Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Maafkan Aku


__ADS_3

Siapapun di sini, kumohon tolong aku.


Zara terus terisak sementara tubuhnya terus meronta. Sandy yang memiliki tubuh kekar itu justru kian leluasa menghimpitnya kesudut tembok. Gadis itu pun pasrah, hingga terduduk tanpa daya.


"Pergi, pergi...." Tangannya menyilang di dada, berusaha untuk melindungi diri.


"Hahaha..." Lagi-lagi Sandy tergelak. Wajahnya justru kian merapat, terus berusaha menyentuh dan mencium wajah sang gadis.


Zara menyerah. Nafasnya terenggah. Keringat bahkan mengalir deras membasahi tubuhnya. Tuk berontak pun rasanya percuma. Seliruh yenaganya pun bahkan sudah terkuras habis. Ia hanya mampu menangis sejadi-jadinya saat Sandy sudah mulai menyentih bahkan menciumi wajahnya dan kini berusaha menindihnya.


Gadis mungil itu merasakan beratnya tetimpa tubuh besar Sandy. Tak ingin melihat semua yang terjadi, ia memilih untuk terpejam disela tangis.


Brugg..


"Aw...." pekik Sandy dengan suara tertahan dan penuh keterkejutan.


Zara yang merasa tubuhnya menjadi ringan, spontan memberanikan diri membuka netra.


Meski kondisi sekitar cukup gelap, namun gadis itu mampu melihat sesosok tubuh seorang pria yang kini menarik kerah pakaian Sandy dengan paksa.


Sementara seorang lagi berusaha mendekat dan mengengam tangannya.


"Pergi, pergi kalian," ucap Zara yang masih diselimuti ketakutan. Duduk beringsut di sudut tembok dan berusaha menutupi tubuh dengan kedua tangannya.


"Tenang, sayang. Jangan takut. Ini aku, suamimu," ucap seseorang pria itu dengan pelan dan hati-hati. Ia berusaha mengengam tangan Zara dan ingin memeluknya. Akan tetapi, gadis itu dengan cepat menepisnya.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku! Aku mohon, jangan menyentuhku." Zara menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai isyarat permohonan. Tubuhnya bergetar hebat, dengan rasa takut teramat sangat.


"Sayang, sadarlah. Ini aku, suamimu." Arka mengunjang tubuh Zara untuk menyadarkan gadis tersebut. Kondisi sekitar memang cukup gelap, sedangkan pakaian yang ia gunakan kontras dengan keadaan sekeliling yang gelap dan minim pencahayaan.


"Buka lebar matamu, dan lihat baik-baik siapa aku." Arka menangkup wajah Zara dengan kesdrua tangannya, membiarka sang istri menatap wajahnya dengan seksama.


Tak butuh waktu lama, Zara kemudian merengkuh tubuh besar Arka dan menangis tersedu dalam pelukannya. Sunguh tangisan yang mampu mengores seluruh tubuh Arka. Terasa perih dan menyakitkan.


"Sudah sayang. Kau akan aman bersamaku." Arka mengusap punggung istrinya yang terguncang dengan pelan, dan membiarkan gadis itu merasa aman menyembunyikan wajah di dada bidangnya.


Sementara itu, seorang pria tampak menarik Sandy secara paksa dan mendaratkan pukulan di beberapa bagian wajah pria itu.


Sandy berusaha membalas serangan dan sempat mengarahkan pukulan kebagian tubuh lawannya. Akan tetapi, kekuatannya tak sebanding dengan pria yang memiliki postur tubuh lebih atletis darinya itu.


Dengan satu kali pukulan telak di bagian dada, Sandy oleng dan terlempar ketanah. Pria itu sempat memekik kesakitan saat tubuhnya terhempas. Hingga Zara yang masih berusaha menenangkan diri itu, berusaha mengintip.


"Berhenti," ucap Zara setengah berteriak.


Sam yang sudah mengepalkan tangan besarnya untuk kembali menghajar Sandy, lekas menghentikan aksinya.


"Kenapa, sayang. Dia bahkan ingin menyakitimu dan calon bayi kita," jawab Arka setengah geram, yang ucapan pria itu justru memancing keingin tahuan Sandy yang mampu menangkap pembicaraan tersebut.


Calon bayi? Apakah Zara sedang mengandung, dan pria itu adalah suaminya.


Menahan rasa sakit yang menjalar, Sandy pura-pura tak berdaya dan terlihat tergeletak mengenaskan. Akan tetapi pandangannya memindah secara seksama kedua pria yang sudah membuatnya babak belur.

__ADS_1


Pria itu bahkan masih muda dan sangat tampan.


"Kita berada dalam negara hukum, sayang. Bagaimana jika polisi datang dan meminta pertanggung jawaban? Bukankah justru kita yang akan ditahan."


Menatap Sandy yang penuh luka dan tak bergerak, membuat Zara merasa iba. Bagaimanana pun, jika tanpa adanya Sandy, dirinya tak akan mungkin sampai kekota dan menikah dengan Arka.


"Lebih baik kita pergi," pinta Zara pada sang suami.


"Baiklah jika itu kemauanmu. Tunggu sebentar." Arka melepaskan dekapa Zara ditubuhnya untuk sejenak. Dia ingin melihat wajah pria yang sudah bertindak kurang ajar pada istrinya.


Arka berjongkok, kemudian tangannya berusaha mengangkat kepala Sandy agar keduanya bisa bersitatap.


"Bersyukurlah karna istriku berbaik hati maka aku tidak akan mengusut masalah ini sampai kemeja hijau. Tetapi jika kau kedapatan masih berusaha untuk menggangu atau bahkan menyakiti istriku lagi, maka aku tidak akan mengampunimu. Camkan itu." Arka menghentakkan kepala Sandy kembali ketanah. Meski wajah pria itu di penuhi luka, namun Arka bisa mengingat jelas wajah itu mungkin hingga bertahun lamanya.


Arka meninggalkan tubuh tak berdaya itu kemudian menghampiri sang istri. Tak tega melihat tubuh mungil yang masih terguncang itu. Tanpa aba-aba ia pun lekas meraup tubuh Zara dan menggendongnya. Dirinya sudah kecolongan kali ini, sejujurnya ia sudah melarang sang istri untuk tidak keluar rumah. Akan tetapi, lagi-lagi masalah toko bunga menjadi alasannya. Hingga dirinya tak kuasa untuk menolak.


Melangkahkan kaki menuju mobil yang terparkir di tepi trotoar, Arka tak hentinya menciumi wajah sang istri yang berada dalam gendongannya.


Ini merupakan pukulan berat baginya. Terlambat sejenak saja, maka ia pasti menyesalinya seumur hidup. Beruntung dirinya sempat melihat Zara yang tengah berjalan menuju stand makanan pinggir jalan sebelum akhirnya ditarik paksa oleh seseorang dengan pakaian dan wajah yang tertutup.


Arka menghela nafas dalam dan sesekali mengusap surai lembut sang istri. Di dalam mobil pun, pria tampan itu tak menurunkan Zara dari gendongannya.


Gadis yang ketakutan itu, berusaha bersembunyi di dada bidang Arka dengan netra terpejam. Aroma tubuh dan sensasi nyaman yang didapat, tak elak membuat Zara terlelap.


Pria dengan stelan jas lengkap itu menundukan pandangan. Menyadari sang istri yang tertidur pulas, membuatnya gemas untuk mencium bibir dan puncak hidung istri mungilnya.

__ADS_1


Tidurlah sayang. Selepas ini, aku pastikan tidak ada orang lain lagi yang berani menyakitimu. Maaf karna aku terlalu lama menjemputmu, aku akui itu salahku. Maafkan aku, sayang.


Satu kecupan mendarat di bibir, puncak hidung dan terakhir dikedua netra bengkak sang istri yang terkatup rapat.


__ADS_2