
"Kau terlihat sangat cantik, putriku."
Ibu Kiara yang berdiri di ambang pintu, tersenyum haru dan begitu memuji kecantikan paras sang putri yang baru selesai di poles oleh seorang make up Artis kenamaan.
Gadis itu tertunduk malu, setelah sekilas menatap pantulan wajahnya di cermin yang tak seperti biasanya. Kali ini, ia benar-benar terlihat berbeda. Wajahnya yang memang sudah terlihat cantik, dipoles sedemikian rupa hingga wajah imut menggemaskan itu terlihat lebih dewasa dan mempesona.
Perias memasangkan mahkota bertahta berlian di kepala sebagai sentuhan terakhir.
"Sempurna," ucap Sang perias mengagumi hasil karyanya sendiri. Perempuan itu terlihat sangat puas, terbukti dengan senyum lebar yang ia tunjukan kearah calon pengantin wanita dan juga ibunya.
Penampilan Kiara sangat memukau dengan gaun pengantin berwarna putih gading yang menjuntai menutupi kakinya. Bagian lengannya yang panjang membuat gaun pengantin itu terlihat lebih sopan dan pas digunakan untuk momen sakral akad nikah.
Berulang kali gadis itu menghela nafas dalam. Rasa gugup benar-benar menguasainya.
"Ibu." Kiara menatap sendu ibunya yang masih berdiri di ambang pintu.
Spontan, perempuan paruh baya itu pun tersenyum, kemudian berjalan kearah sang putri.
"Ada apa, putriku?" Sang Ibu tak kuasa menahan haru, saat sepasang netra putri sulungnya mulai berkaca-kaca.
"Apa setelah ini, ibu dan ayah akan meninggalkanku?" Terisak lirih, Kiara memandang wajah ibunya begitu lekat. Setelah melepaskan sang putri untuk menikah dengan seorang pria yang dicinta, kedua orang tua kiara beserta adik-adiknya akan melanjutkan hidupnya di kampung, dan meninggalkan dirinya.
Perempuan paruh baya itu pun mengangguk. Sementara kedua tangannya sibuk mengusap bulir bening yang muncul dari sudut netra sang putri.
"Jangan menangis. Lihat, riasanmu bisa luntur karna kau terus menangis." Sang itu terus menggoda putrinya. Berusaha menutupi jika hatinya kini bagai teriris, mengingat tak lama lagi dirinya harus berpisah hidup dengan putri yang teramat ia sayang.
Semua pasti takkan mudah. Semenjak Kiara memutuskan untuk hidup mandiri, sang ibu sejujurnya sempat tak memberi izin, karna tak ingin hidup terpisah. Akan tetapi, apalah daya. Buruknya perekonomian keluarga memaksanya untuk berjauhan dari gadis yang sejatinya masih menginjak remaja kala itu.
Kiara dan sang ibu berpelukan. Untuk sejenak terhanyut dalam dilema perasaan. Tanpa sadar, seorang perempuan anggun berdiri di ambang pintu, kemudian tersenyum haru menatap kearah ibu dan anak yang tengah terlarut dalam kasih sayang itu.
"Ehem. Kiara, bagaimana? Kau sudah siap?"
Suara lembut itu menyapa indra pendengaran Kiara maupun ibunya. Ia pun menoleh kearah sumber suara, dan menemukan Zara yang tengah berdiri dan tersenyum manis kearahnya.
"Zara." Sontak Kiara menyeka buliran bening yang nyaris merusak riasan wajahnya.
"Apa kau sudah siap?" ulang Zara lagi.
Kiara mengangguk samar, pertanya meng-iyakan.
Zara tergelak samar. Ia menyadari akan rasa cemas bercampur tegang yang kini tengah dirasa Kiara. Ia pun mendekat, dan mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan sang sahabat.
__ADS_1
"Jangan berlama-lama. Aku yakin jika Sam pun sudah tak sabar menunggumu di bawah," goda Zara dengan mengedipkan satu netranya, yang mana sukses membuat Kiara tersipu malu dan menunduk dalam.
******
"Saya terima nikah dan kawinnya Kiara Aziza binti Handoyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?" ucap sang penghulu.
"Saahhh..."
"Alhamdulilah."
Ucap puji syukur terdengar bersahutan. Sam mengusap kedua telapak tangan di wajah dengan diiringi buliran bening yang menitik di sudut netra.
Bahagia, tentu saja. Terlebih saat sang pujaan hati yang kini telah menyandang status sebagai nyonya Samudra, berjalan kearahnya dengan sang nona yang mendampinginya.
Sam tak kuasa menahan haru dan rasa kagumnya bersamaan. Dirinya seolah terpesona dengan penampilan sang istri yang teramat memukau.
Gadis manis, polos dan apa adanya itu, kini disulap selayaknya putri dalam dongeng. Luar biasa cantik, meski hanya dirias dengan polesan natural yang tak terlalu tebal.
Sam berdiri sembari mengulurkan tangan kanan, bersiap menyambut sang istri untuk duduk di sampingnya.
Kiara tertunduk, namun sesekali menatap pria tampan yang kini sudah sah menjadi suaminya. Keduanya duduk berdampingan, Kiara menjabat tangan Sam kemudian mencium punggung tanggannya. Sementara itu, tanpa sungkan Sam mencium kening Kiara lembut dengan penuh penghayatan. Riuh tepuk tangan dan sorak sorai tamu undangan yang merupakan teman dekat Sam. Kiara dan Sam tampak memegang buku nikah yang siap diabadikan para fotografer yang berebut mengambil gambar dari sudut terbaik.
Bagi Arka, Sam seperti seorang adik. Dimana kebahagian seorang Sam, menjadi kebahagiaanya pula. Ia yang duduk tak jauh dari Sam, tersenyum lembut kearah sang istri yang terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna peach. Secara spontan tangannya terulur dan menggengam jemari mungil perempuan yang sudah memberinya anak kembar itu.
"Sayang," bisik Arka lembut tak jauh dari telinga sang istri.
Gadis itu pun menoleh, hingga pandangan keduanya pun berpaut.
"Ada apa?" Zara mengerutkan dahi.
Entah apa yang ada difikiran Arka. Tetapi pria itu tampak tersenyum tanpa sebab, yang mana membuat sang istri dibuat terheran.
"Sayang, kau kenapa?" Tangan mungil itu bergerak menyentuh dahi dan pipi sang suami untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Tidak panas," gumam Zara.
Arka tergelak. Lekas meraih jemari sang istri dan menghujaninya dengan kecupan.
"Apa yang kau lakukan? Aku baik-baik saja dan tidak sakit," terang Arka masih dibubuhi serigai tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Tapi kau.." Zara meringis, pasalnya seperti sebuah keanehan dan terbilang tak lumrah jika seorang Arka yang dingin tiba-tiba tersenyum seorang diri tanpa sebab.
"Aku hanya sedang mengenang sebuah momen, di mana aku sedang duduk di hadapan penghulu dan mengucap sumpah untuk menjadikanmu sebagai istriku," bisik Arka tepat di telinga sang istri. Tak perduli dengan ramainya suasana sekitar, pria itu terus menggengam tangan sang istri dengan mesra.
Zara yang mendengar ucapan sang suami kini sibuk mengingat momen sakral yang sudah berjalan sekitar satu tahun lalu.
Pernikahan terpaksa. Mungkin jika saat ini, Kiara sangat bahagian berada pada posisinya sebagai mempelai wanita, namun tidak dengannya pada waktu itu.
Menikah hanya disaksikan pekerja seisi rumah tanpa melibatkan sanak saudara. Disisi lain posisinya yang dinikahi sebagai istri kedua, membuat Zara sama sekali tak menginginkan pernikahan itu terjadi. Momen malam pertama pun, terlewat begitu saja tanpa adanya ritual seperti para pengantin pada umumnya. Akan tetapi, dengan sabar dan berlapang dada, Arka mampu menerima segalanya.
Pria itu sadar akan keadaan, dan tak memaksa seorang gadis polos seperti Zara untuk bisa menerima kehadirannya di tengah pernikahannya dengan Anastasya.
"Sayang, maafkan aku." Zara berucap sendu. Di tatapnya pria itu lekat. Seorang pria luar biasa baik dan sabar, dan juga telah banyak membimbingnya untuk menjadi seorang istri dan ibu yang lebih baik dari hari kehari.
"its ok, sayang. Kalian adalah harta terindah dalam hidupku."
Cup..
Tanpa diduga, satu kecupan mendarat di pipi kanan Arka. Kejadian spontan itu membuat Arka sesaat membeku. Kemudian menatap wajah sang istri yang tertunduk sembari menahan malu.
"I love you, sayang," ucap gadis itu lirih.
"Love you tou, honey," jawab Arka tak kalah lirih dan tepat di telinga sang istri.
Hari itu bukan hanya menjadi hari bahagia bagi Sam dan juga Kiara. Akan tetapi juga tertular pada Arka dan Zara yang kembali diingatkan pada momen sakral beberapa waktu yang lalu. Bagi mereka, seberat apa pun perjalanan hidup dalam berumah tangga, tentunya akan terasa ringan jika keduanya saling menggengam. Mencoba melewati, tanpa patah arang, terlebih berputus asa.
Hidup penuh dengan coba. Disaat tuhan memberi jalan dengan begitu banyak pilihan, maka pilihlah satu jalan dirasa paling tepat, tanpa perlu menyakiti seseorang dari pihak mana pun.
Kak Anastasya, maafkan aku. Aku harap, kau tak pernah merasa terluka akan kehadiranku. Aku berjanji untuk mencari di mana keberadaanku, dan membawamu untuk kembali berkumpul di tengah-tengah kami.
Bersambung....
Hai Hai...
Alhamdulilah bisa update lagiπππ
Seneng rasanya.
Meski lagi sibuk-sibuknya, tetapi Autor benar-benar nyempetin buat Up buat pembaca setia Terjerat Dua Cincin Sang CEO.
Rasanya setiap Komen dan Like dari Kakak sekalian, seperti sebuah energi tersendiri bagi saya untuk terus semangat menulis dan terus menulis.
__ADS_1
Jadi next di tunggu Like dan komen, juga masukannya dari Kakak sekalian. Semoga ga bosen dengan alur cerita yang Autor sajikan yaππππ
Salam hangatπππ