
Kiara hanya bisa mengigit bibir bawah dan menerka-nerka di mana Sam akan membawanya. Sedari semalam gadis itu bahkan tak nyenyak tidur, menunggu saat ini tiba.
Sam kini sudah berada di sampingnya, mengatur kemudi dan sesekali menatap kearahnya sembari tersenyum tipis.
Kenapa aku jadi setegang ini? Sebenarnya dia ingin membawaku kemana sih?
Kiara menatap pria disampingnya seksama. Penampilannya sangat rapi dengan stelan jas lengkap dan rambut disisir kebelakang. Sungguh berbeda dengannya yang hanya mengenakan celana jins, kemeja berwarna merah muda dan sepatu flat berwarna senada. Surainya pun hanya diikat ekor kuda seperti hari-hari biasanya. Sungguh pemandangan yang membuatnya tak percaya diri.
"Kenapa kau terlihat setegang itu?" Sam tergelitik untuk bertanya, saat mendapati Kiara yang terlihat gelisah dan salah tingkah duduk di tempatnya.
Kiara hanya bisa meringis, saat pandangan keduanya bertemu.
"Tidak apa-apa tuan, saya hanya...." Gadis itu tak menyambung jawabannya, pasalnya ia pun kebingungan untuk memberi jawaban yang kiranya masuk akal.
"Santai saja," ucap Sam menenangkan.
Apa? Memang disaat seperti ini aku masih bisa santai. Detak jantungku bahkan sudah tak beraturan sedari kau datang tadi.
Disisa perjalanan mereka selipi dengan berbagai obrolan ringan. Sam tahu benar jika gadis yang ia sukai itu tampak gugup bukan main. Maka dari itu, ia coba menetralisir keadaan agar membuat Kiara bisa sedikit santai.
"Kita akan kemana, tuan?"
"Kau akan tau beberapa saat lagi."
Apa tidak ada jawaban yang lebih spesifik lagi. Jika aku bertanya tentang itu, pasti kau akan menjawabnya seperti itu lagi.
Beberapa kali Kiara nampak mengajukan pertanyaan yang sama karna perasaran, tetapi lagi-lagi pula Sam memberikan jawaban yang sama dan menggantung. Yang mana membuat rasa cemas sekaligus penasaran di hati Kiara semakin tak terbendung.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, Gadis itu menatap bangunan sekitar jalan yang menurutnya sudah tak asing lagi. Tetapi Kiara tak mampu untuk mengingatnya kembali.
Hingga pada saat mobil yang mereka kendarai memasuki gerbang utama nan tinggi menjulang dengan pengamanan ketat, barulah gadis itu bisa mengingat di mana Sam membawanya kini.
"Tuan, bukankah ini rumah Tuan Arkana?" Iya, tak salah lagi. Kiara pernah satu kali memasuki area rumah megah ini pada saat menemui Sandy dan itu pun Sam lah yang membawanya.
"Iya, benar."
__ADS_1
Para pengawal yang berjaga dengan sigap membuka pagar dan menundukan kepala saat mobil Sam berlalu.
Apa Artinya aku juga akan bertemu Zara? Duh sebenarnya apa maksudnya mengajakku ketempat ia bekerja.
Saat mobil berhenti di area depan rumah pun Kiara masih menyimpan sejuta pertanyaan, untuk apa pria itu membawanya kemari.
"Ayo turun."
Kiara pun mengikuti langkah Sam yang berjalan di depannya. Beberapa pengawal dan pelayan yang tanpa sengaja berpapasan pun menundukan kepala kearah keduanya.
Sam terus melangkah, melewati ruangan demi ruangan megah di dalam rumah mewah itu. Hingga pria itu berdiri di sebuah ruangan dengan pintu tertutup.
Kiara pun masih setia berada di belakang Sam. Tanpa berbicara dan hanya mengikuti langkahnya.
Pintu itu pun diketuk oleh Sam, dan tak berapa lama pintu bercat putih gading itu terbuka samar.
"Hai, kalian sudah datang." Suara renyah seseorang membuat Kiara seketika terbelalak tak percaya.
Zara.
Sementara diruangan itu pun nampak seorang pria tampan berbadan tegap dengan jambang tipis membingkai wajahnya, yang tak lain ialah Arka yang tengah duduk ditemani teh jangat dan surat kabar yang dibacanya.
Sam pun duduk di sofa, sementara Kiara ditarik oleh Zara untuk duduk di sisi kanan Sam sementara dirinya sendiri menempel pada sang suami.
Kiara dibuat salah tingkah. Bagaimana tidak, Sam justru membawanya kehadapan Arka dan Zara, yang entah apa maksudnya. Dan anehnya, kedua orang itu pun sama sekali tak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Apakah ini memang sudah direncanakan, hati Kiara berbicara.
Tak berapa lama seorang pelayan paruh baya datang, dengan satu pelayan lain yang membawa nampan berisikan beberapa gelas minuman segar. Rupanya pelayan itu ialah Surti yang kemudian ikut bergabung di sofa bersama tuan dan nonannya.
Surti tersenyum lembut saat menatap Kiara yang duduk tertunduk dengan memilin jemarinya sendiri. Sungguh kejadian saat ini, seperti kejadian beberapa bulan lalu saat Zara pertama kali memasuki rumah. Bingung dan takut, hal semacam itulah yang mampu Surti tangkap.
"Kiara, seperti pembicaraan kita tempo hari, kini di hadapan Tuan, Nona, dan Bi Surti, aku akan mengucapkan lagi tentang perasaanku padamu."
Suasana hening seketika. Kini Sam mencondongkan tubuhnya untuk menghadap kearah Kiara.
"Kiara, angkat wajahmu dan tataplah aku," pinta Sam dengan lembut namun menuntut.
__ADS_1
Gadis itu pun spontan mendongak, meski tubuhnya gemetar. Terlebih semua pandangan kini tertuju padanya.
"Aku tertarik dan memiliki rasa padamu, Kiara. Entah sejak kapan, aku pun tak menyadarinya. Namun yang pasti, rasa itu terus tumbuh dan kian hari semakin subur. Aku sendiri tak mampu untuk memendam rasa lebih lama lagi kepadamu. Dan Kini, aku mohon dengan sangat, Kiara, maukah kau menjadi kekasihku, menjadi teman berbagi dan teman di dalam suka dan duka?"
Kiara dibuat tak mampu berkata-kata. Pria ini sungguh pintar memanfaatkan situasi. Jika hanya berdua saja sudah membuat Kiara malu setengah mati dan kebingungan, apalagi sekarang yang disaksikan oleh orang-orang terdekat Sam.
Gadis itu masih diam, hingga Sam berinisiatif untuk membuka mulutnya lagi.
"Kia, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jika kau masih ragu denganku, katakanlah hal apa yang masih membuatmu ragu dan tanyakan padaku."
Ya tuhan, kenapa harus jadi seperti ini.
Kiara masih diam dan otaknya sendiri seakan sulit untuk bisa diajak kerja sama. Apa yang masih membuatnya ragu? Ia sendiri bahkan tak mampu menjawabnya.
"Kia, tidakkah kau lihat Sam. Dia pria yang baik dan juga bertanggung jawab. Sayang bukan, jika dilewatkan begitu saja," goda Zara dengan menahan tawanya. Pasalnya Kiara yang selalu berwajah ceria kini menjadi pendiam dan pucat pasi. Seakan aliran ditubuhnya tiba-tiba berhenti.
"Zara," rengek Kiara setengah menahan malu.
Zara bahkan spontan membungkam bibirnya dengan telapak tangan saat menahan tawa. Sementara Arka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah jahil Zara pada sahabatnya.
"Ayo Kiara, katakanlah. Apa kau menerima atau ---"
"Saya menerimanya, tuan," potong Kiara secepat kilat dengan sekali ucap.
Semua yang mendengar dan menyaksikan tersenyum senang, Zara bahkan bertepuk tangan riang sebagai luapan kebahagiaan. Sampai sebuah ciuman di pipi membuatnya tersadar dan menghentikan tepukan.
"Maaf sayang. Aku terlalu bersemangat," ucap Zara pada Arka yang menatapnya lekat.
"Benarkah, kau menerimanya?" tanya Sam tak percaya.
Gadis itu pun mengangguk, meng-iyakan.
"Terimakasih, aku sungguh merasa senang sekali." Sam meraih jemari lentik Kiara dan menggengamnya erat, menatap gadis ity lembut dengan senyum hangat, sehagat mentari pagi.
Tuan, bagaimana aku bisa menolakku. Kau seakan mencari titik lemah, di mana aku tak bisa untuk menolak dan justru menerimamu. Baiklah, kita akan mulai jalani hubungan ini. Semoga kau tidak akan menyesal, setelah lebih dekat mengenalku dan juga keluargaku.
__ADS_1
Bersambung...