Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Faktor Genetik


__ADS_3

"Apa, kembar?" Untuk sesaat Arka masih terdiam, namun beberapa detik kemudian senyum tipis mulai menggembang hingga berganti menjadi tawa bahagia.


"Kembar, benarkah aku akan punya anak kembar?" ulangnya lagi tak percaya.


Bram yang semula merasa cemas, kini dapat menghela nafas lega. Sebelumnya, ia takut jika Arka justru merasa khawatir akan kehamilan kembar yang dirasakan istrinya tersebut.


"Benar, hanya saja," ucap Bram menggantung.


"Kenapa Kak. Bukankah ini anugrah. Keturun Atmadja belum pernah ada yang melahirkan anak kembar."


"Iya, aku tau. Tapi ini kembar, aku akan punya dua bayi sekaligus, tetapi kau tau sendiri berapa usia istrimu. Dia masih sangat muda."


Arka yang semula berbinar itu, kini kembali berubah cemas.


"Kehamilan setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang nyaman melaluinya, namun tak jarang banyak juga yang menjalani fasenya dengan penuh perjuangan. Jika umumnya satu bayi saja sudah membuat ibu kepayahan, semoga istrimu akan tetap senang menjalaninya dengan adanya dua bayi di dalam perutnya," papar Bram.


Arka berfikir sejenak, membayangkan perut kecil sang istri di isi dengan dua bayi mungil di dalamnya.


"Apa itu terlihat berbahaya?"


Bram menggeleng samar kemudian menepuk bahu Arka sedikit kuat.


"Tidak, hanya saja ibu dengan kehamilan bayi kembar memiliki resiko mengalami masalah kehamilan lebih tinggi dari pada kehamilan anak satu. Mulai dari masalah biasa seperti mual dan muntah di pagi hari, sampai masalah yang lebih serius, seperti anemiah, tekanan darah tinggi, dan diabetes." Bram mengucapnya dengan serius, sebenarnya inilah rasa panik yang sempat ia tunjukan. Arka yang posesif dan terlihat sangat mencintai istrinya, membuat Bram ragu jika pria itu akan baik-baik saja selama mendampingi sang istri hingga melahirkan.


Tatapan Arka berubah sendu. Mungkin kehamilan bayi kembar tak semudah kehamilan biasa seperti yang pernah dilalui oleh Anastasya.


"Apakah seberat itu?"


Bram menanggapinya dengan lebih tenang saat ini.


"Tidak semuanya. Terkadang, banyak kasus kehamilan bayi kembar yang terbilang mudah hingga ibu pun tidak kepayahan dan justru senang menjalaninya."


Pria tampan itu menghela nafas lega. Akan tetapi, tubuh Zara yang terbilang mungil dan usianya yang masih sangat muda membuatnya takut jika proses kehamilan yang ia sangat idamkan justru akan membuat istrinya itu kesusahan.

__ADS_1


"Apakah istriku mampu melewati setiap prosesnya?" Bibir pria itu bergetar,menahan segala rasa yang berkecamuk di dada.


"Kehamilan bayi kembar memang memiliki resiko keguguran lebih besar pada trimester pertama. Ukuran perut ibu pun akan semakin membesar mengingat akan ada dua bayi dan dua plasenta, serta air ketuban yang lebih banyak. Maka dari itu, usahakan asupan nutrisi makanan untuk istri terpenuhi untuk cukup membaginya dengan kedua bayi yang tengah berkembang di dalam perutnya," ucap Dokter Bram memperingatkan.


Arka pun mengangguk samar, namun tatapan netranya kosong entah kemana.


"Selamat, Arka. Aku turut senang luar biasa." Bram menjabatkan satu tangannya sebagai ucapan selamat.


"Aku tidak mengira jika kau bisa membuat anak kembar untuk calon pewaris Atmadja group." Bram menepuk bahu Arka beberapa kali dengan cukup keras hingga pria itu pun terkejut dan menemukan kembali kesadarannya.


Arka pun membalas jabatan dokter Bram dan tersenyum tipis.


"Terimakasih, kak."


"Jangan terlalu difikirkan semua ucapanku. Kita kembalikan lagi semua pada sang pencipta dan yakin jika istrimu akan kuat dan bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja."


"Iya kak. Aku tau, istriku adalah perempuan dan calon ibu yang kuat. Dia pasti bisa melalui proses kehamilannya dengan bahagia."


Entah mengapa, ucapan Bram justru membuat Arka mengulum senyuman.


proses alamiah seorang istri untuk bermanja.


Zara yang sangat mandiri dan jarang sekali manja itu, kini memang terlihat cukup terbuka dan tak sama sekali tak menghindar saat dirinya ingin terus menempel.


Semenjak kedua orang tua Zara mengetahui jika sang putri sudah menikah, Zara semakin banyak berubah. Dia lebih terlihat lepas untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, yang semakin membuat Arka tergila-gila padanya.


"Arka, apa yang kau fikirkan?" Bram menyengol bahu Arka saat pria itu terlihat melamun.


Arka pun tersenyum masam dan memalingkan wajah karena malu.


"Tidak apa-apa, kak. Aku hanya sedang merasKan senang yang tak bisa digambarkan oleh apa pun. Tetapi, apakah aku akan merahasiakan semua ini dari Zara?" tanya Arka masih diseliputi kebingungan.


"Aku rasa jangan. Lebih baik jika kau mengatakan semuanya. Buat dia tetap rileks dan santai. Ingat! Jangan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, hingga akan membuat istrimu ketakutan," perintah Bram.

__ADS_1


Arka pun mengangguk, kemudian bangkit dan ingin segera menemui sang istri yang berada di ruang tunggu.


Pria itu membuka pintu dengan pelan. Seorang perawat yang menemani Zara seketika menundukan kepala dan keluar dari ruangan saat Arka mulai masuk.


"Sayang," sapa Zara dengan senyum manisnya, yang mana memperlihatkan kedua lesung pipi hingga gadis itu semakin terlihat sangat cantik.


Arka menatap lembut sang istri dan duduk menempel padanya. Gadis itu rupanya tengah memakan ice cream dalam sebuah cup cukup besar di tangannya. Di atas meja pun tersaji banyak buah segar dan beberapa macam cake yang sengaja dipersiapkan untuk istrinya.


"Sayang, ingin makan ice cream?" tawar Zara pada suaminya.


Pria itu mengeleng, namun mencondongkan wajahnya kehadapan wajah sang istri dan menjilat sisa ice cream yang berada di sudut bibir istrinya itu.


Arka tersenyum senang, sementara Zara terkejut bukan main dan mendorong tubuh sang suami, takut jika ada yang melihat ulah nakal suaminya itu.


"Aku hanya ingin sisa ice cream dari bibirmu, sayang," goda Arka diiringi kedipan mata, yang mana membuat istri mungilnya itu merona malu.


"Sayang," ucap Arka lirih. Tingkah genit yang baru saja ia tunjukan, kini mulai berubah serius. Zara yang mengamati perubahan wajah sang suami, dibuat cemas. Ia takut jika ada sesuatu hal yang terjadi pada kandunannya.


"Ada apa, sayang. Apa ada masalah pada bayi kita?" Zara mengengam tangan sang suami erat sementara kedua pasang netra saling berpaut pandang.


Arka menggeleng samar kemudian berucap, "tidak, sayang. Hanya saja..." Ragu Arka mengucapnya.


"Ada apa sayang? Katakanlah!" Zara kian panik.


"Kau sedang mengandung bayi kembar sayang. Aku tau itu pasti sangat berat, tapi aku berjanji untuk terus mendampingimu dan menjagamu sebisa diriku."


Zara yang terlihat panik kini justru tersenyum senang. Arka yang sempat didera rasa takut luar biasa menghadapi keterkejutan sang istri justru tercengang saat mendapati wajah sang istri yang berbinar dengan diselingi tawa lirih.


"Sayang, kau tidak takut?" Arka mengusap wajah istrinya dan menghujani keningnya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Hamil anak kembar, kan? Aku tidak takut. Lagi pula, aku juga memiliki saudara kembar, namun sudah meninggal saat masih bayi." Masih diselingi tawa saat gadis itu mengucapnya.


"Benarkah?" Arka lekas membawa sang istri dalam pelukannya. Rupanya bukan tanpa alasan istrinya mengandung bayi kembar. Ini adalah faktor genetik, yang mana ibu dari istrinya mengandung Zara dengan proses yang sama.

__ADS_1


__ADS_2