
Anaatasya menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Wajahnya yang masih terlihat cantik, sama seperti beberapa tahun lalu. Sudut netranya pun terlihat sedikit membengkak. Ya, semenjak kedatanganya dari toko, sepanjang waktu hanya ia habiskan untuk bersembunyi dan menangis di dalam kamar.
Mungkin sudah saatnya aku akan melepaskan semuanya.
Dari lantai atas beberapa waktu ia bisa melihat jelas bagaimana Arka memperlakukan Zara dengan sangat baik. Perhatian dan kepeduliah yang belum ia rasakan hingga saat ini semenjak menikah dengan pria kaya itu.
Ia sadar, Arka memang tidak pernah mencintainya. Akan tetapi bohong besar jika ia sendiri tak memiliki rasa pada pria sebaik dan sesempurna Arka.
Di awal pernikahan memang Anastasya tak sedikit pun memiliki perasaan pada pria yang sudah berkenan untuk menikahinya itu. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, perhatian dan kasih sayang yang Arka curahkan pada calon bayi di dalam perutnya, membuatnya sadar hingga mulai muncul setitik demi setitik rasa cinta dan melebar kemana-mana.
Anastasya pun sempat berharap dengan kelahiran calon bayi di rahimnya, akan mampu membuat pernikahan mereka lumrah seperti keluarga pada umumnya, meskipun mereka menikah tanpa dasar cinta.
Akan tetapi, semua impiannya sirna saat bayi yang ia lahirkan justru meninggal. Arka yang sudah mulai mendekat itu, perlahan mulai kembali menjauh. Anastasya sadar, namun belum bisa menerimanya dengan lapang dada. Segela kekesalan dan rasa kecewa, ia lampiaskan pada kehidupan malam. Bermabuk-mabukan hingga lupa diri.
Wanita itu frustrasi dan berusaha merusak hidupnya kembali. Arka tertegun dan tak percaya atas semua kebenaran yang diungkapkan Surti. Ternyata Anastasya keluar secara diam-diam, bahkan hampir setiap malam. Mengingat keduanya yang tidak perniah tidur seranjang, Arka bahkan tak menyadari kepergian Anastasya.
Kau pun sepertinya sudah bahagia dengan Zara. Aku harus sadar diri, dan mulai menapaki langkahku, untuk menjauh darimu.
Tanpa sepengetahuan Zara, Anastasya sengaja membimbingnya untuk mampu mengelola toko bunga miliknya. Berharap rencana tersebut semakin memudahkannya untuk pergi dari Arka dan meninggalkan toko bunga miliknya untuk Zara.
__ADS_1
Anastasya mengusap buliran bening dari sudut netranya. Membuka laci kemudian meraih sebuah foto bergambar wajah tampan seseorang.
Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi, dan aku pun akan menghapus segala memori tentangmu. Rencana kehidupan indah yang pernah kita angan dulu, akan aku tutup rapat, serapat pintu hatiku yang sudah tertutup untukmu.
Anastasya merobek satu-satunya foto kenangan Rangga hingga menjadi serpihan dan membuangnya dalam tong sampah.
Ia begitu mencinta, sekaligus begitu membenci pria bernama Rangga. Jika takdir akan berakhir serumit ini, maka ia lebih memilih untuk tidak mengenal dan bahkan melia pria barang sedetik pun.
Pintu kamar terbuka perlahan. Gadis itu pun mendongak dan tersenyum saat Surti datang dengan membawa nampan berisi camilan dan jus buah.
"Masuklah, Bi."
Surti mendekat dan mendaratkan nampan tersebut di nakas.
"Duduklah, Bi." Anastasya menarik sebuah kursi sebagai tempat duduk surti hingga keduanya saling berhadapan.
"Bi, mungkin sudah saatnya aku pergi dari rumah ini," ucap Anastasya sembari tertunduk dalam.
Seketika surti menggelengkan kepala sebagai jawaban ketidak setujuan.
__ADS_1
"Tidak, Nona. Selamanya Nona teraplah istri dari Tuan Arka, begitu pun Nona Zara. Tidak akan ada yang pergi dari kehiduan Tuan, baik itu Nona, atau pun Nona Zara."
"Tapi, Bi. Tidak selamanya kami akan hidup dalam keadaan seperti ini. Jika Arka sudah sangat bahagia dengan Zara, maka aku pun harus berlapang dada dan bersiap untuk mundur. Jika kami tetap seperti ini, aku yakin, justru salah satu dari kami akan tersakiti."
Anastasya sadar, mungkin dirinya sudah tak begitu diperlukan lagi di rumah ini, hingga ia pun memilih untuk mundur.
"Tapi Nona, bagaimana dengan Tuan. Beliau pasti tidak akan pernah mengizinkan Nona untuk keluar dari rumah ini."
Perempuan cantik itu hanya menghela nafas dalam. Memang benar ucapan Surti, tidak semudah itu Arka akan melepaskannya. Mengingat janji yang pernah pria itu ucapkan, untuk tak ada kata perceraian walau seberat apa pun rintangan menghadang.
"Tetapi, jika dirumah ini masih ada aku, maka kemungkinan, justru Zaralah yang perlahan akan pergi."
Surti tampak terdiam namun berfikir dalam. Berusaha menelaah maksud ucapan Anastasya.
"Bagaimanapun, Zara menikah dengan Arka tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bagiku, itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja."
Surti gelapan. Untuk membayangkan saja, perempuan paruh baya itu tak sanggup. Lalu bagaimana jika apa yang ada digambaran Anastasya benar-benar terjadi kelak.
"Maka sebelum semuanya terlambat, aku harus lebih dulu mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Seperti, meminta Arka untuk menceraikanku."
__ADS_1
Meski berat, mungkin itulah yang terjadi. Adakalanya seseorang harus berkorban demi kebahagiaan orang lain. Kemungkinan inilah yang Anastasya rasakan, sudah waktunya ia membalas budi atas kebaikan Arka yang sudah bersedia menampungnya dan memfasilitaainya dengan kemewahan bertahun-tahun lamanya.
Meskipun batinya terasa perih, akan tetapi ia yakin jika suatu saat, kebahagian kelak akan menghampirinya.