
Sekuat tenaga untuk coba mengusir kehidupan mewah yang melekat pada di dirinya, namun rupanya tetap berujung gagal, terlebih setelah ia di pertemukan dengan sosok Kenan yang kini sudah bersetatus menjadi suaminya.
Jauh dari perkiraan Anastasya, rupanya kekayaan Kenan pun tak jauh dari mantan suaminya dulu, Arka. Hanya saja, Kenan lebih terlihat hidup bersajaha dengan menyimpan aset-aset pribadinya secara tertutup, tanpa diketahui banyak orang.
Jika kebanyakan orang akan berbondong-bondong membangun kerajaan bisnis atas nama dan kekayaan yang dimiliki, Namun tidak halnya bagi Kenan. Ia hanya gemar menanam saham pada perusahaan besar, dan cukup berdiri di belakangnya. Entah karna apa, mungkin hanya Kenan-lah yang tau jawabnya.
Anastasya menghela nafas dalam. Entah untuk kesekian kali ia menoleh kearah benda bulat yang tertempel di dinding.
"Kenapa masih belum pulang." Merengut kesal, Anastasya menekuk wajah saat jam di dinding terus berputar, namun sang suami masih belum jua kembali.
Menunggu adalah pekerjaan barunya hampir satu bulan ini. Setelah menikah, Kenan memang tak mengizinkannya lagi untuk bekerja.
Hanya berdua bersama Bi Sumi, kerap membuat Anastasya kesepian. Tapi tak mengapa, sebagai seorang istri yang baik ia memang tak jarang keluar rumah jika tak bersama Kenan kecuali untuk berbelanja bulanan atau pun dalam keadaan mendesak.
Setelah menikah pun Kenan terkesan membatasi lingkungan gerak Anastasya. Bukan melarang sang istri untuk bergaul, hanya saja pria itu tak ingin jika sang istri bertemu dengan orang-orang di masa lalu, yang membuat lukanya kembali mengganga.
Diserang kantuk yang membuat kelopak matanya berat, Anastasya yang setengah berbaring di sofa panjang itu, tak sadar mulai terlelap. Dengkuran halus mulai terdengar, pertanda jika seseorang yang berada di sofa tersebut mulai terbuai dalam alam mimpi.
"Sayang, aku pulang," ucap seseorang yang baru saja memasuki rumah. Seseorang itu tak lain adalah Kenan yang baru saja kembali dari luar kota. Sebagai pebisnis kontraktor, memang mengharuskan Kenan untuk pergi keberbagai kota untuk batas waktu yang tak bisa ditentukan.
Seperti saat ini, ia baru saja kembali dari kota XX selepas tiga hari mengurus bisnisnya.
Saat memasuki kediaman megahnya, Kenan mendapati ruang tampak sepi. Sang istri yang biasa menunggunya pun tak nampak batang hidungnya.
Kemana dia?
__ADS_1
Selain Anastasya, Bi Sumi pun tak terlihat. Kenan terus melangkah sembari menyisir pandangan kesegala penjuru. Begitu melewati ruang tamu, langkah lebarnya spontan terhenti saat sepasang netranya menangkap sesosok tubuh yang terbaring dengan netra terkatup rapat di atas sofa.
Lengkung tipis merah jambu milik Kenan tampak mengulas senyuman. Ia pun mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan sang istri.
"Kau menungguku sampai tertidur seperti ini, sayang," gumam Kenan sembari mengusap lembut pipi sang istri.
Gadis itu dapat merasakan sentuhan di tubuhnya. Ia mulai mengerjap, dan terbangun saat sadar jika Kenan sudah berada di hadapannya.
"Sayang, kau sudah pulang? Maaf, aku ketiduran." Anastasya berucap seraya membetulkan posisi duduknya.
Kenan tersenyum tipis. Ia pun tak merubah posisi. Hingga ia tetap bersimpuh di hadapan Anastasya yang sudah terduduk. Dengan penuh sayang Ken memeluk pinggang Anastasya, tanpa ingin melepasnya.
"Bukan kau yang seharusnya meminta maaf, tapi aku sayang. Maaf, sudah membuatmu menunggu lama hingga ketiduran. Tetapi aku janji, hal semacam ini tidak akan pernah terjadi lagi."
Hah?
"Maksud mas apa?"
"Karna sebentar lagi aku akan membawamu bersamaku. Kita akan bersama hingga tak perlu lagi berpisah."
Anastasya kian bingung.
"Maksudnya?" ulang Anastasya lagi.
"Kita akan pindah. Kita akan memulai hidup baru di sana." Senyum Kenan merekah saat berucap. Tidak ada sejejak keraguan pun saat ia mengucapkan kata 'Pindah'."
__ADS_1
Anastasya menelan salivanya berat. Pindah? Benarkah? Tetapi sebelum-sebelumnya Kenan bahkan tak pernah membalas perihal tempat tinggal mereka yang akan berpindah.
"Pi-pindah kemana?"
"Amerika, sayang."
Bibir gadis itu bergetar, sementara dadanya terasa sesak.
Amerika?
Kenan mampu menangkap raut wajah yang berbeda dari istrinya.
"Maaf, aku tidak sempat mengatakan sebelumnya kepadamu. Ada sebuah proyek besar yang sedang aku bangun di sana dan itu memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Aku sadar, aku tidak bisa hidup jauh darimu. Maka dari itu, aku akan membawamu kesana dan kita akan memulai hidup baru di sana. Bagaimana sayang?"
Kenan bahkan seperti tak memberi Anastasya pilihan. Semua mungkin sudah pria itu persiapkan sedemikian rupa. Hingga sang istri tak mampu menolaknya.
"Terserah Mas saja. Selagi itu memang yang terbaik untuk hidup kedepannya, aku tidak akan pernah menolak."
Ken tersenyum haru. Ia mengusap puncak kepala sang istri sebelum memberinya sebuah dekapan hangat.
"Terimakasih, sayang. Kau memang yang terbaik."
Tanpa Ken sadari, ada buliran bening yang meluncur samar dari sudut netra seorang perempuan yang juga tengah mendekapnya.
Anastasya kini diliputi perasaan gamang. Tak bisa menolak, tetapi juga terasa berat untuk menerima.
__ADS_1
Bersambung....
Beberapa Part menuju Tamat ya Kakak-kakak ☺☺