
...Aku takut....
Ketukan di pintu, lagi-lagi terdengar.
"Sayang, kau sedang apa? Kenapa lama sekali?"
Dengan gelagapan Kiara menarik jubah mandi yang tergeletak di ruang pakaian begitu saja. Memakainya secepat kilat, sebelum bergerak membuka pintu.
"Kenapa lama se---" Sam tak lagi melanjutkan kata-kata saat pintu ruangan sudah terbuka. Akan tetapi ia mengerutkan alis saat mendapati sang istri yang masih menggunakan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya.
"Sayang, kau masih belum berpakaian?" Sam setengah bingung. Kiara bahkan hampir menghabiskan waktu satu jam untuk membersihkan diri. Tetapi kenapa masih juga belum berpakaian.
"Em." Kiara menelan salivanya susah payah. "Su-sudah."
"Sudah? Tapi kau masih memakai jubah, sayang." Pria itu tersenyum tipis. Dengan kaos berwarna putih dan celana santai berwarna hitam semata kaki, membuat penampilannya lebih segar dan juga terlihat tampan.
Kiara tak menjawab. Sementara kedua tangannya bergerak pelan membuka simpul tali jubah yang terikat. Perlahan tapi pasti, jubah yang sudah tak terikat itu ia sibak.
Sam menatap Kiara tanpa kedip. Ia tertegun saat tangan gadis itu mulai membuka jubah, meski pun malu-malu.
Gadis itu tertunduk, saat jubah itu berhasil tersingkir dari tubuhnya. Kini nampaklah gaun tidur berbahan satin dengan belahan dada rendah yang membungkus tubuh sempurnanya.
"Sayang, kau..." Sam tak mampu merampungkan ucapannya dan juga tak mampu mengalihkan pandangannya dari arah sang istri. Sumpah demi apa pun, hal semacam ini baru pertama kali dialami oleh Sam. Saat seorang gadis berpakaian minim tersaji di hadapannya, terlebih sang objek saat ini adalah istrinya sendiri.
Pria itu mendekat. Mendekat dan lebih dekat. Tanpa kedip Sam menatap wajah Kiara yang tertunduk itu lekat. Nyaris tiada jarak di antara keduannya.
Sam yang sudah tak sabaran lekas mengarahkan tangan kokohnya untuk mengusap lembut pipi kemerahan Kiara. Membelainya sepenuh hati hingga kedua netra gadis itu terpejam menikmati sentuhan yang belum pernah ia rasa sebelumnya.
__ADS_1
"k-ka," ucap Kiara lirih disela hembusan nafas yang tak beraturan. Hanya dengan sebuah sentuhan saja sudah membuat tubuhnya lemah tak berdaya. Sam yang sigap, lekas menahan tubuh sang istri agar tak terjatuh.
Sam tersenyum tipis. Mendapati kepolosan sang istri yang masih belum terjamah oleh lelaki mana pun.
Kini padangan pria itu tertuju pada meja yang berada di ruang pakaian. Tanpa aba-aba, Sam mengangkat tubuh mungil Kiara dan mendudukannya di atas meja.
Kiara yang terlena, tak memiliki kuasa untuk menolak. Keduanya kini saling berhadapan tanpa jarak. Sam yang berdiri sengaja memilih meja untuk mensejajarkan posisinya dengan Kiara.
Sam menatap penuh damba pada bibir ranum kemerahan yang membuat gairahnya membara. Disesapnya benda manis itu dengan lembut, meski diawal Kiara sempat tersentak dan tak membalas.
Pria itu tersenyum disela aktifitas. Kiara benar-benar tak merespon ciuman selain menikmatinya. Gadis itu benar-benar polos tanpa pengalaman.
Sejujurnya, Sam pun tak memiliki sama sekali pengalaman dalam hal ciuman dan juga percintaan. Akan tetapi, beberapa waktu lalu saat menunggu sang istri membersihkan diri, Sam iseng membuka beberapa situs yang memuat tutorial cara berciuman yang baik dan benar. Saling memuaskan dan tanpa menyakiti. Wkwkwkwk.
Dan hasilnya pun sungguh tak terduga.
Tanpa bosan Sam terus memainkan benda manis mungil nan menggoda itu. Berawal dari penuh kelembutan, hingga sedikit liar dan menuntut balasan. Sang istri dibuat kewalahan, sesekali memukul pelan dada Sam jika mulai kehabisan nafas.
Gadis itu tak mampu menjawab, terlebih dengan bibir Sam yang tak bisa lagi dikondisikan. Menyusuri daun telingga hingga keleher putih jenjangnya.
Posisi seperti ini membuat Sam leluasa. Kedua paha Kiara yang terduduk di meja, sengaja ia buka lebar dan dililitkannya kepinggang. Hingga tanggan pria itu bisa bergerak aktif untuk menyentuh benda-benda sensitif yang berada di tubuh istrinya.
Gadis itu meleguh dengan nafas memburu. Sam benar-benar tak mampu lagi menahan gairahnya. Ia pun mulai menyibak gaun tidur berbahan satin itu, dan menanggalkannya hingga terlempar begitu saja kelantai.
Kiara terkesiap, saat tautan bibir itu terlepas, Kiara masih sempat menyilangkan kedua tangan untuk menutup kedua bagian aset pribadinya.
"Kak, aku malu," ucap gadis itu lirih hingga nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Malu? Kau bahkan sudah menjadi istriku, sayang. Untuk apa merasa malu." Sam menatap penuh damba pada tubuh sempurna yang nyaris polos milik Kiara. Sumpah demi apa pun, Kiara sudah membuatnya tergila-gila.
Dengan tak sabaran Sam meraup tubuh sang istri dalam gendongan. Bergerak keluar ruang pakaian menuju ranjang pengantinnya.
Lagi lagi Kiara tak menolak, meski rasa tegangnya sudah tak mampu ia tutupi. Sangat pelan dan hati-hati Sam mendaratkan tubuh sang istri di atas ranjang yang bertabur ribuan kelopak mawar.
Pandangan mereka tetap berpaut. Sam mulai memposisikan tubuhnya di atas sang istri yang sudah berbaring dengan bertumpu pada kedua lengannya, berusaha untuk tak menyakiti Kiara yang berada di bawahnya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Sam pada Kiara yang berwajah pucat pasi dan diam membeku di bawahnya.
Untuk sejenak Kiara tak menjawab. Begitu binggung menentukan jawaban.
"Aku janji akan membimbingmu dan melakukannya dengan sangat pelan." Diselipkannya sulur anak rambut di telingga Kiara yang menutupi sebagian wajahnya. Sesekali ia membelai kulit sensitif Kiara, yang membuat gadis itu menggeliat pelan tanda menahan hasrat.
Kiara pun mengganguk tanpa jawaban.
Sam mulai memacu. Ditatapnya tubuh Kiara yang nyaris polos tanpa kedip. Memberikan ciuman dan sentuhan diseluruh bagian wajah hingga turun keleher dan tulang selangka. Memberikan jejak berwarna merah keunguaan yang begitu nyata terlihat di kulit tubuh Kiara yang seputih susu.
Gadis itu meleguh sembari memejamkan kedua netra. Menahan gelayar rasa nikmat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sam mulai melucuti kain berenda yang menutupi kedua aset istrinya. Begitu pun dengan pakaiannya yang masih lengkap, hingga kini tak bersisa.
Seperti janjinya, kini Sam memimpin kendali dan membimbing Kiara menuju surga dunia dengan penuh kelembutan.
Gadis itu hanya bisa pasrah dan mendesah saat tubuh keduanya bersatu. Entah beberapa kali Kiara melambung tinggi menggapai puncak saat Sam mendapatkan pelepasan. Peluh dan deru nafas yang berkejaran, memenuhi kamar pengantin yang sudah porak poranda bak kapal pecah.
"Terimakasih, sayang." Sam membisikan kata tepat ditelinga gadis yang sudah tak berdaya itu. Sam penuh kelembutan mengusap puncak kepala sang istri yang setengah badah oleh keringat, dan melabuhkan beberapa kecupan di keningnya.
__ADS_1
Tak ada jawaban. Kiara hanya mengangguk samar disisa kesadaran, sebelum terlelap dalam damai karna kelelahan.
Bersambung...