
"Boleh aku duduk?"
"Silahkan."
Anastasya mendaratkan tubuhnya, tepat berhadapan dengan Kenan. Ya, seperti tengah malam sebelum-sebelumnya, kini pria itu pun tampak menikmati makan malamnya dengan dua piring makanan lain yang tak ia sentuh.
Gadis itu menelan salivanya berat. Berbeda dengan beberapa hari lalu, pandangan yang tersaji di hadapannya kini justru membuat hatinya seperti teriris.
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku tak ingin dikasihani."
Gadis itu pun spontan menunduk, dan berusaha membuang pandangan. Dulu memang dirinya sempat memandang Ken sebagai pria aneh dan misterius. Akan tetapi setelah ia mengetahui semua, rupanya hidup pria itu tak jauh berbeda darinya. Berjuang dalam menghapus luka masa lalu.
"Maaf, bukan seperti itu maksud saya tuan. Hanya saja---"
"Dulu aku selalu berusaha menutup luka dan tak ingin berbagi kisah kehidupanku. Sebab aku tau, mereka pasti akan menatapku iba, dan aku tak ingin jika diriku hidup hanya dengan diiringi tatapan iba orang lain."
Anastasya menghela nafas dalam. Memang benar, seperti halnya dengan dirinya. Arka dulu menikahinya pun, pastilah atas dasar iba. Dan terbukti benar jika rasa iba itu sejatinya tak mampu membuat rumah tangga mereka langgeng.
"Anda memang benar, tuan. Berdiri dengan topangan rasa iba orang lain, tak selamanya akan membuat hidup kita bahagia."
Ken menyeka sudut bibirnya dengan tisu, sesaat setelah menghabiskan makanan di piringnya. Selepas itu, separuh gelas air putih dingin di meja pun diteguknya hingga tandas.
"Bukan hanya itu, aku sendiri seorang pria. Meski hatiku hancur berkeping-keping, tetapi setidaknya aku harus bisa memasang topeng wajah kepalsuaan agar tetap tersenyum dan melangkah kedepan."
Disaat gadis itu tertunduk, pandangannya justru tertuju pada isi piring tak tersentuh itu. Dua menu yang sama, spagethi seafood.
"Ada apa?" tanya Ken pada Anastasya.
"Apa itu makanan untuk almarhum istri dan putri tuan?"
Ken tersenyum penuh ironi saat menatap kedua piring berisikan spageti seafood dengan guyuran saus berwarna merah pekat.
"Benar, ini merupakan makanan kesukaan istri dan putriku. Dulu aku sama sekali tak menyukai makanan semacam, tetapi setelah mereka tiada, aku mulai memakannya dan sadar jika rasanya memang enak," kenang Ken dengan netra berkaca-kaca.
Kau benar tuan, saat orang terdekatmu pergi. Pasti kau baru bisa merasakannnya.
"Istri dan putri tuan pasti sangat cantik?" tebak Anastasya spontan.
Ken tersenyum lembut, berkat Anastasya pria itu coba mengingat kembali wajah-wajah perempuan yang masih teramat ia cinta dan sayangi.
"Sangat cantik. Istri dan putriku adalah perempuan tercantik di dunia," puji Ken dengan penuh keyakinan.
Berdasarkan jawaban Ken, Anastasya coba memvisualisasikan kedua orang terdekat pria itu dalam bayangannya. Sesosok perempuan muda elegan dengan senyum manis yang terkembang, serta bocah cantik menggemaskan berusia empat tahun dengan surai panjang terurai.
Tentu menjadi gambaran keluarga bahagia di kehidupan ken beberapa tahun lalu, sebelum semunya sirna tinggal kenangan.
"Kenapa kau sendiri selalu menannyakan almarhum istri dan anakku? Kehidupanmu sendiri bagaimana? Bukankah kau sempat bilang jika sedang tak berkeluarga?" Kini giliran Ken lah yang menatap gadis di depannya itu lekat. "Ayo ceritakanlah."
Anastasya tergelak lirih.
__ADS_1
"Untuk apa tuan. Kehidupan pribadi saya sama sekali tak ada yang menarik."
"Hem, benarkah? Tapi mungkin menurutmu, tapi bukan menurut diriku."
Memang tak ada yang menarik. Yang ada hanyalah sakit hati.
********
Selepas berbicara dengan tuannya, Sam kini menuju area dapur untuk mencari keberadaan Surti. Surti sudah seperti ibu bagi Sam. Maka dari itu, sebelum ia melakukan sesuatu hal yang menyangkut masa depannya, Sam terlebih dulu mengatakannya pada Surti. Bukan hanya untuk meminta bimbingan, namun juga doa dan pertimbangan, agar ia selalu mendapatkan sesuatu yang tepat.
Bibir sedikit tebal Sam mengulas senyum tipis, saat pandangannya menangkap sosok perempuan paruh baya yang dicari tengah berdiri di antara pelayan lain.
Waktu sudah hampir larut mala kala Surti mengintruksikan para pelayan lain untuk beristirahat. Pria muda itu tetap berdiri menunggu, hingga Surti merampungkan pekerjaannya.
"Bibi," sapa Sam lepas memastikan semua pelayan membubarkan diri.
Perempuan paruh baya itu berbalik badan, kemudian terseyum teduh mendapati jika Sam lah yang tengah memanggilnya.
"Ada apa nak? Apakah sudah lama kau berdiri di tempat itu?" Surti menghampiri tubuh Sam, dan menarik lengan pria muda itu untuk duduk di sebuah sofa yang berada tak jauh dari area dapur.
"Tidak Bi. Aku baru saja datang untuk menemui bibi."
Surti mengusap surai hitam legam Sam dengan penuh Sayang. Memandanginya lekat dengan tatapan hangat.
"Ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini. Kau akan mencari bibi jika ada hal penting yang disampaikan," tebak Surti.
Sam tergelak lirih.
"Dari dulu kau memang tak pandai untuk menyimpan rahasia dari bibi. Semenjak kau kecil, bahkan sampai sedewasa ini."
Sam tersipu malu. Memang benar ucapan Surti. Hanya ialah yang mampu mengetahui segalanya tentang Sam. Baik dari dalam atau pun luar.
"Sekarang katakanlah. Apa yang membuatmu kemari dan ingin menemui bibi?"
Sam terlebih dulu menghela nafas dalam, kemudian mengengam erak kedua tangan keriput Surti.
"Tetapi aku sendiri masih belum yakin bi?"
Surti mengerutkan kening, coba berfikir.
"Apa yang membuatmu belum yakin? Apakah ini menyangkut pekerjaan atau Tuan Arka?"
Sam menggeleng cepat.
"Bukan bi."
"Lalu apa." Surti kian dibuat penasaran.
"Aku sedang tertarik dengan seorang gadis," lirih Sam mengucapnya.
__ADS_1
Tubuh Surti seketika menegang. Sepasang netranya pun terbelalak, yang mana membuat nyali Sam menciut seketika. Pria itu terlihat lemas dan mulai tak bersemangat. Akan tetapi, beberapa saat selepas Surti mampu menetralkan keterkejutan, Senyum di bibirnya pun mulai terkembang.
"Nak, benarkah? Benarkah yang bibi dengar, jika kau sedang tertarik dengan seorang gadis?" Surti masih tak percaya.
"I-iya bi. Tapi jika bibi tak menyetujuinya, maka aku pun tak akan pernah mengungkapkannya."
"Hei, mengapa berucap seperti itu." Surti mulai menguncang pundak Sam, dan beralih mencubiti pipi pria tampan itu gemas. "Kau sudah dewasa rupanya." Surti tergelak, tidak menyangka jika pemuda yang sudah seperti putra baginya itu kini sedang merasakan jatuh cinta.
"Apa yang bibi lakukan? Aku memang sudah dewasa sekarang." Pria itu mulai menurunkan tangan Surti yang terus mencubit pipinya.
"Katakan, siapa gadis itu?"
Sam spontan tersenyum malu-malu, saat mengingat wajah Kiara.
"Gadis itu bernama Kiara. Dia teman nona dan bekerja di toko bunga milik nona."
"Lalu, apa gadis itu sudah tau, jika kau tertarik padanya?"
Sam menggeleng samar.
"Belum bi, aku masih belum mengatakannya." Tertunduk lesu, Sam bahkan tak mampu menatap Surti.
Surti faham. Ini pasti pengalaman pertama bagi Sam. Jadi wajar jika ia sendiri masih merasa ragu akan perasaannya.
"Apakah kau hanya tertarik, atau memang mencintai gadis itu?"
Sam berfikir sejenak, coba mengingat lembaran kisah saat dirinya beberapa kali dipertemukan dengan Kiara.
"Entahlah bi, aku pun baru merasakan hal semacam ini sekarang. Tiba-tiba, aku selalu ingin melihatnya dan tersenyum senang saat ia pun merasakan senang."
Surti benar-benar merasa terhibur dengan pandangan di hadapannya. Sam yang tegas saat memimpin para pengawal dan berdiri tegap di belakang sang tuan. Rupanya mampu mengubah seratus persen kepribadiannya saat ia tengah dilanda jatuh cinta.
"Apa kau juga merasa nyaman dengannya?"
Sam menatap kedepan, namun seperti tengah berfikir.
"Aku masih belum lama mengenalnya bi. Kami dekat pun juga baru beberapa hari ini. Tapi aku yakin jika dia gadis yang baik."
"Jika kau yakin, kenapa masih ragu dengan perasaanmu sendiri?"
"Aku hanya takut jika dia tak membalas perasaanku." Sam benar-benar dilanda kegalauan.
Kali ini, Surti tak mampu berkata-kata. Bagaimana pria seperti Sam justru menyerah kalah sebelum berperang.
"Seperti halnya Tuan Arka yang menyuruhku berjuang untuk mengungkapkan perasaanku, apa bibi akan memintaku untuk melakukan hal yang sama?"
Sungguh seperti bocah kecil yang meminta pendapat kepada kedua orang tuanya, saat bocah itu sendiri masih ragu akan keputusan yang hendak diambil.
"Tentu saja. Tentu kau tak ingin disebut pecundang yang menyerah kalah sebelum berperang, bukan?" goda Surti setengah meledek.
__ADS_1
Sam hanya bisa menghela nafas dalam. Kali ini jantungnya benar-benar seperti disentil oleh sesuatu yang tak kasat mata. Kenapa ucapan perempuan paruh baya ini seakan membuat jiwa lelakinya meronta tak terima.
Apa? Kalah sebelum berperang? Tidak-tidak. Itu benar-benar bukan diriku yang sebenarnya. Kita lihat saja nanti, aku pasti akan berjuang untuk memperjuangkan perasaanku padamu, Kiara.