
Hari demi hari terus berlalu, begitu juga usia kehamilan Zara yang kian bertambah. Gadis itu tetap menjalani hari-harinya dengan ceria, seperti biasanya. Terlebih ada sosok ibu yang selalu mendampingi dan senantiasa berbagi pengalaman dalam menjalani kehamilan yang menyenangkan, meski dengan perut yang semakin membesar.
Selain Rumi dan juga Mirah, dokter kandungan khusus yang ditunjuk Arka pun selalu siaga dan senantiasa membimbing Zara untuk tetap melakukan senam hamil dan berbagai aktifitas ringan untuk kesehan ibu dan janin yang dikandungnya.
Akan tetapi ada beberapa kendala, yang membuat Arka menghela nafas dalam dan merasa bersalah saat ia melihat keadaan istrinya.
Malam mulai menyapa. Arka yang baru saja kembali selepas dari kantor pun, langsung menuju lantai atas untuk menemui Zara di kamar. Pintu yang sengaja ia buka dengan sangat pelan, rupanya tak membuat Zara menyadari akan kedatangan suaminya.
Pria tampan itu menatap nanar pandangan di depannya, sementara satu tangannya masih menggenggam gagang pintu. Dengan jelas Arka mampu melihat Zara yang tengah mengoleskan salep di kakinya yang membengkak dengan tubuh setengah berbaring di ranjang. Gadis itu tampak kesusahan saat mengoleskan krim berwarna putih itu, sebab terhalang perutnya yang cukup besar.
Didasari rasa peduli dan sayang yang teramat, Arka bergerak cepat untuk mendekati sang istri untuk bisa membantunya.
"Stop, sayang. Hentikan," pinta Arka.
Gadis itu pun spontan mendongak, kemudian tersenyum lembut saat mendapati Arka yang baru saja kembali. Ia pun menggeser tubuh untuk bisa bangkit dan menyambut prianya itu. Akan tetapi, dengan cepat Arka mencegahnya.
"Diam di situ, sayang. Jangan bergerak," titah Arka lembut namun penuh penekanan.
"Tapi sayang. Aku ingin menyambutmu," ucap gadis itu lirih. Semenjak perutnya semakin membesar, Zara bahkan tak memiliki banyak waktu untuk mengurus suaminya, seperti di awal-awal pernikahan.
Arka pun semakin mendekat, kemudian menarik sebuah kursi agae lebih dekat dengan ranjang untuk bisa ia duduki.
"Kau bahkan sudah terlihat kepayahan dan tak leluasa untuk bergerak. Jadi biar aku saja yang menghampirimu." Arka lebih dulu melepas jas dan melonggarkan dasi sebelum mendaratkan tubuhnya dikursi tersebut. "Apa yang sedang kau lakukan, sayang?" tanya pria itu kemudian.
Gadis itu pun menunjukan krim di tangannya pada Arka.
"Aku sedang ingin mengoles salep ini di kaki, sebelum kau datang." Senyum itu masih nampak di bibir, berusaha menyembunyikan jika sejujurnya ia sendiri sangatlah kesusahan saat melakukannya.
"Biarkan aku saja yang melakukannya." Tanpa aba-aba, Arka mengambil krim itu dari tangan sang istri dan mengambilnya sejumput untuk ia oleskan ke kaki istrinya.
Zara tersentak, dan berusaha menahan tangan Arka untuk tak menyentuh kakinya.
"Sayang, jangan! Itu tidak sopan," pekik Zara. "Biar aku saja yang melakukannya," sambung gadis itu kembali.
Arka justru menarik lembut tangan gadis itu yang berusaha mencegah gerakan tangannya.
"Kau yakin bisa melakukannya seorang diri? Sebab aku sempat melihatmu kesusahan dan berusaha keras menyentuh kakimu sat terhalang perutmu yang membuncit itu." Arka sedikit mengejek hingga Zara merona malu dibuatnya.
"Tapi, sayang. Kau menyentuh kakiku, bukankah itu--"
Arka menghela nafasnya dalam, dengan tangan yang mulai memijat kaki istrinya dengan lembut.
"Sayang, apa yang bisa kulakukan ini, masih tak sepadan dengan beratnya penderitaan yang kau tanggung selama mengandung bayi-bayi kita ini. Aku benar-benar merasa bersalah." Tak mampu menyembunyikan gejolak yang berkecamuk, Arka secara intens menatap tubuh istri mungilnya dari ujung kepala hingga kaki.
Wajah gadis itu masih terlihat sangat cantik, meski tubuhnya tampak sedikit kurus. Perutnya pun terbilang sangat besar untuk tubuhnya yang kecil serta kakinya yang mulai membengkak sebab berusaha menopang berat tubuhnya yang kian bertambah setiap bulannya. Dan itu semua membuat Arka tak tega.
"Sayang, aku sama sekali tak keberatan dengan semua proses yang sedang kujalani ini. Semua memang tak mudah, tetapi aku pun sangat senang menjalaninya. Terlebih ada kau dan ibu yang selalu ada di dekatku."
Zara nampak begitu menikmati pijatan lembut dari Arka yang terasa sangat nyaman di kakinya. Krimnya ya terasa dingin saat menyentuh kulit, rupanya mampu menghilangkan rasa nyeri dan pegal di kakinya yang bengkak.
"Rebahkan tubuhmu, biarkan pijatan ini sebagai pengantar tidurmu." Setengah bangkit, Arka menumpuk dua bantal untuk menopang kepala sang istri agar tidurnya terasa lebih nyaman.
__ADS_1
"Hah, tidur," ulang Zara setengah tak percaya.
"Iya, sayang. Sudah waktunya ibu hamil untuk beristirahat dan membangun mimpi indah mereka." Ditariknya tubuh mungil itu agar mendapatkan posisi tidur yang paling nyaman. Zara sendiri sepertinya lebih menyukai posisi tidur miring, sebab jika terlentang sedikit membuatnya sesak nafas.
Gadis itu hanya menurut saat Arka mengangsur tubuhnya untuk mencari posisi tidur ternyaman, namun fikirnya pun menerawang jauh. Semenjak kehamilannya yang kian membesar, Arka memang sengaja menjaga jarak dengannya. Ciuman di malam hari pun sengaja ia hindari, agar tak menjurus pada tindakan selanjutnya yang mampu membahayakan janin di dalam perutnya.
"Sayang, aku merindukanmu," bisik Zara ditelinga Arka lirih saat keduanya saling berdekatan.
Dengan jelas pria itu mampu mendengarnya, kemudia ia menghela nafas dalam.
"Aku juga merindukanmu, sayang. Kau tau jika aku menahan semuanya sementara waktu demi keamanan mereka berdua," ucap Arka sembari mengusap perut buncit Zara.
Gadis itu pun mengangguk faham. Ia sendiri sempat dilanda kekhawatiran, saat sosok suaminya itu kini jarang menginginkan dirinya. Tetapi sebuah alasan itu, kini mampu diterima Zara, terlebih untuk kebaikan dirinya pula.
"Sekarang pejamkan matamu, dan nikmati pijatanku."
Gadis itu pun menurut. Tersenyum lembut dan mulai mengatupkan sepasang netranya yang mulai mengantuk. Rupanya, sentuhan lembut di kaki membuat gadis itu benar-benar nyaman dan mulai terlelap. Nafasnya yang mulai beraturan dan dengkuran halus terdengar, membuat Arka yakin jika istri mungilnya itu benar-benar sudah mencapai kealam mimpi.
"Tidurlah, aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu." Arka mendaratkan kecupan di pipi sebelum beranjak untuk membersihkan diri.
*****
Jika biasanya Arka akan menghabiskan malam-malamnya penuh cinta bersama sang istri, namun apalah daya saat ini. Untuk mengalihkan diri, kini pria itu lebih sering mengunjungi taman pada malam hari, dan masuk kembali jika ia benar-benar sudah mengantuk.
Tak berbeda dengan saat ini. Taman belakanglah yang menjadi tujuannya sebagai pelarian, hingga tanpa sengaja Sam yang baru saja selesai merampungkan tugas pun melintas di antara tuannya.
"Sam," panggil Arka.
"Iya, tuan," jawab pria itu lantang, dan segera mendekat kearah tuannya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Baik, tuan." Sam pun duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari sang tuan yang ada di area taman.
Arka menatap wajah Sam yang sepertinya lebih sumringah dari hari biasanya, dan itu semua sepertinya menggelitik hati Arka untuk lekas melempar tanya.
"Sam, wajahmu sepertinya tampak berseri-seri. Apa kau sedang berbahagia?"
Sam gelagapan dan menjadi salah tingkah begitu Arka melemparkan pertanyaan semacam itu kepadanya.
"Ti-tidak tuan. Saya masih biasa saja seperti hari-hari biasanya."
Arka hanya tersenyum tipis.
"Kau bahkan tampak gugup dan terbata saat menjawab pertanyaanku, dan itu sungguh di luar dari kebiasaanmu."
Sam berusaha menetralkan fikiran dan bersikap tegas seperti biasanya agar sang tuan tak merasa curiga.
"Katakan. Apa kau mulai menyukai gadis itu?"
Hah
"Maksud tuan?"
__ADS_1
"Ya, gadis itu. Apa kau mulai menyukainya? Teman Zara waktu itu kan?"
Apa? Kenapa tuan sampai mengetahuinya?
"Tidak, tuan. Saya hanya--"
"Hanya tertarik padanya? Bukankah itu sama saja?" goda Arka diiringi senyum tipis di sudut bibirnya.
"Tuan," jawab Sam menggantung.
"Kau sudah sangat dewasa sekarang. Tetapi aku tau jika kau belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, jadi wajar saja jika kau masih bingung dengan perasaanmu sendiri." Arka menatap pria yang sudah ia anggap seperti adik itu lekat. Seolah mencari setitik kebenaran di sana.
"Entahlah tuan. Tetapi jujur, sepertinya saya merasa nyaman saat berada di dekatnya."
Hah, kenapa aku bisa keceplosan mengatakannya.
"Lalu, apa kau sudah mengungkapkan perasaanmu pada gadis itu?"
Sam pun menggeleng.
"Saya tidak punya cukup keberanian, tuan," ucap Sam dengan menundukan kepala.
Arka tergelak kencang, ia sungguh menikmati kegundahan yang tengah dirasakan Sam saat ini. Sebab terbilang langka, pria muda itu menunjukan ekspresi wajah yang sedemikian rupa.
"Lalu kapan gadis itu akan tau perasaanmu jika kau saja tak mengatakannya?" goda Arka dengan masih tergelak kencang. Sementara Sam hanya bisa tersenyum masam.
"Tapi saya takut tuan. Jika dia justru tak memiliki perasaan apa pun kepada saya?" lirih Sam berucap, benar-benar membuatnya tak bersemangat.
Menghentikan gelak tawanya saat Wajah Sam berubah menjadi sendu, Arka menepuk pundak Sam beberapa kali.
"Dulu aku juga tak pernah mengenal cinta. Tetapi pada waktu itu takdir justru memaksaku untuk menikah dengan kekasih sahabatku sendiri. Pada awalnya itu memang tak mudah, hingga aku sendiri tak sadar akan setatusku yang sudah menjadi suami. Sama halnya dengan pada saat aku menikahi Zara. Kami berdua sendiri pun masih tak yakin akan komitmen pernikahan yang sudah kita rajut kedepannya. Tapi aku mempunyai sebuah keyakinan, jika sesuatu yang sudah kita mulai, maka sebisa mungkin akan kita selesaikan walau seperti apa pun caranya."
Sam menautkan kedua alisnya, nampak tak mengerti.
"Maksud tuan?"
"Maksudku, rasa nyaman itu sudah tercipta di hatimu. Apa yang sudah dimulai, maka tuntaskanlah. Katakan padanya, jika kau nyaman dengannya. Semoga saja, dia bisa menerima perasaanmu dengan tangan terbuka. Maka dari itu berjuanglah. Bukankah kau seorang pria sejati?" Sedikit meledek hingga Sam menghela nafas dalam.
Sam terdiam sejenak.
"Kenapa diam, jawab pertanyaanku!"
"Siap, tuan. Saya akan memperjuangkan perasaan saya pada gadis yang saya cintai." Karna terkejut, Sam menjawabnya lantang dan meninggikan nada bicaranya hingga beberapa pengawal yang tak sengaja melintas pun lekas membungkam mulut mereka menahan tawa. Begitu pula dengan Arka.
Sial, lagi-lagi aku keceplosan.
Sam mengelenhkan kepala samar. Kali ini ia benar-benar tak mampu mengontrol perasaannya.
Bersambung..
Like
__ADS_1
Komen
Vote Seikhlasnya