Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Jelang Resepsi Part 2


__ADS_3

Suasana berbeda tampak jelas terlihat dari kediaman mewah Arka. Beberapa pengawal terlihat memperketat penjagaan di pintu gerbang. Di kawasan rumah yang biasanya hanya dipenuhi dengan tukang kebun dan pelayan, berganti dengan beberapa orang dari pihak WO berlalu lalang untuk mempercantik rumah mewah itu seapik mungkin.


Anastasya yang dijemput seorang supir itu menuruni sedan hitam yang membawanya, kemudian berjalan menuju pintu rumah utama.


Rasanya sedikit ragu untuk melangkah. Hari ini terlihat ramai dari biasanya. Saudara jauh dari mantan suaminya itu pun tampaknya datang untuk ikut memeriahkan pesta resepsi yang akan digelar lusa.


Anastasya menghela nafas dalam. Ia menebar senyum pada pelayan yang menyambut dan beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya.


Aku harus kemana.


Gadis itu terus bertanya dalam hati, bingung mengarahkan kakinya untuk melangkah. Tidak mungkin jika ia seenaknya memasuki kamar yang kini bukan lagi menjadi miliknya.


Hingga tanpa sengaja ia melewati ruang keluarga, di mana terdengar canda tawa dari arah ruangan tersebut. Anastasya menyempatkan untuk berhenti sejenak. Sekedar mencari tau, apa yang sebenarnya tengah terjadi.


Akan tetapi, pandangan yang tersaji justru membuat hati dan jiwanya bergemuruh. Menggigit bibir bawahnya kelu, Anastasya rasanya tak kuasa untuk melihat semua itu.


Terlihat Zara yang duduk dengan diapit dua perempuan paruh baya di sisi kanan dan kirinya. Perempuan itu tak lain adalah Rumi dan Mirah. Ibu dan mertua Zara. Keduanya terlihat luar biasa bahagia dengan kehamilan putri dan menantu mereka. Usapan di perut dan puncak kepala, senantiasa perempuan paruh baya itu berikan. Yang mana membuat hati Anastasya tak sanggup untuk melihatnya, hingga memilih untuk pergi.


Tapi, belum lagi sempat melangkah, seseorang justru mendapati keberadaanya dan lekas menyerukan namanya.


"Nona Anastasya. Kemarilah," ucap Zara dengan antusias.


Anastasya yang sudah berbalik badan itu, memutar pandangan kembali kearah tiga perempuan itu.


"Tidak, terimakasih Zara. Aku ingin kekamar sebentar, permisi." Gadis itu mulai melangkah hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun lagi-lagi Zara menahannya.


"Nona!" ucap Zara setengah berteriak. Ia pun berlari kecil untuk mendekat dan menahan langkah Anastasya. "Bergabunglah bersama kami. Aku mohon, nona," Zara menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai ungkapan permohonan.

__ADS_1


Anastasya menghela nafas dalam, wajah polos Zara tak mampu membuatnya berkutik. Ia pun pasrah saat gadis mungil itu menggandeng tangannya dan ikut bergabung bersama Mirah dan Rumi di sofa ruang tengah.


Zara sengaja memba Anastasya untuk duduk di tengah bersamanya dan masih diapit oleh ibu dan mertuanya. Anastasya sempat menunduk beberapa saat, rasanya begitu malu untuk sekedar menegakkan kepala. Ia tau, bagaimana dulu Mirah memperlakukannya saat menjadi istri dari Arka. Mereka terbilang tak terlalu dekat, Anastasya pun selalu menjaga jarak untuk bisa terlihat dekat, tanpa alasan yang dirinya sendiri tak ketahui.


"Anastasya, kau sudah datang. Bersama siapa?" tanya Mirah dengan tersenyum lembut sementara pandangannya menatap arah sekitar, seperti mencari keberadaan seseorang.


Gadis itu pun menggangguk, dan memberanikan diri untuk membalas tatapan mantan mertuanya itu.


"Aku hanya datang bersama supir, Bu," jawab Anastasya lirih.


Mirah menelan salivanya berat. Ia melupakan satu hal. Di kota ini, Anastasya sama sekali tak memiliki sanak saudara, dan sekarang ia pun sudah berpisah dengan putranya. Jadi, dengan siapa lagi ia hidup, jika bukan seorang diri.


"Anastasya, mari ikut ibu. Zara, Ibu Rumi, saya permisi sebentar. Ada urusan sedikit dengan Anastasya," pamit Mirah pada Zara dan Rumi. Kemudian bangkit dan menggengam tangan Anastasya untuk ikut bersamanya.


Sementara itu, Zara dan Rumi menatap tubuh kedua perempuan itu hingga menghilang dari pandangan. Keduanya saling bertanya dalam hati, tentang apa yang ingin dilakukan Mirah pada Anastasya. Akan tetapi, keduanya mengubur dalam rasa penasaran itu, dan berdoa agar hubungan Ibu dengan mantan menantu itu akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


*****


Dengan senyum mengembang Mirah membawa Anastasya menuju kamarnya. Tak sampai disitu, ia pun menuju ruang pakaian tanpa melepaskan gengaman tanya pada gadis yang pernah menjadi menantunya itu.


Berhenti tepat di depan tempat pakaian berkaca tembus pandang, Mirah pun membukanya dan menarik satu gaun berwarna perak dari tempat ini.


"Ini gaun untukmu. Ibu sengaja memesannya khusus untukmu." Mirah memberikan gaun itu pada Anastasya yang masih mengangga tak percaya. Tangannya pun terlihat gemetar saat menerima gaun mewah yang ditaksir memilik harga cukup fantastis.


"I-ibu, i-ini benar-benar untukku?" tanya gadis itu setengah tergagap dengan netra berkaca-kaca. Sejujurnya ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar.


Mirah pun mengganguk dan mengulas senyum sehangat mentari. Ia pun membimbing Anastasya untuk duduk di tepi ranjangnya dan saling berhadapan.

__ADS_1


"Benar, nak. Ibu memang sengaja memesankannya untukmu. Jika kau tak percaya, pakailah. Maka akan terlihat pas dengan ukuran tubuhmu."


Menggeleng kuat, Anastasya yang tak mampu menahan haru itu lekas memeluk erat tubuh Mirah dan menangis di bahunya.


"Terimakasih, Ibu. Terimakasih banyak." Anastasya kembali merasakan hangatnya sentuhan seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan semenjak dirinya berada di ibukota.


Seorang Bibi yang ia punya menggantikan sosok ibu baginya, kini juga berada jauh darinya. Mirah yang pernah menjadi sosok mertua bagi Anastasya, justru tak pernah memberikan kasih sayang yang sempat ia harap untuk di dapatkan.


Hingga sebuah perhatian yang banginya sangat besar itu, membuatnya tak mampu memedung suka cita bercampur rasa haru.


Mirah pun mengusap surai Anastasya dengan lembut. Buliran bening dari kedua sudut netranya tertumpah seiring tangis lirih gadis yang tengah memeluknya itu.


"Maafkan ibu, Anastasya. Maafkan ibu. Ibu sudah sangat berdosa padamu." Perempuan paruh baya itu mengeratkan pelukan. Ingin sekali mengatakan jika ia sangat menyayangi Anastasya, sama seperti Zara.


Memang selama ini ia kurang menyukai Anastasya sebab mengandung bukan dari benih putranya. Ini merupakan hal yang sulit untuk Mirah terima. Terlebih Siska, ibu dari Rangga yang merupakan teman baik Mirah, selalu saja memprofokosi keadaan yang memang sudah panas, semakin berkobar. Hingga hanya secuil perhatian dan kasih sayang yang tersisa untuk gadis malang itu, terlebih keduanya yang memang tinggal terpisah.


"Ibu sudah memperlakukanmu dengan buruk di rumah ini." Mirah terisak, dan bahunya pun terguncang.


Anastasya mengendurkan dekapan untuk bisa menatap wajah Mirah.


"Jangan berkata seperti itu, ibu. Ibu sangat baik padaku, aku pun juga senang tinggal dirumah ini." Meski kasih sayang itu tak didapat. Akan tetapi Mirah menunjukkanya dengan cara lain. Sering kali ia diam-diam mengirim barang-barang bermerek yang disukai Anastasya, atau pun makanan kesukaanya. Namun ia sengaja menutupi jika itu bukan darinya melainkan dari putranya.


Terus menerus hal itu terjadi hingga Anastasya mengetahui kebenarannya. Gadis itu tau jika Mirah juga menyayanginya, namun ia masih enggan untuk menunjukan itu semua pada orang lain.


"Rumah tangga kalian hancur, juga pasti karna perbuatan ibu, dan---"


Mirah tak mampu melanjutlan ucapannya saat Anastasya berusaha menutup mulutnya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


"Jangan pernah katakan hal itu, Ibu. Mungkin kami memang tidak berjodoh. Jadi jangan lagi ibu mengatakan semua itu, terlebih menyalahkan diri sendiri atas perceraian kami. Semua memang sudah ditakdirkan oleh sang maha kuasa. Kita memang punya rencana, tetapi Tuhanlan yang menentukan."


Gadis itu mengusap lembut kedua pipi Mirah yang basah. Berusaha tersenyum, agar Mirah pun membuang rasa sedihnya berganti dengan kebahagiaan. Seperti tertular, perempuan paruh baya itu mulai tersenyum, meski pun sangat sulit. Mengingat rasa bersalahnya yang terlalu besar pada Anastasya. Hingga dalam hati ia pun berjanji, jika akan berusaha membuat Anastasya bahagia, bagaimana pun caranya.


__ADS_2