Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Pria Pecundang


__ADS_3

Bagi seorang Arka saat ini, tak ada hal lain yang lebih mengembirakan selain menyaksikan pertubuhan calon bayinya dari perut sang istri. Jika sudah menghabiskan waktu berdua seperti ini, pandangan pria itu tak lepas dari perut sang istri yang mengeras dan mulai membuncit itu.


Dengan penuh kelembutan Arka mengusap dan sesekali menciumi perut yang tak tertutup kain itu. Untuk lebih leluasa mengagumi rasa takjubnya akan keajaiban yang ciptakan sang pencipta, pria tampan berjambang itu sengaja menyingkap pakaian atas sang istri hinga perut itu terlihat seutuhnya. Meski Zara sedikit malu, tapi ia juga merasakan luar biasa senang saat mendapatkan perhatian lebih dari sang suami yang tertuju untuknya dan kedua bayi yang tengah dikandungnya.


"Sayang, aku sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba. Saat kau melahirkan anak kembar kita, dan setelahnya kita akan bahu membahu merawatnya dan membesarkanya dengan penuh cinta." Arka mengucap kata layaknya sebuah doa yang berharap bisa di dengar dan dikabulkan oleh yang maha kuasa. Tanganya terus bergerak untuk mengusap lembut dan melemparkan tatapan hangat untuk buah hatinya.


Zara merasakan hatinya diselimuti awan kebahagian yang bergumpal dan selalu menaungi langkahnya selama ini. Bagaimana kini dirinya merasa menjadi seorang wanita paling bahagia sekaligus paling dicintai oleh seorang pria yang luar biasa bertangung jawab seperti Arka. Di dalam doa, tak hentinya ia berucap syukur, saat takdir membawanya untuk bisa hidup dan mendampingi pria tersebut.


"Aku pun demikian, sayang. Tak sabar menyambut anak kembar kita untuk lekas lahir kedunia. Tapi aku rasa, kita masih harus menempuh berbagai macam proses cukup berat hingga bayi kembar kita siap untuk dilahirkan." Kedua tangan mungil Zara kini menggengam tangan sang suami yang tengah asyik mengusap perutnya. Seolah keduanya saling menggengam untuk menyalurkan rasa cinta kepada kedua calon bayi mereka.


Pria itu pun menghela nafas dalam. Memang masih butuh beberapa bulan lagi hingga proses melahirkan tiba. Usia kehamilan Zara pun baru memasuki bulan keempat, bahkan bisa di bilang jika belum mencapai separuh perjalanan. Hanya saja terbesit kekhawatiran yang mendalam pada diri Arka, seperti yang pernah dikatakan dokter Bram jika perut sang istri akan membuncit dengan pesat setelah melewati trimester kedua kehamilan, dan kemungkinan bayi kembar juga bisa lahir lebih cepat dari pada bayi pada lainnya.


"Sayang, apakah kau merasakan senang pada proses kehamilan yang sedang kau jalani ini?" Pria itu menatap sepasang netra bening sang istri lekat. Berusaha menyelami bagaimana sesungguhnya isi hati gadis itu selama ini. Apakah ia merasa senang, ataukah justru terbebani.


Zara terlihat mengulas senyum lembut, tangan mungilnya bergerak untuk mengusap surai sang suami yang berada di hadapannya.


"Tanpa bertanya pun kau pasti sudah tau apa jawabannya, sayang. Demi tuhan aku merasa sangat bahagia sudah dikarunia bayi kembar yang sedang bertumbuh di dalam rahimku ini, dan aku sama sekali tak merasa sedih atau pun terbebani."


"Benarkah," ucap Arka masih tak percaya, tetapi tak urung bibirnya pun mengulas senyum teduh sebagai luapan kebahagian.


Gadis itu pun spontan mengangguk kuat tanpa sedikit pun rasa ragu.

__ADS_1


"Kau tau sayang, kadang aku merasa jika usia kita terlalu jauh berbeda. Aku sudah memasuki kepala tiga dan kau, bisa dibilang masih belasan. Aku takut jika anak-anak kita tumbuh besar nanti, kau masih terlihat muda dan cantik, sementara aku semakin menua dengan rambut setengah beruban serta tubuh yang mulai bungkuk." Entah mengapa, membayangkan semua itu membuat Arka meringis miris. Berbeda dengan Zara yang justru tergelak begitu mendengar ucapan pria yang dicintainya itu.


"Sayang, meski pun kau mulai menua, aku yakin jika dirimu masih terlihat tampan. Sementara tubuhmu, tentunya tetap kekar dan berotot seperti ini jika kau terus menjaganya," goda Zara diiringi kedipan mata. Yang mana membuat Arka hanya bisa tersenyum kecut dan tak mampu berkata-kata. Namun saat keduanya terdiam, dering telepon rumah yang berada di atas nakas terdengar menyapa indra pendengaran mereka.


Jarak yang cukup dekat membuat Arka dengan mudahnya meraih gagang telepon tersebut dan menempelkannya di telinga.


"Ada apa?"


"Katakan padanya untuk menunggu sebentar."


Arka memutuskan sambungan telepon dan mengembalikannya ketempat semula.


Zara yang mendapati raut wajah sang suami yang berubah datar pun lekas melemparkan tanya.


Arka tersenyum tipis kemudian menghela nafas dalam.


"Rangga ingin bertemu denganku."


"Apakah ini ada kaitannya dengan Nona Anastasya?" Zara coba menebak situasi yang terjadi. Sebab, setiap kali Rangga meminta bertemu dengan suaminya, pasti pembahasan keduanya tak lain dan tak bukan ialah menyangkut Anastasya.


"Entahlah," ucap Arka lirih. Pria itu bangkit dari posisinya. Menutup kembali perut buncit sang istri kemudian mencium puncak kepalanya. "Beristirahlah, aku akan menemui Rangga di bawah," titah pria itu lembut namun penuh penekanan.

__ADS_1


Gadis itu pun mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman. Berbalutkan selimut lembut yang terbuat dari bulu angsa, hingga tak berapa lama sepasang netra yang sempat pura terpejam itu benar-benar terlelap dalam damai.


*******


"Anastasya benar-benar tak memberi kesempatan padaku. Dia bilang jika lebih baik kita melupakan semua yang terjadi dan mulai menapaki jalan masing-masing." Rangga yang penampilannya terlihat kacau balau itu tengah menjelaskan perkara yang terjadi antara dirinya dan Anastasya. Pria itu merasa hidupnya kini benar-benar hancur. Anastasya satu-satunya alasan yang membuatnya bertekad untuk kembali, tetapi nyatanya gadis itu justru memilih untuk menjauhinya dan enggan untuk melanjutkan lagi hubungan yang pernah terjalin.


"Katakan, Arka. Aku harus apa? Aku harus berbuat apa untuk bisa mendapatkan hati Anastasya kembali?" Pria itu terlihat frustrasi. Sepasang netranya bahkan memerah akibat menahan tangis.


Arka menarik nafas dalam, ia pun terlihat kesusahan untuk bisa menjawab pertanyaan dari sahabat karibnya itu. Mereka berdua memang terbilang dekat dengannya, namun jika sudah menyangkut masalah pribadi, pria itu pun enggan untuk mencampuri urusannya terlalu dalam.


"Tetapi maaf Rangga. Menurutku ini adalah masalah pribadi kalian berdua yang seharusnya tak etis jika aku mencampurinya terlalu dalam. Aku rasa kalian berdua sudah lebih dari kata dewasa untuk bisa menyelesaikan masalah yang menurut kalian paling tepat."


Rangga kini mengusap wajahnya kasar, jawaban Arka rupanya sama sekali tak membantu.


"Tapi dialah alasanku untuk kembali. Apa dia tidak bisa mengerti bahwa selama ini aku bahkan memendam rasa rinduku padanya selama dua tahun lebih. Dan saat aku kembali, dia justru menyalahkanku dan menolak untuk kembali. Bukankah itu sama sekali tak adil untukku?" Rangga berucap geram, dirinya benar-benar tak mampu mengontrol emosi. Baginya, Anastasya sudah sangat mengecewakan perasaanya.


"Lalu harus bagaimana? Apakah kau ingin menyalahkan Anastasya?" Arka kini mulai meninggikan intonasi bicaranya. Baginya, Anastasya tidak sepenuhnya bersalah. "Andai saja kau mengikuti kata-lataku untuk tak memutuskan segala kontakmu dengan Anastasya dulu, aku yakin jika saat ini permasalahan pelik seperti saat ini tidak akan pernah terjadi. Tapi apa, kau malah terlihat seperti pecundang yang lari begitu saja dari tanggung jawab dan tak memberikan satu akses pun pada Anastasya untuk bisa menghubungimu. Jika aku menjadi Anastasya, maka aku pun akan melakukan hal yang sama. Berpikir seribu kali untuk kembali kedalam pelukan pria pecundang sepertimu," ucap Arka lantang dan penuh penekanan. Ia benar-benar merasa jengah pada Rangga yang dinilainya tak jentel dalam menyelesaikan masalah dan lebih mendahulukan emosi.


"Aku sungguh tak percaya. Kau sahabat terbaik yang kumiliki justru tega mengucapkan hal buruk kepadaku seperti itu." Rangga terlihat mulai tak nyaman. Raut wajahnya pun tak lagi bersahabat.


Arka yang lebih penyabar itu menepuk pundak sang sahabat cukup keras. Dia tak berniat untuk merendahkan, hanya saja ia berharap jika Rangga lebih mampu membuka mata dan coba menatap masalah dari sisi Anastasya, bukan hanya dari sisi dirinya saja.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku rasa Anastasyalah yang paling merasa paling tersakiti diantara kalian berdua. Dia bisa bernafas hingga detik ini saja, sudah menjadi keberuntungan bagi kita. Andai saja tuhan mengubah takdir Anastasya sedikit saja, aku yakin jika Anastasya mungkin sudah hanya tinggal nama saat kau pergi meninggalkannya." Ucapan Arka serasa menghunjam dada Rangga. Ia terdiam seketika. Tak mampu berkata sekaligus menegakkan kepala. Dia hanya tertunduk dan meremas jemarinya sendiri dengan sangat keras. Pria itu kini merasa menyesal dan mulai tersadar. Ia sempat lupa, jija Anastasya sempat tak memiliki tujuan hidup saat dirinya memilih lari dari kenyataan dan menghilang tanpa kabar. Memang benar apa yang diucap sang sahabat, jika dirinya adalah pria pecundang. Benar-benar pria pecundang.


__ADS_2