Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Telur Gosong


__ADS_3

Rengkuhan tangan yang begitu erat dan menghangatkan. Kepala belakang Zara yang menempel di dada sang suami, membuatnya tak leluasa bergerak. Arka justru dengan genitnya berbisik tepat di telinga sang istri.


"Aku sangat merindukanmu, istriku," bisiknya dengan menekan kata istriku.


Zara merinding seketika. Deru nafas menyapu indra pendengarannya yang terasa hangat. Arka semakin berulah, satu tangannya bergerak menyentuh dan mengangkat lembut dagu sang istri hingga membuat wajah cantik sang istri, mendongak menghadapnya.


Arka tergoda tatkala menatap bibir mungi ranum merah menggoda milik Zara yang ppsudah tak sabar untuk pria itu cicipi, dengan secepat kilat Arka semakin menundukan wajahnya kian dekat hingga kedua benda kenyal tak bertulang itu akhirnya menyatu.


Sekujur tubuh Zara seketika menegang, netranya membulat sempurna mendapati gelayar rasa asing yang baru kali pertama gadis itu rasasakan. Pandangannya tertuju pada pria yang tengah memeluknya erat sembari menyatukan bibir dengan bibirnya. Netra pria itu tertutup sempurna, dengan wajah tenang seolah begitu menikmati aktifitas yang kini tengah di laluinya.


Cukup lama pertautan bibir itu terjadi. Baik Arka maupun Zara, seolah enggan mengakhiri. Hingga aroma menyengat yang berasal dari wajan penggorengan, membuyarkan keromantisan yang susah payah Arka rangkai.


"Go-gosong," pekik Zara dengan menggerakkan kepala, berusaha melepaskan diri dari dekapan tangan besar suaminya dan memadamkan nyala api kompor.


"A-apa," tanya Arka setengah terkejut hingga rengkuhan tangannya melemah dan terlepas.


"Telur mata sapi saya gosong tuan," ucap Zara yang tengah menatap nanar telur berwarna hitam seutuhnya yang berada di dalam wajan pengorengan.


Arka menepuk dahinya dengan menggeleng tak percaya.


Astaga. Keromantisan yang susah payah aku bangun, berakhir sia-sia hanya karna sebuah telur.


Arka berdecak dan tak mampu menutupi kekecewaannya.


"Apa kau belum makan malam?" Arka menatap wajah murung sang istri dengan pandangan yang masih tak teralih dari wajan penggorengan.


Gadis itu mengeleng samar, "Belum Tuan, dan itu telur terakhir yang tersisa di dalam kulkas."


Padangan pria itu melembut seketika. "Maafkan aku, aku tak sengaja melakukannya. Semua yang kulakukan hanyalah bentuk rasa riduku padamu yang tak mampu lagi untuk bisa kutahan."


Zara terdiam, namun beberapa detik kemudian, gadis itu mendekat kearah suaminya dan menggengam dua tangan kekar itu dengan sepasang tangan mungilnya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu." Tanpa diduga, Zara mendekap tubuh tinggi sempurna itu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Menahan rasa malu yang tak terkira.


Arka terbelalak. Rasanya sulit dipercaya, namun ini lah yang tengah terjadi. Zara, gadis polos yang pemalu itu berinisiatif memeluknya tanpa diminta bahkan aba-aba. Pria yang masih mengenakan stelan jas lengkap itu tersenyum bahagia. Ciuman di puncak kelapa pun ia daratkan bertubi-tubi hingga tak terhitung jumlahnya.


Di tengah keromantisan yang kembali terlanjut, tiba-tiba suara gemuruh yang bersumber dari perut Arka terdengar jelas di telinga keduanya. Gadis itu pun mengendurkan pelukan dan mendongak menatap wajah sang suami.

__ADS_1


"Tuan lapar? Apa Tuan juga belum sempat makan malam?"


Pria itu menganguk dan tersenyum kikuk. "Apa ada sesuatu yang bisa kita makan?"


Zara berfikir sejenak, mengingat kembali beberapa bahan makanan yang masih tersisa di dalam kulkas.


"Hanya ada mie instan, daging asap, dan beberapa jenis sayuran."


"Mi instan?" tanya Arka dengan menautkan kedua alisnya.


"Iya," jawab Zara masih memeluk pinggang Arka namun sudah tak terlalu erat.


"Itu tidak sehat." Arka mengusap lembut pipi merah sang istri dengan tangannya.


"Tetapi hanya mie instan yang masih tersisa. Saya belum sempat berbrelanja kebutuhan dapur siang tadi." Zara menjawab dengan jujur. pasalnya, Zara tertidur hingga senja menjelang.


"Tidak masalah, biar aku saja yang memasaknya." Arka melepaskan tangan mungil Zara dari tubuhnya dan mulai melepas jas beserta dasi dan hanya meninggalkan celana bahan dan kemeja putihnya. Menggulung lengan kemeja hingga kesiku dan meraih apron berwarna putih yang tergeletak di punggung kursi makan.


"Jangan Tuan! Biar saya saja," cegah Zara kala melihat Arka sudah siap dengan segala atribut memasaknya.


"Tak apa. Kau siapkan saja bahan-bahanya dan aku yang akan memasaknya," jawab Arka tanpa ingin mendengar penolakan.


"Ingat, jangan menambahkan bumbu mie instan jika kau memasaknya," ucap Arka memperingatkan.


"Kenapa?"


"Itu tidak sehat. Kau bisa mengantinya dengan penyedap rasa lain yang lebih sehat." Arka menambahkan beberapa bumbu penyedap tanpa MSG ke dalam masakan juga beberapa saus yang semakin terlihat mengugah selera.


"Sudah matang," ucap Arka seraya mematikan api kompor.


Semangkuk mie dengan campuran daging asap dan sayuran berkuahkan saus merah cerah tersaji di dalam mangkok besar. Tak lupa Arka menaburkan irisan daun bawang beserta bawang goreng sebagai sentuhan Akhir.


Senyum di bibir Zara terlihat mengembang. Pandangannya tertuju pada mangkuk dengan kepulan asap meliuk indah di atasnya.


"Apa kau akan kenyang hanya dengan menatapnya saja," gurau Arka yang tengah mengamati wajah berbinar sang istri yang hanya menatap semangkuk masakan yang baru saja tersaji.


Zara gelagapan. Gadis itu pun mulai menata piring dan sendok juga teko berisi air dingin di atas meja.

__ADS_1


"Apa Tuan Sam ada di bawah?"


Arka menganguk. "Mungkin saja. Sepertinya dia juga belum makan malam. Tolong panggilkan dia, dan ajak makan bersama kita."


Zara tersenyum dan menganguk sebelum meninggalkan sang suami. Menuju lantai dasar toko, gasmdis mungil itu pun menemui sosok pria yang di cari tengah duduk di salah satu kursi pelanggan.


"Tuan Sam. Mari makan malam bersama kami. Tuan Arka bilang, jika Tuan Sam pun belum sempat untuk malam malam."


Sam bangkit dari kursinya dan menundukan kepala pada Nonanya. "Maaf Nona, bukan maksud saya untuk menolak. Hanya saja, saya masih merasakan kenyang. Jadi silahkan Nona dan Tuan nikmati makan malamnya," tolak Sam secara halus. Sejujurnya pria itu pun merasakan perutnya benar-benar lapar, hanya saja akan sangat menggangu jika dirinya datang sebagai orang yang akan merusak keromantisan Tuan dan Nonannya.


"Apa Tuan Sam benar-benar tidak lapar?" tanya Zara sekali lagi.


"Tidak Nona?" tolak Sam untuk kedua kalinya.


"Baiklah, saya permisi." Zara mulai meninggalka Sam yang tak berminat bergabung dengan suaminya menuju meja makan di mana Arka tengah menunggu.


"Di mana Sam?"


"Tuan Sam menolak ajakan untuk makan malam bersama kita," jawab Zara.


Arka tersenyum dalam diam. Pria itu tau pasti jika Sam tak mungkin bersedia menerima ajakan sang istri untuk makan malam bersama mereka.


"Tunggu apa lagi, ayo kita makan." Arka menarik lembut tubuh sang istri dan mendaratkannya di kursi yang berada paling dekat dengannya.


Keduanya makan dalam suasana hati yang senang. Sesekali Arka menyuapi sang istri yang masih malu-malu membuka mulutnya. Atas permintaan sang suami pun Zara menyuapi Arka meski tangannya tampak gemetar.


Tanpa terasa, semangkuk mie instan dengan daging asap dan sayuran tandas dan berpindah kedalam perut sepasang pengantin baru itu. Keduanya tertawa tak percaya, namun itulah yang terjadi.


"Bolehkah aku bermalam di sini?" tanya Arka selepas makanan dalam piringnya tandas.


Zara sepontan mengelengkan kepala. "Jangan Tuan. Para penjaga pasti akan curiga."


Arka menghela nafas dalam, kemudian berucap, "Kenapa? Bukankah kita sepasang suami istri?"


Zara mendesah pelan. "Hanya sedikit orang yang mengetahui pernikahan kita, Tuan," jelas ZPria tampan itu menganguk samar dan meraih jas beserta dasi yang tergeletak di kursi.


"Aku akan pulang, jaga dirimu baik-baik?" Arka mengusap kedua pipi istrinya lalu mencium keningnya.

__ADS_1


"Baik Tuan." Zara melepas kepergian Arka namun tak mengantarkannya hingga pintu luar toko bunga. Para penjaga masih bersiaga di tempatnya.


Inilah yang membuatnya dilema. Zara menatap mobil yang membawa sang suami dari kejauhan. Enggan mengalihkan hingga kendaraan itu hingga di telan gelapnya malam. Ada sesuatu yang mengalir dari sudut netranya, mengapa kini rasa rindu mulai muncul jika terpisah dengan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Apakah dirinya sudah merasakan getaran cinta yang dulunya hanya bisa menjalani pernikahan dengan landasan keterpaksaan.


__ADS_2