriksaan. Wajahnya terlihat datar. Tak ada ekspresi kegembiraan atau pun kesedihan yang tergambar. Dia pun menghela nafas dalam, yang mana membuat Arka bisa menyimpulkan seperti apa hasilnya.


"Arka," ucap Dokter Bram lirih.


"Iya, Kak," jawab Arka dengan bibir bergetar. Ia menebak jika hasilnya tak akan sesuai harapan.


"Maaf."


Arka pun menghela nafas dalam. Ia menelan kekecewaan.


"Tidak masalah kak. Kami bisa mencobanya kembali."


"Maaf, aku sadar jika dirimu pasti akan lekas menua. Statusmu akan menjadi seorang ayah. Selamat Arka, istrimu terbukti positif hamil setelah melakukan beberapa tahapan tes." Bram mengulurkan tangannya pada Arka sebagai ucapan selamat.


Arka pun menyabutnya hingga keduanya berjabat tangan. Meski wajah Arka tercengang tak percaya. Spontan ia merengkuh tubuh sang istri dalam dekapan. Menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah dan mengusap lembut puncak kepalanya.


"Kau dengar itu sayang. Kau benar-benar mengandung buah cinta kita. Kita akan memiliki seorang anak dan kita akan menjadi ayah dan Ibu." Luapan rasa bahagia tercetak jelas di wajah pria tampan yang kedua netranya tampak berkaca-kaca itu.


Zara mengaguk. Ia bahagia, namun di sisi lain ia juga menderita. Jika sudah seperti ini, tak mungkin ia bisa terlepas dari gengaman tangan suaminya. Jangankan untuk lari, bergerak pun ia sudah sangat kesulitan.


"Berjanjilah sayang untuk terus menjaga buah hati kita sampai ia lahir. Aku tidak ingin terjadi apa pun denganmu dan bayi kita ini." Arka mengusap lembut perut Zara yang masih rata dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bram menatap pemandangan sepasang suami istri yang tengah berselimut kebahagiaan itu dengan rasa senang. Sungguh keharmonisan keluarga yang mampu membuat iri siapa pun yang melihatnya. Arka begitu sangat menyayangi Zara. Memperlakukannya dengan cinta kasih dan penuh kehati-hatian seolah gadis tersebut seperti barang yang paling berharga.


__ADS_2