
Berjalan saling menggengam, Arka membawa Zara kembali kerumah orang tuanya. Rasa haru dan bahagia tergambar jelas saat orang tua dan anak itu dipertemukan. Rumi dan Jamil tak hentinya memeluk sang putri dan mengucapkan kata maaf, begitu pun sebaliknya.
Menarik sang istri untuk duduk di tengah kerumunan, Arka menggengam tangan sang istri dang mulai mengucapkan kalimat,
"Sayang, di hadapan orang tua dan orang-orang terdekat kita, aku akan kembali menyematkan cincin pernikahan yang sempat kau lepas beberapa waktu lalu. Aku harap, setelah ini kau tidak akan pernah meragukan perasaanku lagi kepadamu."
Gadis mungil itu terdiam sejenak, masih ragu untuk menjawab sementara pandangannya tertuju pada kedua orang tuanya.
Seolah faham jika sang putri tengah meminta persetujuannya, Rumi dan Jamil pun mengulas senyum simpul kemudian berucap, " Terimalah, Nak. Suamimu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Kami sudah merestui pernikahan kalian," ucap Rumi yang senantiasa menggengam tangan sang suami.
Gadis mungil itu pun tersenyum haru.
"Dan kau pun tidak perlu memikirkan tentang perasaanku," lanjut Anastasya. "Kami berdua sudah resmi bercerai dan--"
"Dan tak lama lagi kami akan menikah," sela Rangga yang duduk di antara para pengawal.
Anastasya yang mendengar ucapan Rangga, hanya bisa tersenyum masam. Sementara Rangga sendiri tersenyum penuh kemenangan sebab Anastasya memilih diam dari pada berdebat dengannya.
Seakan tak ada lagi yang perlu diragukan, Zara pun menganggukkan kepala di hadapa suaminya sebagai persetujuan.
Rona bahagia tercetak jelas di wajah pria berkemeja gelap itu. Ia pun lantas menarik sebuah kotak mungil dari saku celananya, kemudian membuka tutup benda berwarna merah tersebut.
Sebuah cincin pernikahan bertahtakan berlian kini ia sematkan kembali ke jari manis sang istri, dan mencium punggung tangan itu dengan lembutnya.
Tepuk tangan riuh dan ucapan syukur terdengar dari puluhan orang yang menyaksikan termasuk Anastasya dan kedua orang tua Zara. Arka dan Zara tak pernah merasakan selega hari ini. Betapa hubungan rumit pernikahannya, kini mulai terurai satu demi satu hingga kata penghalang itu nyaris tak terlihat lagi.
*******
"Aku sudah berjuang untuk mendapatkan seorang gadis yang kucintai, dan sekarang saatnya giliranmu. Kejar dia dan dapatkan kembali cintanya," pesan Arka pada sang sahabat yang sudah hendak beranjak meninggalkan kampung dan kembali kekota.
Rangga menghela nafas dalam, "Baiklah, aku akan tetap berjuang hingga titik darah penghabisan," balas Rangga dengan segala kekonyolannya.
Keduanya saling mendekap dan memberi semangat satu sama lain. Hingga beberapa orang memilih untuk kembali lebih cepat menuju kekota, meninggalkan Arka dan Zara untuk menikmati liburan di kampung beberapa hari kedepan.
Anastasya, Rangga, Surti, Sam dan beberapa pengawal pulang dijadwalkan pulang lebih awal. Sam pun memiliki tanggung jawab besar di perusahaan untuk bisa menggantikan sang tuan untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Urus pria brengsek itu dan masukkan dia kedalam tahanan. Laporkan segala tindak kriminal yang sudah dilakukan dan biarkan dia menikmati masa mudanya di balik jeruji besi." Arka memang menginginkan hukuman yang setimpal bagi pria bejat seperti Sandy hingga membuatnya jera dan tak akan sempat berfikir untuk mengulangi berbuatan semacam itu kembali.
"Baik, Tuan. Saya sudah mempersiapkan beberapa pengawal terbaik untuk menjaga Tuan dan nona selama di tempat ini. Apakah ada sesuatu yang anda perlukan sebelum saya kembali kekota?"
"Ada," jawab Arka. "Aku ingin merenofasi rumah mertuaku supaya lebih besar dan nyaman."
"Baik tuan. Akan saya laksakan." Sam pun menundukan kepala, memutar tumit dan berlalu pergi.
*******
Rumi dan Jamil menatap ruang tamu mereka yang kini lebih mirip dengan gudang penyimpanan. Berbagai macam bahan makanan tersusun begitu banyaknya. Juga pakaian dan masih banyak benda lainnya yang Rumi dan Jamil perlukan.
Di sisi lain para pengawal yang berjaga memilih untuk membuat tenda dan menyalakan api unggun. Rumah mungil yang tadinya sangat sunyi dan hanya berisikan sepasang suami istri paruh baya itu kini ramai seketika. Kebahagian jelas terpancar dari wajah kedua orang tua Zara.
Satu koki dan dua pelayan yang tertinggal tengah mempersiapkan sajian untuk santap malam. Memanggang begitu banyak daging untuk steak layaknya pesta.
Menggelar tikar di alam terbuka sembari mentap kerlip bintang nan berkilauan. Mereka menyantap hidangan makan malam dengan sejuta kebahagiaan di atas tanah yang sama.
Tak ada jarak antara sang tuan dan pelayan. Semua saling berbaur untuk menyirnakan rasa lapar. Seperti pasangan pengantin baru, Arka dan Zara saling menyuapi satu sama lain. Tak ada kesedihan atau jejak keraguan, yang ada hayalah rona kebahagian.
"Aku berjanji," balas Zara tanpa ragu.
Disaksikan ribuan bintang malam. Arka mencium lembut kening sang istri untuk beberapa lama. Kemudian menggesekkan ujung hidungnya pada puncak hidung mbangir istrinya.
"Aku mencatat ucapanmu di hatiku, jika kau menghianatinya, maka aku pun tak segan untuk menghukummu," anman Arka dengan serigai tipis di bibirnya.
Gadis mungil itu pun tergelak lirih, seolah mengakui perbuatan nakalnya yang sudah nekat pergi meninggalkan rumah.
********
Malam mulai larut, Arka dan Zara kembali memasuki rumah setelah berpesta api unggun untuk beristirahat. Arka menatap nanar ranjang yang diyakini sebagai tempat tidur Zara sebelum menikah dengannya. Ruangan itu berukuran mungil dan ukuran ranjang pun tak seluas kamar pribadinya di kota. Kamar itu cukup bersih dan rapi. Dengan semua benda yang sebagian besar berwarna merah muda.
"Sayang, apa kau yakin kita akan tidur di ranjang ini?" gumam Arka dengan menatap kearah sang istri yang sudah menganti pakaiannya dengan piyama bermotif Banana.
"Tentu, sayang. Tidak mungkin ada hotel di perkampungan seperti ini," jawab sang istri santai saat sudah mengetahui jalan fikiran sang suami.
__ADS_1
"Kau yakin ranjang ini akan baik-baik saja jika kita berdua menempatinya?"
Zara menatap bingung kearah ranjang yang terlihat masih baik-baik saja.
Kenapa? Apanya yang tidak baik-baik saja. Ranjang ini bahkan terlihat masih bagus.
Akan tetapi, di sisi lain pria tampan itu menyeringai dengan tatapan mengoda. Melangkah untuk mendekati ranjang dan tanpa ragu melepaskan pakaian bagian atasnya hingga nampak lekuk otot yang menghiasa tubuh tegapnya.
Zara hanya menelan ludahnya susah payah, saat mampu menebak keinginan suaminya itu.
Penuh wibawa Arka merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kemarilah, sayang. Aku sudah rindu untuk memelukmu," ucap Arka setengah parau.
Zara pun mulai mendekat, melangkahkan kakinya dengan perlahan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Arka. Ukuran ranjang yang tak terlalu luas membuat keduanya saling merapat. Zara bahkan merasakan nyaman, saat kembali merasakan lengan sang suami sebagai bantal.
"Sayang, apa kau mencintaiku?" Arka mengusap lembut wajah sang istri dan memainkan hidung mungil nan mancung itu.
"Tentu, saya mencintai anda."
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan seformal itu. Aku terlihat seperti majikanmu jika kau memangilku dengan sebutan itu." Arka menunjukka rasa tidak sukanya saat lagi-lagi Zara memangilnya dengan sebutan demikian.
"Lalu seperti apa?"
"Aku dan kamu," ucap Arka sembari menunjuk kearah dirinya sendiri, lalu kearah sang istri.
"Bukankah itu terdengar tidak sopan?"
Arka berfikir sejenak kemudian menggeleng.
"Tidak, karna aku dan kamu adalah kita. Kita adalah satu kesatuan dan saling melengkapi. Jika ada kamu, maka ada aku. Kita akan selalu bersama, untuk selama-lamanya." Mulai bergerak nakal, Arka mulai mengangkat tubuh hingga Zara ada di bawah kungkungannya.
"Maka dari itu, aku ingin merasakan lagi bagimana aku dan kamu menyatu seperti dulu lagi."
Tanpa aba-aba Arka mulai membuka kancing piyama istrinya satu persatu dan membubuhinya dengan sebuah ciuman lembut.
__ADS_1
Zara merasakan sensasi rasa yang beberapa hari ini mulai ia rindukan. Setuhan dan belaian pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu bagaikan candu. Serasa nyaman, melindungi, tak menyakiti, nsmun juga menciptakan rasa nikmat luar biasa.