Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Sah


__ADS_3

Mentari masih bersembunyi malu-malu untuk menampakkan sinar keemasan di ufuk timur. Kicau burung merdu saling bersahutan, seakan mengagungkan betapa indahnya karunia sang pencipta yang dengan segala kemurahannya, tanpa rasa lelah menghidupkan suasana pagi dari hari kehari.


Seluruh penghuni kediaman rumah Arkana Surya Atmadja tampak bersemangat. Baik pemilik rumah, pengawal atau pun seluruh pelayan yang mengabdi kepada keluarga baik hati itu. Senyum bahagia tak luntur dari wajah-wajah lelah mereka.


Rumah megah itu di rubah sedemikian rupa hingga menyerupai layaknya gedung resepsi pernikahan dengan dekorasi bunga hidup di segala sisi. Koki yang bekerja keras sedari pagi buta, kini mampu merampungkan berbagai jenis makanan yang ditata dalam meja prasmanan tepat pada waktu yang sudah ditentukan.


Tak jauh berbeda. Wajah para koki pria itu pun tak kalah berbinar senang. Disetiap makanan yang disajikan, terselip doa tulus yang ditujukannya untuk kedua mempelai. Meskipun begitu banyak pertanyaan tersimpan di benak mereka, namun para koki meyakini jika semua yang sudah menjadi keinginan sang Tuan, pasti itulah yang terbaik.


Dibalik wajah bahagia dan berbinar para penghuni rumah tersebut, ada satu wajah yang sama sekali tak terlihat senang. Gadis cantik dengan riasan natural, surai disanggul rendah serta jepit rambut bertahtakan mutiara asli tersemat di sisi kanannya.


"Wah, Nona sungguh luar biasa cantik," puji seorang pelayan yang sedari berperan besar dalam merias wajah cantik Zara.


Zara tersenyum samar, "Terimakasih untuk kalian yang selama ini sudah banyak membantuku." Kata-kata itu terdengar begitu tulus dari bibir Zara. Gadis yang dalam beberapa jam lagi melepas masa lajang itu, memandang secara bergantian beberapa pelayan yang sibuk membantunya.


Tak hanya rumah dan seisinya yang dirubah total, para pelayan pun terlihat menganti seragam biru yang sudah menjadi identitas mereka di kediaman Arka dengan pakaian yang lebih elegan dan rapi dari biasanya.


"Nona, ini memang sudah menjadi kewajiban kami untuk selalu siaga di samping anda." Tanpa mengurangi rasa hormat, pelayan yang terlihat tersentuh dengan ucapan Zara, seketika mulai berkaca-kaca, namun di detik yang bersamaa, pelayan muda itu lekas mengusap bulir bening yang nyaris menetes itu dan memasang wajah ceria. "Nona, acara akan dimulai tiga puluh menit lagi. Alangkah baiknya jika Nona mengenakan gaunnya saat ini," sambung pelayan itu dengan menunjuk satu gaun berwarna putih elegan dengan model sederhana namun terlihat sangat anggun.


"Baiklah." Tanpa ragu, Zara mengikuti semua ucapan pelayan. Hingga gaun putih yang nyaris menyentuh lantai itu melekat di tubuhnya.


"Permisi Nona. Apakah semuanya sudah siap?" Suara surti terdengar memenuhi ruangan. Zara yang selesai dengan gaunya, membalikkan badan.


"Bi Surti." Zara menatap sendu perempuan paruh baya yang sempat menolong dirinya. "Kalian bisa keluar. Ada Bi Surti yang akan membantuku," pinta Zara pada beberapa pelayan yang membantunya.


Setelah menundukan kepala, para pelayan itu pun lekas meninggalkan kamar calon Nonanya.


Zara yang tak mampu lagi membendung emosinya, seketika menubruk tubuh perempuan paruh baya itu dan menangis tersedu dalam dekapannya. Seolah mampu merasakan kesedihan yang tengah dirasakan Zara, surti hanya diam dan mengusap punggung kecil berbalut gaun putih itu lembut.

__ADS_1


"Menangislah jika Nona ingin menangis. Bahu renta ini akan senantiasa menjadi sandaran dalam keadaan apa pun," ucap Surti menenangkan.


Zara kian tersedu. Tak menghiraukan berapa banyak tetesan luka yang membasahi pipinya.


"Aku memang jahat Bi, aku memang gadis tak punya hati. Tapi aku bersumpah atas nama tuhan, jika semua yang terjadi bukanlah atas keinginaku sendiri, Bi."


Surti menghela nafas dalam. Seperti pelayan lain, Surti pun berpenampilan lebih rapi dari biasanya.


"Bibi percaya padamu."


Zara mengendurkan dekapan tangannya. Netra sembabnya menatap kedua Netra surti lekat.


"Bibi adalah seorang ibu, jika anak perempuan yang selama ini Bibi besarkan dan dididik dengan penuh kasih sayang, lalu dengan tiba-tiba dan tanpa sepengetahuan menikah dengan seorang pria yang sudah berkeluarga, bagaimana perasaan bibi? Ayo jawab aku Bi?" Zara sedikit menguncang tubuh Surti agar perempuan itu sudi menjawab.


"Pasti sakit Nona."


Surti menangis dalam diam dan mendekam kembali tubuh Zara erat.


"Saya yakin jika Tuan Arka memiliki alasan kuat untuk menikahi Nona, meskipun sudah memiliki Nona Anastasya." Surti mengusap lembut kedua pipi Zara. "Kita turun Nona. Semua orang sudah menunggu dibawah. Tidak baik jika menunda niatan baik."


Zara mengangguk. Menuju kearah meja rias, gadi cantik itu kembali memoles wajahnya yang sempat luntur.


*****


Semua pandangan tertuju pada dua perempuan cantik dengan gaun warna senada menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Anastasya yang berada di sisi kanan, senantiasa mengengam lengan Zara, untuk amenguatkan.


Sementara Arka dan puluhan pasang mata lain, tampak mengagumi kecantikan gadis mungil yang semakin berjalan mendekat kearahnya. Pria tampan dengan balutan jas silver dan dasi biru tua itu terlihat cukup tegang berhadapan dengan seorang penghulu di depannya. Sementara di sisi lainnya, tampak duduk seorang pengawal berusia paruh baya sebagai wali mempelai perempuan.

__ADS_1


Anastasya membawa Zara pada kursi kosong yang tepat berada di sisi kiri Arka. Kemudian membentangkan kain putih dikepala kedua mempelai.


Keringat dingin mulai bercucuran kala Zara memberanikan diri untuk mendongak. Menelan salivanya susah payah saat menyadari begitu banyak pasang mata yang menyaksikan acara sakral dirinya. Akan tetapi gadis itu pun menyadari jika tak ada orang luar yang diundang. Seluruh pasang mata yang menyaksikan ialah para pelayan dan pengawal dikediaman Arka.


"Bagaimana Nak Arka, apakah sudah siap?" Seorang penghulu yang berperan penting dalam terlaksananya pernikahan mulai membuka suaranya.


"Kepada wali mempelai perempuan, apakah ingin menikahkan sendiri putrinya atau diwakilkan?"


Pengawal berusia matang dengan mengenakan kemeja panjang serta rambut tertata rapi itu menyerahkan mempelai wanita untuk dinikahkan langsung oleh penghulu.


"Untuk mempelai pria, apakah sudah siap."


"Siap." Arka menjawab tegas.


Penghulu itu pun mulai mengulurkan tangannya dan disambut seketika oleh Arka. Zara hanya mampu menatap nanar gengaman erat tangan kekar Arka yang hendak mengucap sumpah suci pernikahan.


"Saudara Arkana Surya Atmadja saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Azzara biantika Binti Jamil Rusli dengan mas kawin cincin berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tuunai." Diakhir kalimat penghulu menghentakkan tangan dan di sambut suara lantang Arka yang memenuhi ruangan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Azzara Biantika Binti Jamil Rusli dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dalam satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah....," jawab seluruh pekerja Arka bersamaan.


"Alhamdulilah...."


Tak hentinya puja dan syukur terucap dari seluruh saksi dan pihak yang terkait. Tak terkecuali Arka dan Anastasya. Tanpa ragu Arka mengulurkan tanganya, sedikit ragu Zara menyambutnya dan mencium punggung tangan kekar itu.

__ADS_1


Tubuh tegap Arka perlahan mendekat ke arah Zara, lalu mendaratkan kecupan lembut di dahi gadis mungil itu. Zara terpejam sesaat kala merasakan sentuhan bibir yang terasa hangat menyentuh keningnya. Merasakan senyar rasa asing, yang untuk kali pertama ia rasakan.


__ADS_2