Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Mengulang Masa Lalu


__ADS_3

Sementara itu di sebuah kamar yang berbeda, Anastasya tampak berusaha meluapkan semua rasa kecewanya yang memuncak pada Rangga, setelah memendamnya sekian tahun lamanya. Pukulan bertubi-tubi gadis itu daratkan di dada bidang berlapis kemeja Rangga. Entah ia yang terlalu emosi hingga kalap dan terus berusah memukul dengan di iringi isak tangis.


Bukannya menghindar, Rangga justru membiarkan gadis yang ia cinta untuk terus melukainya, berharap dengan rasa sakit yang ia derita, membuat gadis itu akan bisa memaafkannya.


Tak sekali pun ia meringis, atau pun mengaduh. Rangga hanya diam tanpa melawan, walah rasa sakit mulai menyergap.


"Pukul aku, terus pukul aku Tasya. Dengan seperti ini, aku harap kau bisa memaafkanku." Rangga menatap sepasang netra berkaca-kaca itu lekat. Berharap ada sedikit saja rasa iba, dari Anastasya untuk dirinya.


Akibat rasa lelah, gadis itu pun menghentikan pukulan. Tak berniat menjawab, ia justru berbalik menuju pintu dan berusaha untuk membukanya dengan sekuat tenaga.


"Sial, kenapa tidak bisa dibuka!?" Anastasya terus mengutuk dalam hati. Ia enggan untuk berada dalam posisi seperti ini. Terkurung di dalam ruangan, dengan seseorang yang ia benci.


"Pintu itu terkunci dari luar. Kau tidak akan bisa membukanya."


Gadis itu menghela nafas dalam, dan berbalik badan dengan menatap tajam seorang pria yang tengah bersamanya.


"Dari mana kau tau jika pintu itu terkunci dari luar? Oo.. atau jangan-jangan, kau yang sudah mengutus seseorang untuk sengaja mengunci pintu ini agar kita bisa terjebak di dalamnya?" Anastasya menyerigai dengan bertepuk tangan. "Wah, tak kusangka kau sehebat ini Rangga." Serigai sinis bercampur ketidak percayaan tergambar di wajah Anastasya. Sesekali ia menggelengkan kepala dengan kejadian yang sudah menimpanya.


"Tasya, dengarkan aku dulu."


"Apalagi yang ingin kudengarkan? Aku bahkan sudah melihat semua tanpa perlu kau ceritakan."

__ADS_1


Keduanya tampak bersitegang, dan tak ingin mengalah satu sama lain.


"Berikan aku satu kesempatan untuk bisa menjelaskan semuanya, Tasya. Tolong, jangan hukum aku seperti ini. Aku masih sangat mencintaimu, sama seperti dulu dan tidak berkurang sedikit pun walau jarak memisahkan kita bertahun-tahun lamanya."


Gadis itu terdiam. Ia masih sulit untuk mempercayai semua ucapan Rangga. Sebab sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu padanya.


"Kenapa kau diam? Apa kau masih tak percaya padaku?" desak Rangga dan mulai menghimpit tubuh Anastasya hingga menempel di dinding.


"Apa rasa cintamu yang dulu kepadaku benar-benar hilang tak tersisa? Apa kau tak bisa melihat tatapan hangat dariku yang tertuju hanya kepadamu?" Rangga terus mendesak Anastasya hingga kedua tubuh itu saling menyentuh.


Gadis itu coba berontak, akan tetapi postur tubuh Rangga yang sebesar Arka membuatnya sulit bergerak, apalagi bergeser. Untuk sejenak Anastasya menatap sepasang netra bening Rangga yang menatapnya lekat. Sebuah tatapan hangat yang pria itu dulu sering lanyangkan padanya. Sekaligus tatapan hangat yang selama ini selalu ia rindu dan nantikan.


Gadis itu mendongak, sementara Rangga menunduk. Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang ia cinta hingga kening kedua insan itu pun menyatu. Rangga hendak membenamkan bibirnya pada bibir merah muda Anastasya, namun gadis itu menghindar hingga ciuman itu urung tercipta.


"Tasya, aku mohon maafkan aku." Pria tampan yang setengah putus asa itu memeluk tubuh gadisnya erat. Sekaligus menghirup aroma tubuh, yang selama ini ia rindukan.


Di tengah suasana syahdu yang tercipta, seura gemuruh yang berasal dari perut Anastasya membuyarkan segalanya. Rangga segera mengendurkan dekapan, kemudian menatap kearah perut sang gadis.


"Sayang, apa kau lapar?" tanya Rangga dengan rasa khawatir.


Gadis itu tetap diam, namun wajahnya terlihat menahan sesuatu.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, pria tampan itu lekas mengengam tangan sang gadis dan membawanya kesebuah meja yang memang sudah disiapkan sebelumnya di kamar tersebut.


Aneh. Kenapa ada makanan di tempat ini? Seolah semua memang sudah direncakan dengan matang.


Anastasya memandang tak percaya pada meja berisi penuh makanan. Bahkan ada beberapa lilin terpasang, selayaknya makan malam romantis untuk mereka berdua.


"Duduklah, dan kita makan malam bersama." Rangga menarik satu kursi untuk Anastasya terlebih dulu, kemudian dirinya. Serta mengambil beberapa makanan yang tersaji untuk diberikan pada gadis yang bersamanya itu.


"Makanlah, atau ingin aku suapi?" tawar Rangga.


Gadis itu menggeleng samar, kemudian menatap beberapa menu yang tersaji di meja. Bulir bening nyaris menitik, saat mendapati bahwa seluruh hidangan itu adalah makanan kesukaannya.


Rangga pasti tau benar akan apa yang gadis itu sukai atau tidak. Anastasya yang hidup sebatang kara di kota, hanya memiliki Rangga untuk tempat berkeluh kesah dan tempat untuk berbagi.


Rangga yang memiliki perhatian penuh pada gadis yang ia cintai itu, berusaha memenuhi kebutuhan Anastasya dari makanan atau pun tempat tinggal. Gadis itu tak pernah meminta, dan kerap kali menolak. Akan tetapi rasa sayang yang Rangga miliki, membuatnya enggan untuk menerima penolakan. Hingga selama menjalin hubungan dengan Rangga, Anastasya banyak bergantung pada pria itu meski pendapatan dari profesinya sebagai model pun cukup besar.


"Makanlah yang banyak, kau bisa sakit jika terus menunda makan." Rangga justru menyuapkan sesendok makanan kebibir Anastasya. Gadis itu pun membuka mulut dan menerima suapan tersebut.


"Nah, seperti itukan bagus." Pria itu tetap sibuk dengan piring sang gadis dan lupa untuk mengisi perutnya sendiri.


Lagi-lagi, Anastasya merasakan hatinya bergemuruh. Suapan tangan seperti ini memang tak asing baginya dulu. Ia yang kerap kali menunda makan, membuat Rangga dengan telaten menyuapinya.

__ADS_1


Rangga sepertinya dengan sengaja membangkitkan kenangan masa lalu di antara mereka berdua. Berharap dengan cara seperti ini, rasa benci di hati Anastasya padanya akan berkurang. Dan ucapan maaf pun akan segera ia dapat.


__ADS_2