Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Perkiraan


__ADS_3

Zara menggembungkan pipinya, mulai merasa bosan. Selang infus di punggung tangan terasa amat membatasi pergerakannya ditambah sikap overprotektif Arka yang sama sekali melarangnya untuk turun dari ranjang kecuali untuk kekamar mandi.


"Sayang, aku ingin makan buah itu," tunjuk Zarapada keranjang buah di atas meja pada sang suami.


Pria itu pun tersenyum simpul dan meraih keranjang tersebut dan mendaratkannya dipangkuan. "Baiklah, kau ingin yang mana?"


"Aku ingin makan buah strawberry, pasti rasanya manis dan segar." Zara menatab buah berwarna merah itu berbinar seolah tak mempu mencegah air liurnya yang hendak menetes.


Arka pun meraih satu buah dan menyuapkan kedalam mulut sang istri. Gadis itu pun mulai mengunyah dan terlihat menikmati sensasi manis dan segar dari buah yang ia makan.


"Hem.. Segar sekali. Sayang, aku ingin lagi," rengek Zara sembari menguncang bahu Arka layanya bocah yang tengah memohon.


Arka tak menjawab, namun bibirnya mengulas senyum lebar menatap gemas tingkah laku istrinya. Dengan telaten ia pun terus menyuapkan buah strawbery kedalam mulut istrinya, terus menerus selama gadis mungil tersebut tak menolaknya.


"Sayang, sepertinya sudah cukup banyak kau memakan buah strawbery ini, kau tidak ingin makan nasi atau makanan berat lainya agar perutmu lebih kenyang." Arka menatap nanar sekotak buah strawbery yang kini kosong, sudah berpindah tempat kedalam perut istrinya.


"Tidak, saya tidak menginginkannya. Itu juga terlihat sangat segar," tunjuk Zara lagi pada buah kiwi di dalam keranjang buah.


Astaga, apa aku tidak salah lihat. Kenapa akhir-akhir ini nafsu makan istriku semakin meningkat.


Tak ingin mengecewakan sang istri, Arka mulai mengupas kulit buah dan menyuapkan kembali kemulut Zara.


"Terimakasih, sayang." Bibir mungil itu tak hentinya bergerak, membuat Arka tak tahan ingin menciuminya. Akan tetapi pria itu sadar, dan meredam sesuatu yang mulai bergejolak di dalam dirinya.


"Mau lagi?" Arka sudah menyurungkan potongan kiwi yang menempel di bibir zara, namun bibir itu masih terkatup.


"Ayo, buka mulutmu," pinta Arka.


Zara terdiam, enggan untuk membuka mulut. Dirinya merasakan adanya sesuatu dari dalam perut yang mendorong untuk meminta keluar.


"Kenapa?" Arka menatap adanya perubahan dari wajah istrinya.


Zara hanya menggeleng dan menutup rapat mulutnya.


"Hummp." Zara mulai panik. Hendak berlari menuju kamar mandi, namuntertahan selang infus yang membelenggunya.

__ADS_1


"Hummp"


"Ada apa sayang." Arka mendekat dan menatap wajah sang istri yang berusaha menghindar dengan wajah ketakutan.


"Huwek..." Akhirnya gejolak di dalam perut hingga naik kemulut Zara tak mampu ia tahan dan menyebur di tubuh dan kemeja bagian depan Arka.


Zara tak lagi menghiraukan ekspresi wajah sang suami. Ia lebih sibuk berperang dengan apa yang tubuhnya rasakan saat ini. Mual dan muntah begitu menguras energi dan tenaganya. Membuat gadis itu limbung seketika.


Perawat yang mendengar adanya kegaduhan lekas menuju ruangan dan terkesiap melihat pewaris Atmadja group terlihat kacau dengan kemeja yang tampak kotor.


"Suster, tolong istri saya." Arka menopang tubuh istrinya yang lemah namun menjaga jarak mengingat pakaiannya yang kotor.


"Baik, Tuan." Perawat wanita tersebut terlebih dahulu memangil beberapa staf medis di luar termasuk Dokter Bram. Melihat kondisi pasien yang melemah membuat meteka bergerak cepat. Bram menatap penampilan Arka yang tampak kacau kemudian mendekatinya.


"Apa yang terjadi denganmu?" Namun seketika Bram menekan hidungnya menemukan aroma tak sedap yang berasal dari tubuh Arka. "Astaga, apa istrimu muntah?"


Arka mengangguk.


"Bersihkan tubuhmu dan temui aku," titah Dokter Bram yang masih menutup hidung dengan tegas, melupakan posisi dirinya yang hanya bawahan Arka.


Tanpa menjawab Arka meraih ponsel di sakunya, ampak menghubungi Sam, sebelum menuju kamar mandi.


Pria tampan yang baru saja muncul dari arah kamar mandi, menghela nafas lega. Penampilannya sudah tampak rapi dengan pakaiaan yang bersih pula. Jika bukan Zara, mungkin pria itu sudah memaki bahkan menendang seseorang yang sudah berani memuntahkan isi perut ketubuhnya. Akan tetapi, ini lain perkara. Dimana gadis yang cintalah yang melakukan itu semua dan tanpa sengaja.


Arka menatap gadis yang tengah terlelap itu di ranjang perawatan. Tatapannya melembut seketika. Wajah gadisnya benar-benar puncat. Membuatnya terlebih dulu mengusap dan menciumi seluruh wajahnya sebelum beranjak meninggalkan ruangan.


"Suster, tolong jaga istriku," titah Arka pada seorang perawat yang menunggu di luar ruangan.


"Baik, Tuan." Perawat muda itu pun menundukan kepala dan memasuki ruang perawatan.


Arka pun menatap jajaran kursi tunggu di mana ia sempat meninggalkan Anastasya beberapa waktu lalu, namun sosok istri pertamanya itu sudah tak ada.


Di mana dia


Pria itu pun menghela nafas dalam, kemudian menuju ruangan Dokter Bram. Tak berselang lama, ia pun sampai di depan ruangan dan membukanya pelan. Dokter berusia matang itu tengah berada di meja kerjanya, dan menatap Arka yang muncul dari balik pintu.

__ADS_1


"Duduklah."


Arka menarik satu buah kursi yang berseberangan dengannya.


"Bagaimana keadaan istriku, Ka?"


Bram terdiam sebentar, dia tampak membolak balik kalender yang ada di meja kerjanya.


"Dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, apa saja yang dialami istrimu akhir-akhir ini? Maksudku, dari nafsu makan ataupun perilaku sehari-hari, apakah mengalami perubahan?"


Arka berfikir sejenak sembari mengingat kejadian beberapa hari kebelakang.


"Sepertinya tidak ada, tapi beberapa hari ini aku melihat nafsu makannya yang cukup meningkat dan sering mual."


"Lalu, bagaimana dengan penyubur kandungan yang kau minta? Apa istrimu meminumnya?"


Arka menganguk, meng_iyakan. "Tentu saja, Ka. Aku bilang padanya jika obat tersebut hanyalan Vitamin yang harus ia konsumsi setiap hari. Tidak mungkin jika Zara sampai mengabaikan ucapanku," papar Arka dengan penuh keyakinan.


Bram terlihat mengangguk. "Dan bagaimana dengan datang bulan istrimu, apa semenjak waktu itu Istrimu sudah kedatangan tamu bulanannya kembali?"


Pria tampan yang mengenakan kemeja abu-abu bermotif garis itu coba mengingat kembali.


"Sepertinya belum." Ini memang sudah lebih dari satu bulan semenjak tragedi datang bulan istrinya itu. Mengingat hampir setiap malam ia selalu menggauli Zara, istrinya.


Bram menghela nafas dalam, mungkinkan perkiraanya benar jika Zara tengah mengandung.


"Kemungkinan, istimu tengah mengandung. Tapi aku juga belum bisa mempastikannya."


Arka yang tengah duduk dengan posisi bersandar pada punggung kursi itu terkesiap dan sepontan bangkit.


"Istriku mengandung?" tanya Arka penuh keterkejutan.


"Tapi ini hanya rabaanku saja dan aku belum bisa memastikannya." Bram yang tak menyangka akan wajah terkejut Arka, sempat menciut nyalinya. Apakah pria itu akan senang atau malah sedih atas rabaan yang ia lontarkan baru saja.


Disela keterkejutan, bibir seksi Arka perlahan mulai membentuk senyuman luar biasa indah, yang mana sebagai wujud perasaanya yang seperti tengah mengembang.

__ADS_1


Ya Tuhan, sekarang wajah suram itu mulai mengembangkan senyuman. Apakah itu menjadi pertanda jika Arka menginginkan kehamilan istri mungilnya itu. Lalu bagaimana jika kehamilan itu benar-benar terjadi dan Anastasya mengetahuinya. Ya Tuhan, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanya.


Bram hanya menatap kosong pandangan di sekelilingnya. Selepas berbincang dengan Anastasya, ia semakin faham dengan posisi gadis itu saat ini. Di mana ia harus rela bertahan dalam ketidak pastiaan dan entah sampai kapan.


__ADS_2