Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Dilema


__ADS_3

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Arka menatap senja dari jendela kaca yang tertutup rapat. Terus bertanya pada dirinya sendiri. Ia memang sudah memiliki firasat jika pernikahannya dengan Anastasya, pasti akan terhenti di tengah jalan. Akan tetapi ini masih terlalu cepat. Rangga bahkan belum bisa menentukan kapan dirinya akan pulang dan merengkuh kehagiaanya kembali bersama Anastasya.


Ibarat kata, dirinya kini tengah dilema. Berada dalam situasi sulit yang mana mengharuskannya untuk bisa memilih.


Aku bahkan memiliki rencana untuk mengunjungi orang tua Zara di kampung. Apakah aku harus mengundurnya kembali.


Tersimpan keinginan untuk mendatangi kedua orang tua Zara di kampung tanpa terlebih dahulu memberitahukannya pada sang istri. Ia merencanakan sebuah kejutan indah untuk mempertemukan orang tua dan anak yang sudah lama terpisah itu. Sekaligus meminta maaf atas pernikahan yang berlangsung tanpa sepengetahuan sepasang suami istri tersebut.


Tetapi, rasanya tidak mungkin rencana yang sudah ia susun segera terealisasi dalam waktu dekat. Mengingat jadwal kerja yang menumpuk, ditampah masalah perceraiannya dengan Anastasya yang tak bisa begitu saja ia tinggalkan. Memang, dirinya akan meminta pada beberapa pengacara keluarga untuk mengurusnya, namun ia pun tak bisa hanya menonton dan berdiam diri untuk sama sekali tak mengikuti proses perceraian pada umumnya.


"Sam."


"Iya, Tuan." Dari belakang kemudi, Sam menjawab cepat.


"Apakah rumah orang tua Zara berada cukup jauh dari kota?"


Sam mengingat kembali ucapan beberapa mata-mata yang bersiaga, tak jauh dari kediaman orang tua Zara di kampung. Di mana dari sanalah dirinya mendapatkan informasi penting tetang keadaan orang tua nonannya itu.


"Cukup jauh, tuan. Sekitar tiga jam perjalan jika mengunakan kendaraan darat dalam kecepatan sedang."


"Tiga jam?" Arka mengulang ucapan Sam. "Hem... cukup jauh. Lalu bagaimana jika mengunakan jet pribadi?"


Sam terdiam sejenak sembari otaknya berfikir.


"Mungkin kita akan kesulitan mencari tempat pendaratan yang cukup aman dan tentunya tak beresiko. Mengingat tempat tinggal nona berada dipelosok yang di sekelilingnya dipenuhi sawah dan kebun palawija warga. Sangat sulit mencari lapangan atau pun tanah lapang sebagai landasan."


Baik Arka atau pun Sam sama-sama menghela nafas dalam. Tak lama lengkung tipis Arka tampak mengembang.


"Ternyata istriku benar-benar gadis desa. Aku penasaran seperti apa masa kecilnya dulu. Pasti sangat menyenangkan." Fikiran Arka dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang ia ciptakan sendiri.


"Apakah dia juga bermain lempar lumpur dan menggembala itik seperti yang pernah aku lihat diacara tv." Pria tampan itu tampaknya tengah bekerja keras memvisualisasikan ucapannya sendiri.


"Pasti sangat lucu, dengan tubuh mungilnya, istriku berlarian kesana kemari mengatur hewan banyak bicara itu dengan susah payah."


Sam yang berada di kursi kemudi hanya bisa mendengar ocehan sang tuan.


Arka menarik nafas dalam, kemudian berucap. "Pasti kehidupan istriku dulu sangat susah."

__ADS_1


"Benar, tuan. Nona hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah menengah atas. Itupun atas beasiswa yang diberikan oleh pemerintah pada siswa yang berprestasi."


Itukah alasanya yang membuat istriku mensyukuri pada apa yang sudah kuberikan padanya. Ia bahkan tidak meminta atau menuntut apa pun dariku. Baginya, semua yang sudah aku berikan terbilang sangat cukup.


"Apa pekerjaan orang tua Zara hanyalah bertani?"


"Benar, tuan. Kondisi Ayah nona pun sakit-sakitan dan kesulitan untuk berjalan. Hingga posisinya sebagai tulang punggung keluarga, digantikan oleh istrinya atau ibunda nona."


"Apa?"


Rupanya hidup keluarga istriku sangatlah kekurangan.


"Namun berkat rencana tuan yang membeli hasil panen dengan harga tinggi secara diam-diam, kini memberikan dampak yang cukup baik. Orang tua nona tak lagi kekurangan, dan mulai hidup berkecukupan," papar Sam.


"Benarkah?"


"Benar, tuan."


Ada setetes embun yang membuat pria tampan itu merasa lega dan tak terlalu merasa bersalah. Setidaknya, masih ada yang bisa ia lakukan untuk membantu hidup mertuanya lebih sejahtera.


******


Bukanya menikmati makan malamnya, Arka justru terpaku menatap pemandangan indah yang tengah tersaji di hadapannya. Zara, sang istri kini tampak menghabiskan makanan di piringnya dengan lahap.


"Ehem."


Deheman Arka seketika menghentikan aktivitas tangan gadis yang hendak mengambil sepotong ayam panggang untuk dipindahkan kedalam piringnya.


klontang..


Denting sendok membentur piring terdengar cukup kencang manakala Zara tanpa sengaja menjatuhkan benda keras tersebut, hingga menciptakan kebisingan. Beruntungnya sepotong ayam panggang yang diambil, mendarat tepat di atas piring makan miliknya dan tak terlempar kesegala arah.


"Maaf," ucap Zara sembari tertunduk saat netranya bertemu dengan netra elang Arka yang menatapnya tajam, namun penuh kelembutan.


Pria itu tersenyum tipis dengan menahan gemas.


"Sekarang kau terlihat semakin suka makan. Lihat kedua pipimu yang semakin berisi. Membuatku gemas ingin mencium dan mencubitnya," goda Arka dibumbui satu kedipan netra yang terarah pada gadis yang sepertinya justru ketakutan itu.


"Apa kau masih lapar?" Tanya Arka lagi.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk, sedikit demi sedikit mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan sang suami.


"Ma-masih," jawab gadis itu setengah tergagap.


Arka yang sadar jika istrinya tampak ketakutan, lekas mengarahkan kedua tangannya guna mengusap kedua pipi gadis cantik itu dengan lembut. Kemudian meraih dan melabuhkan beberapa potong lauk beserta sayuran kedalam piring istrinya.


"Nah, makanlah yang banyak."


Zara pun menatap tak percaya piringnya makanannya yanng kembali terisi penuh. Memang dirinya masih merasakan lapar, Akan tetapi perut kecilnya bisa meledak jika diisi lebih banyak makanan lagi.


"Tapi, sayang. Ini terlalu banyak," ujar Zara mengiba.


"Makan yang kau suka, dan kau boleh menyisakan makanan mana saja yang tak kau suka."


Tuan, itu namanya mubazir.


"Persiapkan dirimu. Beberapa hari lagi kita akan kerumasakit untuk memeriksa kondisimu." Arkam mulai menyantap kembali makanan yang sempat ia biarkan.


"Untuk apa sayang. Saya baik-baik saja dan tidak sedang sakit," tolak Zara lembut.


Lengkung merah muda Arka tersenyum tipis namun sirat makna.


"Kau memang tidak sakit, aku hanya ingin mamastikan sesuatu saja."


Memastikan apa?


Meski tidak ada jawaban yang keluar dari sang suami dan membuat Zara hanya bisa menebak, namun dengan mengaitkan rumasakit sebagai tempat tujuan membuat gadis itu yakin jika ini menyangkut kehamilan yang pernah diucapkan Anastasya.


Sementara itu di tempat yang berbeda seorang pria muda tampak menyebut nama seseorang dan terus memakinya. Di antara kegelapan malam pria muda itu menendangkan kakinya pada gerbang pembatas suatu bangunan.


"Sial, sial, sial.." Makinya tanpa henti.


"Bahkan sudah beberapa hari aku mengintai di tempat ini, tapi kenapa Zara justru tak terlihat batang hidungnya. Atau jangan-jangan, Kiara sedang membodohiku."


Sandy menendang apa pun yang berada di sekitarnya. Tubuhnya yang tak tertutup pakaian bahkan rela ia suguhkan pada nyamuk-nyamuk kelaparan yang saling berebut menghisap darahnya.


Pria itu bahkan rela berjam-jam hanya berdiri mengintai seseorang dari pagar pembatas toko bunga yang tertutup semak-semak. Tak ada yang Sandy lakukan selain mencari dan terus mencari keberadaan Zara. Akan tetapi, setelah beberapa hari melakukan pengintaian di area toko bunga yang disebutkan Kiara. Gadis mungil itu sama sekali tak menunjukan keberadaannya di tempat itu.


Pria itu mengetatkan rahang. Dirinya benar-benar geram.

__ADS_1


"Kenapa sangat susah untuk bisa menemukanmu, Zara. Tapi aku tidak akan pernah menyerah. Lihat saja nanti. Aku bahkan sudah mengantongi kartu As_mu. Jika kau coba main-main denganku, maka aku pun akan dengan senang hati mengikuti permainanmu."


Serigai licik tersungging di bibir seorang pria bodoh yang malah mengakui jika dirinya pintar itu. Hingga tanpa sadar, semakin jauh ia melangkah, maka semakin besar pula kesalahan yang harus ia pertanggung jawabkan.


__ADS_2