
Selepas membersihkan tubuh, Anastasya keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk piyama. Tubuh dan surainya masih setengah basah, tetapi tak ingin jika Kenan menunggunya terlalu lama, ia pun bergegas membuka lemari pakaian. Berharap ada baju yang patut untuk bisa ia gunakan.
Gadis itu terpaku sejenak. Menatap isi lemari pakaian tersebut. Ada beberapa gaun dan juga piyama.
"Sebaiknya aku pakai yang ini saja." Anastasya meraih piyama berlengan panjang dengan motif bunga yang terasa nyaman saat menyentuh permukaan kulitnya. Ia pun lantas memakainnya.
Begitu menatap penampilannya di depan cermin, gadis itu menautkan kedua alisnya hingga nampak beberapa lapisan.
Kenapa pakaiannya terasa pas di tubuhku? Tetapi sepertinya pakaian ini sudah pernah di gunakan sebelumnya, dan bukan baru.
"Hah, sudahlah. Lagi pula kenapa aku memikirkannya. Lebih baik aku segera turun untuk menemui Tuan Kenan secepatnya."
Selepas menyisir surai hitam panjangnya, Anastasya bergegas turun dan menemui Ken yang masih menunggunya di sofa ruang tamu.
"Maaf tuan, sudah menunggu lama."
Ken mengangkat dagunya, menatap Anastasya yang sudah terlihat segar dengan piyama hangat berwarna putih yang membalut tubuhnya.
Kenan terpaku sejenak, kemudian dengan cepat ia mengalihkan pandangan.
"Tidak masalah. Ayo, ikut denganku. Kita akan makan malam." Selepas berucap Ken pun memutar tumit dan berjalan lebih dulu menuju meja makan. Sementara Anastasya mengekori langkah pria itu di belakang.
Sumi berdiri di sudut ruangan. Di meja makan pun sudah tersaji beberapa hidangan yang tampak menggugah selera.
Ken menarik satu buah kursi untuk Anastasya. Hanya dengan isyarat tangan gadis itu rupanya mulai paham, dan segera duduk di kursi tersebut. Ken pun tersenyum tipis sebelum mendaratkan tubuhnya di kursi lainnya.
Sumi mendekat, kalau-kalau sang tuan memerlukan bantuannya.
"Ayo makanlah," titah Ken saat menyadari jika gadis yang tengah bersamanya itu masih tak juga bergerak.
Anastasya hanya mengangguk sebagai jawaban. Sejujurnya ia sendiri ragu untuk menyantap makanan atau pun meneguk minuman yang tersaji di meja makan.
"Bi, bisakah kau ambilkan makanan untuk Anastasya?"
"Tentu tuan." Sumi tanpa sungkah hendak meraih centong nasi, namun dengan cepat gadis itu mencegahnya.
"Tidak usah bi, terimakasih. Saya bisa melakukannya sendiri," tolak Anastasya lembut.
Sumi pun mengurungkan niat, kemudian mundur beberapa langkah menjauhi meja makan.
Anastasya sendiri mulai mengisi piringnya dengan makanan. Ia sempat melirok sekilas kearah Ken yang sudah mulai menyantap makan malamnya.
Ya tuhan. Benarkah aku harus makan makanan ini? Lalu bagaimana jika Tuan Ken dengan sengaja membubuhkan obat tidur atau pun obat perangsang di makanan atau minuman ini seperti yang sering aku lihat di drama TV?
Anastasya menelan salivanya susah payah. Dengan hanya membayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri, lalu seperti apa jika bayangannya itu benar-benar terjadi?
__ADS_1
"Kenapa justru melamun? Tidak baik jika termenung di hadapan makanan. Maka dari itu, cepat habiskan makananmu." Ken berucap tegas, yang mana membuat Anastasya mengkerut dengan wajah yang mulai pias.
"Kenapa? Apa kau curiga jika aku mencampurkan obat atau apa pun itu kedalam makananmu?"
Anastasya mengeleng, namun dari lubuk hati terdalam, gadis itu mengiyakan ucapan Ken.
"Bi Sumi, kemarilah," panggil Ken pada Sumi.
Perempuan paruh baya itu tergopoh mendekat. Sementara raut wajahnya menyiratkan kecemasan.
"I-iya tuan."
"Bukankah bibi yang sudah mempersiapkan semua makanan ini?"
"Be-benar, tuan," jawab Sumi takut-takut.
"Sekarang katakan. Apakah bibi mencampurkan racun, bius atau apa pun itu kedalam makanan Anastasya?"
Mendengar ucapan tersebut, Anastasya spontan gelagapan. Terlebih Sumi yang terkejut luar biasa dengan diiringi gelengan kepala sebagai pertanda jika ia tak melakukan hal yang dituduhkan oleh sang tuan.
"Demi tuhan saya tidak memasukkan Zat-Zat berbahaya yang tuan sebutkan tadi. Saya berani bersumpah dan rela dipecat tanpa hormat jika saya terbukti melakukannya." Sepasang netra perempuan senja itu mulai berkaca-kaca, dengan bibir keriputnya yang mulai bergetar saat berbicara.
Suasana berubah tegang. Anastasya dibuat tak nyaman. Kenapa Ken seperti bisa membaca isi fikirannya, hingga menimbulkan masalah yang serunyam ini.
"Tuan, maaf. Bukan maksud saya seperti itu. Hanya saja..." ragu Anastasya menyambung kalimatnya.
"Maaf," jawab gadis itu lirih.
"Ayo makanlah. Sebelum makanannya menjadi dingin."
Keduanya pun makan dengan diam. Hanya terdengar denting piring dan sendok yang bertubrukan.
*****
"Bi Sumi akan menemanimu mengobrol, agar kau tak kesepian."
Sumi bergerak sigap. Perempuan paruh baya itu bahkan sudah berdiri tepat di samping Anastasya.
"Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Ken melempar senyum hangat kearah Anastasya sebelum beranjak meninggalkan kedua perempuan itu untuk menuju ruang kerjanya.
Anastaaya menghela nafas dalam. Masih menatap punggung lebar seorang pria yang mulai menjauhinya.
Sebenarnya apa maksud Tuan Ken menahanku di rumahnya seperti ini. Aku ingin pulang. Aku rindu rumahku meskipun kecil.
*******
__ADS_1
Sumi menatap Anastasya yang duduk sembari menikmati acara lawak di sebuah stasiun tv. Tanggan gadis itu bahkan bergerak untuk memijat kakinya sendiri.
"Nona, nona ingin bibi pijat?" tawar Sumi.
Anastasya tersenyum tipis, lantas menghentikan aktifitas tangannya.
"Tidak usah bi. Bibi pasti juga sangat lelah setelah seharian bekerja." Anastasya menatap lembut perempuan paruh baya yang kini duduk di sebuah kursi mungil itu. Wajahnya memang sudah mulai senja, tetapi tubuhnya masih terlihat cukup bugar.
"Tidak apa Nona. Dulu saya juga sering melakukannya." Tanpa sungkan, Bi Sumi mulai mendekat dan bersimpuh untuk menyentuh kaki Anastasya.
"Bi Sumi jangan!" pekik Anastasya yang spontan menarik kakinya dari jangkauan Sumi.
"Kenapa nona, bukankah anda lelah?"
"Tapi ini tidak sopan bi. Lagi pula saya bukan siapa-siapa di rumah ini."
Sumi tersenyum sekilas, perempuan paruh baya itu kembali meraih Kaki Anastasya.
"Tidak sopan bagaimana nona, ini memang sudah menjadi pekerjaan saya. Lagi pula tidak mungkin jika tuan membawa pulang seseorang jika tidak dianggapnya berarti."
Anastasya terdiam, tak berniat untuk menjawab. Gadis itu justru terlihat menikmati sentuhan tangan yang diberikan Sumi.
"Bagaimana jika keranjang saja nona. Anda juga bisa sekalian beristirahat."
Anastasya tak menolak, ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang nan nyaman itu. Lebih terasa nyaman lagi saat Sumi mulai beraksi. Pijatan yang nyaman dan tak menyakitkan membuat Anastasya seperti berada di dalam surga. Sudah cukup lama ia tak mendapatkan pelayanan semacam ini.
Disela pijatan, Sumi dan Anastasya saling berbagi cerita. Keduanya menjadi cukup dekat dan merasa nyaman satu sama lain. Hingga tanpa terasa, Anastasya yang merasa kelelahan itu terlelap merasakan nyamannya sensasi pijatan.
Sumi yang menyadari hal itu pun menghentikan aktifitasnya dan menyelimuti tubuh Anastasya hingga sampai keleher.
Sumi menutup pintu kamar tamu. Bersaaman dengan itu, Ken muncul dari arah belakang.
"Bi, di mana Anastasya?"
"Nona Anastasya sudah tertidur tuan." Sumi menjawab dengan binar di wajahnya.
"Ya sudah. Bi Sumi beristirahatlah."
Sumi mengangguk, dan meninggalkan sang tuan yang masih berdiri di depan pintu kamar tamu.
Ken mengarahkan pandangan pada pintu bermarna emas itu, kemudian menarik gagang pintu itu pelan.
Di atas ranjang besar tampak tubuh Anastasya yang terbaring ditutupi selimut hingga keleher. Meski dari jarak cukup jauh, wajah cantik Anastasya jelas terlihat.
Ken tersenyum simpul, kemudian menghela nafas dalam. Entah mengapa, seperti ada yang bergetar di dalam dirinya. Tak ingin berlama memandang hingga tercipta salah paham kalau sampai gadis itu terbangun. Ken pun lekas menutup pintu itu kembali dengan sangat pelan. Sebelum ia melangkah untuk menuju kamar miliknya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...