
Sandy seakan tak ingin menutupi semuanya. Ia sengaja menyibak semua yang terjadi meski sedikit ia bumbui. Toh selepas ini pun iya yakin, jika tak mati dihajar, mungkin akan membusuk di penjara.
"Hanya mendengar ucapanku seujung kuku saja sudah membuatmu kalap, lalu bagaimana jika kau tau bahwa sebenarnya aku membawa Zara kekota hanya untuk menjualnya sebagai penebus hutang-hutangku."
Seluruh tubuh Arka seketika memanas. Melihat seberapa berengsek dan bejatnya kelakuan Sandy.
Satu tendangan melayang dan mendarat di pipi kiri Sandy. Hingga pipi putih itu mulai kemerahan dengan menyisakan luka memar cukup lebar.
"Kau benar-benar pria laknat. Sungguh tak pantas disebut manusia, melainkan binatang."
Sandy terdiam, tubuhnya masih terlentang di lantai. Tak ada nitan untuk bangkit, atau pun membalas.
"Bagunlah dan lawan aku. Kau pasti membeciku, bukan? Karna sudah berhasil menikahi gadis yang kau cintai." Arka sengaja memancing keterdiaman Sandy. Berharap pria itu akan terbakar emosi dan mengikuti permainannya untuk berduel.
"Kau sungguh pengecut. Aku yakin jika kau hanyalah seorang banci yang bersembunyi di balik tubuh orang lain."
Sandy pun mulai terpancing, ia perlahan bangkit dan berusaha melayangkan bogem mentah kearah pria tampan yang tengah bersamanya. Akan tetapi, dengan sigap Arka menangkisnya dan justru Sandylah yang lagi-lagi terhempas kelantai.
__ADS_1
Tak patah arang, pria itu bangkit kembali dan mulai memasang kuda-kuda. Berusaha mengumpulkan tenaga dan konsentrasi agar sang lawan ambruk dan membuatnya babak belur. Hingga pertarungan kedua pria tampan itu pun tak terhindarkan.
Saling jual beli pukulan dan tendangan. Beberapa kali Sandy terlihat limbung, kemudian tersungkur. Akan tetapi ia tetap bangkit kembali.
Tubuh Sandy yang cukup tinggi, tak sebanding dengan postur Arka yang tegap dan tinggi sempurna di hiasi otot tubuh yang terlihat menonjol meski terbungkus pakaian. Hingga hanya dengan beberapa pukulan telak, sudah mampu membuat Sandy tak berdaya dan mengeluarkan cukup banyak darah dari beberapa bagian wajahnya.
"Cukup Tuan," cegah Sam saat Arka hendak melayangkan kembali pukulan kewajah Sandy. Ia berusaha menarik tubuh Tuannya dan menjauhkannya dari pria laknat itu.
"Aku tidak bisa memaafkan kesalahan dia begitu saja." Arka berusaha meronta, namun beberapa detik kemudian ia berhasil mengendalikan diri dan menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi.
"Masalah pria itu, biarkan saya yang mengurusnya. Saya akan membuat dia mengakui seluruh perbuatan dan memberikan pelajaran yang setimpal."
"Aku percayakan semuanya padamu."
"Saya dengar, dia juga tengah menjadi incaran polisi dalam kasus penipuan dan membawa kabur sebuah mobil dari sebuah Showroom." Informasi tersebut didapat sandi dari salah seorang detektif yang beberapa jam terakhir mengupas kehidupan Sandy secara mendalam.
"Telusuri semua hingga keakarnya. Aku ingin dia mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang sudah diperbuat."
__ADS_1
Sam pun mengangguk, kemudian mengambil kotak obat untuk membersihkan luka sang tuan dan beralih pada makhluk laknat yang terkapar di lantai dengan luka memar di sebagian besar wajah itu.
******
Mencengkeram kuat tas yang dipegang, Rumi berjalan tertatih menuju rumah. Denhan wajah sembab dan buliran bening yang sesekali masih menitik, perempuan paruh baya itu pulang dengan membawa sejuta penyesalan.
Sang suami dan Ratih sang adik yang terlihat cemas rupanya sudah menunggu di ambang pintu.
Rumi yang seketika tak mampu menahan tangis, lekas berlari dan menubruk tubuh sang suami yang duduk di atas kursi roda. Tangisnya pun pecah seketika dengan menyembunyilan wajahnya di perut yang berlapis pakaian sang suami. Pria dan sang adik pun kian terkejut, hanya mampu mengira apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Ibu, kenapa? Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Bertubi-tubi pertanyaan sang suami lontarkan. Akan tetapi, Rumi masih terisak sembari menyembunyikan wajah. Tak mampu menjawab, bibirnya seketika kelu dan terkatup rapat.
Sementara itu di tempat yang berbeda.
Maafkan Ibu sayang, bukan maksud ibu untuk menjauhkan diri dari Ayahmu. Hanya saja, sekarang kondisinya berbeda. Ibu janji, kita tidak akan pergi lama. Mungkin selepas menenagkan diri, dan menemukan titik terang, maka kita akan kembali.
Di dalam sebuah taksi, Zara mengusap perut ratanya seolah sedang berkomunikasi dengan bayi mungilnya yang bertumbuh di dalam rahimnya.
__ADS_1
Ini memang salah, menghindar bukan cara yang benar untuk menyelesaikan sebuah masalah. Bukan untuk pergi jauh, namun Zara sengaja menyusul sang Ibu di kampung, untuk bisa menjelaskan semuanya.
Tetapi, apakah ibunya masih sudi untuk menerimanya kembali dengan tangan terbuka. Entahlah, namun hanya satu tempat yang menjadi tujuan Zara, ialah kampung kelahirannya.