
Tak hentinya Mirah yang kini tengah duduk di kursi meja makan bersama Anastasya itu memandang tangga yang menjadi penghubung dengan lantai atas. Sedikit cemberut menunggu anak dan menantunya yang belum muncul keluar kamar. Potongan sandwich sudah berada di piringnya, namun ia tetap engan untuk menyantap tanpa Arka dan Zara bersamanya.
"Ibu, bagaimana jika kita sarapan lebih dulu. Mungkin Zara tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan Arka sebelum kekantor," bujuk Anastaya yang juga terlihat mulai lelah menunggu.
Mirah menghela nafas, rasanya enggan untuk memakan sarapannya lebih dulu.
"Tapi ini sarapan terakhir sebelum Ibu kembali kerumah, dan Ibu ingin makan dengan kalian semua," jawab surti tak bersemangat.
Tak berselang lama, derap suara sepatu di lantai seketika membuat bibir perempuan paruh baya itu mengembang senang. Netranya tertuju pada pria tampan bertubuh tegap tengah menuruni tangga dengan gadus mungil yang mengekor di belakangnya.
"Kenapa kalian lama sekali," ucap Mirah kala putra dan menantunya hendak mendaratkan tubuh di kursi.
" Selamat pagi Ibu, Anastasya." Tak berniat menjawab, Arka yang wajahnya terlihat cerah mengalahkan cerahnya sinar mentari itu justru menyapa Ibu dan istri pertamanya sebelum duduk di kursi meja makan. Sementara Zara duduk di kursi samping Ibu mertuanya.
Mirah menatap lekat wajang sang putra yang tak hentinya mengulas senyum dan wajah cerahnya. Membuat perempuan paruh baya itu bertanya-tanya di dalam hati.
Putraku terlihat senang sekali pagi ini. Apa yang sudah terjadi padanya semalam hingga membuatnya sebahagia ini.
Mirah mengeser pandang mengarah pada sang menantunya, Zara. Gadis itu hanya diam dan tertunduk, namun ketika pandangan keduanya bertemu, gadis mungil itu bergegas bangkit dan memberikan beberapa potong sandwich untuk sang suami dan dirinya sendiri.
Kelihatannya tidak ada yang aneh dengan menantuku, tetap seperti biasanya. Hanya saja, kenapa dia terlihat malu-malu seperti itu.
"Terimakasih istriku," ucap Arka kala menerima sarapan dari tangan istrinya.
__ADS_1
Mereka memulai sarapan, namun juga sibuk berperang dengan fikiran masing-masing. Anastasya yang hikmat menikmati sarapan tanpa beban, Arka yang menyuapkan potongan makanan kemulut tak hentinya menatap wajah Zara dengan senyum menggida . Sementara dari wajah Mirah tergambar jelas jika ia tengah mencari-cari akar masalah dari sang putra yang biasanya datar kini tampak seperti bocah kasmaran dan cenderung kurang waras dengan senyum yang terus ia kembangkan pada orang-orang seisi rumah.
Akan tetapi Zaralah yang paling tak enak hati jika dalam posisi seperti ini. Wajah Anastasya yang terlihat tersenyum lembut menatapnya justru membuatnya kian merasa bersalah. Dirinya hanyalah orang baru yang terpaksa membuat hubungan Anastasya dan suaminya merenggang. Mampukan ia bertahan untuk tetap tersenyum dalam situasi seperti ini.
Gadis mungil itu terdiam dan sesekali mengunyah makan di puringnya yang seketika berubah hambar. Entah kemana takdir akan membawanya dikemudian hari.
******
"Jaga kedua istrimu baik-baik," pesan Mirah pada Arka saat sudah memasuki mobil yang akan membawanya kembali kerumah miliknya yang berada di daerah pegunungan.
"Itu sudah pasti Ibu," jawab Arka penuh keyakinan sembari melirik kearah Zara dan Anastasya yang berdiri di belakangnya.
Zara dan Anastasya serempak melambaikan tangan kearah Mirah, yang mana dibalas oleh Mirah dengan lambaian tangan pula. Kendaraan yang membawa perempuan paruh baya itu sudah mulai meninggalkan halaman rumah sang putra dan keluar dari gerbang utama.
Memutar kepala, Arka kini tengah menatap kedua istrinya yang berdiri berdampingan. Tak terasa, sudut bibirnya berkedut menahan tawa.
Sungguh kedua istriku memang benar-benar berbeda.
Jika Anastasya yang tinggi sempurna layaknya model prefisional, Zara justru terlihat seperti gadis SMA yang masih imut dan menggemaskan.
"Apa kalian akan mengunjungi toko?" Arka berjalan mendekat menghampiri kedua istrinya.
"Ada beberapa hal yang perlu aku urus di sana," Anastasya beralih menatap Zara di sampingnya. "Dan kau Zara, ingin ketoko bersamaku atau tinggal di rumah?"
__ADS_1
Bagaimana ini, aku binggung.
Zara menatap Arka dan Anastasya bergantian, sejujurnya ia sangatlah kebingungan untuk memposisikan dirinya sendiri. Takut jika ia sampai salah mengambil langkah dan mengecewakan seseorang.
"Bagaimana jika saya juka kekoto bersama Nona?" Zara coba mengungkapkan keinginannya pada sang suami, meski entah seperti apa reaksinya.
Arka berfikir sejenak kemudian mengucapkan kalimat, "Baiklah, dan kembali sebelum petang."
Gadis itu pun mengangguk. Arka lantas mengulurkan tangan kanannya pada kedua istri dan dicium punggung tangannya sebelum pria itu menaiki mobil yang dikemudikan Sam menuju kantor.
Lambai tangan menjadi pemisah sebelum kendaraan itu menghilang di balik gerbang utama.
********
Suasana berubah canggung kala Zara dan Anastasya hanya berdua dalam sebuah mobil. Zara menatap Anastasya yang fokus menatap kedepan dengan menggengam kemudinya. Jika mengingat kejadian semalam bersama Arka, gadis mungil itu kian merasa bersalah.
"Zara." Suara Anastasya coba memecam keheningan yang tercipta. "Kenapa kau lebih banyak diam dari biasanya, apa kau sakit?" Satu tangannya mengengam tangan Zara yang berada di pangkuan.
Gadis itu tersentak, terlebih dengan gengaman yang di berikan Anastasya pada tangannya.
"Ti-tidak, Nona. Saya baik-baik saja."
Anastasya menatap sekilas wajah gadis di sampingnya. "Baiklah, jika kau tidak apa-apa. Aku hanya takut jika kau sakit dan tidak mengatakannya padaku."
__ADS_1
Sontak ucapan perhatian yang terlontar dari bibir Anastasya membuat Zara semakin merasa bersalah. Sejujurnya ia sempat menolak untuk menikah dengan Arka sebab takut jika kejadiaanya akan seperti ini. Anastasya adalah perempuan baik yang pernah Zara kenal, hingga gadis itu pun tak ingin membuatnya terluka. Akan tetapi inilah yang terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan tak mampu untuk dirubah kembali.