Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Terimakasih


__ADS_3

Apakah Aku bisa?


Apakah aku mampu?


Dua kalimat itulah yang kini bersarang di benak Anastasya. Sembari menatap embun pagi hari di balkon kamar, gadis itu menatap nanar pandangan sekitar, dengan fikiran jauh menerawang.


Surainya bahkan terlihat masih basah sepagi ini. Mengabaikan hawa dingin yang menusuk hingga ketulang. Ia berdiri, menikmati pemandangan pagi dengan langit masih menghitam bekas hujan semalam.


"Apa yang sedang kau fikirkan?" Suara bariton itu menyapa indra pendengaran. Seorang pria muncul dari arah pintu, mendekat kemudian merengkuh pinggang Anastasya dari belakang.


Gadis itu terkesiap, saat wajah kenan menempel kewajahnya.


"Tuan," lirih gadis itu berucap. Sementara tubuhnya serasa menegang.


"Biarkan seperti ini. Bukankah kemarin kau sudah menerima cintaku." Pria itu tersenyum tipis. Menikmati perubahan wajah Anastasya yang sudah memerah seperti udang rebus.


Gadis itu tak menjawab. Rasanya masih tak percaya jika Ken akan memperlakukannya seperti itu. Ken yang ia lihat dulu, ialah seorang pria misterius, susah ditebak dan cenderung dingin. Akan tetapi, kenapa semuanya tampak berubah?


"Anastasya, kapan kita akan menikah?"


Anastasya terbelalak. Secepat itukah?


"T-tapi tuan."


"Hust." Telunjuk itu menempel di bibir Anastasya. Memberi isyarat agar diam. "Mulai sekarang, berhentilah memanggilku tuan. Bukankah kita sepasang kekasih yang akan menjadi suami istri?"


Anastasya dibuat gelagapan. Bukannya tak senang, ia hanya masih belum yakin jika semuanya akan berjalan secepat ini.

__ADS_1


"Lalu, saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?"


"Bagaimana jika Mas saja. 'Mas Ken'. Bukankah Mas itu berharga? Jadi aku ini adalah pria berharga yang tuhan kirimkan untuk menjadi jodohmu." Pria itu bahkan tergelak renyah saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya sendiri.


Anastasya memandang Ken lekat. Menikmati sebuah pemandangan langka, di mana Ken tampak tersenyum bahkan tertawa lepas di hadapannya.


"Mas Ken?"


"Iya, panggil aku dengan sebutan itu."


Masih dalam posisi yang sama, di mana Ken memeluk Anastasya dari belakang sembari menatap pemandangan sekitar.


"Tapi, aku masih bekerja pada Tuan Wisna, dan bahkan aku membolos untuk hari ini tanpa keterangan apa pun." Sejak semalam, gadis itu sendiri tampak kebingungan. Ia bermalam dan tak pulang, lalu bagaimana ia bisa pergi bekerja. Sedangkan Ken seperti dengan sengaja untuk membuatnya tak keluar dari rumah mewah itu.


"Itu gampang. Aku bahkan sudah mengurusnya. Kau sudah tak bekerja lagi di tempat itu, namun akan melayani diriku dan semua kebutuhanku setelah kita menikah nanti."


"Semudah itukah? Apakah Tuan Wisnu tak mempermasalahkannya, atau justru meminta ganti rugi atas kontrak kerja yang sudah kami sepakati?" Wajah gadis itu kini berubah pucat pasi. Anastasya memang sudah cukup lama bekerja di tempat tersebut, tetapi juga ia sempat menandatangani kontrak di mana ia akan menganti rugi, jika ia memilih keluar secara sepihak tanpa adanya pemecatan.


Ken tersenyum tipis, kemudian mengusap kedua pipi Anastasya yang terasa dingin.


"Bukankah sudah kukatakan, jika aku sudah mengurus semuanya. Kau tak perlu khawatirkan hal itu. Yang terpenting sekarang, kapan kau akan membawaku untuk menemui keluargamu?"


Masih dilanda kebingungan, Anastasya coba menetralisir fikirannya.


"Bibi dan paman ada di kampung. Apa Mas Ken yakin untuk mengunjungi mereka?" Terdengar cukup ragu bagi Anastasya. Ken mana mungkin berkeinginan untuk menemui keluarganya yang berada jauh di perkampungan.


"Kenapa tidak," jawab pria tampan itu enteng.

__ADS_1


"Perkampungan keluargaku cukup jauh dengan akses jalan yang kurang memadai. Apa Mas Ken benar-benar tak keberatan?"


Ken justru menyipitkan netra. Dan menatap Anastasya curiga.


"Kenapa kau justru terkesan mencegahku?"


Anastasya gelagapan. Bukan seperti itu maksudnya, dan sayangnya Ken justru tampak curiga kepadanya.


"Tidak mas, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja, bagaimana jika paman dan bibi saja yang datang kemari. Jadi Mas Ken tak perlu repot-repot datang kekampung."


Tetapi bukannya senang, Ken terlihat sangat keberatan.


"Itu bahkan terlihat sangat tidak sopan. Aku yang berniat untuk meminta dan meminangmu, tetapi justru keluargamu yang bersusah payah mendatangi kita di tempat ini. Aku tidak setuju dengan pendapatmu."


Anastasya tertegun. Apakah ucapan Ken bisa dibuktikan kebenarannya? Jujur, selama ini ia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Saat ia berhubungan dengan Rangga, keluarganya bahkan tak tau apa-apa. Dan saat Arka menikahinya, Anastasya hanya bisa mengabarinya dari sambungan seluler mengingat pernikahan tersebut digelar mendadak. Jadi hal semacam inilah yang menjadi momen perdana, di mana nama keluarganya disebut untuk ikut andil dalam rencana pernikahannya.


"Benarkah?" Bibir tipis gadis itu bergetar, menyiratkan ketidak percayaan.


"Apakah kau masih meragukan kesungguhanku?" Kata-kata telak yang membuat gadis itu membeku.


Tak menjawab. Setelah terpaku beberapa detik, Anastasya berhambur memeluk tubuh tegap Ken diiringi dengan isakan lirih.


Pria itu menghela nafas dalam. Mencium surai panjang sang gadis, dan mengusap punggungnya yang terguncang dengan lembut. Ia berjanji untuk membuat gadis itu nyaman di rumahnya sendiri sebagai penyesuaian, setelah mereka menikah dan akan menempati rumah itu untuk selamanya.


"Terimakasih," ucap Anastasya disela isak tangis.


Tak menjawab, Ken justru merengkuh tubuh Anastasya lebih erat, sebagai jawaban.

__ADS_1


__ADS_2