
Gelap masih menghiasi semesta. Fajar pun masih belum menampakkan wajahnya. Sandy melapisi tubuhnya dengan jaket tebal sebelum menjalankan kuda besinya. Sengaja ia bangun lebih pagi untuk melakukan perjalanan jauh menuju desa kelahirannya.
Sesekali terdengar siulan sebagai luapan kegembiraan dari bibirnya. Meski diawal ia tampak ragu akan tingkat kesuksesan misi yang dijalankan. Akan tetapi, inilah kesempatan terakhirnya. Dengan rencana tersebut, meskipun ia tidak bisa membawa Zara dalam gengamannya, namun setidaknya dengan membuat gadis itu hancur perlahan, bisa sedikit mengobati luka dihati yang pernah gadis itu torehkan padanya.
Semilir angin pedesaan menyapa. Sandy sengaja menurunkan kaca mobil supaya bisa menghirup udara pagi perkampungan yang masih asri itu. Setelah tiga jam perjalanan, pria tampan berkulit kuning langsat itu mulai memasuki jalanan masuk kekediaman Zara.
Letak rumahnya pun tak jauh dari Zara. Hanya saja, dirinya enggan untuk singgah ditempat di mana kedua orang tuannya berada. Pria itu lebih tertarik dengan apa yang menyangkut Zara saat ini. Baginya, gadis itu punya daya pikat tersendiri yang tak mampu dijabarkan dengan kata-kata.
Kendaraan itu terhenti di tepi jalan sebuah rumah yang tampak sederhana. Mentari mulai menyapa dan menunjukan sinarnya. Sandy masih berada di dalam mobil meski mesin sudah dimatikan. Tatapannya tertuju pada seorang pria pria paruh baya yang duduk di kursi roda tengah memberi makan ayam di pekarangan rumah. Sementara sosok sang istri, berdiri di belakangnya sembari memijat pelan bahu suaminya. Sepasang suami istri itu tampak bahagia dan sesekali bercengkerama.
"Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati," gumam Sandy yang fokus pada pasangan paruh baya itu.
"Setelah aku berhasil meledakkan bom di rumah ini, apakah kalian masih mampu untuk tersenyum seindah pagi ini Paman, Bibi." Gelak lirih namun mengerikan terdengar di dalam kuda besi itu. Sandy meraih majalah usang dan membawanya dalam gengaman sebelum kakinya melangkah menuruni kendaraan berwarna hitam itu.
"Sejujurnya aku tak tega Zara. Hanya saja, aku tengah berusaha untuk mengobati rasa hatiku, dengan membuatmu hancur secara perlahan." Bibir berkomat kamit sementara kaki melangkah ringan.
Sepasang suami istri itu masih tidak menyadari akan kehadirannya. Bercengkrama satu sama lain, dengan memberi makan hewan ternak yang berkejaran kesana kemari.
"Ehem, Assalamualaikum. Selamat pagi Paman, Bibi. Bagaimana kabar kalian," Sapa Sandy dengan senyum lebar hingga menampakkan jajaran gigi putihnya.
Sepasang suami istri itu serempak menoleh, menuju kearah sumber suara.
"Nak Sandy," ucap Rumi. Ia pun lari tergopoh meninggalkan Jamil sang suami untuk menyambut kedatangan Sandy.
Senyum kemenangan sukses tergambar di wajah tampan Sandy. Ia pun merentangkan kedua tangan untuk mendekap perempuan yang sudah melahirkan Zara tersebut.
Rumi tanpa sungkan memeluk pria muda yang sepengetahuannya sangat baik dan berbudi luhur. Tak dipungkiri, Rumi pun merindukan sosok Sandy, sama seperti dirinya merindukan Zara sang putri.
__ADS_1
"Alhamdulilah baik nak. Nak Sandy sendiri bagaimana?" tanya Rumi sesaat setelah saling melepaskan dekapan.
"Seperti yang Bibi lihat, aku baik-baik saja." Sandy mengeser pandang kearah pria yang terduduk di kursi roda berjarak cukup jauh darinya. "Paman, bagaimana keadaan paman?" Ia pun mendekat dan duduk berlutut di hadapan jamil.
Pria paruh baya itu merasa terharu atas perhatian yang diberikan Sandy. Satu tangannya bergerak mengusap surai lembut milik pria muda yang mempunyai hubungan cukup dekat dengan sang putri.
"Alhamdulilah, Paman pun merasakan baik-bsaik saja."
Rumi menatap kearah kuda besi yang terparkir di jalanan. Kendaraan itu seperti tak berpenghuni. Ia hanya menghela nafas dalam dan melempar tanya pada Sandy.
"Nak Sandy. Di mana Zara. Apa dia tidak ikut pulang?" Gurat kekecewaan tergambar. Hati yang selalu menahan rindu pada sang putri dan mengharap kehadirannya sepanjang hari. Kini justru tak terlihat hadir.
Sandy menghela nafas dalam. Membangkitkan tubuhnya yang semula berlutut untuk berdiri tegak.
"Dia tidak ikut pulang bersamaku, Bi," jawab Sandy berpura-pura mengiba.
"Kenapa? Bukankah selama ini putri kami ikut dengan Nak Sandy. Apa Zara juga tidak merindukan kami?" Jamil mulai sedikit emosi. Bagaimana mungkin setelah beberapa bulan hidup di kota dan tinggal terpisah, Zara sama sekali tak berkeinginan untuk menengok kedua orang tuanya untuk melepas rindu.
"Maaf Paman, Bibi. Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tapi tidak di sini, lebih baik kita masuk dan membicarakannya di dalam."
Rumi terdiam sebentar sebelum memutuskan memasuki kediamannya. Dari ucapan pria muda itu, kenapa membuat hatinya seketika merasa terganjal. Apa kiranya yang heendak anak muda itu katakan.
*****
"Itu tidak mungkin, Nak Sandy. Ibu tahu benar siapa Zara. Dia tidak mungkin melaskukan hal serenddah itu." Menanggis sesegukan, Rumi yang menggengam tangan sang suami itu hanya mampu menguatkan diri selama Sandy sibuk bercerita.
"Demi tuhan, bibi. Jika paman dan bibi tidak percaya." Sandy membuka majalah yang sedari tadi dalam gengaman. "Ini pria kaya yang selama ini menjadi mesin uang Zara," tunjuk Sandy pada foto Arka yang terpampang dengan gambar cukup besar.
__ADS_1
Rumi memberanikan diri untuk menyentuh lembaran kertas itu meski tanganya bergetar hebat.
"Selama satu bulan di kota, Zara memang masih tinggal di kontrakan yang berdekatan dengan rumah saya. Akan tetapi, saya yakin setelah mengenal pria bernama Arka, Zara pun memilih pergi dan tinggal dengan pria kaya itu. Tak sampai disitu, menurut kabar yang beredar, pria tersebut bahkan sudah menjadi istri, dan yang lebih mengejutkan lagi, Zara pun kini sudah mengandung anak dari pria beristri ini."
Tubuh sepasang suami istri itu lemah tak berdaya. Bagaimana sang putri kesayangan tega mengkhianati kepercayaan dalam sekejap mata.
Tangis keduanya pesak, isak pilu dan luapan kekecewaan tertumpah dalam rumah yang mereka bangun dengan sejuta kasih sayang.
Rumi menggelengkan kepala kuat, hatinya masih terus menolak.
"Tidak Nak Sandy. Ibu tetap tidak percaya. Selama ini Zara bahkan rutin mengirim uang setiap bulannya pada kami. Bahkan sesekali ia masih menelfon, hanya untuk melepas rasa rindu."
Sandy tersenyum kecut. Menggoyahkan kepercayan kedua manusia tua ini tak semudah dengan yang diharapkan. Ia harus lebih jeli dan gesit agar tak salah pijakan.
"Selama ini Zara tidak bekerja bibi. Jadi uang yang ia dapat pastilah uang yang pria kaya itu berikan padanya. Baik jika paman dan bibi tidak percaya. Saya hanya mengatakan kebenaran." Sandy mulai bangkit dari duduknya, ia berniat untuk meninggalkan rumah jamil, meski sebenarnya hanyalah ekting belaka.
"Tunggu Nak Sandy," cegah Rumi saat Sandy mulai melangkah. "Bagaimana jika ucapan Nak Sandy itu ada benarnya," ragu perempuan paruh baya itu mengucap. Namun, ia juga tak ingin jika sang putri sampai menempuh jalan yang salah.
"Bibi bisa ikut kekota bersamaku besok, dan lihat sendiri bagaimana Zara saat ini. Tapi aku juga tidak memaksa. Aku hanya ingin bibi mengetahui yang sebenarnya. Semua itu kukatakan karna aku peduli pada Zara. Aku juga mencintainya, tapi dia justru mencampakkanku saat menemukan pria yang lebih mapan dariku." Sandy menatap sendu kearah Rumi dan Jamil. Seolah dirinyalah seseorang yang merasa paling tersakiti.
Rumi menatap kearah jamil seolah meminta persetujuan. Tak berapa lama, pria itu pun mengangguk.
"Baik nak Sandy. Besok ibu akan ikut denganmu."
Seketika Sandy tersenyum tipis, namun hatinya tergelak kencang.
Permainan baru akan dimulai Zara. Bersiaplah, bukan hanya aku, bahkan ibumu pun mungkin akan berpihak kepadaku setelah melihat sendiri kelakuanmu.
__ADS_1