Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Kedatangan Ibu


__ADS_3

Arka menatap kosong pantulan wajahnya dari kaca mobil. Seperti inikah rasa rindu sebenarnya? Tak ingin terpisah oleh jarak dan waktu pada seseorang yang kita sayang. Pria itu meremas kedua tangannya yang bertautan. Seketika Arka mengingat sesuatu.


"Sam," ucap Arka.


"Iya, Tuan."


"Astaga, kenapa aku sampai melupakan hal sepenting ini?" Arka menatap paper bag berisikan kotak ponsel yang sempat dibelinya untuk Zara dengan pandangan nanar. Akibat rasa gugup yang melanda, pria tampan itu justru meningalkan benda berwarna merah itu di dalam mobil dan meninggalkanya begitu saja saat menemui istrinya.


Sam sedikit mencondongkan tubuhnya kearah belakang, masih tak mengerti akan ucapan Tuannya.


"Adakah sesuatu yang sempat kita lupakan, Tuan," tanya sam pada Arka.


"Ponsel merah muda untuk istriku, tak sempat aku berikan kepadanya," gumam Arka, kemudian meraih dan memindahkan bungkusan itu dalam pangkuannya.


Apa? Jadi ponsel itu belum sempat Tuan berikan? Lalu untuk apa Tuan menemui Nona? Bukankah tujuan utamanya ialah memberikan ponsel yang sudah Tuan pilihkan sendiri warna beserta modelnya.


Sam hanya mampu menghela nafas dalam sembari menggengam kemudi. Sepertian Tuan Arka kini benar-benar dilanda kasmaran. Tak jarang ia mendapati sang Tuan melamun namun dengan bibir yang mengembangkan senyuman. Entah apa yang Tuannya itu lamunkan, hanya saja dirinya jika Tuannya tengah diliputi perasaan senang.


"Tuan." Sam memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa?" Arka yang duduk bersandar di kursi penumpang menjawab dan menatap punggung lebar Sam.


"Jika Tuan sudah merasa nyaman dengan Nona Zara, lalu bagaimana dengan Nona Anastasya?" Ragu-ragu Sam mengucapnya.


Terdengar Arka menghela nafas dalam. "Entahlah. Aku juga tak tau pasti. Hanya saja aku masih mempunyai satu misi yang masih belum tertuntaskan."


"Maksud Tuan," tanya Sam tak mengerti.


"Aku tak bisa mengatakannya padamu sekarang, namun satu yang pasti. Di dalam menjalankan pernikahanku dengan Zara, ada perasaan Anastasya yang harus kami jaga. Aku tak ingin membuatnya tersisih dan merasa tergantikan posisinya sebagai istri pertamaku."


Sam terdiam. Meresapi ucapanya Tuannya. Memang mereka tengah terlibat dalam suatu hubungan yang rumit. Selepas itu, keduanya saling terdiam dan kembali kerumah utama Arka dengan keheningan.

__ADS_1


*****


Arka terlihat beberapa kali menguap. Malam sudah semakin larut saat Arka beserta Sam memasuki rumah utama. Para pelayan termasuk surti, senantiasa menyambutnya. Akan tetapi ada yang berbeda dari suasana malam ini yang tak seperti malam biasanya. Anastasya terlihat menyambutnya dan tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Anastasya, kau menyambutku," ucap Arka tak mampu menahan keterkejutannya. Pasalnya, selepas menikah Anastasya terbilang sangat jarang menyambutnya seperti malam ini.


"I-iya, aku menyambutmu." Anastasya bangkit dari posisinya, bergegas meraih tangan sang suami kemudian mencium punggung tangannya.


Arka terkesiap. Merasakan adanya keganjilan. Benar saja, saat pria itu mendekat kearah salah satu sofa ruang tamu, sesosok tubuh yang duduk dengan memunggunginya tampak bangkit. Arka tersentak saat mengetahui siapa pemilik tubuh tersebut.


"Ibu?"


Perempuan paruh baya dengan rambut sedikit bergelombang itu menatapnya.


"Putraku, bagaimana kabarmu, Nak." Mendekat dan memeluk putra sulungnya.


"Ibu datang kemari dan kenapa tidak mengabariku lebih dulu?"


Perempuan paruh baya itu mengendurkan dekapannya. Memandang keheranan putranya.


Arka yang berniat mencegah, kalah cepat dari gerakan tangan ibunya.


"Ponsel?" ucap perempuan paruh baya itu dan mulai membuka kotak hingga ponsel merah muda berhiaskan berlian itu terlihat jelas. "Wah cantik sekali, dan siapa kiranya pemilik ponsel lucu ini? Apa ini untuk istri yang kau nikahi tanpa sepengetahuan Ibu?" Mirah menekan ucapan diakhir kalimat dengan menatap lekat kedua netra putranya.


Glek..


Arka menelan salivanya dengan susah payah, begitu pun Anastasya. Raut wajah keduanya sama-sama pias.


"Darimana ibu bisa tau? Aku bahkan tidak---


"Tidak memberitahukannya pada ibu, bukan?" Mirah meninggikan nada bicaranya hingga nyali Anastasya yang hanya duduk diam semakin mencium dan mengurungkan niat untuk menjawab ucapan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku, Ibu."


"Apa yang tak kuketahui tentangmu, Nak. Jangan kau kira jika selama ini ibu lalai mengawasi pergerakanmu. Ibu tetaplah seperti Ibu yang dulu, tetap perduli dan memantau kehidupanmu."


"Anastasya." Kini pandangan Mirah beralih pada Anastasya yang tertunduk dan membisu.


"Iya Ibu."


"Istirahatlah di kamarmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan suamimu," titah Mirah yang seketika diangguki oleh Anastasya. Bergerak cepat menuju lantai atas kamarnya, Anastasya bahkan tak punya keberanian untuk berbalik menatap ibu mertuanya.


"Ikut Ibu keruang kerjamu." Mirah melangkah lebih dulu menuju ruang kerja Arka tanpa melepaskan bungkusan berisi ponsel milik Zara.


Ruangan pribadi Arka ini seketika mencekam. Mirah duduk di kursi putar yang biasanya Arka gunakan. Tatapannya menghunjam dan mengintimidasi sang putra. Akan tetapi hebatnya Arka, pria itu tampak tak gentar dan membalas tatapan dengan keberanian.


"Katakan pada ibu, apa yang melandasimu untuk menikahi gadis itu?" Pertanyaan pertama yang mampu membuat Arka baggaikan tercekik.


"Aku mencintainya ibu," jawab Arka lantang.


"Itu jawaban yang terlalu sering kudengar. Saat kau menikahi Anastasya, alasanmu pun sama. Tetapi kenyataanya sungguh berbeda."


"Ibu, aku mohon," ucap Arka mengiba.


"Ataukah karna rasa iba, hingga kau menikahi seorang gadis yang masih berusia delapan belas tahun? Katakan Arka, Ibu tak ingin mendengar adanya kebohongan lagi di rumah ini!" Emosi Mirah seketika memuncak. Menginginkan penjelasan sejujurnya dari putranya. Mengingat selayaknya hubungan pernikahan bukan sesuatu permainan.


"Ibu! Sudah. Dengarkan aku lebih dulu." Arka menghela nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku sangat mencintai istriku, Zara. Jika ibu tak percaya, ibu bisa menatap mataku. Tidak akan ada kebohongan di sana. Memang dia masih berusia sangat muda, begitu jauh denganku, namun pemikirannya begitu jauh dari gadis seusianya. Begitu dewasa dan penuh pertimbangan. Ibu pasti akan senang jika bertemu dengannya." papar Arka tanpa menganti porsi takaran yang gadis itu miliki.


"Lalu kenapa kalian memilih diam-diam dan mengelar pernikahan tanpa sepengetahuan ibu?" balas Mirah dan tetap kekeh pada pendiriannya.


"Itu karna ada satu hati yang harus kami jaga, Anastasya. Walau dia sama sekali tak keberatan, tapi dari lubuk hati terdalamnya, Anastasya pasti merasakan luka." Arka meraih jemari ibunya. "Ketahuilah Bu, kami hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Aku pun berjanji akan memulai merapikan sendiri masalahku, menyingkirkan benang-benang rumit yang dulunya pernah aku rangkai sendiri." sambung pria itu lagi.


Mirah mendesah pelan. Amarah yang sempat meledak, kini perlahan mulai mereda.

__ADS_1


"Ibu percaya kau bisa menyelesaikan sendiri masalahmu, tapi itu nanti. Yang lebih utama, bawa gadis itu kehadapanku segera. Jangan mencegah atau menghalangiku untuk berbica empat mata dengan istri kecilmu itu. Kau mengerti?"


Arka menganguk samar. Sama sekali tak mampu menolak keinginan ibunya. Meski sejujurnya ia tak rela jika Zara mendapatkan perlakuan buruk dari perempuan yang sudah melahirkanya itu, namun di sisi lain inilah waktu yang tepat mempertemukan mereka untuk pertama kalinya.


__ADS_2