
Arka menatap tubuh sang istri yang terbaring di atas ranjang perawatan. Setelah proses panjang melahirkan dan menyusui kedua bayi mereka, Zara tampak kelelahan dan jatuh terlelap beberapa menit setelah bayi-bayi mereka berpindah ruangan.
Ada rasa bahagia meluap-luap yang tak mampu ia gambarkan. Di mana hari ini ia masih tak menyangka jika sudah menjadi seorang ayah dari dua bayi yang sangat tampan.
Pria itu mengecup puncak kepala sang istri penuh sayang. Kemudian beralih pada bibir ranum sang istri yang ia satukan sekilas.
"Terimakasih, sayang."
Beribu ucapan terimakasih, rasanya masih tak cukup untuk membalas semua perjuangan yang sudah gadis di depannya itu lakukan untuk bisa melahirkan kedua bayi mereka.
Proses kehamilan sembilan bulan yang tak mudah, dengan perut sangat besar di tubuh kecilnya. Membuat Arka kerap kali menghela nafas dalam dan ketakutan yang teramat, kalau-kalau sang istri tak mampu untuk melewati semua proses hingga bayi mereka terlahirkan. Akan tetapi, dugaannya salah. Tubuh kecil nan terlihat ringgkih itu, rupanya memiliki kekuatan besar yang tak pernah ia duga. Istrinya bahkan tak pernah mengeluh, bahkan terlihat sangat menikmati perannya sebagai calon ibu muda untuk kedua buah hatinya.
Pria itu kini teringat akan bayi-bayi mungilnya yang berada diruang NICU. Rasanya sungguh dilema saat orang-orang yang ia sayangi, berada di tempat yang berbeda. Jika ia bersama dengan Zara, tentu ia pun akan teringat pada bayinya. Namun dikala ia sedang bersama kedua buah hatinya, Zara serasa menghantui fikirannya. Membuat pria tampan itu rela bolak balik, dari ruangan bayi dan ruang perawatan istrinya.
Pintu ruangan terbuka pelan. Dengan senyum haru Rumi muncul dari balik pintu tersebut.
"Bagaimana keadaan anak dan cucu-cucuku?" Rumi tak mampu menyimpan kekhawatiran bahkan saat ia mendapat kabar jika putrinya mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan. Perempuan paruh baya yang sedang bermalam di sebuah hotel milik Arka itu langsung bergegas meminta seorang supir untuk mengantarnya ke rumasakit.
"Alhamdulilah, semuanya baik-baik saja bu. Dan lihatlah, Zara sedang tertidur dengan pulasnya. Sementara kedua bayi yang dilahirkan masih berada di ruangan khusus bayi."
Rumi menghembuskan nafas lega. Ia mendekati ranjang perawatan, di mana sang putri tengah tertidur. Mengusap surai sang buah hati lembut, kemudian menciumi kedua pipinya.
"Selamat nak. Kau sudah menjadi seorang ibu, sekarang."
Haru menyelimuti. Rumi mulai meneteskan buliran bening saat menatap lekat wajah putrinya. Andai saja sang suami masih ada, mungkin kebahagiaan ini akan semakin lengkap terasa.
__ADS_1
Arka yang menyadari pun, lekas membawa tubuhnya untuk keluar dari ruangan tersebut. Sengaja untuk memberikan keleluasaan pada ibu mertuanya itu untuk meluapkan rasa suka bercampur dukanya.
Pria itu pun kini menuju ruangan bayi untuk menatap kedua buah hatinya meski dari kejauhan. Arka termenung, menyentuh kaca pembatas guna menatap kedua bayi mungilnya yang berada di dalam kotak inkubator. Keduanya tampak tertidur lelap. Senyum di bibir pria itu mengembang. Rasa bahagia dan haru berbaur menjadi satu. Pemandangan yang tersaji begitu sangat hangat dan menyentuh hati terdalamnya.
Meski kedua bayinya masih sangat kecil. Tetapi ketampanan putra-putranya sudah terlihat. Mereka kembar identik, baik sang kakak atau adik, bak pinang terbelah dua. Kulitnya begitu putih bersih seperti Zara, begitu pun bibirnya yang kemerahan.
Senyum pria itu lagi-lagi terkembang. Namun kedua bayinya lebih mirip dengan dengan dirinya dari garis wajah dan juga hidungnya.
Dokter Bram yang tanpa sengaja tengah melintas pun mendekat. Menepuk bahu Arka lembut, kemudian berdehem.
"Ehem..., Mereka sangat tampan, seperti dirimu," puji Bram pada kedua bayi mungil itu.
Arka tersenyum tipis, namun tak mengalihkan pandangannya dari kedua bayinya yang sesekali menggerakkan kepala mungilnya.
Bram terbelak seketika. Ia pun menginjak kaki pria di sampingnya, hingga membuat pria itu tergelak seketika.
"Kurang asam kau."
Keduanya pun tergelak bersamaan. Hingga pandangan mereka kembali pada kedua malaikat di dalam kotak inkubator.
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak-anakmu?" tanya Bram.
Arka mengangguk samar.
"Namanya Erich dan Ernest. Keduanya memiliki arti pemimpin yang berhati tulus." Terukir begitu banyak doa dan harapan dari nama yang Arka berikan untuk kedua buah hatinya.
__ADS_1
"Aku tau jika kau akan memberikan nama terbaik untuk putra-putramu." Dokter Bram menjeda sejenak ucapannya. "Apakah Anastasya mengetahui ini semua?" tanya Bram ragu.
Arka menghela nafas dalam, disusul gelengan samar.
"Tidak. Anastasya sengaja memutus hubungannya dengan kami. Di mana ia tinggal selama ini pun, kami tak ada yang tau."
Kini Arka membawa tubuhnya untuk duduk di jajaran kursi tunggu, sementara Bram mengikutinya.
"Sejujurnya aku tak ingin jika ia menghilang tanpa jejak seperti ini. Tetapi bagaimana lagi kak, ini sudah menjadi keinginannya sejak dulu. Dan aku pun sudah tak berhak untuk mencegahnya. Bagaimana pun, dia berhak bahagia dengan menentukan jalan hidupnya sendiri."
Ada perasaan gundah tersendiri. Jika bukan karna Anastasya, Arka tidak mungkin meraih kebahagiaan, seperti apa yang ia dapatkan saat ini.
"Aku tau. Mungkin ini memang yang terbaik untuknya. Dia juga berhak merengkuh kebahagiaanya sendiri, sama seperti dirimu."
Arka mengangguk. Meski Anastasya tak pernah memberinya kabar, tetapi pria tampan itu yakin jika Anastasya hidup dengan baik di lingkungannya Saat ini.
Bersambung...
Dikasih Visualnya Kenan. Pria misterius berhati hangat. Semoga cocok dengan imajinasi pembaca☺☺☺
__ADS_1