Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Pindah Part- 2


__ADS_3

"Lalu, kapan kita akan pindah?" Bibir mungil Anastasya tampak bergetar mengucapnya.


"Besok pagi sayang," Ken menjawab cepat. "Aku bahkan sudah memesan tiketnya," sambung pria itu lagi sembari mengulas senyum di bibirnya.


Anastasya hanya mengangguk samar. Bahkan saat malam mulai menyapa pun, gadis itu enggan memejamkan netranya. Di atas ranjang King size miliknya, Anastasya hanya berguling kesana kemari sembari menatap nanar langit-langit kamar.


Gadis itu menghela nafas dalam. Amerika? Ia akan hidup di sana? Hal semacam ini bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ditengah kesendirian, Anastasya hanya bisa meringkuk dan diam di balik selimut tebal. Kenan sendiri memilih sibuk di ruang kerja, merampungkan beberapa tugas sebelum keberangkatannya esok pagi.


******


"Maafkan aku, sayang." Ken menutup map terakhir selepas membubuhkan tanda tangan. Ia pun perlahan bangkit dan menatap sekeliling ruang kerja, yang beberapa jam lagi akan ia tinggalkan. Mungkin cukup berat bagi Ken, akan tetapi, demi Anastasya hal yang menurutnya mustahil pun akan dilakukan.


Terdengar pintu di buka samar, Bi Sumi dengan membawa nampan berisi minuman hangat dan juga camilan muncul dari balik pintu tersebut.


"Minumannya Tuan," ucap Bi Sumi seraya mendaratkan nampan tersebut di atas meja.


"Terimakasih, bi."


Bi Sumi sudah menundukan kepala dan hendak berbalik badan, akan tetapi panggilan sang Tuan berhasil menghentikannya.


"Bi."


"Iya tuan."


"Bibi akan ikut dengan kami kan?" Ken melempar tanya. Beberapa waktu lalu ia dan Anastasya memang sudah memberitahukan perihal kepindahannya pada Sumi, barang-barang berharga pun sudah dikemas dengan rapi, akan tetapi mereka masih ragu untuk membawa serta Sumi ke Amerika. Sebab keduanya pun masih tak yakin, jika Bi Sumi berkenan ikut, mengingat betapa jauhnya tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya nanti.


Bi Sumi terdiam. Perempuan paruh baya itu tampak berfikir dalam.


"Saya akan ikut tuan." Jawaban Sumi, seketika membuat Ken tersenyum lega.


"Tetapi sudikah Tuan menjawab pertanyaan saya lebih dulu?"


Pertanyaan yang terucap dari bibir keriput Sumi, mampu membuat dahi sang tuan berkerut hingga nampak beberapa lapisan.


"Pertanyaan? Tentang apa bi?"


Sumi menarik nafas dalam.


"Apakah tuan memang benar-benar akan membawa Nona Anastasya untuk tinggal di Amerika?"


Ken pun mengangguk penuh keyakinan.


"Iya, benar. Lalu ada apa bi?"


"Apakah tuan sudah merasa yakin? Maaf, bukan bermaksud lancang. Saya hanya belum merasa yakin, jika Tuan akan begitu mudahnya meninggalkan negara kita." Perempuan paruh baya yang sudah begitu lama mengabdi pada Ken itu menatap sepasang netra sang tuan lekat. Berusaha menggali kejujuran dari tatapan pria dingin yang berhati hangat itu.

__ADS_1


Kenan menarik nafas dalam. Memang benar, serapat ia coba menyimpan, kelak akan percuma jika Sumi-lah yang menjadi lawan bicara.


"Orang tua Mia sudah tau jika aku sudah menikah kembali dengan Anastasya."


"Apa?!" Sumi terkesiap. "Orang tuan Almarhum Nona Mia sudah tau semuanya?"


Ken mengangguk. "Ya, dan aku yakin mereka tidak akan diam saja, dan aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan Anastasya. Maka dari itu, aku harus bergerak lebih cepat dari pada mereka."


Orang tua Mia yang dimaksud ialah orang tua dari Almarhum istri Kenan yang telah meninggal beberapa tahun lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat bersama putri semata wayang mereka.


Kesalah pahaman yang terjadi rupanya tak terhenti begitu saja. Kedua orang tua Mia bahkan selalu beranggapan jika karna Kenan-lah putri dan cucu mereka tiada. Tak mampu berbuat banyak, Ken yang tak lagi memiliki keluarga itu hanya memilih diam dan menghindar.


Akan tetapi, setelah ia memutuskan menikah, tidak menutup kemungkinan jika keluarga Mia kembali muncul dan menjadi tak terima sebab posisi Mia sudah mampu digantikan oleh perempuan lain begitu saja. Sementara Ken sendiri tak mampu membayangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi, dan menghancurkan rumahtangganya bersama Anastasya yang baru saja terbina.


"Aku harap bibi bisa mengerti, dan tolong jangan katakan kebenaran ini pada Anastasya. Usahakan agar tak ada satu orang pun yang tau di mana kita akan pindah dan tinggal."


Sumi pun mengangguk. Selepas menundukan kepala, Sumi pun berbalik badan, meninggalkan sang tuan untuk lekas berkemas.


******


Benar-benar tampan


Sungguh bahagia menjadi seorang Kiara. Untuk pertama kali disepanjang hidup, saat terbangun dari lelap ia disuguhi seraut wajah tampan yang tersaji di hadapan mata.


Aku mencintaimu, sayang.


Kiara beringsut turun dari ranjang. Kaki polosnya mulai menyusuri lantai menuju arah kamar mandi. Meski di bagian bawah perutnya masih menyisakan rasa nyeri, akan tetapi dengan sebisa mungkin ia tahan. Mengingat perannya sebagai seorang istri, yang tak boleh ia abaikan.


Saat menganti pakaian pun Kiara tersenyum tipis mendapati beberapa bagian tubuhnya yang masih menyisakan tanda merah keunguan yang diberikan oleh Sam.


Ah aku harus segera memasak.


Tak ingin berlarut dalam keterbuaian, Kiara yang sudah terlihat cantik dengan dres berwarna kuning selutut itu, bergerak cepat guna mencari keberadaan dapur yang semenjak datang belum sempat ia masuki.


"Ah di sini rupanya," gumam Kiara setelah menemukan dapur berukuran luas dengan perabotan super lengkap.


Rumah Sam terbilang cukup luas, tetapi Kiara tak menemukan siapa pun di dalam rumah selain dirinya dan Sam.


Kiara yang sudah terbiasa memasak itu lekas memeriksa isi kulkas. Senyumnya pun terkembang sempurna saat menemukan lemari pendingin tersebut terisi penuh dengan berbagai bahan masakan.


Nasi goreng menjadi menu sarapan yang dipilih Kiara. Selain praktis, makanan tersebut juga terasa nikmat jika disantap sebagai menu sarapan, terlebih dalam keadaan hangat.


Setelah beberapa saat berkutat dengan wajan dan spatula, nasi goreng yang menggugah selera pun siap dihidangkan. Saat hendak menuangnya kedalam piring, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggangnya posesif dari arah belakang.


"Selamat pagi, sayang," ucap Sam tepat di daun telinga Kiara, yang membuat gadis itu tersentak menahan sensasi rasa sekaligus geli secara bersamaan.

__ADS_1


"Pa-pagi juga ka," jawab Kiara setengah terbata. Tubuhnya menegang saat Sam terus menghimpitnya.


"Kau masak apa, sayang?" Sam menatap pemandangan di hadapannya. Di mana terlihat nasi goreng yang sudah matang, namun Kiara masih belum sempat memindahkannya kedalam piring saji.


"Nasi goreng. Maaf, aku hanya sempat menyajikan ini sebagai menu sarapan." Terdengar nada penyesalan dari ucapan Kiara. Andai saja ia tak bangun kesiangan, tentu akan lebih banyak menu makanan yang bisa ia sajikan.


"Tak apa sayang. Aku tau jika kau kelelahan," goda Sam dengan mengedipkan satu netranya. Pria itu pun melepaskan dekapan, kemidian membimbing tubuh sang istri untuk duduk di kursi mini bar yang berada di area dapur.


"Duduklah," titah Sam. "Dan sebagai ganti karna aku sudah membuatmu kelelahan, maka biarkan aku yang menyajikan nasi goreng ini, untuk sarapan kita." Pria itu bergerak sigap. Menyiapkan piting dan memilih bahan makanan lain di dalam lemari pendingin.


Beberapa kali Kiara hendak membuka mulut, akan tetapi Sam coba mencegahnya dengan memberi isyarat tangan. Gadis itu tampak terperangah dengan keahlian gerakan tangan Sam dalam memainkan spatula atau pun pisau dapur. Terlihat lues, seakan Sam sudah sering kali melakukannya.


"Sayang, apa kau tau?" Saat memindahkan nasi goreng kedalam piring, Sam sempat melirik Kiara yang berada tak jauh darinya.


"Tentang apa?"


"Sudah cukup lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Saat aku, menyiapkan makanan untuk istri dan anak-anakku." Pria itu tersenyum tipis selepas berucap. "Apa kau juga tau, jika kau adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah melihat keahlianku dalam memasak."


Kiara terdiam. Sungguh ucapan Sam, membuat dirinya tersanjung.


Apa pertama? Benarkah aku wanita pertama yang pernah menyaksikan Kak Sam memasak seperti ini.


Binar kebahagiaan jelas tergambar di wajah Kiara. Ia merasa sebagai wanita paling beruntung dimuka bumi ini.


"Benarkah?" ucap Kiara pura-pura tak percaya.


"Ya. Sudah cukup lama aku memiliki rumah ini. Tetapi tak pernah aku tempati, karna pasti aku hanya akan tinggal seorang diri di sini."


Kiara menatap rumah mewah itu seksama. Memang benar, di rumah ini tak ada siapa pun kecuali mereka berdua. Jadi wajar saja jika Sam merasa kesepian.


"Aku lebih suka tinggal di rumah Tuan dan Nona. Sebab dari masa kanak-kanaklah, dirumah itu aku tinggal."


Kiara memang tak begitu tau kedekatan antara Suami Zara dan juga suaminya. Akan tetapi ia yakin, jika hubungan keduanya sudah selayaknya saudara. Bahkan bisa lebih dari itu.


Akhirnya, dua piring nasi goreng beserta pelengkap siap dihidangkan oleh Sam. Kiara hanya bisa tersenyum simpul menatap sepiring nasi goreng dengan berbagai pelengkap yang disiapkan Suaminya dengan susah payah itu.


Telur mata sapi dengan bentuk love dan tomak yang diukir menyerupai bunga, terlihat begitu manis disandingkan dengan nasi goreng buatan Kiara yang terlihat biasa-biasa saja.


"Makanlah, atau biar aku saja yang menyuapimu."


Lagi-lagi ucapan Sam membuat Kiara merona malu. Gadis itu bahkan tak bisa menolak saat sesendok nasi goreng sudah berada tepat di depan mulutnya.


Kau begitu manis, sayang. Bagaimana bisa aku tak jatuh hati, saat kau selalu memperlakukanku selayaknya ratu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2