Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Berharga


__ADS_3

Selama satu bulan sang tuan sibuk menjaga sang istri tercinta di rumasakit, selama satu bulan pula Sam terlihat begitu sibuk untuk bisa mengambil alih pekerjaan Arka sesuai dengan kemampuannya. Dan itu semua, mau tak mau berimbas pada hubungannya dengan Kiara. Keduanya kini jarang bertemu. Bahkan kata 'secepatnya' yang pernah terlontar, akan hubungannya dengan gadis manis itu masih urung dibuktikan.


Demi menebus kesalahan, rencananya Sam akan mengajak sang kekasih untuk bertemu di suatu tempat pada saat akhir pekan. Entah gadis itu akan marah atau tidak, setelah beberapa minggu ini Sam terbilang nyaris tak punya waktu untuk sekedar bertemu.


Sam menepikan kuda besinya diarea parkir taman. Lengkung tipisnya pun terkembang sat mendapati sang kekasih yang sudah menunggunya dan duduk di sebuah kursi.


Pria itu lebih dulu meraih sebuket bunga Lily di kursi penumpang.


"Semoga, dia tidak akan marah."


Sam menghela nafas dalam. Ia terlebih dulu merapikan penampilan sebelum turun dan menghampiri Kiara.


Senyum terpancar jelas di wajah gadis manis bergaun coklat sebawah lutut itu. Surainya hitam panjang yang ia gerai begitu saja, kian membuat gadis sembilan belas tahun itu terlihat menggemaskan.


"Maaf, aku datang terlambat," ucap Sam yang kini bersimpuh di hadapan Kiara yang terduduk, seraya mengulurkan sebuket bunga Lily yang ia bawa.


Gadis itu terperangah dan tersipu malu. Diraihnya bunga itu kemudian berucap, "Terimakasih. Aku juga baru sampai."


Masih tetap pada posisinya. Sam menatap wajah sang kekasih lekat. Entah mengapa, saat mereka hanya berdua, pria itu sulit untuk merangkai kata-kata, dan hanya bisa memandangnya penuh kasih.


"Maaf karna sempat melupakanmu akhir-akhir ini. Pekerjaanku begitu banyak, dan aku harap kau tak akan marah padaku," iba Sam dengan suara lirihnya.


Kiara tergelak lirih. Ia merasa canggung saat sang kekasih justru masih tetap berlutut di hadapan. Ia pun dengan lembut menarik tangan Sam, agar lekas bangkit dan duduk di sampingnya.


"Ka Sam, untuk apa aku marah. Lagi pula, aku sudah tau kesibukan Kak Sam bahkan sebelum kita memiliki hubungan." terang gadis manis berkulit putih itu. Sebagai seorang Asisten merangkap kepala pengawal, membuat Kiara tahu benar seperti apa kesibukan yang dimiliki Sam setiap harinya. Maka dari itu, ia tak mampu meminta bayak, apalagi protes. Baginya, sebentar saja bisa bertemu dengan Sam, sudah mampu membuat rasa rindunya terobati.


"Benarkah?" Pria itu terdengar senang. "Aku kira kau akan marah, lantas membeciku," sambungnya lagi.


Gadis itu tergelak. "Untuk apa aku marah hanya untuk sesuatu hal yang tak berguna."


"Aku juga belum sempat untuk menemui orangtuamu." Terbesit suatu sesal di sana. Kesibukan sang tuan, membuatnya terbelenggu dan susah untuk bergerak.


"Tak apa kak, itu bisa dilakukan lain waktu jika Kak Sam sudah memiliki waktu senggang."


Sam tak hentinya menatap wajah manis sang kekasih. Meski usianya masih sangat muda, namun gadis itu sudah mampu berfikir logis dan tak egois. Fikirannya lebih dewasa dari pada usianya. Itulah salah satu hal, yang mampu membuat Sam begitu nyaman saat sedang berdua dengan Kiara.


"Ayo, aku akan mengajakmu kesuatu tempat." Sam bangkit, dan meraih tangan Kiara.


"Kemana?" tanya gadis itu kebingungan.


"Rahasia."


******

__ADS_1


Gengaman tangan itu benar-benar tak terlepas. Sam sengaja melangkah pelan guna mengimbangi langkah pendek sang kekasih. Ya, ukuran tubuh mereka memang terpaut cukup jauh. Sam yang berpostur tinggi menjulang, sementara Kiara yang kecil, omut dan menggemaskan.


"Kak, kita akan kemana?" Kiara memandang sekitar. Sam bahkan membawanya kesebuah Mall ternama di ibukota. Tetapi untuk apa?


"Sudah, ikuti saja. Lagi pula, kau akan selalu aman di sisiku."


Kiara tersenyum simpul dan menghela nafas dalam. Jika menyangkut hal spontan seperti ini, dirinya menjadi takut dan cemas. Mengingat Sam kerap kali melakukan hal diluar nalar yang membuatnya kelimpungan.


Setelah cukup lama berjalan, Sam menarik gadis itu menuju toko perhiasan, dan menemui pemiliknya.


"Selamat datang di toko kami, tuan," sapa pemilik toko beserta beberapa karyawan yang berdiri di belakangnya.


Sam mengangguk, dan menarik Kiara untuk lebih mendekat kearahnya.


"Apakah gadis ini yang tuan maksud?" tanya perempuan paruh baya itu sembari menatap kearah Kiara.


"Iya, dia calon istriku. Tunjukan desain cincin terbaik yang ada di toko ini," titah Sam.


"Dengan senang hati, tuan."


Beberapa karyawan bergerak cepat, menunjukan desain cincin terbaik dan termahal untuk ditunjukan. Sementara pemilik toko, membawa Kiara untuk duduk di sebuah kursi nyaman, bertemankan minuman segar dan camilan di atas meja sebagai hidangan.


"Nyonya, tidak usah seperti ini. Ini terlalu berlebihan." Bukannya senang, Kiara justru tidak nyaman dan ketakutan. Hal itu justru membuat Sam tergelak, dan mengusap bahu sang kekasih untuk menenangkan.


Kiara berwajah pias. Memandangi sekeliling dan juga Sam bergantian. Ia memilin jemarinya sendiri merasakan kecemasan. Terlebih saat para karyawan toko mendekat denhan membawa barang terbaik yang toko itu miliki.


"Kia, kau ingin desain model seperti apa untuk cincin pernikahan kita?" Sam mengambil beberapa model cincin yang cukup menarik perhatiannya.


Gadis itu gelagapan. Hanya dengan melihat saja sudah membuatnya bingung, apalagi memilihnya.


"Terserah Kak Sam saja."


Pria itu menghela nafas dalam, melirik kearah Kiara menunjukan ketidaksukaannya.


"Tidak adil jika berdasar hanya pilihanku. Bukankah kita yang akan menikah, berarti kitalah yang wajib menentukan."


Tapi aku mana tau soal perhiasan seperti ini? Kalau aku sampai salah pilih, dan harganya sangat mahal, bukankah itu akan membuatku malu?


"Kia, ayolah."


Kiara menghela nafas dalam dan mulai memperhatikan contoh perhiasan yang berbaris di hadapannya.


Ah, semuanya terlihat sangat mewah. Aku yakin jika harganya pun sangat mahal.

__ADS_1


Hingga pandangannya tertuju pada cincin yang terlihat paling sederhana.


"Bagaimana jika yang ini saja," tunjuk Kiara pada benda berwarna putih nan berkilauan itu.


Seketika pemilik toko dan para karyawan tersenyum senang.


"Bagaimana tuan. Apakah anda cincin ini juga menjadi pilihan bagi anda?" tanya pemilik toko pada Sam.


"Tentu. Kalian hanya perlu mengukurnya dan buatkan cincin sesuai dengan keinginan calon istriku."


"Baik, dengan senang hati tuan."


Tak ingin menunggu lama, Selepas mengkur jari manis mereka berdua, Sam pun bangkit menuju kasir. Kiara mengekor di belakang pria itu. Saat Sam memberikan black card miliknya, gadis itu sempat melirik.


Seorang kasir perempuan itu menyebutkan nominal harga cincin pilihan Kiara, yang spontan membuat gadis itu terbelalak.


Apa? Kenapa semahal itu.


Kiara menggigit bibirnya kelu. Ia menatap kearah Sam dan menggandeng lembut tangan pria itu. Ia begitu takut. Bagaimana jika uang pria itu kurang? Sudah pasti Sam akan menahan malu karna perbuatannya.


"Kenapa?" Sam melirik kearah jemarinya yang digengam. Ia merasa bahagia dan tanpa beban.


"Terimakasih tuan." Penjaga Kasir itu mengembalikan black card milik Sam.


"Kak, maaf. Apakah uangnya cukup?" tanya gadis itu lirih dan seperti berbisik.


Sam tersenyum miring dan geleng kepala. Tak menyangka jika Kiara sepolos ini.


"Jangan khawatir, aku bahkan bisa membeli toko perhiasan ini jika kau menginginkannya." Sam lekas menarik lembut tangan sang kekasih. Tak ingin jika orang lain sampai mendengar ucapan kekasihnya.


"Tapi, kak. Maaf. Aku benar-benar tak menyangka jika harganya akan semahal itu," keluh Kiara mengiba saat mereka sudah keluar dari toko perhiasan tersebut.


Sam menghentikan langkah. Ia menarik tubuh Kiara hingga keduanya saling berhadapan.


"Kia, aku memang tidak kaya. Cincin itu memang mahal dan berharga bagi sebagian orang. Tetapi ketahuilah, kau itu lebih berharga dari apa pun bagiku. Jadi jangan pernah mempermasalahkan hal sekecil itu padaku lagi. Kau segalanya untukku. Apa kau mengerti?"


Takut-takut gadis itu mengangguk.


Sam mengusap pipi putih Kiara. Gadis itu rupanya belum sadar, sebesar apa perasaan yang ia miliki untuknya.


"Ayo kita pulang."


Keduanya mulai melangkah beriringan. Sam memeluk Kiara seraya melangkah, begitu pun sebaliknya. Kiara benar-benar beruntung memiliki seseorang seperti Sam. Yang hangat dan memperhatikan, meskipun memiliki banyak kesibukan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2