
Isak tangis beserta rintik hujan mengiringi prosesi pemakan Jamil. Meski orang terdekat diminta untuk tegar, namun nyatanya saat tubuh tak bernyawa itu mulai memasuki liang lahat, membuat siapa pun yang menyaksikan tak urung mungurai air mata. Makam Jamil berada di sisi kanan makam Surya Atmadja, ayah dari Arkana Surya Atmadja. Mengingat jika Jamil merupakan bagian dari keluarga Atmadja, maka jenazahnya pun dikebumikan di makam khusus keluarga Atmadja.
Rumi yang berwajah sembab dengan bulir bening tetap mengalir, berdiri dengan diapit Zara dan Mirah, di sisi kiri dan kanan. Sementara Arka, berdiri sembari tetap mendekap tubuh istrinya yang sekuat tenaga berusaha untuk berdiri tegak.
Seorang pemuka agama mengiring untaian doa teruntuk almarhum supaya dilapangkan kubur dan mendapatkan tempat terbaik di sisi sang pencipta.
Beberapa kerabat dekat beserta para pelayat mulai meninggalkan pemakaman selepas menabur bunga di atas tanah merah dengan nisan bertuliskan nama Jamil Rusli. Akan tetapi, keempat orang berpakaian serba hitam itu masih enggan untuk beranjak.
Rumi, yang merupakan istri dari Jamil. Terus menatap pusara yang masih basah itu dengan perasaan hancur. Ia memang sudah berusaha mengikhlaskan, tetapi penyesalan itu pastinya masih ada.
Dua puluh tahun merajut pernikahan dan hidup bersama, nyatanya masih terasa kurang bagi Rumi. Ia ingin terus bersama selamanya, hingga rambut mereka memutih dengan tubuh yang membungkuk. Walau terus berjuang melawan penyakitnya, namun Rumi senantisa merawat dan menjaganya tanpa mengeluh.
Suamiku. Maaf, jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Tetapi kau adalah suami dan ayah terbaik untukku dan putri kita. Selamat jalan sayang, walau hati ini masih tak rela, tetapi tuhan lebih menyayangimu dan memusnahkan rasa sakit yang selama ini kau derita. Semoga kau selalu dalam lindungannya, dan biarkan aku untuk tetap menjaga putri dan cucu kita kelak, jika tuhan masih memberiku umur panjang. Selamat beristirahat suamiku. Aku yakin, jika kau akan hidup dengan nyaman di sana.
Berusaha ikhlas, walau air mata terperas. Itulah gambaran wajah Rumi saat ini.
Sementara Zara sang putri, menatap lekat pusara pria yang sudah membesarkannya dengan sendu. Bayangan wajah pria paruh baya yang memiliki tatapan hangat itu, masih tergambar jelas diingatan.
__ADS_1
Saat pertama kali ia meminta izin untuk mengadu nasib kekota, Zara sejujurnya tak sampai hati untuk meninggalkan Jamil yang sudah dalam kondisi sakit-sakitan. Namun, demi keinginannya untuk bisa melanjutkan pendidikan sekaligus membantu perekonomian orang tuanya, Zara tetap bersikeras meski diawal perjuangan takdir baik justru tak berpihak padanya.
Ayah. Andai semua keingin mampu dikabulkan. Maka aku hanya ingin meminta satu hal. Aku ingin lebih dulu membawamu dalam buaian kebahagian, sebelum ayah tutup usia.
Gadis itu mengeser pandangnya, kemudian mendongak untuk bisa menatap wajah suaminya yang jauh lebih tinggi darinya.
Lengkung tipisnya terkembang saat pria tampan itu pun tengah menatapnya hingga pandangan keduanya pun terpaut.
Ayah, kau tak perlu cemas atau pun khawatir. Sudah ada pria yang akan menjagaku dan ibu di dunia ini. Dia adalah suamiku dan ayah dari calon bayi yang sedang kukandung ini.
Disela kesedihan, Zara sempat mengulas senyum untuk meyakinkan sang ayah jika kelak ibunya akan baik-baik saja selama masih ada dirinya.
Rumi menghela nafas dalam. Sementara Mirah yang berada di sampingnya mengusap bahu Rumi lembut. Seolah menyetujui ucapan putranya yang meminta mereka untuk pulang sebelum hujan turun semakin deras.
"Baiklah," balas Rumi dengan pelan. Ia pun kini menatap sang putri dan berucap, " Ayo nak, kita pulang. Sebelum hujan turun lebih deras." Bibir tipisnya membentuk sebuah senyum simpul. Yang mana membuat ketiga orang yang masih bersamanya menghela nafas lega.
Rumi sebisa mungkin menyimpan kesedihannya demi untuk melanjutkan kembali hidupnya.
__ADS_1
Sang putri pun menganguk dengan membalas senyuman sang ibu tak kalah hangatnya. Baginya, senyum sang ibu adalah segalanya bagi dirinya kini.
Tak ingin menunggu lama, Arka menarik lembut tubuh sang istri dan membimbing langkahnya untuk keluar dari area pemakaman. Disusul Mirah yang mengekor di belakang dengan mengandeng tangan Rumi untuk mensejajarkan langkah keduanya.
Pada saat memasuki kendaraan pun, pandangan Rumi masih tak teralihkan dari area pemakaman tersebut seolah berat untuk meninggalkan. Mirah kembali mengusap bahu Rumi dengan lembut, seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.
Bukan hanya Rumi, Mirah pun juga merasakan hal yang sama. Ayah Arka bahkan sudah berpulang bertahun-tahun lamanya. Diawal, memang semua teramat berat untuk dilewati. Namun berkat semangat dan dukungan orang-orang tercinta, membuatnya masih bernafas dan berdiri tegak sampai detik ini.
"Bu, yakinlah jika semuanya akan baik-baik saja. Lihatlah, kita bahkan hampir dikarunia dua cucu yang menggemaskan beberapa bulan lagi. Tentu anda tidak akan melewatkannya begitu saja, bukan?" Mirah sedikit menggoda untuk mencairkan suasana. Bagaimana pun, Mirah bisa merasakan sekehilangan apa Rumi saat ini. Akan tetapi, jika terus membiarkannya terus berkubang dalam kedukaan. Pastinya akan berdampak buruk pada mental dan batinnya.
Rumi meraih jemari Mirah dan menjabatnya.
"Terimakasih nyonya. Anda sungguh luar biasa baiknya. Saya sungguh beruntung, dikarunia seorang menantu yang memiliki seorang ibu sebaik nyonya. Saya sungguh-sungguh bersyukur." Rumi mengucapnya dengan tulus. Bahkan sepasang netranya pun kembali berkaca-kaca.
"Bukankah kita berbesan. Sungguh tak pantas jika anda terus memanggilku dengan sebutan nyonya." Meski sedikit jengah saat berucap, namun Mirah merengkuh tubuh lemah dan membawanya dalam pelukan. "Sungguh aku tak suka jika anda memangilku nyonya lagi," sambung Mirah sembari mengeratkan dekapan.
"Baiklah-baiklah. Saya mengalah, dan tak akan memangil anda dengan sebutan itu lagi." Rumi hanya bisa pasrah saat tubuhnya tak mampu bergerak atas ulah Mirah yang mendekapnya dengan cukup erat.
__ADS_1
Sementara Zara dan Arka yang duduk dikursi depan pun mengulas senyum kelegaan beserta ucapan puji syukur. Keduanya saling menatap dan menautkan tangan. Setidaknya, dibalik semua kepedihan yang tuhan berikan, setidaknya masih ada secerca kebahagiaan, yang membuatnya tertawa meski berbalut luka.
Bersambung