Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Tragedi Kamar Mandi


__ADS_3

Menggeliat kekanan dan kiri, serta meregangkan otot tubuhnya yang kaku, Zara terbangun saat di luar masih dalam keadaan gelap dan belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Semenjak kecil, gadis manis itu terbiasa bagun pagi sebelum waktu menunjukan pukul 05:00 dini hari dan berlanjut hingga detik ini.


Senyum mengembang di bibir mungilnya, mensyukuri nikmat kehidupan yang ia terima dari sang pencipta. Meskipun tadir yang ia jalani begitu rumit, namun ia tetap tak ingin berburuk sangka dan meyakini disetiap peristiwa yang terjadi, disitu pasti ada hikmah yang tersembunyi.


Menggerakan kepala kearah samping, seketika netranya disuguhi seraut wajah tampan yang tengah terlelap di sofa.


Tuan Arka benar-benar tidur di sofa. Aku fikir jika tengah malam saat aku terlelap, Tuan Arka akan pindah keranjang dan tidur bersamaku. Tapi kenyataan tidak.


Zara menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lantas bangkit dan berjalan mendekati sofa dimana suaminya tertidur lelap. Pria tak banyak bicara itu semakin terlihat tampan kala netranya terkatup rapat. Alis tebal, hidung mbangir, bibir sensual ditambah jambang tipis di sisi wajahnya, menambah kesan maskulin pada pria dewasa itu.


Zara meraih selimut yang nyaris terjatuh kelantai itu untuk menutupi tubuh suaminya kembali. Dalam posisi sedekat ini, debaran jantungnya semakin tak terkendali. Bayangan saat bibir hangat Arka menyentuh keningnya, kembali bergentayangan di benaknya.


Kenapa semakin hari wajah Tuan Arka semakin terlihat tampan.


Sedang berperang dengan batinya sendiri, namun akal sehatnya masih mampu bekerja dengan baik hingga dengan cepat ia berlari kecil kearah kamar mandi sebelum sang suami membuka mata dan menangkap basah dirinya.


Bersandar pada pintu, Zara menyentuh daerah dadanya dimana detak jantungnya kian berpacu tanpa kendali. Mengapa rasa semacam ini hanya mampu ia rasakan saat berada dekat dengan suaminya. Dalam tanda kutip suami dirinya dan suami Nonanya. Tak pernah sekalipun ia merasakan debaran hebat yang selalu tak mampu ia kendalikan.


Tak ingin berlama-lama, dalam waktu sepuluh menit gadis itu sudah menyelesaikan ritual mandi paginya dan lekas berganti pakaian. Keluar dari walk in closet dengan rambut setengah basah, Zara sedikit mengaplikasikan beberapa macam make up tipis di wajahnya. Kemudian menyisir surai hitamnya tanpa diikat dan dibiarkan tergerai indah begitu saja.


Ketika hendak meninggalkan kamarnya, Zara sempat mendekat kearah sofa, dimana Arka tengah terlelap. Tak ingin membangunkan tidurnya, mengingat waktu masih terlalu pagi, Zara hanya membenarkan selimut suaminya yang sedikit tersingkap sebelum keluar kamar untuk menuju dapur.


Beberapa pelayan yang tengah bekerja, nampak terkejut dengan keberadaan Zara yang sudah terlihat rapi meski hari masih terbilang pagi. Zara tak hentinya melemparkan senyuman bahkan saapan kepada setiap pelayan yang berpapasan dengannya.


Untuk kali pertamanya gadis manis itu berada di dapur kediaman suaminya. Dapur yang sangat luas dengan berbagai peralatan memasak super lengkap. Koki yang dipekerjakan pun dengan cekatan berperang dengan waktu untuk bisa menyajikan menu masakan yang sudah ditetapkan dalam waktu cepat.


Surti sang kepala pelayan tampak berdiri memantau dari sudut ruangan dan sesekali mengecek pelayan lain yang bekerja di ruangan berbeda.


"Selamat pagi semua," sapa Zara dengan suara lembutnya. "Ada yang bisa saya bantu?" sambung gadis manis yang tengah mengenakan gaun putih dengan motif polkadot sebawah lutut itu.


Seluruh Koki termasuk Surti yang tak menyadari keberadaan Zara, serentak menoleh kearah sumber suara. Didetik yang bersamaan pun, nyaris seluruh pelayan tersentak dan menatap Zara tak percaya.


Kenapa semua orang menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang aneh pada penampilanku.


Gadis itu pun memperhatikan ulang penampilanya dari ujung kaki hingga menyentuh bagian kepalanya, namun tak ada sesuatu yang salah padanya.

__ADS_1


"Nona, kenapa Nona berada ditempat ini?" Surti mendekati Nonanya dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Kenapa? Ini dapur kan? Aku ingin memasak," ucap gadis itu dengan menatap kagum ruangan yang belum sempat ia masuki sebelumnya.


"Tapi Nona. Lebih baik Nona kembali kekamar untuk menemani Tuan. Menyajikan makanan sudah menjadi tugas para Koki yang bekerja di rumah anda ini, Nona."


"Tapi Tuan Arka masih tidur Bi, dan aku ingin sekali membuatkan sarapan untuknya. Aku mohon Bi." Zara memasang wajah memelas untuk meluluhkan perempuan paruh baya itu.


Surti menghela nafas dalam, "Tapi Nona, Tuan pasti akan marah jika kami membiarkan Nona menyentuh satu saja spatula di dapur ini."


"Aku mohon Bi," rengek Zara layaknya bocah sembari menangkupkan kedua telapaknya menjadi satu.


"Tapi Nona." Surti masih kekeh pada pendiriannya yang melarang keras Nonanya untuk memasak.


"Aku pastikan akan memasak dengan cepat, bahkan selesai sebelum suamiku bangun. Bagaimana?" tawarnya lagi.


Lagi-lagi surti menghela nafas dalam, " Baiklah Nona. Jika itu yang benar-benar inginkan. Bahksn saya pun tak mampu mencegahnya." Surti mengalah pasrah, sebab sekuat apa pun ia menahan, semua akan sia-sia.


"Bi Surti, satu lagi. Jangan panggil aku Nona, aku tidak menyukainya. Panggil aku seperti saat Bibi bertemu denganku pertama kali." Zara menggengam surti erat dengan pandangan tulus yang tak dibuat-buat. Bagaimana pun, Surti pernah membantunya untuk bisa bertahan hidup saat berada di jalanan.


Surti membalas senyum Nonanya tak kalah lembut, dan menggengam tangan mungil Zara. "Tidak Nona. Nona Zara adalah istri sah dari Tuan Arka, majikan saya. Saya tidak akan melebihi batasan saya sebagai seorang kepala pelayan," jawab Surti dengan suara tegasnya.


"Bukankah Nona ingin memasak? Mari, ikuti saya." Surti berjalan lebih dulu, membimbing langkah Zara menuju para Koki yang tengah merampungkan sajiannya.


"Menu sarapan apa yang ingin Nona masak?" Tanya Surti sembari meraih buku berukuran tebal yang berisikan daftar menu sehari-hari keluarga Surya Atmadja.


Zara meraih buku dengan ketebalan tiga sentimeter itu dan membukanya.


Astaga. Sekaya apa Tuan Arka, hingga menu makanan pun memiliki resep paten yang tersimpan dalam buku semacam ini.


"Bi, dari sekian banyak menu sarapan, manakah yang paling Tuan Arka sukai."


Surti tersenyum kearah Zara, membuka beberapa lembar buku menu hingga menunjuk satu buah menu dengan jarinya.


"Tuan Arka sangat menyukai Sandwich isi daging serta salat sayuran dan segelas jus buah segar sebagai menu sarapan."

__ADS_1


Zara mengamati buku resep dengan gambar beberapa potong Sandwich dengan warna menggoda.


"Baiklah, dan bisakah Bibi mengajariku untuk bisa membuatnya?" pinta gadis manis itu dengan wajah polosnya.


"Tentu, dengan senang hati Nona." balas Surti dengan senyum lebar.


Atas permintaan Surti, tugas koki untuk sementara digantikan oleh Zara, tentunya atas pengawasan dan bantuan Surti. Akan tetapi bakat memasak yang sudah dimiliki gadis itu sejak dini, tak membuatnya sama sekali kerepotan dan justru merasa senang.


Hingga sepiring besar potongan Sandwich isi daging, salat sayuran dan jus jeruk dengan sedikit campuran wortel, telah selesai dihidangkan.


Zara menatap kearah dimana jam dinding tertempel. Gadis itu terkesiap saat jarum jam menunjukan pukul tujuh tepat.


"Bibi, aku akan membangunkan Tuan Arka sebentar. Bisakah Bibi menatanya di meja mekan, sementara aku keatas."


"Tentu Nona, ini sudah menjadi kewajiban kami." Begitulah kalimat yang selalu di ucap surti, yang mana membuat Zara seketika meninggalkan dapur dengan setengah berlari.


Terengah-engah gadis itu meraih gagang pintu kamar dan membukanya, namun saat pintu itu terbuka, Zara tak mendapati keberadaan suaminya di atas sofa.


Astaga. Tuan Arka pasti sudah bangun. Haduh, bagaimana ini.


Zara memilin jemarinya sendiri dan mulai memasuki kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaan suaminya, Zara bergegas menuju walk in closet, mungkin saja kini suaminya tengah bersiap sebelum berangkat bekerja.


Pelan-pelan Zara melangkahkan kakinya tanpa suara. Menyibak pandangan keseluruh ruangan yang dipenuh pakaian dirinya dan sang suami. Setelah beberapa saat tak mampu menemukan keberadaan sang suami, Zara menyerah dan menarik sebuah kursi yang tersimpan disana. Disaat yang bersamaan pula, pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah sesosok pria berbadan kekar yang hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah perut hingga lututnya saja dari balik pintu. Zara yang hendak mendaratkan tubuhnya dikursi bulat mungil itu seketika terjungkal kebelakang hingga tubuhnya tersangkut jajaran pakaian yang tergantung sebelum akhirnya membentur tembok dan jatuh mengenaskan, saat kedua netranya tanpa sengaja menangkap tubuh polos bagian atas Arka, tanpa sehelai benang.


Gubrak..


Tubuh mungil itu tertimpa gantungan baju berbahan besi beserta jajaran pakaian yang qtergantung. Hingga hanyasedikit bagian kakinya yang terlihat dengan kedua tangan melambai-lambai keudara.


Arka yang dengan jelas mendengar kegaduhan pun lekas mencari dimana arah suara itu terdengar. Hingga kursi dan pakaian yang berserakan itu menghentikan langkahnya. Adanya sebuah gerakan tangan, membuat pria yang bertelanjang dada itu menyibak tumpukan pakaian dan menemukan Seraut wajah yang tertutup surai acak-acakan dengan nafas terengah.


"Zara," pekik Arka saat ia meyakini jika tubuh istrinyalah yang terjatuh dan tertimbun pakaian.


Zara terdiam. Mengatur nafas dengan netra masih terkatup rapat.


Pria itu pun merapikan sulur anak surai yang menutupi wajah istinya dan merengkuh tubuh mungil itu dalam gendonganya.

__ADS_1


Zara yang masih berusaha mengumpulkan kembali kesadaran itu pun terkesiap merasakan tubuhnya terayun dalam rengkuhan lengan yang begitu kokoh. Akan tetapi netranya membulat seutuhnya saat netra bening itu mulai terbuka. Bagaimana tidak, pipinya tepat menempel didada suaminya yang tanpa penghalang, dan dengan nyata Zara merasakan bagaimana liat bagian dada suaminya yang terasa hangat menyentuh pipinya.


Astaga. Bagaimana ini. Tidak hanya terjungkal, aku bahkan bisa pingsan saat ini juga jika harus seperti ini caranya.


__ADS_2