
Semuanya terasa kembali pada titik awal. Semua keluarga dekat satu persatu mulai kembali kekehidupan masing-masing. Mirah memilih untuk kembali kerumah pribadinya selepas resepsi pernikahan yang digelar telah usai. Begitu pun dengan Jamil dan Rumi, sepasang suami istri itu juga kembali kekampung halaman untuk menghabiskan masa tua mereka.
Kini tinggallah Zara seorang diri tanpa teman, kecuali para pelayan yang bekerja di rumahnya. Suaminya pun kembali pada pekerjaan sehari-harinya setelah beberapa hari absen untuk mengurus segala keperluan pesta.
"Aku bosan." Zara menggulingkan tubuhnya kekiri dan kanan di atas ranjang. Tidak ada aktifitas lain yang ia lakukan selain berbaring ditemani camilan dan televisi di kamar.
Gadis itu hanya mengerutu kesal saat Arka membatasi pergerakannya.
"Bukankah aku baik-baik saja? Setidaknya aku juga butuh sedikit gerak untuk kesehatan bayiku." Zara pun memilih untuk bangun dari ranjang dan menatap indahnya suasana pagi dari balkon kamarnya.
"Hem segarnya," ucap Zara dengan menghirup dalam segarnya udara pagi bercampur dengan aroma bunga segar yang bermekaran di taman yang berada tepat di bawah balkon kamar miliknya. Aroma beraneka ragam bunga yang berbaur menjadi satu mengingatkan gadis itu akan toko bunga yang sudah cukup lama tak ia kunjungi.
"Aku sangat merindukan toko bunga. Tetapi tak mungkin aku berani untuk mendatangi tempat itu lagi selepas tragedi salah paham beberapa waktu lalu." Semenjak Sandy yang dengan sengaja membawa Ibu Zara hingga adu mulut yang tak terbantahkan terjadi di tempat itu, Zara serasa tak punya keberanian untuk kembali sekaligus bertemu dengan para karyawanan yang kini sudah mengetahui status barunya sebagai bagian dari keluarga Atmadja.
Ia yakin jika semua orang yang menyaksikan, mempunyai pemikiran buruk tentang dirinya. Semua pasti tau jika Arka adalah suami dari Anastasya, tetapi saat resepsi justru Zara lah yang menjadi mempelai wanitanya. Bukankah hal semacam itu kian memperburuk citra Zara di mata mereka.
Akan tetapi rasa cintanya pada bunga membuat gadis itu tak tahan hingga berlari kecil menuju lantai dasar kemudian mencari-cari keranjang dan juga gunting kebun untuk bisa menyalurkan hasratnya.
Melihat sang nona berlari-lari kecil dengan keranjang di tangannya, membuat Surti yang tengah berlalu merasa khawatir dan mampu untuk menyimpan tanya.
"Nona, apa yang ingin anda lakukan. Tuan akan marah jika nona berlari seperti ini."
Gadis itu hanya berhenti sejenak, menyunging senyum lebar dan wajah ceria.
"Aku hanya ingin mencari beberapa bunga segar di taman yang akan aku rangkai di sebuah vas sebagai pengharum ruangan alami."
"Tapi nona, nanti tuan bisa--."
"Tuan tidak akan pernah marah, jika bibi tak pernah mengatakannya." Gadis itu berucap sembari berlalu pergi. Ia pun sudah faham akan ucapan yang akan terlontar dari bibir pelayannya itu.
Surti hanya bisa menghela nafas dalam. Bukan tanpa alasan tuannya meminimalisir pergerakan sang istri. Kehamilan kembar menjadi salah satu alasan terbesarnya. Memang Zara terlihat baik-baik saja menjalani kehamilan mudanya, namun mengingat seberapa protektifnya Arka akan kesehatan dan kondisi tubuh sang istri, mengangap jika memberinya ruang gerak yang terbatas menjadi solusi paling tepat untuk saat ini.
Dari kejauhan perempuan paruh baya itu bisa melihat wajah ceria nonannya saat memotong beberapa tangkai bunga mawar yang menjadi kesukaanya kedalam keranjang disusul dengan farian bunga lainnya.
"Bibi, aku sudah mendapatkannya," ucap Zara dengan menunjukan keranjang berisikan bunga pada Surti seolah ingin diperlihatkan.
Surti tersenyum lembut. "Apakah bibi bisa membantu untuk menatanya?" tawar Surti setengah memohon.
Gadis itu pun tak menolak, menarik tangan kusam surti dan membawanya kekamar. Entah mendapatnya dari mana, kini sebuah vas bunga kaca kosong sudah berada di atas nakas. Keduanya pun saling bekerja sama, mengatur susunan bunga yang di petik dan mengisi vas bunga tersebut dengan sedikit air agar bunga memiliki kesegaran tahan lama meski berada di dalam ruangan.
Aroma bunga segar yang menguar, tak urung menciptakan suasana menenangkan. Disela keasyikannya menikmati aroma berbagai bunga yang tengah dihirup, tiba-tiba, ponsel miliknya yang berada di laci nakas bergetar.
Gadis itu lekas menarik laci dan meraih benda mungil yang bergetar itu. Bukanlah sebuah panggilan, namun terdapat satu pesan masuk. Zara pun membukanya dan menemukan nama Kiara dari sang pengirim pesan.
Zara, bisakah kita bertemu. Kau bahkan belum sempat menjelaskan semua pertanyaanku pada waktu itu.
Gadis mungil itu terdiam selepas membaca pesan.
Bertemu? Mana mungkin aku mendapatkan izin.
Zara menaruh kembali ponselnya di atas nakas, sementara pandangannya tertuju pada Surti yang masih mengotak-atik bunga rangkaianya.
"Bibi, bisakah aku keluar sebentar," ucapnya ragu.
Surti menautkan kedua alisnya setengah berfikir. "Nona ingin kemana?"
"Aku ingin menemui sahabatku, sudah lama kita tak bertemu. Tetapi aku takut mengatakannya pada suamiku."
Lagi-lagi perempuan paruh baya itu tersenyum teduh. Ia tau jika Zara tak seperti Anastasya. Jika Anastasya sering menyelinap meski sudah mendapatkan peringatan agar tak keluar rumah. Namun Zara justru tak demikian, ia gadis penurut dan tak pernah berbuat macam-macam hingga membuat tuannya naik pitam. Hingga munculah satu ide yang mungkin saja bisa menjadi solusi bagi keinginan nonanya.
__ADS_1
"Bukankah nona bisa meminta izin lebih dulu kepada tuan, jika ingin keluar rumah?"
Terlihat jika gadis itu menghela nafas dalam dan wajahnya menyiratkan keraguan.
"Walau sudah meminta, tapi sepertinya aku aku masih ragu untuk mendapatkan izin itu."
"Nona, tidak ada salahnya untuk mengutarakan apa yang menjadi keinginan anda. Saya tau, jika tua tak sekejam itu dan sama sekali mengekang nona untuk keluar dari rumah."
Begitu mendengar ucapan sang pelayan, entah mengapa kini setitik harapan itu muncul kepermukaan. Meski ada sejejak keraguan, namun tidak ada salahnya jika ia coba mengikuti ucapan Surti.
Meski sedikit ragu, tapi akhirnya Zara memberanikan diri untuk menyentuh ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan menyentuh satu icon kontak di dalamnya.
Tangan gadis itu terlihat gemetar saat menunggu pangilan tersambung. Tak berapa lama terdengar suara seorang pria yang cukup familiar menyapanya indra pendengaranya dengan hangat dari ujung telepon. Gadis itu sempat tergagap kala mengutarakan keinginannya, namun di beberapa detik kemudian senyum di bibirnya tampak terulas seiring dengan hembusan nafas lega yang keluar dari bibirnya.
Seakan mengerti akan jawaban yang di dapat nonanya, senyum gadis itu pun tertular pada perempuan paruh baya yang tengah bersamanya. Surti sudah mampu menerka jika sang tuan pasti mengizinkan, meski harus dibarengi dengan segala macam aturan, tetapi setidaknya izin tersebut sudah didapatkan.
****
"Kurang lebih seperti itulah ceritanya, hingga hidupku berakhir seperti ini." Zara coba menjelaskan perihal semua yang terjadi tentang hidupnya pada Kiara. Gadis itu sempat ternganga tak percaya. Tetapi bagaimana lagi, memang seperti itulah fakta sebenarnya.
"Ya tuhan, bukankah kau lebih mirip disebut dengan istri pengganti." Kiara sedikit tergelak, namun didetik yang sama ia pun lekas membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Keduanya kini sedang berada di sebuah resto cepat saji dan menyantap beberapa makanan sebagai menu makan siang.
"Mau bagaimana lagi, memang seperti itulah takdir kehidupanku. Tapi aku sama sekali tak menyesal, sebab tuhan seperti menjawab semua doaku melalui Tuan Arka. Beliau begitu sangat baik dan bisa menerima semua kekuranganku."
"Cie," sambar Kiara cepat.
"Dan perihal Ka Sandy, aku sungguh meminta maaf kepadamu karna tak mengatakannya sedari awal padamu." Zara cukup menyesali diri sebab tak mengatakan kebenaran tentang Sandy pada sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan, hanya saja ia masih takut jika Kiara mengira jika dirinya mengada-ada, menilik dari tingkah Sandy yang sangat lihat untuk memutar balikkan fakta.
Kiara mengulas seutas senyum penuh ironi bercampur getir. Ia sempat terluka, namun enggan untuk mengingatnya.
Mereka kembali menyantap makanan yang tersisa di piring masing-masing. sesekali diselipi canda tawa hingga tak menyadari jika ada dua pasang netra elang yang tengah mengamati mereka dan mulai berjalan mendekat.
"Sayang...," ucap seseorang yang datang dari arah belakang tanpa diduga. Zara yang masih menyuapkan makanan kedalam mulutnya itu pun tersedak saat telapak tangan besar mendarat di puncak kepalanya dan mengusap surainya lembut.
Suara dan belaian tangan ini seperti tak asing bagiku.
Gadis itu pun mendongak, dan terkejut seketika saat pandangannya bersiborok dengan sepasang netra elang milik Arka.
"Hehe, sayang," ucap Zara dengan tersenyum kikuk saat sama sekali tak mengira jika Arka akan menemuinya secara tiba-tiba seperti ini.
Sementara itu, Kiara hanya bisa terbelalak dan kesusahan menelan makanan yang terkunyah di dalam mulutnya akibat rasa terkejut. Terlebih saat ini ada Sam yang tengah berdiri di belakang tubuh Arka.
Sial, lagi-lagi aku harus bertemu dengan tuan menyebalkan ini.
Arka pun mengeser satu buah kursi dan duduk di samping istrinya.
"Sayang, apa yang sedang kau makan?" tanya Arka setengah menatap piring kosong dan beberapa kertas bukus makanan yang masih tergeletak di atas meja.
Gadis itu tersenyum tipis namun ada sejejak khawatiran saat hendak mengatakan makanan apa saja yang baru ia santap.
"E.. aku makan." Zara menyebutkan beberapa macam makanan cepat saji yang menjadi menu andalan resto tersebut.
Arka yang mendengar hanya bisa berdecak dan menggelengkan kepala samar.
"Sayang, tidakkah kau tau jika makanan cepat saji tidak baik dicerna oleh tubuh, terlebih wanita yang masih mengandung sepertimu," ujar Arka memperingatkan.
"Maaf," jawab Zara lesu dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tidak masalah, asal jangan mengulangnya kembali." Dengan mesra Arka menyelipkan sulur anak rambut di telinga sang istri kemudian mengusap pipi kemerahan itu lembut. "Apakah sudah selesai? Aku sengaja pulang lebih awal karna merindukanmu," sambung Arka lagi yang mana membuat sang istri tersipu malu.
Kiara yang bernasip seperti obat nyamuk di antara mereka, segera menyeka bibirnya dengan tisu dan mulai bangkit dari posisinya untuk berpamitan.
"Zara, tuan. Saya permisi," pamit Kiara setengah membungkukkan badan.
"Kia!" seru Zara seketika saat gadis itu sudah berbalik badan. "Biar Sam yang akan mengantarmu kembali ketoko." Dengan satu isyarat tangan Zara meminta pada Sam untuk lekas bergerak.
Pria itu pun terkesiap dengan mengerutkan dahi hingga nampak tiga lapisan. Mungkin saja pria itu ingin menolak, akan tetapi sebuah tatapan tajam dari sang tuan membuatnya tak berdaya dan memilih untuk cepat bergerak.
"Tidak usah Zara, aku bisa naik taksi," tolak Kiara.
"Menurutlah, sebelum aku berubah fikiran," gumam Sam yang hanya mampu didengar oleh Kiara.
"Lalu, bagaimana denganmu Zara. Bukankah Tuan Sam datang bersama Tuan Arka?"
"Kau tenang saja, bukankah aku datang dengan diantar seorang supir. Maka aku pun akan pulang bersama suamiku dengan diantar supir pula."
Kiara terdiam, upayanya untuk menolak pupuslah sudah. Ia pun mulai melangkah dengan memanyunkan bibir, coba mengikuti Sam yang berjalan di depannya.
Melihat pemandangan menggelitik itu seketika membuat Zara tergelak samar dan hal itu pun tak luput dari penglihatan suaminya.
"Sayang, kau kenapa? Apakah ada yang aneh?"
"Sayang, lihatlah mereka." Jemari mungil Zara menujuk kearah Kiara dan Sam yang kini sudah memasuki mobil. "Mereka terlihat serasi, bukan?" sambung Zara dengan masih diselipi tawa jenaka.
Arka pun menautkan kedua alisnya, kemudian menggeleng samar.
"Apa kau bilang, serasi? Mereka berdua justru terlihat saling bertolak belakang." Sungguh kata-kata telak yang membuat senyum di bibir Zara luntur seketika.
Apa dia bilang. Saling bertolak belakang? Apa kau fikir hanya mereka yang saling bertolak belakang. Bukankah kita juga iya.
Gadis itu menatap jengah kearah suaminya, sementara pria itu hanya tergelak dan lekas menarik tubuh sang istri dalam pelukannya.
"Ayo kita pulang, aku sudah benar-benar merindukanmu."
******
Jika mungkin bisa memilih, pastilah Kiara akan lebih suka menaiki taksi atau pun angkot dari pada lagi-lagi harus berada dalam satu mobil bersama seorang pria dingin seperti Sam.
Keduanya saling bungkam selama perjalanan. Hingga Samlah yang lebih dulu berinisiatif untuk membuka pembicaraan.
"Huh, kenapa lagi-lagi aku harus bertemu dan mengatar seorang gadis seperti dirimu." Tetap fokus menatap kedepan saat Pria itu mengucapnya, seolah tak memperdulikan seorang gadis dengan netra membulat sempurna yang duduk di sampingnya.
"Apa, jadi tuan merasa keberatan? Jika keberatan, kenapa tidak dari semula Tuan menolaknya," ucap Kiara setengah memaki pada pria itu.
"Apa, keberatan? Tubuhmu bahkan sekecil itu, mana mungkin aku merasa keberatan." Serigai licik tampak membingkai disudut bibir pria tampan itu.
"Tuan, bukan keberatan seperti itu yang kumaksud. Tapi---"
"Tapi apa? Bukankahkah kau sedang membicarakan perihal berat dan ringannya tubuhmu padaku?"
"Tuan!" pekik Kiara. "Turunkan saya di sini," titah gadis yang mulai terbakar emosi saat ini.
Tanpa ragu, Sam pun menginjak pedal rem hingga mobil itu pun terhenti. "Turunlah, bukankah kau menginginkan untuk turun saat ini juga."
Sialan
Kiara yang sudah terbakar emosi itu pun bergerak cepat untuk keluar dari mobil kemudian menutup pintu itu dengan sekencang-kencangnya. Kiara masih terpaku di tempatnya sementara mobil yang dikemudikan Sam mulai menjauh meninggalkannya tanpa rasa iba.
__ADS_1
"Dasar sialan. Kau memang pria tak berhati. Awas saja kalau kita bertemu kembali, aku pasti akan membuatmu kelabakan setengah mati. Dasar pria kaya sialan. Kau benar-benar Tuan menyebalkan," maki Kiara di tengah jalanan. Akibat rasa jengahnya yang mendalam, ia mengabaikan keberadaan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.