Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Mungkin Ini Gila


__ADS_3

"Terimakasih banyak, tuan. Demi tuhan, saya hanya mampu meberikan ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada anda, namun sepertinya itu masih belum cukup mengingat semua kebaikan yang sudah tuan lakukan kepada saya." Anastasya berusaha untuk menatap kearah Kenan yang terdiam tanpa ekspresi. Keduanya sudah berada di kediaman gadis itu, dengan dua gelas teh yang tersaji di atas meja.


"Ehem." Pria itu berdehem.


"Anastasya, bisakah kita bicara di luar?"


"Kenapa tuan?"


"Tidak apa, hanya saja aku merasa tidak nyaman pada tetanggamu. Kita hanya berdua, dan bukan mukhrim. Meski kita tidak melakukan apa pun, tetapi orang lain bisa saja memiliki pandangan yang berbeda," ucap Kenan menjelaskan alasannya.


Ya tuhan. Bukankah diriku yang perempuan di sini, tetapi kenapa justru dia yang lebih paham.


"Tentu, tuan." Anastasya lekas bangkit, meraih dua gelas teh di meja dan bergegas menuju teras rumah di mana terdapat dua buah kursi beserta meja di sana. Sementara Kenan mengekori langkah sang gadis di belakang.


Helaan nafas terdengar, Anatasya sedikit mengintip kearah Ken dari ekor matanya.


Wajahnya terlihat sangat serius, apa ada sesuatu yang ingin dia tanyakan padaku.


Kini Anastasya dibuat tak tenang. Justru fikirnya sibuk menerka, apa yang akan pria itu lakukan padanya.


"Anastasya." Suara bariton itu kembali menyapa indra pendengaran Anastasya.


"I-iya tuan," jawab gadis itu setengah terbata.


"Bukankah kau sudah tau tentang kehidupan dan masalaluku?"


Anastasya terdiam, dan sibuk mendengarkan. Tetapi saat Kenan menatapnya, gadis itu pun lekas mengangguk.


"Lalu, apakah kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk menceritakan kehidupan dan masalalumu padaku?"


Anastasya spontan menunduk, berusaha menghindar dari pandangan Kenan.


"Tuan, bukankah sudah saya katakan jika kehidupan saya tidak ada yang menarik untuk bisa diceritakan." Mencoba berkilah, meski sepertinya percuma.

__ADS_1


"Mungkin itu menurutmu, tetapi tidak menurutku."


Gadis itu masih terdiam.


"Aku memang orang asing bagimu, Anastasya. Tetapi aku juga ingin tau tentangmu dan juga keluargamu." Kenan masih berpikiran jika ada yang berusaha disembunyikan oleh Anastasya. Dan gadis itu enggan untuk bercerita padanya.


"Saya memang hidup sendiri di ibukota tuan, dan saya juga pernah berkeluarga." Gamang, Anastasya berucap dengan menatap jauh kedepan.


Kenan cukup terkejut.


"Kau pernah berkeluarga sebelumnya?"


"Ya," jawab Anastasya sembari mengangguk. "Tetapi itu tidak berlangsung lama."


Kenan kini menatap kearah gadis yang setengah menunduk itu. Dia pernah merasakan kegagalan berumah tangga?


"Maaf atas pertanyaanku yang terkesan terlalu lancang."


"Tidak apa, tuan. Seperti anda yang sudah mau menceritakan semua masalalu keluarga tuan pada saya, maka saya rasa begitu pun sebaliknya."


Kenan dibuat tak nyaman, ia takut jika gadis yang tengah bersamanya itu merasa tertekan atas pertanyan yang ia lemparkan.


"Tidak usah diceritakan jika itu semua membuatmu tak nyaman."


Gadis itu tersenyum tipis.


"Tuan, mungkin kehidupan yang pernah saya jalani juga tak jauh berbeda dengan anda. Sama-sama menyakitkan dan hanya menyisakan luka." Meski senyum masih terulas di bibir, tetapi kesedihan itu jelas tergambar di wajah cantiknya.


"Seperti tuan yang mempunyai seorang putri, saya pun memiliki seorang putra yang tuhan tempatkan di dalam surganya."


Kenan benar-benar terkejut.


"Maksudmu, kau juga mempunyai putra yang sudah mening..." ragu Ken menyambung kalimatnya.

__ADS_1


Anastasya mengangguk meng-iyakan.


"Ma-maafkan aku Anastasya." Kini justru Kenlah yang mengucap kata maaf.


Anastasya hanya tersenyu simpul. Akhirnya, dengan kekuatan yang ia miliki, dirinya memulai untuk mengungkap masa lalunya. Hingga mengalirlah sebuah kisah perjalanan panjang seorang gadis bernama Anastasya.


Pada awal dirinya mengadu nasib di ibu kota hingga dipertemukan dengan Rangga. Tak ada yang berusaha Anastasya tutupi, hingga pada akhirnya ia hamil namun sengaja ditinggalkan oleh pria yang menjadi ayah biologis bagi putranya. Dunia seakan hancur, begitu pun dengan hidupnya. Akan tetapi sebuah keajaiban datang, saat Arka menyelamatkan hidupnya dan menikahinya meski tanpa rasa cinta.


Anastasya sempat mengira jika tuhan memberinya cobaan sudah cukup sampai di situ saja, tetapi kenyataanya sungguh di luar dugaan. Cobaan itu kembali mendera pada saat bayi yang ia lahirkan justru meninggal.


Kenan berusaha menjadi pendengar yang baik. Namun satu hal yang membuat pria itu salut. Meski kisah hidup Anastasya sangat pedih, namun ia tak terlihat menitikkan air mata. Ia benar-benar berusaha untuk tegar.


"Aku juga memilih seorang gadis untuk menikah dengan suamiku."


"Apa?" Ken menggelengkan kepala tak percaya. "Kenapa kau melakukan hal semacam itu?"


Gadis itu menghela nafas dalam.


"Tuan, bukan tanpa alasan aku melakukan semua itu."


"Tapi bukankah itu terlihat tidak wajar. Kau, seorang istri, justru meminta suamimu untuk menikah dengan seorang gadis. Itu tidak masuk akal Anastasya. Kecuali, jika mantan suamimu itu memang tipe pria tak setia." Kenan mendengus kesal. Dia rupanya tak terima.


"Bukan seperti itu tuan. Selama dua tahun menikah, saya memang merasa jika pernikahan kami dilandasi dengan tak saling cinta. Saya juga tidak bisa memaksa mantan suami untuk bisa mencintai saya, meski pun saya menginginkannya. Awalnya beliau juga menolak dengan ide gila yang saya utarakan, namun setelah saya mengancam untuk bunuh diri, akhirnya dia menyanggupinya."


"Berarti kau sudah gila, Anastasya!" Ken meningikan nada bicaranya. Sungguh tak habis fikir dengan apa yang sudah diperbuat oleh gadis itu.


"Saya sudah merasa lelah tuan. Di satu sisi lain saya ingin melihat mantan suami berbahagia dengan gadis pilihannya, dan di sisi lain saya juga ingin menghilang dari kehidupannya. Hingga itulah satu-satunya cara yang menurut saya paling tepat."


Kenan tak mampu berkata-kata.


"Mungkin bagi sebagian orang ini gila. Menikahkan suaminya dengan gadis pilihannya sendiri. Tetapi ini lebih baik tuan. Dari pada saya hidup berumah tangga dengan seorang yang sama sekali tak mencintai saya, dan menikshi saya hanya karna rasa iba. Karna sekuat dan setegarnya seorang perempuan, hatinya pasti remuk jika selalu di acuhkan dan tak pernah merasa dicintai."


Tangis Anastasya pecahlah sudah. Pada awalnya ia berusaha untuk tetap tegar, tetapi nyatanya, ia tak setegar batu karang di lautan.

__ADS_1


Tanpa terasa, Kenan menggengam tangan Anastasya di atas meja cukup kuat. Seolah okut menguatkan sang gadis, untuk tetap berjuang menatap masa depan.


Bersambung..


__ADS_2