Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Datang Bulan


__ADS_3

Kicau burung bersahutan, beterbangan kesana kemari dengan riangnya, bertanda fajar mulai menyapa. Semilir angin bertiup, mengoyangkan tirai tipis pelapis jendela yang sedikit terbuka.


Seorang pria yang terlelap, perlahan mulai menggeliat pelat dengan netra mengerjap. Tangannya bergerak, meraba ruang kosong di sisinya, namun kosong.


Arka menghela nafas dalam, tak mendapati tubuh mungil sang istri dalam dekapannya.


Di mana dia?


Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, kemudian meraih remot dan menekan satu tombol di sana.


"Datang kekamarku," titah pria itu pada seseorang di seberang.


Tak berapa lama ketukan pintu terdengar, tanpa menunggu sahutan, pintu itu sudah terbuka pelan. Surti muncul kemudian mendekat, menghampiri Tuannya.


"Selamat pagi, Tuan. Adakah sesuatu yang anda perlukan."


"Di mana Zara, Bi. Aku tidak melihatnya?"


Surti tersenyum samar. "Nona berada di dapur, Tuan. Sedang menyiapkan sarapan untuk anda." Begitulah ucapan yang terlontar dari bibir perempuan paruh baya yang sudah sekian tahun mengabdi padanya.


Arka yang masih dalam keadaan setengah mengantuk itu, membelalakkan netra.


"Kenapa Bibi biarkan! Dia bisa kelelahan." Arka tiba-tiba tak mampu mengontrol emosi hingga mengucapkan kalimat dengan nada meninggi.


Surti yang sudah memahami watak Tuannya itu, berusaha menenangkan.


"Maaf, Tuan. Bukannya ini sudah menjadi rutinitas pagi hari Nona, untuk mempersiapkan semua kebutuhan Tuan sebelum bekerja?"


"Tapi dia sedang datang bulan dan semalam mengeluh jika perutnya terasa nyeri." Setelah sadar, Arka tampak menyesali ucapannya. Bagaimana bisa ia membahas datang bulan istrinya pada Surti.


Surti pun demikian, ia sempat terbelalak dan salah tingkah. Akan tetapi di dalam hatinya ia tergelak dengan menahan malah.


Ya Tuhan. Kenapa aku bisa kebablasan mengatakan tentang datang bulan Zara pada Bi Surti.


Sudah kepalang basah, Arka yang tak mampu menekan ucapannya itu, mau tak mau harus menuntaskannya.

__ADS_1


"Ehem." Untuk membuang kecanggungan yang tercipta, pria tampan itu terlebih dahulu berdehem sebagai pembuka aksinya.


"Bi, katakan padaku, makanan apa saja yang boleh dan tidak dikonsumsi untuk perempuan yang sedang datang bulan?" Meski diawal cukup ragu, namun hebatnya, pria itu dapat lantang mengucapnya tanpa hambatan.


Surti yang sempat menunduk itu mendongak, kemudian berfikir sejenak.


"Saya kurang begitu faham, Tuan. Mungkin para koki bisa menjelaskannya."


Arka spontan menggeleng kemudian berucap, "Tidak-tidak. Semua koki yang bekerja di rumah ini adalah pria. Tidak mungkin mereka tau tentang datang bulan."


Aku jamin pengetahuan mereka temtang datang bulan juga tak jauh beda deganku.


"Saya hanya mengetahuinya sedikit saja, Tuan." Surti terlihat berfikir keras.


"Katakan saja."


"Makanan berlemak dan cepat saji sepertinya juga tidak bagus untuk wanita yang sedang datang bulan. Akan lebih baik jika mengonsumsi makananan dan minuman hangat. Itu akan membuat perut yang terasa nyeri, akan merasa lebih baik."


Arka terlihat begitu mendengarkan ucapan surti dan mencatatnya dalam fikiran.


"Lalu, apa saja yang bisa digunakan untuk mengurangi rasa nyeri di perutnya?"


"Ada banyak, Tuan. Seperti jamu tradisional, tablet, dan bahkan obat-obat pereda nyeri yang dijual bebas di pasaran maupun apotik," beber Surti.


Arka tampak tersenyum dan sesekali mengangguk. Merasa puas dengan jawaban kepala pelayannya.


"Terimakasih, Bi. Sekarang, bisakah Bibi menyiapkan air mandi untukku?"


"Tentu saja, Tuan. Itu sudah menjadi tugas saya." Surti kemudian bergerak cepat menuju kamar mandi, mempersiapkan air hangat dan segala keperluan untuk Tuannya.


Di dalam kamar mandi pun Surti masih tak hentinya tersenyum. Merasa jika Tuannya memperlakukan Zara dengan baik.


Tuan bahkan mengetahui jadwal datang bulan Nona Zara, yang saat bersama Nona Anastasya pun, Tuan tidak pernah membahasnya. Semoga saja ini pertanda baik untuk keluarga Atmadja kedepannya. Aku bahkan yakin jika penerus Atmadja group akan datang tak lama lagi.


****

__ADS_1


"Sudah selesai." Zara bertepuk tangan senang selepas menatap hasil akhir kerja kerasnya tertata rapi di meja makan. Menu sarpan yang ia buat dengan sepenuh hati, sudah mendarat pada tempatnya.


"Sudah saatnya aku membangunkan suamiku." Kaki mungilnya mulai bergerak lincah menapaki satu persatu anak tangga dengan riang gembira. Membuka pintu kamar dengan perlahan agar tak menciptakan kebisingan yang bisa menggangu pendengaran sang suami.


Akan tetapi gadis itu sedikit kecewa, sebab tak ada sosok yang ia cari di atas ranjang king size miliknya.


"Sayang, anda di mana?" Zara menyibak pandangan keseluruh kamar yang luas itu, hingga menuju walk in closet.


"Aku di sini, sayang." Arka yang sudah terlihat rapi dengan stelan jas berwarna navy itu muncul dan memperlihatkan penampilan sempurnanya di hadapan istri tercinta.


"Sayang, kenapa mempersiapkannya seorang diri tanpa meminta bantuanku," ucap Zara merasa bersalah.


"Tidak apa, sayang. Kau pasti juga sedang sibuk mempersiapkan sarapan untukku," Arka mendekat dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri. Tanganya bergerak mengusap perut Zara lembut.


"Apakah masih terasa sakit?" Beberapa kecupan mendarat di seluruh wajah Zara, hingga gadis cantik itu merona malu.


"Sudah lebih baik, sayang. Tidak perlu khawatir."


Akan tetapi Arka tak akan percaya begitu saja.


"Untuk beberapa hari kedepan sebelum datang bulanmu selesai, kau tidak boleh kelelahan dan keluar rumah. Baik itu ketoko atau pun berbelanja di luar. Cukup di dalam rumah. Jika ingin keluar rumah, itu pun harus bersamaku dan seijinku," titah telak Arka tanpa penolakan.


"Tapi, sayang," rengek Zara dengan wajah mengiba.


"No.. No .. No.., aku tidak ingin mendengar kata-kata penolakan yang keluar dari bibirmu, sayang." Arka menyentuh bibir mungil merah menggodanya itu, lantas menyesapnya lembut.


Disusul ucapan beberapa makanan yang tak boleh dikonsumsi Zara selama datang bulan seperti yang diucapkan Surti beberapa waktu lalu.


Pria tampan itu mengcopy ulang ucapan Surti hingga tak ada satu kalimat pun yang tertinggal.


Zara yang semula mengganggap suaminya hanya membual, semakin mendengar ia justru semakin dibuat tak percaya. Bagaimana bisa seorang yang sama sekali tak mengerti datang bulan justru mampu memaparkan makanan yang boleh atau pun tidak boleh dikonsumsi.


Bahkan obat pereda nyeri pun ia juga mengetahuinya.


Jangan-jangan Tuan Arka sengaja mencari artikel tentang datang bulan dari internet dan bahkan tak tidur semalaman untuk bisa menghafal semua kata-katanya.

__ADS_1


Zara tergelak gemas dalam hati. Merasa jika suami dinginya itu terlihat menggemaskan. Tanpa sungkan ia memeluk pinggang pria itu, membenamkan wajah pada dada bidangnya dan mengeratkan gegaman tangan di belakang punggung kokoh sang suami.


Aku sungguh tidak percaya memiliki seorang suami sebaik dirimu. Meski dulu karena terpaksa aku menikah denganmu, namun tanpa aku sadari, rasa cinta itu kini mulai menyebar dan tumbuh subur memenuhi hati dan bahkan jiwa ragaku. Suamiku, aku sangat menyayangimu.


__ADS_2