Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Titik Balik


__ADS_3

"Zara, menikah dengan suami Nona Anastasya?" Kiara terus bergumam saat ia menaiki taksi untuk pulang. Dia benar-benar terlihat syok, dan sulit untuk mempercayai apa yang baru saja ia lihat.


Memang pada saat itu ia sempat melihat dengan mata kepala sendiri, drama pertikaian keluarga yang terjadi antara Zara dan ibunya. Ia pun tak tau pasti apa yang sebenarnya sudah terjadi. Akan tetapi, suami nona Anastasya pun terlihat ada di tempat itu.


"Dan Sandy? Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?"


Hingga taksi yang membawanya menepi dan menurunkannya pun, otak Kiara masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri tak mampu menjawabnya. Kakinya pun mulai melangkah menuju jalan masuk gang, di mana kosnya berada.


Di sinilah Kiara tinggal. Rumah berukuran mungil dengan beberapa ruangan di dalamnya. Sejak memutuskan untuk mengais rezeki di ibu kota, Kiara harus lebih pintar mengatur keungan, agar gaji yang ia dapat bisa mencukupi bahkan melebihi dari pengeluaran biaya hidupnya.


Gadis manis itu membuka pintu tempat tinggalnya perlahan. Melepas kemudian menyimpan kembali sepatu hak yang ia pakai di sebuah rak. Suasana sekitar kos tersebut cukup ramai. Banyak anak-anak perantauan lain yang hidup sepertinya. Bukan hanya dari golongan pekerja, para pelajar pun juga banyak mengisi tempat kos di sini.


Mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan, Kiara lantas menuang teko berisi air putih kedalam gelas, kemudian meneguknya. Tenggorokannya yang terasa kering kini terasa segar seketika. Namun sayangnya, suara gemuruh di perutnya pun ikut terdengar, yang mana membuat gadis itu mendesah malah.


"Gara-gara tuan itu aku bahkan tak sempat memakan sajian apa pun di pesta sahabatku sendiri." Gadis itu mengumpat namun tangannya meraih sebuah piring kemudian mengisinya dengan nasi hangat dari dalam Rice coocker.


Membuka tudung saji dengan hati-hati, senyum gadis manis itu pun tercetak mana kala masih menemukan telur dadar sisa sarapan tadi.


"Alhamdulilah, setidaknya aku tidak akan kelaparan."


Kiara terlihat menikmati makan malamnya. Walau telur dadar tersebut sudah dingin, namun nasi yang hangat membuatnya terasa tetap nikmat. Begitulah kehidupan Kiara. Terbilang sangat sederhana.

__ADS_1


Meski gaji yang ia dapat dari Nona Anastasya cukup besar, namun ia harus pintar untuk mempergunakan setiap rupiah yang ia dapat dengan tepat. Selain digunakan untuk mencukupi hidupnya, ia juga harus mencukupi kebutuhan orang tua dan adik-adiknya di kampung.


Bisa dikatakan jika Kiara adalah tulang punggung keluarga. Setiap bulannya ia rutin mengirimkan sebagian uang gajinya, untuk keluarganya. Tak sekali pun ia mengeluh, dia merasa jika itu memang sudah menjadi kewajibannya sebagai anak sulung dari keluarga kurang mampu.


Sepiring nasi dan telur dadar tandas dalam hitungan menit. Perutnya pun sudah terisi penuh, berganti dengan kantuk yang mulai menyergap. Gadis itu lebih dulu membersihkan tubuh, sebelum menghabiskan sisa malamnya dengan beristirahat.


Di kesunyian malam, Kiara menatap nanar langit-lagit kamar. Sekelebat memorinya teringat kembali akan sosok Sandy yang pernah datang di kehidupannya.


"Kenapa kau datang, kemudian pergi dengan cara seperti ini?" Sandy memang sempat memberi warna dihidupnya, namun tak jarang ia pun menggoreskan luka saat keduanya masih bersama.


Kiara sempat tak mempermasalahkan modal yang kerap ia keluarkan saat berkencan. Karna gadis itu berfikir jika ia pun tak ingin memberatkan sang pacar untuk membayar tagihan makanan yang sudah terlanjur masuk kedalam perutnya.


Akan tetapi, ia kerap mendapati pesan masuk atau panggilan dari beberapa gadis yang menurutnya terkesan mesra, dan lebih pantas disebut sebagai sepasang kekasih. Kiara sempat tak terima dan meminta pada Sandy untuk mengakhiri saja hubungan yang ada, namun pria itu tetap menolak dan terus berkilah jika gadis-gadis itu hanyalah teman yang terobsesi akan pesona yang ia miliki.


"Sandy, biarlah aku menutup kenangan pahit masa laluku bersamamu. Kini, aku akan mulai menyongsong masa depanku sendiri tanpamu."


*****


Saat-saat seperti inilah yang begitu sangat dirindukan Anastasya. Keduanya menatap langit malam penuh bintang dengan membiarkan jendela kamar hotel tempat keduanya terkurung tetap terbuka.


Gadis itu menyandarkan kepala di bahu pria yang masih ia cinta. Dengan menyaksikan bintang berkedip di agkasa.

__ADS_1


"Begitulah kebenarannya, sayang. Sungguh, aku tidak pernah berniat untuk meninggalkanmu, akan tetapi keadaanlah yang memaksa kita untuk hidup secara berjauhan.


Anastasya mengangguk, butuh waktu dua jam untuk Rangga bisa menjelaskan semua perkara yang sudah terjadi. Gadis itu mulai bisa menerimanya dengan lapang dada. Bagaimana pun, keduanya masih sama-sama mencintai dan tak bisa begitu saja dipisahkan.


"Tetapi, aku masih ragu dengan hubungan kita kedepannya jika kita terus berusaha untuk memperjuangkannya."


"Kenapa?" Rangga menatap sang gadis lekat dan memberikan usapan lembut pada puncak kepalanya.


Anastasya mengalihkan pandangan, dirinya engan untuk mengatakan tentang apa kendala terbesar yang akan mereka hadapi jika tetap memaksa untuk bersama.


"Apakah orang tuaku?"


Gadis itu mengangguk samar, yang mana dijawab Rangga dengan helaan nafas dalam.


"Waktu dua tahun mungkin sudah mengubah sifat dan prinsip seseorang, sayang. Mungkin, begitu juga dengan orang tuaku."


"Tapi bukan berarti jika mereka merestui hubungan kita, bukan? Bagiku, untuk mendapatkan restu orang tuamu adalah hal yang mustahil untuk kudapatkan." Menelan kegetiran, jika mengingat akan restu orang tua, Anastasya hanya bisa menahan kepedihan saat dirinya harus dihadapkan pada bayang-bayang Kasta dan pangkat keluarga Rangga.


"Sayang, jangan berkata seperti itu. Yakinlah jika kelak kehidupan kita pun akan bahagia." Rangga berusaha untuk menghibur Anastasya. Ia tak mampu untuk menyaksikan gadisnya itu terus menelan rasa pedih dalam menjalani hari-harinya.


Anastasya tersenyum penuh ironi. Kini hidupnya bahkan seperti mati rasa. Bahagia dan derita tak lagi mampu untuk dibedakan. Bahkan lara pun sudah seperti sahabat baginya.

__ADS_1


"Aku sendiri sudah lupa seperti apa rasanya bahagia. Hidupku berada dalam keterputus asaan setelah kau pergi. Dan saat kau kembali, aku ragu untuk bisa mengecap rasa bahagia semanis dulu." Seperti menatap bayang-bayang luka masa lalu, netra sendu itu berkaca-kaca dialiri kepedihan.


Rangga tak mampu menahan kepedihan. Batinnya terasa teriris mendengar pengakuan sang gadis akan kepedihan karna ulahnya. Ia pun merengkuh tubuh Anastasya dalam dekapannya. Ingin membuktikan bahwa kali ini ia benar-benar melindungi gadis yang ia cinta dari apa pun. Keduanya saling mendekap dan menangis bersama. Membiarkan semua rasa melebur bersama buliran bening yang mengalir tanpa diminta. Mereka pun berharap, selepas permasalah pelik yang sempat menerjang, akan menjadi titik balik untuk kehidupan yang lebih cerah di masa depan.


__ADS_2