Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Segala beban yang Mirah pendam seorang diri, perlahan terasa ringan setelah membaginya dengan seseorang yang sudah ia angap layaknya putri sendiri. Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, namun Mirah merasa senang dengan kepolosan dan kesederhanaan gadis cantik tersebut. Hingga tak ada alasan baginya untuk berlama-lama tertahan di kediaman putranya.


Selama beberapa hari, dirinya sudah teramat merindukan rumah tenang di tepi gunung miliknya. Selepas kepergian Surya Atmadja kehadapan sang ilahi, Mirah berusaha menyembunyikan diri dan meninggalkan segala hingar bingar perkotaan. Memilih untuk hidup tenang di sebuah rumah berhawa sejuk yang menyatu dengan alam. Disanalah beberapa tahun ia tinggal, mencoba bangkit dan melupakan kenangan menyedihkan beberapa tahun lalu.


Mirah mengengam tangan Zara erat dan beberapa kali meyakinkan sang gadis untuk tetap mencintai putranya dan bertahan dengan ikatan pernikahan yang sudah dirajut.


"Tapi Zara takut Bu."


"Apalagi yang perlu kau takutkan, Arka saja sudah terlihat mencintaimu, tidak mungkin kau akan kehilangannya," goda Mirah dengan mengedipkan satu netranya.


"Bukan itu Ibu."


"Lalu apa lagi jika bukan itu," Mirah sedikit geram, pasalnya sudah tak terhitung berapa kali ia berusaha meyakinkan, namun tetap saja tersimpan keraguan pada diri sang menantu.


Zara terdiam namun fikirnya melayang jauh. Mengingat beberapa moment bersama Arka yang membuatnya tersenyum dan tersipu malu.


Mungkinkah Tuan Arka benar-benar mencintaiku. Tapi, aku juga tidak boleh besar kepala, yang ada justru rasa malu tak terkira jika apa yang Ibu katakan tidak benar. Baiklah, akan lebih baik jika aku menanyakan langsung pada Tuan Arka tapi, apa aku punya keberanian semacam itu untuk bisa menanyakan itu semua.


Gadis itu masih terlihat berfikir, dan hanya sesekali menatap wajah sang Ibu mertua lalu memberikannya sebuah senyuman.


******


Sudah hampir tengah malam, namun sesosok tubuh mungil di bawah selimut masih tetap terjaga. Pembicaraannya dengan Mirah di ruang perpustakaan beberapa waktu lalu masih jelas terngiang dalam ingatan. Ia pun membulatkan tekat untuk tak tidur hingga sang suami pulang dan menanyakan perasaanya yang sebenarnya.


Zara hampir memejamkan netra yang tak kuasa menahan kantuk kala pintu kamar menunjukan adanya pergerakan. Seperti biasa, Arka sengaja membuka tanpa suara, sebab tak ingin mengusik kenyamanan sang istri yang tengah tertidur pulas.


Bagaimana ini, kenapa jantungku semakin tak bisa dikondisikan. Lebih baik, aku pura-pura tidur saja.


Zara sengaja menutup rapat netranya dan sebisa mungkin tak bergerak layaknya tengah tertidur dengan lelapnya, namun ia memasang tajam indra pendengaran dan sesekali mengintip dari ekor netranya yang ia buka samar.


Selepas mengendurkan dasi dan melepas jasnya, langkah kaki pria itu terdengar mendekat kearah ranjang. Semakin dekat hingga satu kecupan hangat mendarat di puncak kapala gadis yang tengah pura-pura tertidur itu. Mengusapnya lembut sebelum menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Terdengar gemercik air shower dari arah kamar mandi. Zara membuka netranya dan menarik nafas dalam. Meraba bagian dada, di mana detak jantungnya terasa lebih cepat memacu. Gadis itu pun takut untuk bergerak, kalau-kalau sang suami muncul dan mendapatinya terbangun, tentu dirinya akan merasakan malu yang tiada tara.


Cukup lama Zara bertahan pada posisinya, tak tidur namun juga tak bergerak dengan netra terkatup rapat. Langkah kaki terdengar, nyali gadis itu kian menciut dengan keringat mulai menitik di pelipis. AC ruangan pun tak berguna diwaktu genting seperti saat ini.


Terdengar suara pintu terbuka. Gadis itu pun coba mengintip dari celah selimut yang menutupnya. Arka membuka pintu yang terhubung dengan balkon di kamar mereka. Pria tampan itu tampak mengibaskan rambutnya yang masih setengah basah dan tertiup oleh angin malam yang bertiup kencang.k


T-shirt abu-abu yang terlihat pas di badan dan berpadu dengan celana santai beewarna gelap semata kaki membuatnya terlihat luar biasa tampan.


Arka berdiri dengan tangan mengengam pagar besi balkon. Menatap kehidupan malam kediaman mewahnya dari atas. Semilir angin yang menerpa tak membuatnya kedinginan. Pria itu justru terlihat menikmati dan engan beranjak dari tempat tersebut.

__ADS_1


Bagaimana ini. Tanya tidak ya.


Zara cemas luar biasa. Satu sisi ia ragu, namun di sisi lain ia juga butuh kepastian.


Kalau aku tanya dan Tuan menjawab tidak mencintaiku bagaimana? Ah terserahlah. Masa bodoh. Malu pun aku akan tanggung. Tapi...


Maju mundur. Bermodalkan tekad yang bulat, gadis itu membuka netra dan menyibak selimut dengan kekuatan penuh hingga selimut bulu angsa itu teronggok tak berdaya di lantai.


Kaki telanjangnya ia langkahkan menuju arah pintu balkon. Semakin mendekat, punggung lebar Arka sudah terlihat. Sontak gadis itu pun menghentikan langkah, meraba bagian dada di mana letak jantungnya berada.


Bertahanlah. Jangan dulu pingsan sebelum aku *berhasil menanyakannya.


Brug*..


Tanpa aba-aba gadis itu langsung mendekap punggung lebar pria dari belakang. Arka pun terkesiap dan berusaha memberontak namun tangan mungil dan cincin yang tersemat di jari manis itu mengingatkannya pada seseorang.


"Zara," ucapnya seketika setelah berhasil membalikkan badan.


Gadis itu pun sama terkejutnya, terlebih kini posisi mereka tengah berhadapan.


"Kau belum tidur? Ini sudah larut malam." Usapan di puncak kepala mendarat sempurna.


Zara hanya mengeleng malu-malu sembari tertunduk.


"Menungguku? Bukankah kau selalu sudah terlelap saat aku kembali bekerja?"


Iya, tapi malam ini tidak Tuan.


"Ada yang ingin saya tanyakan pada anda Tuan." Gadis itu sungguh malu tak terkira.


Arka menautkan kedua alisnya tampak tak mengerti hingga mnunduk dan mencondongkan wajahnya untuk mensejajari sang istri.


"Tentang apa?"


Gadis itu pun gelagapan, mendapati wajah Arka menatapnya lekat.


"Tentang Itu..."


Arka yang masih tak mengerti itu kian mendekatkan wajahnya dan nyaris tiada jarak diantara keduanya.


"Itu apa?"

__ADS_1


Hembusan nafas hangat serasa menyapu lembut wajah gadis yang tak mampu menutupi rona merah di wajah. jantungnya bahkan berdetak semakin cepat tak mampu dikendalikan.


Bagaimana ini, aku tanyakan atau tidak? Tapi jika tidak, aku tetap akan penasaran sepanjang hidupku.


"Apa Tuan benar-benar mencintaiku?" ucapnya lirih dan sedetik kemudian memalingkan wajah selepas berucap. Rasanya tak mampu untuk membalas tatapan sang suami yang terasa menghunjam hingga kejantung. Sejujurnya ia sempat mengutuki bibir mungilnya yang terkadang sulit untuk dikendalikan jika kadar ingin tahunya sudah di ambang batas.


Pria tampan itu terkesiap dan terperanggah. Bibirnya yang terkatup sedikit terbuka merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apa maksudmu, aku masih tak mengerti. Coba katakan sekali lagi?" pinta Arka dengan menajamkan semua indra di tubuhnya.


Apa?


"Apa Tuan benar-benar mencintai saya?" Zara sedikit meninggikan suaranya hingga telingga sang suami berdengung.


Arka terkejut bukan main, dan disusul gelak tawa. Rupanya ia memang tak salah dengar.


"Kenapa kau harus menanyakannya?"


Apa, kenapa justru balik bertanya. Berarti benar, jika anda tidak mencintai saya.


"Itu artinya, Tuan memang tidak mencintai saya?" Wajah yang tampak malu-malu itu berubah sedikit kecewa.


"Bukan begitu maksudku." Seketika meralat ucapan dan menangkup wajah istrinya. "Apakah dari semua yang sudah kita jalani, kau masih belum mengetahui betapa besarnya rasa cintaku padamu."


Zara terdiam, namun membalas tatapan sang suami.


"Justru akulah yang seharusnya bertanya tentang perasaanmu. Apakah kau benar-benar mencintaiku?"


Zara pun terbelalak, tubuhnya menegang seketika.


Kenapa justu bertanya tentang perasaanku.


Memang masih samar untuk menjabarkan seperti apa perasaanya. Akan tetapi ia pun tak ingin memungkiri diri, dan memilih berbohong pada dirinya sendiri. Dan kinilah waktu yang tepat.


"Saya mencintai anda Tuan." tegas Zara.


Arka ternganga tak percaya.


"Benarkah, kau menikah denganku bukan karna terpaksa?" Arka sedikit menguncang bahu Zara untuk lebih memastikan.


"Awalnya memang begitu adanya, saya menikah dengan Tuan karna Nona Anastasya. Akan tetapi, kini rasa terpaksa itu mulai tersamarkan dengan segala cinta yang sudah Tuan berikan." tegas Zara sekali lagi.

__ADS_1


Hampir tak percaya Arka mendengarnya. Ditengah debaran jantung yang saling berpacu, pria itu mengarahkan bibirnya dan mendarat tepat di bibir merah menggoda Zara. Gadis itu yang sempat berjingkat dan mundur beberap langkah, namun tangan Arka bergerak cepat dan menahan tengkuk sang istri untuk tetap bertahan pada posisinya.


Semilir angin malam kian menambah nuansa syahdu yang tercipta di antara sepasang anak manusia yang tengah meluapkan rasa bahagia. Seolah tak ingin lagi ada jarak, Arka semakin merapatkan tubuhnya pada sang istri dan mencurahkan segala rasa


__ADS_2