
Diriku memang tak pantas untukmu, Zara.
Namun setidaknya aku pernah berjuang untuk mendapatkan hatimu, meskipun caraku salah.
Aku pun turut senang dengan kebahagian yang kini kau dapatkan. Semoga kau selalu berbahagia.
Meninggalkan kampung kelahirannya dengan penuh kedukaan, Sandy bahkan tak meminta untuk bisa bertemu kedua orang tuanya sebelum menjalani hukuman. Tak ada lagi gelak tawa, yang ada hanyalah rasa duka dan keterdiaman.
Memasuki rumah utama, Sandy langsung di tempatkan di sebuah ruang kosong berada di area gudang belakang rumah. Beberapa pengawal memintanya untuk duduk di sebuah kursi, namun tidak mengikat tubuhnya dengan tali.
Sam muncul dari arah pintu yang terbuka. Pria dengan stelan jas lengkap itu menarik satu buah kursi dan duduk di hadapan Sandy.
"Bagaimana, apa kau sudah siap untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahanmu di pengadilan?" tanya Sam dengan menatap kedua netra Sandy tajam.
Sandy menarik nafas panjang, wajahnya pun terlihat pucat.
"Bisakah aku mengajukan satu permintaan?"
Sam tergelak pelan. "Permintaan? Kau ingin meminta apa?"
"Aku ingin bertemu dengan seseorang, sebelum menjalani hukuman," ucap Sandy setengah memohon.
"Bertemu siapa? Orang tuamu, atau bahkan kekasihmu? Tetapi rasanya tidak mungkin, mengingat ada begitu banyak gadis yang kau klaim sebagai kekasih," cibir Sam dengan senyum tipis di bibir.
"Aku mohon, untuk kali ini kabulkanlah permintaanku. Aku hanya ingin meminta maaf kepadanya." Sandy bahkan menyentuh tangan Sam agar pria itu sudi untuk mengikuti kehendaknya.
"Baiklah." Sam dengan seksama mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Sandy. Kemudian mengangguk samar, sebagai jawaban jika permintaanya itu akan segera terkabul.
*****
"Kita akan kemana, Tuan?" Gadis manis berkulit kuning langsat itu menatap sekitar dengan penuh tanda tanya. Terlebih kini seseorang yang ia sebut sebagai tuan itu tengah membawanya kesuatu tempat.
__ADS_1
"Jangan banyak bicara dan nikmati saja perjalaananmu, maka kau akan mengetahui jawabannya," jawab si pria di belakang kemudi tanpa menoleh kearah sang gadis yang duduk di kursi penumpang.
Kenapa tuan itu marah, aku kan hanya bertanya. Apa salah jika aku bertanya di mana dia akan membawaku.
Kiara memanyunkan bibir sementara fikirnya sibuk menerka di mana Sam akan membawanya. Ia hanya beberapa kali melihat asisten dari suami nonanya itu, akan tetapi tak pernah berada dalam kendaraan yang sama seperti saat ini.
Memakan waktu perjalanan cukup lama, mobil yang mereka tumpangi tampak memasuki gerbang utama kediaman Arkana Surya Atmadja. Gadis berkemeja coklat itu menatap kagum bangun luar biasa megah berlantai tiga tersebut. Saat mesin mobil terhenti pun, gadis itu masih terpaku dengan mulut sedikit terbuka akibat rasa tak percayanya.
"Tuan, ini rumah siapa," tanya gadis itu pada pria yang ada bersamanya.
"Turunlah, aku tidak punya banyak waktu untuk bisa menjawab pertanyaanmu." Membuka pintu dan menutupnya kembali dengan cukup kuat, Sam mulai berjalan disusul Kiara yang setengah berlari mengikutinya.
Ya tuhan. Sebenarnya di mana aku saat ini. Ini terlihat bukan seperti rumah, melainkan seperti istana. Tetapi, istana milik siapa ini. Tuan ini tidak membawaku untuk dijadikan budakkan?
Kiara mengelengkan kepalanya beberapa kali, sembari mengikuti langkah pria di depannya. Ia benar-benar tak mengerti akan keberadaannya saat ini. Sampai Sam membawanya kearah gudang di belakang bangunan mewah itu.
"Masuklah," titah Sam pada Kiara.
Begitu mendengar langkah kaki mulai mendekat, pria berkemeja putih itu spontan mendongak dan mendapati Kiara sudah ada di hadapannya.
"Kiara? Kiara, aku senang kau datang." Tanpa aba-aba, Sandy pun mendekat dan berusaha memeluk Kiara. Akan tetapi dengan tegas gadis itu menolaknya.
"Maaf, jangan menyentuhku," cegah Kiara dengan mendorong tubuh Sandy.
"Kenapa? Kau kekasihku?"
"Apa, kekasih?" Kiara tergelak lirih. "Dulu aku terlalu bodoh hingga bisa percaya pada ucapanmu begitu saja. Melakukan keinginanmu ini dan itu, bahkan membayar semua pengeluaran saat kita berkecan. Tetapi sekarang mataku sudah terbuka lebar dan bisa melihat semua tingkah busukmu di belakangku. Aku sadar, jika selama ini kau hanya memanfaatkanku untuk kepentingan dirimu sendiri." Gadis manis itu berusaha meluapkan emosi yang selama ini terkubur di dalam hatinya sendiri. Jengah, geram dan sakit hati saat dirinya mengetahui kebenaran jika bukan hanya dirinya yang memiliki predikat sebagai kekasih Sandy, akan tetapi masih banyak gadis lain di belakangnya yang mengakui pria tersebut adalah kekasih mereka.
"Kiara sayang, bukan maksudku untuk menyakitimu, hanya saja merekalah yang terus mengejarku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima cinta mereka," kilah Sandy secepat kilat.
"Bohong!" seru Kiara tak terima. "Aku sungguh tidak percaya lagi dengan semua pembelaanmu. Aku mohon, mulai hari ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
__ADS_1
"Kiara. Aku mohon maafkan aku. Aku tau aku bersalah padamu." Sandy mulai terisak saat Kiara tak lagi menganggapnya sebagai kekasih. Dari sekian banyak gadis yang ia pacari, hanya Kiaralah yang memiliki pribadi paling lembut dan welas asih. Hingga Sandy pernah berfikir untuk membawa hubungannya dengan Kiara menuju jenjang yang lebih serius. Akan tetapi, lagi-lagi ia tergoda dengan gemerlapnya nafsu duniawi, yang kian membuatnya terjerumus pada lembah hitam yang menyesatkan.
"Aku sudah memafkan semua kesalahanmu, dan aku pun tidak akan menyesali hubungan yang pernah kita jalani. Meski kau seorang bajingan, tetapi aku juga menganggapmu sebagai seorang teman yang pernah mengisi kekosongan hatiku." Tak kuasa menahan, gadis itu pun berbalik badan dan menuju pintu keluar untuk menangis.
"Kiara! Tunggu aku." Sandy berusaha mengejar, namun kedua pengawal yang berdiri di samping pintu dengan sigap mencegahnya. "Kiara, maafkan aku," sambung pria itu lagi.
Mendorong tubuh Sandy untuk berada di tempatnya semula, kedua pengawal itu kembali menutup pintu dan tak memperdulikan teriakan Sandy yang terus meminta untuk keluar.
Sementara itu, Kiara menangis di sebuah kursi yang berada di bawah pohon rindang. Ia tak menyesali yang sudah terjadi, namun ia menangisi kenapa harus merasakan sakit hati seperti ini. Berusaha menyeka bulir bening di kedua pipinya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyodorkan minuman tepat di hadapannya.
"Minumlah," ucap seseorang itu kemudian mendudukkan tubuhnya sebelah kiri Kiara.
Gadis itu meraih botol berisi air mineral itu kemudian membuka tutup dan meneguknya. Selepas itu ia menutu kembali botol tersebut dan menggengamnya erat.
"Apa kau salah satu kekasih dari pria brengsek itu?" tanya Sam pada Kiara.
Gadis itu hanya diam, dan enggan untuk menjawab.
"Sayang sekali. Bahkan gadis polos seperti dirimu ikut masuk dalam permainan cinta pria tak bermoral seperti dia." Sam terus berbicara, mengacuhkan raut wajah tak bersahabat dari gadis di sampingnya.
"Aku ingin pulang."
"Apa?"
"Aku ingin pulang, tuan. Apa anda masih tidak bisa mendengarnya?" Kiara ogah terus menerus mendengar ocehan Sam yang dinilai selalu menyudutkannya.
"Kau ingin pulang? Pulang saja. Kenapa mengatakannya padaku?"
Mendengar jawaban dari pria tampan di depannya seketika membuat Kiara geram. "Tuan, bukankah anda sendiri yang sudah membawa saya ketempat ini, apa mungkin jika Tuan akan membiarkan saya pulang sendiri dengan berjalan kaki mengingat saya sama sekali tak mempunyai uang untuk membayar ongkos taksi," ancam Kiara dengan berkacak pinggang.
Astaga, rupanya gadis ini tak sepolos yang kufikirkan.
__ADS_1
"Baikklah, akan aku antar." Enggan berdebat, Sam pun memilih untuk bangkit dan hendak mengantar gadis itu pulang sebelum tercipta keribuatan yang akan membuatnya pusing kepala.