Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Menghilang


__ADS_3

Pria muda dengan stelan jas lengkap berwarna Navy itu menatap tajam kearah istri mungilnya. Sementara gadis itu menunduk dalam, namun pandangannya kosong. Ia seperti kehilangan arah. Amarah sang ibu, membuatnya terguncang dan kian berkubang dengan penyesalan yang teramat sangat.


"Apa maksudmu dengan mengakhiri hubungan kita? Apa kau menginginkan hubungan yang sudah kita rajut dengan penuh perjuangan hanya menjadi sebuah kesia-siaan?" Arka berlutut untuk mensejajarkan pandangannya pada sang istri yang tengah terduduk. Menggengam jemari lentik itu erat, seolah tak ingin terpisahkan.


"Proseses yang kita lalui untuk sampai pada tahap ini sangat berat, sayang. Apa kau menginginkan semuanya hancur dalam waktu sekejap? Kita bisa mencari jalan keluar yang terbaik, namun bukan dengan cara mengakhiri semuanya. Ingatlah sayang, kau sedang mengandung buah cinta kita." Arka mengusap perut yang mulai membuncit itu dengan lembut. Bagaimanapun, kehadiran janin dalam kandungan Zara, kian memperkokoh perasaan cinta keduanya.


"Kita memang merasakan semua fasenya, tetapi orang lain hanya bisa memandangnya tanpa memperhatikannya dengan lebih jeli." Zara sadar, status istri kedua yang disandang memang menyisakan lara di dada. Ia dengan rapat menyimpan semua rasa, baik suka atau pun duka pada dirinya sendiri.


Semenjak dirinya hadir, hingga menerima pinangan sang suami meski diawal karna keterpaksaan. Membuat hidupnya serasa dikendalikan, dan tak mampu menjalani hidup dengan pilihannya sendiri. Gunjingan dan cibiran dari beberapa orang, tak lagi ia hiraukan. Meski perasaannya tak karuan.


"Maaf, karna sudah membawamu dalam masalah seperti ini. Tapi ketahuilah sayang, aku akan berusaha untuk bicara baik-baik dengan orang tuamu."


Mendengar ucapan sang suami, Zara tersenyum penuh ironi.


"Mungkin semuanya sudah terlambat. Ibu bahkan enggan mengganggapku sebagai putrinya lagi." Begitu perih, seperti disayat sembilu. Gadis mungil itu menggigit kuat bibirnya untuk bertahan dan tak mengeluarkan buliran bening. Akan tetapi, semua sia-sia. Bahunya terguncang seirama isak tangis.


"Sayang, tenanglah." Arka mulai panik. Dia berusaha keras untuk menenangkan sang istri. Hingga ia tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Siapa pria yang datang bersama ibumu itu? Bukankah dia pria yang sama dengan seseorang yang sudah hampir mencelakaimu pada malam itu. Apa kau mengenalnya?"


Iya, Ka Sandy. Kenapa Ibu bisa datang kekota bersama dengan pria itu.


Zara coba mengaitkan Sandy pada peristiwa yang baru saja terjadi. Apa benar jika semua itu adalah hanya akal bulus dari pria bejat bernama Sandy, mengingat sangat tidak mungkin jika Ibunya yang sama sekali tak pernah pergi jauh meninggalkan rumah, bisa sampai kekota dan langsung menuju ketempat dirinya bekerja.


"Kau pasti mengenalnyakan?" Desak Arka dengan mencengkeram kedua bahu istrinya.


Gadis itu pun mengangguk samar, dan takut-takut mengucapnya.


"Dia orang yang sudah membawa saya hingga sampai kekota."


Arka pun melepaskan cengkeraman di bahu sang istri. Rupanya ini menyangkut kisah masa lalu Zara, mungkin saat masih belum bertemu dengannya.


"Apa dia kekasihmu?"


Mendengar pertanyaan yang suami ajukan, Zara spontan menggeleng.


"Aku dengar jika ibumu pun memuji pria itu."


Zara terdiam, isak lurih sesekali masih terdengar.


Derap sepatu terdengar mendekat. "Tuan, ada masalah penting di kantor pusat dan mengharuskan anda untuk bisa berada di sana," ucap Sam yang muncul dari arah luar toko. Pria itu sejujurnya tak sampai hati mengatakannya pada sang tuan, mengingat akan masalah besar yang baru saja sepasang suami istri itu hadapi. Hanya saja, ini masalah darurat yang menyangkut perusahaan, dan tak bisa begitu saja diabaikan.


Pria berjambang tipis itu menghela nafas dalam, kemudian menatap tajam kearah Sam. Apa kau dan Sekertarisku tak mampu menggantikan aku untuk kali ini?"


Sayangnya Sam mengeleng. Mengartikan jika kehadirannya sangat dinantikan.


"Baiklah, tunggu di luar sebentar."


Sam pun menganggukan kepala. Memutar tumit dan pergi meninggalkan ruangan.


"Sayang, aku harus pergi. Tetap di sini dan tunggu sampai aku kembali," titah Arka pada sang istri sebelum mendaratkan satu kecupan di kening dan memutar tubuh, meninggalkan Zara seorang diri.

__ADS_1


Zara menatap punggung lebar berbalut jas itu kian menjauh dan mulai menghilang.


Bukan hanya Anastasya yang merasakan sakit, Zara justru merasakan sakit yang berlipat ganda. Sebisa mungkin ia menutupi segala rasa. Berusaha kuat dan tegar, meski tubuh ringkihnya serasa tak mampu lagi untuk terus menahan.


Gadis itu kemudian bangkit dan berjalan tertatih menuju kamar mandi. Wajahnya terlihat sembab. Ia lekas mencuci wajah itu agar terlihat lebih segar.


Menatap nanar pantulan wajahnya di cermin, gadis mungil itu kembali beruarai airmata. Kala mengingat sang ibu yang sudah tak lagi menganggapnya sebagai seorang putri.


"Maafkan aku ibu. Semua ini memang salahku." Menyeka buliran bening di sudut kedua netra. Ia kembali menuruni tangga menuju kelantai dasar dengan menjinjing sebuah tas di pundaknya. Menatap ruangan luas yang di penuhi beraneka macam bunga itu, Zara lantas berucap.


"Selamat tinggal. Maaf nona, mungkin aku tidak bisa memenuhi permintaan anda untuk tetap mengurus tempat ini."


Zara mulai melangkah menuju pintu keluar. Ia masih sempat berbalik badan, sebagai salam perpisahan pada tempat yang sudah membuatnya bertemu dengan Arka hingga menjadi salah satu istrinya sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


Pak hendro beserta ketiga rekannya terlihat berbincang di dalam pos penjagaan. Zara pun mendekat.


"Permisi bapak-bapak."


Keempat pria itu pun serempat menggeser padang.


"Mba Zara, ada apa. Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?" tanya Pak Hendro.


Gadis itu hanya tersenyum tipis.


"Saya hanya ingin menitipkan tas ini," jawab Zara seraya mengulurkan tas yang sempat dijinjingnya. "Tolong berikan ini pada Tuan Arka jika beliau kembali," sambing gadis cantik itu lagi.


Hendro menerima benda titipan Zara dengan hati-hati. Meski pria itu dibuat penasaran akan isi dari tas tersebut, namun pria paruh baya itu tak memiliki hak untuk mempertanyakannya.


"Ya sudah bapak-bapak. Saya permisi," pamit Zara kemudian menundukan kepala pada keempat penjaga.


"Loh, mba Zara mau kemana?"


Lagi-lagi Zara tersenyum tipis. "Ada suatu tempat yang ingin saya kunjungi." Selepas berucap, Zara dengan cepat melangkahkan kaki menuju jalan hingga menemukan sebuah taksi kemudian memasukinya.


Hendro masih ternganga, menyaksikan gadis bertubuh mungil itu menjauh kemudian menghilang bersama taksi yang ditumpangi.


Sebenarnya ada hubungan apa antara Tuan Arka dan gadis muda itu. Aku sering melihat keduanya sangat dekat, seperti layaknya pasangan kekasih.


*****


Sesuai dengan ucapan, Arka kembali menuju toko bunga dengan secepat mungkin. Ia keluar dari mobil bahkan sebelum Sam sempat membukanya. Kaki panjangnya begitu mempermudahkannya dalam berjalan, hingga tak berapa lama ia sudah berada di dalam ruangan di mana pria tampan itu sempat meninggalkan sang istri sebelum kembali kekantor.


Akan tetapi, sosok yang ia cari tak terlihat. Arka mengamati sekitar, hingga menapaki anak tangga dan mencari keberadaan sang istri di lantai atas.


"Sayang, kau di mana?"


Tak ada jawaban. Setiap ruangan dengan teliti ia buka. Akan tetapi tak membuahkan hasil. Kebeadaan sang istri masih tak dapat ditemukan.


"Di mana dia?"


Arka mulai cemas, ia kembali menuju lantai dasar dan mencari keberadaan istrinya di sana. Baru saja ia hendak membuka pintu gudang penyimpanan, Sam dan Hendro dari balik punghung menyebut namanya.

__ADS_1


Arka pun berbalik. "Ada apa?"


"Maaf Tuan, Mba Zara sempat menitipkan tas ini pada saya untuk diberikan kepada Tuan." Hendro mengulurkan sebuah tas yang sempat diberikan Zara pada sang tuan.


Arka menerima benda tersebut, dan menatapnya seksama.


Ini tas milik Zara.


"Kemana gadis itu sekarang?"


"Selepas menitipkan ini pada saya, mba Zara pergi dengan mengunakan taksi dan entah pergi kemana."


Arka seketika meradang begitu mendengar ucapan penjaga keamanan itu. Sam yang menyadari akan emosi tuannya yang meluap, lekas meminta pada Hendro untuk meninggalkan mereka berdua. Tangan pria itu mulai bergerak untuk membuka tas milik Zara.


Betapa terkejutnya Arka saat melihat benda-benda berharga yang sempat ia berikan justru berada di dalam tas bewarna merah muda itu. Seperti black card, dompet, bahkan cincin pernikahan terkumpul di dalamnya.


"Apa maksudnya semua ini?" Arka mengusap wajahnya kasar. Selepas mengetahui ini, ia yakin jika Zara berniat untuk pergi tanpa membawa apa pun yang ia beri.


Sebuah vas bunga kaca menjadi tempat pelampiasan Arka. Dilemparkannya benda itu kesegala arah hingga pecah dan berserakan dilantai.


"Zara pasti pergi, Sam," ucap Arka frustrasi. "Dia pasti ingin meninggalkanku."


Arka bearada pada titik terpuruk. Hatinya hancur, manakala seseorang yang ia cintai berusaha untuk pergi dan menjauh. Ia tak mengira jika Zara justru lari dan berusaha menanggung permasalahannya seorang diri.


Sam terdiam. Akan tetapi saat sang Tuan meraih sebuah gucci dan ingin meleparnya, dengan sigap pria itu merebutnya.


"Sadar Tuan. Kita masih bisa mencari keberadaan Nona Zara. Yakinlah, semua pasti akan baik-baik saja." Sam tau benatmr sebesar apa rasa cinta yang dimiliki tiannya untuk sang nona. Hanya saja, dengan mengikuti emosi, justru membuat masalah justru kian runyam.


"Zara pergi dan membawa apa pun. Dia juga sedang mengandung anakku, bagaimana kalau dia sampai kelaparan atau kedinginan." Arka benar-benar kalut. Selama ini Zara memang tak pernah menyimpan banyak uang kesh di dompetnya. Ia selalu mengatakan jika semua kebutuhannya bahkan sudah terpenuhi hingga tak ada alasan untuk menyimpan banyak ung di dompet. Gadis itu hanya akan menggunakan beberapa lembar, sekedar untuk pegangan.


Sam memilih diam. Ketakutan sang tuan, memang beralasan.


"Cari dan temukan istriku. Gunakan cara apa saja untuk bisa menemukannya. Jika perlu, panggil detektif atau apa pun itu untuk bisa mengetahui di mana keberadaan istriku dengan cepat. Aku tidak perduli berapa pun biayanya, dan satu lagi. Cari pria yang datang bersama ibunya Zara. Aku tau, dia pasti dalang di balik semua peristiwa yang terjadi," titah Arka dengan meninggikan nada bicaranya.


"Baik, Tuan." Sam berbalik badan, merogoh ponsel di saku jasnya dan terlihat menghubungi beberapa kontak.


Sementara itu di tempat berbeda.


Rumi masih terisak. Sandy yang berada di belakang kemudi, hanya sesekali meliriknya. Meski bibirnya tergelak lirih penuh kemenangan.


"Nak Sandy, tolong antar ibu ke halte bus. Ibu ingin pulang sekarang saja."


Sandy pura-pura terkejut dengan keinginan spontan perempuan paruh baya yang duduk di sampingnya.


"Apa ini tidak terlalu terburu-buru. Bibi bahkan belum istirahat sama sekali semenjak sampai kekota."


Rumi memang merasakan lelah, lapar, haus dan penat. Akan tetapi selepas mengetahui kebenaran tentang kelakuan sang putri, semua rasa itu menguap seketika menjadi tumpukan kekecewaan.


"Tidak, nak. Ibu bisa beristirahat di dalam Bus."


Merasa tak ada gunanya lagi untuk menahan. Sandy pun membawa Rumi menuju halte dan membiarkan perempuan paruh baya itu kembali kekampung seorang diri, dengan membawa kepedihan.

__ADS_1


__ADS_2