
...Apa aku sudah yakin dengan perasaanku sendiri?...
Sam bertanya dalam hati, apakah langkah yang ia ambil ini benar-benar menjadi impian masa depannya. Mobil yang Sam gunakan pun sudah berhenti tepat di gang masuk kost yang menjadi tempat tinggal Kiara. Langit pun sudah mulai menggelap dengan bertabur bintang.
Sam menghela nafas dalam.
"Tapi aku benar-benar tertarik padanya. Toh jika aku masih ragu untuk menyatakan perasaanku sekarang, setidaknya aku masih bisa mengobrol dan tahu banyak tentangnya."
Tak ingin terlalu lama berfikir, Sam mulai menuruni mobil dan melangkahkan kaki menuju kost Kiara.
Angin sejuk terasa menyentuh kulit tubuh Sam yang terlapisi pakaian. Malam ini ia hanya mengenakan kemeja bermarna krim dengan bagian lengan yang dilipat hingga kesiku dan celana kain berwarna gelap.
Saat mulai memasuki area perumahan mungil itu, rupanya Sam menjadi pusat perhatian para penghuni kost yang tengah berada di luar. Tempat yang hanya dihuni kaum perempuan itu cukup membuat Sam tidak nyaman. Pasalnya para perempuan muda bahkan paruh baya memandangnya penuh puja dan saling berbisik melempar tawa.
Sam terus melangkah, dan saat pintu kediaman kiara sudah di depan mata. ia pun lanyas mengetuknya.
"Iya, sebentar." Suara sahutan itu terdengar dari dalam.
Pintu bercat putih terbuka. Namun seseorang gadis dengan handuk masih membungkus kepala itu terkesiap seketika.
"T-tuan?" Kiara terbelalak tak percaya.
"Boleh aku masuk?" Pria itu bahkan tersenyum semanis madu, dengan menatap gadis yang baru saja selesai mandi itu.
"B-boleh, tapi---"
"Tapi kenapa?" Sam mengarahkan pandangan kearah ruang tamu yang sepertinya kosong tak ada orang lain.
"Lebih bakk jika bicara di luar saja, tuan. Akan tidak enak dilihat tetangga jika kita hanya ada kita berdua di dalam." Bukan bermaksud tak sopan, hanya saja takut menjadi fitnah jika dirinya seorang gadis yang tinggal seorang diri membawa masuk seorang pria kedalam.
"Oh, tentu. Tak masalah." Sam justru mengembangkan senyuman dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di area teras kost.
"Tunggu sebenar tuan, saya akan menyiapkan minuman." Tanpa menunggu jawaban, Kiara lekas berlari kearah kamar untuk merapikan penampilannya yang awut-awutan.
"Ya tuhan, kenapa dia datang diwaktu yang tak tepat. Tapi untung saja aku sudah mandi."
Membuang handuk di kepala kesembarang arah. Kiara lekas menyisir surai panjangnya secepat mungkin dan menjumput pelembab wajah yang langsung diaplikasikan kewajah agar tak terlihat pucat.
"Hah sudah berapa menit aku meninggalkannya dengan alasan membuat minum."
Bergerak cepat menuju arah dapur, gadis itu bahkan masih berfikir beberapa waktu untuk membuat minuman yang tepak agar Sam tak mebuangnya.
"Bagaimana jika kopi? Ah tidak-tidak, dari wajahnya yang manis dan selalu terlihat segar itu, aku yakin jika dia bukan penikmat kopi seperti orang kebanyakan.
__ADS_1
Hingga gadis itu teringat akan sesuatu.
"Hei, bukankah kemarin aku membuatkan teh hangat dengan sedikit gula untuknya."
Tanpa berfikir panjang, ia pun lekas menyeduh teh dengan air panas di dalam cangkir porselen dan ditambah sedikit gula. Setelah siap, ia pun membawanya dengan nampan kearah teras menemui Sam yang sudah cukup lama menunggunya.
"Tuan, maaf lama." Kiara bahkan tak mampu menatap wajah Sam yang langsung tersenyum saat melihat kehadirannya. "Silahkan di minum tuan," sambungnya kembali.
"Terimakasih banyak." Sam pun menyesap teh buatan Kiara saat gadis itu meminta. Pria itu terlihat begitu menikmati disetiap teguknya.
Kiara menatap keadaan disekelilingnya, ia tertunduk dan menghela nafas dalam saat beberapa pasang mata menatap kearahnya dan juga Sam.
"Kiara, ada apa? Apa karna pandangan yang mereka tunjukan, hingga membuatmu tak nyaman?" Sedari tadi, itulah yang Sam tangkap. Dirinya memang seorang pria, dan bertamu pada waktu malam hari pula. Jadi wajar saja jika mereka memberi tatapan sedemikian rupa padanya.
Gadis itu mengangguk samar, namun tak menjawab.
Sam tersenyum lembut, dan mulai menatap gadis yang bersamanya itu lekat. Meski hanya mengenakan pakaian rumahan dengan surai setengah basah yang disisir seadanya sudah membuatnya sangat manis di mata Sam.
"Kia, aku datang kemari, sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin kukatakan padamu." Sam sedikit ragu berucap, namun waktu kali ini seakan mendesaknya hingga ia tak memiliki banyak waktu untuk berbelit-belit.
Apa, sesuatu hal? Kumohon jika tak menyangkut masalah pembalut lagi.
Kiara menelan salivanya berat, wajahnya pun terlihat pucat.
Sam menetralkan deru nafasnya yang tak beraturan. Terlihat juga jika pria itu menghela nafas dalam berulang.
Kenapa aku luar biasa gemetar sepeeti ini.
Kiara masih menunggu kata-kata dari Sam, saat pria itu memantapkan hatinya.
"Kiara, apakah kau sudah memiliki kekasih?" Sam bahkan tak mampu menatap wajah gadis manis itu.
Hah, apa yang dia bicarakan. Kenapa menanyakan soal kekasih.
Gadis itu pun mengeleng.
"Belum."
Lengkung merah muda Sam terangkat.
"Lalu bagaimana jika aku menyukaimu?" Sam bahkan menunduk selepas mengucapnya.
Apa? Aku sedang tak bermimpi kan?
__ADS_1
"Maksud, tuan?"
Sam menghela nafas dalam. Ia sungguh malu, tetapi gadis itu masih tak mengerti jua.
"Kia, aku tertarik padamu dan ingin memiliki hubungan denganmu. Dan bagaimana dengan perasaanmu sendiri, apakah kau juga menyukaiku dan bersedia menjadi kekasihku?" Sam bahkan sudah kehabisan kata-kata. Sungguh ini pengalaman pertama baginya, dan dia pun sama sekali tak mempunyai bakat untuk menciptakaan kata-kata romantis dalam sekejap.
Gadis itu gelagapan. Membayangkannya saja tak pernah, dan kini justru pria itu menyatakan perasaan yang ia sadari bukanlah sebuah mimpi belaka.
Aku memang tertarik padamu, tuan. Tapi mungkinkah hal mustahil ini bisa terjadi.
"Tuan, sudahkah anda berfikir sebelum mengatakan hal demikian padaku?" Ada sejejak keraguan dalam diri Kiara, mengingat kasta mereka yang tak sepadan.
"Maksudmu?"
Kiara menghela nafas dalam, dan menatap nanar kedepan.
"Kita sungguh sangat berbeda, tuan. Jauh seperti bumi dan langit. Kita juga belum saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Banyak sekali hal dari saya yang belum tuan ketahui, begitu pun sebaliknya."
Sam menghela nafas, disusul senyum tipis yang terulas di bibir.
"Memang, seperti kata pepatah. Tak kenal, maka tak sayang. Mungkin membutuhkan banyak waktu dari seseorang untuk bisa tertarik dengan lawan jenisnya, tetapi bagiku, pada saat pertama kali aku melihatmu, perasaan itu sudah mulai terpercik dan kian membara hingga detik ini."
Apa? Jadi sikap menyebalkan yang sering kau pasang itu bisa disebut dengan percikan asmara?
"Mungkin dulu, sikapku sering memuakkan di matamu. Bertingkah semaunya, dan bahkan sempat meninggalkanmu di tengah jalan. Tetapi yakinlah, semua keberanian bahkan makian yang kau tujukan padaku, justru membuatku tertarik dan ingin lebih dalam mengenal dirimu." Sam bahkan bisa mengingat diawal pertemuan mereka. Sungguh kaku dan selalu diiringi perdebatan. Tetapi terlihat menggemaskan.
Kiara terdiam, tapi ia pun kembali mengingat beberapa kejadian itu.
"Tuan," ucap Kiara mengambang.
"Kenapa? Apa kau ragu padaku?"
Kiara terdiam. ia bahkan tak punya keberanian untuk menjawab.
"Akhir pekan nanti, bersiaplah. Aku akan membawamu kesuatu tempat."
Gadis manis itu mendongak, membalas tatapan sepasang netra elang pria di sampingnya.
"Sesuatu tempat?"
"Ya, untuk menghilangkan jejak keraguanmu itu," balas Sam penuh keyakinan.
Apa? Benarkah dia tulus memiliki rasa padaku. Tetapi mungkinkah, mungkinkah kau dan aku bisa merajut rasa, sedangkan jarak di antara kita sungguh jauh berbeda.
__ADS_1