
Jika hati sudah merasa nyaman, maka sulit bagi seseorang untuk rela melepaskan, walau barang sedetik pun. Begitu pula yang tengah dirasakan Arka kini. Seusai liburan kilat bersama istri, keduanya kembali pada habitat masing-masing. Dirinya kembali berkutat dengan tumpukan berkas dan segala kesibukan di gedung pusat Atmadja Group yang berada dalam kendalinya.
Sementara Zara, sesuai dengan syarat yang diminta, gadis itu pun mulai bekerja dan akan tinggal di toko bunga untuk batas waktu yang belum dipastikan.
Arka tetap mengengam tangan sang istri tanpa ingin melapasnya di dalam mobil yang tengah membawa mereka menuju tempat tujuan. Dalam menjalankan tugas, Sam yang berada di kursi kemudi terlihat tak banyak bicara dan hanya fokus menatap kedepan.
"Jika kau tinggal di toko, lalu bagaimana denganku?" Arka berusaha mengiba pada sang istri, berharap mampu mengoyahkan keputusan sang istri dan kemudian mengurungkannya.
"Tuan bisa sesekali berkunjung ketoko jika menginginkannya." Gadis itu berpikir sejenak dan menghela nafas dalam. "Saya akan tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk Tuan. Jika semua pekerjaan sudah terselesaikan, saya pun akan pulang kerumah Tuan." sambung gadis itu lagi.
"Baiklah, aku hargai keputusanmu." Ada gurat kekecewaan dari nada bicara pria yang terlihat rapi dengan stelan jas berwarna abu-abu itu. Jujur, itu membuatnya sangat tersiksa.
Bukan maksudku ingin menjauh dari anda Tuan.
"Maaf Tuan. Saya tau mungkin ini keputusan yang berat, namun dari toko bunga milik Nonalah semua impian dan cita-cita masa depan saya terangkai. Nona pulalah orang pertama yang sudah mengangkat derajat saya dari seorang gadis gelandangan tanpa uang seperpun menjadi gadis yang bisa masuk dalam kehidupan pria hebat seperti anda, Tuan. Saya pun tak bisa dengan sebegitu mudahnya mengabaikan kebaikan Nona Anastasya, yang sudah memiliki peran penting dalam hidup saya."
Keduanya sejenak terdiam, bahkan Sam di kursi kemudi tak menunjukan ekspresi apa pun.
"Aku mengerti. Maafkan aku." Arka menarik lembut tubuh sang istri dan mendekapnya erat. Menghujani puncak kepalanya dengan kecupan bertubi-tubi. Seolah ingin menunjukan betapa besarnya rasa saya yang tersimpan hanya untuk gadis mungil itu seorang.
*******
Kuda besi terhenti di area parkir toko bunga Anastasya. Perjalan yang memakan waktu cukup lama, membuat gadis itu pun terlamat dan datang dalam keadan toko yang sudah ramai pembeli.
"Tuan, seharusnya kita turun di depan sana saja," ucap Zara seraya menunjuk pinggiran jalan.
__ADS_1
Pria itu pun menautkan kedua alisnya kemudian bertanya, "Kenapa?"
Akan berbahaya jika karyawan lain tau jika saya berada dalam satu mobil yang sama dengan anda Tuan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja, saya merasa tidak nyaman jika seperti ini."
Zara lamtas meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya. Arka pun tanpa ragu mencium kening sang istri lembut.
"Saya permisi, Tuan."
Pria itu pun mengangguk. "Jaga dirimu baik-baik. Aku akan kemari jika pekerjaanku sudah selesai."
Zara tersenyum simpul dan membuka pintu mobil. Menutup kembali pintu dengan hati-hati, gadis cantik dengan surai sepinggang itu menatap kearah sekeliling. Setelah dirasa aman, sebab dari sekian banyak pengunjung dan pekerja tak menatap kearahnya. Akan tetapi gadis itu pun dibuat terkejut setengah mati kala Arka memilih menuruni mobil dan melambaikan satu tangan kearahnya.
Ingin rasanya Zara mengumpat kesal pada pria yang tak pandai membaca situasi dan kondisi. Bukannya terkesan romantis, adegan tersebut justru menjadi mala petaka jika salah seorang penjaga atau pun pengawal menyaksikannya.
Zara hanya sekejap melambaikan tangan sebelum secepat kilat menghilang di balik pintu masuk toko.
Nafas yang tak beraturan serta peluh yang mulai membajir di sekujur tubuhnya, bukanlah karna rasa lelah. Melainkan rasa cemas dan ketakutan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Zara mendaratkan tubuhnya disebuah kursi pelanggan yang terletak di sudut ruangan. Menatap pekerja dan pelanggan berlalu lalang, gadis itu pun tengah berusaha menetralkan detak jantung dan deru nafas yang tak beraturan.
"Kau haus?"
Seseorang yang muncul tiba-tiba dengan sebotol air mineral di tangan, mengejutkan gadis yang tengah duduk menyendiri itu.
"Kiara," ucap Zara kala netranya bertemu dengan netra bening milik sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya, ini aku, Kiara. Apa kau sudah melupakan sahabatmu yang menggemaskan ini," goda Kiara sembara mengedipkan netranya, genit.
"Bu-bukan begitu," jawab Zara terbata kemudian mulai membuka botol air minumnya dan menengaknya dalam tiga kali tegukan.
"Tega sekali kau ya, pulang kampung tanpa memberitahukannya kepadaku. Padahalkan aku ingin meminta oleh-oleh banyak darimu." Kiara terkikik selepas mengucapnya.
Sementara Zara, tak mengerti akan maksud ucapan sahabatnya.
"Aku sempat mencarimu saat kau tiba-tiba menghilang , tapi Nona bilang jika kau sedang pulang kampung dan menjeguk ayahmu yang tengah sakit," papar Kiara dan menjelaskannya secara rinci.
Ternyata Nona merancang semua dengan sebaik mungkin hingga karyawan lain tak menaruh curiga padaku.
"I-iya, aku memang pulang kampung. Tetapi maaf sebelumnya jika aku tak sempat mengatakannya padamu. Aku pun tak sempat membawa oleh-oleh apa pun dari kampung." Sesungguhnya gadis itu engan berbohong, namun keadaanlah yang memaksanya untuk mau tak mau seperti ini.
"Tak apa, aku hanya mengodamu saja." Terdengar tawa renyah diakhir ucapan gadis bernama Kiara itu, yang membuat Zara semakin merasa bersalah.
"Tapi ada sesuatu yang membuatku bertanya-tanya dan akan menganjal di fikiranku jika tak menanyakannya kepadamu secara langsung." Kiara yang semula terlihat santai itu, kini berwajah serius dan menatap netra Zara lekat.
Zara menelan salivanya berat, entah mengapa ucapan sang sahabat membuat tubuhnya seketika gemetar meski belum terucap.
"Jawab jujur pertanyaanku. Kenapa kau datang bersama Tuan Arka? Bahkan kalian berada dalam mobil yang sama?"
Glek...
Keringat dingin mulai menitik dipelipis gadis yang terkejut dengan netra membulat sempurna itu. Tak menyangka justru Kiara, sang sahabatlah yang menyaksikan kejadian lambaian tangan suami Nonanya yang dirasa tak wajar bagi sebagian orang, mengingat Zara bukanlah siapa-siapa bagi Arka.
__ADS_1