Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Aku Harus Tau Diri


__ADS_3

"Bersihkan tubuhmu dan gunakan pakaian Bibi untuk sementara." Ratih mengisi bak mandi dengan air dingin dan menuangkan air panas hingga suhu air itu pun menjadi hangat.


Menatap kearah sang keponakan yang masih duduk terdiam, perempuan paruh baya yang mengunakan pakaian rumahan cukup longgar itu pun mendekat kemudian mengusap lembut wajah gadis mungil yang nampak kelelahan itu.


"Mandilah, nak. Selepas makan, kau bisa beristirahat dan tidur dengan nyaman."


Tersenyum tipis, sang gadis kemudian mengangguk dan tanpa bicara segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ratih menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu. Batinya terasa teriris, seperti mampu merasakan penderitaan yang gadis itu alami.


Kenapa tuhan memberikan cobaan seberat ini kepadamu, nak. Andai saja jika kami tau akan seperti ini jadinya, maka kami pun tidak akan pernah mengizinkanmu untuk bekerja di kota kala itu.


Tak berapa lama gadis itu pun muncul. Pakaian milik Ratih yang kini melekat di tubuh Zara terlihat kebesaran. Hingga tubuh mungil itu tenggelam dalam balutan daster longgar bermotif batik.


"Kemarilah nak. Bibi sudah menyiapkan makanan," ucap Ratih kemudian menarik satu buah kursi yang berada di sisi kanannya.


Zara dengan senang hati mengikuti perintah sang bibi. Meski tak banyak kata yang terucap dari bibirnya. Dengan cekatan Ratih meraih satu buah piring dan menambahkan nasi beserta lauk dan sayuran kedalamnya.


"Makanlah. Bibi memasak makanan kesukaanmu."


Gadis itu menatap hidangan di piringnya. Bulir bening nyaris menitik saat mendapati beberapa masakan kesukaannya tersaji di atas meja makan.


Ikan kembung pedas, tumis kangkung dan tempe goreng menjadi makanan kesukaannya saat tinggal bersama orang tua. Dan kini, semua menu itu tersaji di depan netra yang tak ayal seperti mengobrak abrik jiwa hingga tangis pun tak tertahan.


Sadar jika masakan yang ia hidangan justru membuat sang keponakan menangis, Ratih pun dibuat serba salah dan berusaha menenangkan Zara.


"Sudah nak, jangan menangis. Bibi tau jika kau sedang bersedih, tapi kau juga harus makan demi kesehatanmu dan bayi yang ada di perutmu."


Mendengar ucapan Ratih, membuat Zara sadar akan suatu hal. Ia meraba perut ratanya yang teramat pedih dan kelaparan. Seolah meminta maaf pada janin yang dikandung, gadis itu pun meraih sebuah gelas yang terisi penuh air putih dan meneguknya hingga separuh.

__ADS_1


"Nah, makanlah yang banyak. Supaya tenagamu pulih kembali," ujar Ratih menyemangati.


Zara menghela nafas dalam, mengucap doa sembari menutup kedua netra. Gadis dengan surai diikat ekor kuda itu mulai menyuapkan makanan kemulutnya.


Satu suapan yang menyapa indra perasanya terasa hambar dan susah untuk tertelan. Bukan hanya teringat akan kedua orang tuanya, namun juga ada seorang suami yang ia tinggalkan tanpa meninggalkan jejak.


"Bibi, maaf. Sepertinya Zara tidak bisa untuk melanjutkan makan lagi."


"Kenapa? tanya Ratih sedikit terkejut. "Apakah makananya tidak enak? Bibi bisa menggantinya dengan masakan lain jika kau tidak menyukainya."


"Tidak," sambar Zara sebelum sang bibi salah paham. "Bukan begitu maksud Zara bi, hanya saja---" Gadis itu tak mampu menyelesaikan kalimat dan justru menunduk menahan kesedihan.


"Kenapa, katakan pada Bibi. Apa ada sesuatu yang membuatmu sedih." Perempuan itu mengarahkan satu tangannya untuk mengusap puncak kepala keponakannya. Selain Rumi, sang ibu. Ratih juga begitu dekat dengan gadis tersebut mengingat dirinya tak dianugerahi seorang buah hati pun atas pernikahannya dengan sang suami. Selayaknya anak kandung, Ratih pun ikut membesarkan Zara dengan limpahan kasih sayang yang tak jauh berbeda dari Rumi.


"Zara sudah pergi dari rumah, tanpa sepengetahuan suami Zara."


"Apa!" Ratih tak mampu menyimpan keterkejutannya. "Zara, ini masalah besar, bagaimana jika saat ini dia sedang mencarimu?"


"Selama ini aku berusaha diam. Menuruti kemauan tanpa menolak. Tapi apakah suamiku bisa mengerti akan isi hati dan kondisiku. Aku hanya ingin suamiku datang dengan ketulusan hati dan penuh rasa percaya diri untuk menemui Ibu dan Ayah sekaligus meminta restunya. Tapi, tetap saja. Selama beberapa bulan pernikahan berjalan, sama sekali tak ada yang berubah. Ibu dan Ayah tetap tak mengetahui jika putrinya sudah dipinang oleh seseorang." Zara meratapi kehidupan rumit rumahtangganya sendiri.


"Apa kau tidak pernah mengatakan tentang keinginanmu itu pada suamimu?" Ratih menatap wajah sendu itu lekat.


"Belum," Zara menggeleng. "Aku hanya istri kedua dari suamiku. Aku tidak berani berharap banyak padanya."


Ratih terdiam, dirinya tak terkejut mengingat Rumi sudah menceritakan semua tentang putrinya.


"Bibi dengar, suamimu adalah pria cukup berpengaruh di Ibukota. Apa dia juga memperlakukanmu dengan baik layaknya istri pada umumnya?" Sejejak keingintahuan tergurat di wajah Ratih. Bagaimana pun gadis di depannya ini masih sangat muda dan belum mengerti akan seluk beluk hidup berumahtangga.


Zara mengangguk. "Iya, bahkan sangat baik hingga aku merasa tak sepadan untuk berdampingan dengan beliau. Aku berada di dalam istana megah dan penuh dengan kemewahan, akan tetapi semua itu sama sekali tak berharga bagiku. Aku sadar, semua fasilitas itu aku dapatkan dengan merenggut hak yang seharusnya dinikmati oleh istri pertamanya."

__ADS_1


"Bagaimana pernikahan itu terjadi? Apakah kau berusaha merebut seorang suami dari tangan istri sahnya?"


Zara menghela nafas dalam, ia pun harus mengatakan yang sebenarnya hingga Ratih tak salah paham dan melayangkan berbagai tuduhan seperti yang sang ibu ucapkan.


"Tidak, masalah ini sebenarnya cukup rumit. Tak banyak yang tau tentang pernikahan kami selain orang yang berada dalam kediaman suamiku. Aku menikah karna permintaan istri pertama suamiku, entah apa yang ada difikirannya hingga menarik paksa diriku untuk hadir di tengah pernikahan mereka."


Mendengar ucapan sang keponakan, ratih pun terkesiap. Manakah ucapan yang benar, yang terucap dari bibir Rumi atau putrinya.


"Sebentar, Bibi masih tidak mengerti. Jadi bukan kau lah yang sengaja hadir di antara mereka?"


Zara mengangguk sebagai jawaban.


"Zara memang sengaja tak memberitahukan kabar pernikahan ini, mengingat menikahi pria yang sudah beristri. Zara sadar, jika Ibu dan Ayah mengetahuinya maka tanpa berfikir panjang mereka akan langsung menolaknya. Sedangkan Nona Anastasya, istri pertama suamiku justru mengancam ingin mengakhiri hidup jika aku menolak keinginannya."


Ratih menggeleng tak percaya. Tak habis fikir kenapa si istri pertama justru melakukan tindakan tak terpuji semacam itu.


"Kau yakin jika istri pertamamu itu sedang baik-baik saja. Wanita normal pada umumnya pasti tidak menginginkan suaminya menikahi wanita lain apalagi hidup di bawah atap yang sama dengannya." Ratih mulai meradang. Menerka-nerka seperti apa sosok Anastasya sebenarnya.


"Entahlah, mungkin ada alasan kuat yang melandasi nona melakukan hal demikian. Kini mereka sudah resmi bercerai, dan sedikit banyak aku pun menyalahkan diriku sendiri atas kehancuran rumah tangga merema."


Zara pun sadar, ia tidak boleh terlena dalam keadaan ini. Terlihat berada di atas angin, namun hidungnya justru terhempas ketanah hingga menyisakan rasa sakit yang teramat, imbas dari perceraian Anastasya yang dipicu oleh kehadirannya.


"Lalu apa rencanamu untuk kedepannya, nak. Tdak mungkin jika kau akan selamanya seperti ini."


Zara menggigit bibirnya kelu. Tak mampu mengambil keputusan yang akan ia jalani selanjutnya.


"Entahlah, Bi. Sebagai seorang wanita, yang sudah merusak kebahagiaan wanita lain, maka aku pun harus tau diri. Tidak berani berharap, jika suamiku akan mencari di mana keberadaanku, dan menjemputku untung pulang."


Gadis berbibir semerah cery itu mengusap buliran bening yang mengalir. Mengapa rasanya sakit selepas mengucapnya. Bayangan wajah sang suami, kini terlintas difikiran. Dekapan hangat dan usapan tangan, membuatnya teringat akan kasih sayang yang pria itu curahkan kepadanya. Apakah ini yang namanya benar-benar cinta, rasa sayang, dan rasa rindu jika terpisah.

__ADS_1


Zara berusaha mengerjapkan netra, berharap banyangan sirna, akan tetapi semua usahanya percuma. Wajah pria itu justru kian terasa dekat, dan menghantuinya.


__ADS_2